Kekasih Palsu Si Culun

Kekasih Palsu Si Culun
Bab 40. Menyampaikan rasa


__ADS_3

# GIBRAN POV #


Kata orang diam itu adalah emas. Namun aku sudah cukup materi dan tak perlu lagi mengumpulkan emas.


Semakin lama diam, yang terasa justru rasa sesak sebab terlalu banyak menyimpan rindu di dada.


Semakin lama diam, rasanya aku semakin tak mengerti perasaan ini, semakin kupikirkan dengan logika, semakin perasaan ini membuatku bingung antara bertahan diam atau bergerak meski taruhannya adalah hatiku yang pernah patah.


Ya, hatiku pernah patah. Pernah patah sebab dulu aku pernah ditinggalkan tanpa memberi tanda-tanda akan perpisahan.


Perpisahan yang tidak pernah pasti, sebab hati tak pernah bisa membenci, hanya bisa mencinta tanpa bisa mengungkapkan.


🌼🌸🌼🌸🌼🌸


Aku bisa melihat jika Sherina sangat tidak nyaman berada di dekat Ibu dan keluarga Soraya yang tak henti membanggakan putrinya.


Akhirnya kuputuskan untuk mengajak Sherina pergi dengan dalih jalan-jalan.


Beruntung Ayah mengerti dan mendukung usahaku, Sebab sejak kejadian penyambutan yang sangat tidak bersahabat oleh Ibu padanya, Sherina menjadi lebih banyak diam.


Ternyata Ayah juga sependapat denganku,


menurut Ayah, malam ini ia tak melihat sosok Sherina yang selalu ingin tahu, itulah mengapa Ayah yang mengizinkan kami pergi setelah makan malam usai, mengabaikan ibu yang tidak setuju dengannya.


Mobil telah melaju, menyusur di sekitaran area Seminyak.


Banyak cafe dan toko yang berjejer di sepanjang jalan.


Aku harus segera bicara dengannya, batinku.


Cukup sulit untuk menemukan jalanan yang sepi agar aku bisa menepikan mobil dan bicara dengannya.


Hingga setelah beberapa saat, kuhentikan laju mobilku di parkiran sebuah toko yang sudah tutup.


Sherina hanya melirik sesaat, ketika aku menatapnya.


“Sherina ...”


“Maafkan ibuku,” pintaku.


Sherina masih tak bergeming.


“Sampai kapan kamu akan mendiamiku?” tanyaku lagi.


Keadaan kembali hening beberapa saat.


Genggamanku pada kemudi semakin erat. Harusnya tak perlu kubawa Sherina pergi, saja besok keadaan akan membaik dengan sendirinya, pikirku.


Gibran, kau harus bisa bertahan. Tahan emosi dan amarahmu, batinku.


“Aku tak mendiamimu, aku hanya sedang berpikir.”


Akhirnya ... akhirnya dia mau menjawab pertanyaanku, meski singkat.


“Na, sekali lagi aku minta maaf atas sikap Ibu. Aku sudah menduga jika Ibu akan menolak, tapi aku tak pernah menyangka jika dia akan melakukannya di depan banyak orang,” jelasku.


“Aku sudah jujur padamu, salah satu tujuanku adalah membatalkan rencana perjodohan yang diatur oleh Ibu.”


“Kamu tentunya tau siapa Ibuku, dan bagaimana dia selalu berusaha menjaga imagenya.” Lanjut Gibran.


“Gibran ...”


Sherina menyebut namaku dengan nada yang sendu.

__ADS_1


“Rasanya aku menyesal telah meninggalkan diriku sebagai Nana si culun,” ucapnya.


“Sepertinya dulu aku lebih kuat, aku lebih bisa menerima saat aku dipermalukan."


Sherina menghela napas. “Kamu lihat kan tadi?”


“Sherina yang kuanggap hebat nyatanya dia sangat lemah. Dia hanya diam saat Ibumu terus memojokkannya,” ungkapnya dengan nada penuh amarah.


“Dan aku benci kenyataan jika Sherina itu aku yang sekarang. Rasanya sangat sakit.”


Kupejamkan kedua netraku saat kulihat Sherina menangkup wajahnya sambil menangis, bahunya bergetar.


Tak kusangka ... dia bukannya kecewa padaku.


Dia tak menyalahkan atau menyumpahi Ibuku, tapi dia menyesali dirinya, batinku.


Kubawa Sherina dalam dekapanku, sedikit sulit untuk aku bergerak karena terhalang seat belt.


Kubelai lembut puncak kepalanya, “Hei ... kamu salah kalau jika menganggap Sherina lemah.”


“Aku bangga sebab kamu begitu hebat dalam menjaga wibawa dan harga dirimu,” ungkapku.


“Asal kamu tahu, semua orang di sana memujimu. Memuji bagaimana tenangnya dirimu dalam menghadapi sikap Ibu," pujiku.


Sepertinya ucapanku cukup menghiburnya. Tangisan tak lagi semenyedihkan sebelumnya.


“Diam bukan berarti kalah Sherina. Diam bukan berarti kamu tak mampu melawan atau kamu takut. Sering kali diam bisa menjadi cara untuk meraih kemenangan dengan elegan.”


Bisa kudengar sedikit demi sedikit suara isakan Sherina mulai melemah.


“Benarkah begitu? Kupikir mereka semua tadi mencemoohku,” ucapnya.


“Ya memang, pada awalnya. Bukankah sudah kubilang, diam itu cara menang yang elegan. Tanpa perlu susah-susah mengotori tanganmu, orang-orang jadi tahu sebenarnya siapa yang bisa mereka percaya,” lanjutku.


Wajah cantik ini menangis lagi. Meski bukan aku yang membuatmu menangis, tapi aku tetap menjadi alasannya, batinku.


“Gibran ....”


Saat aku menoleh tak kuduga jika wajah Sherina berada sangat dekat denganku.


Saking dekatnya aku bisa merasakan embusan hangat napas.


Deg Deg Deg Deg Deg, jantungku berdegup lebih cepat.


“Apa menurutmu aku mampu mengalahkan Soraya?” tanyanya.


“Soraya?” keningku mengernyit.


“Bukankah dia wanita yang ingin dijodohkan denganmu?”


Aku mengangguk sebagai jawaban ‘Iya’ atas pertanyaannya.


“Kamu sudah mengalahkannya. Bahkan sejak dulu kamu sudah menang. Kamu menang karena yang kupilih adalah kamu,” ungkapku.


Astaga, apa yang barusan kukatakan? Apa aku baru saja menyatakan perasaanku? Batinku.


Jantungku yang awalnya berdegup lebih cepat, kini semakin cepat hingga aku ragu jika setelah ini kondisi jantungku akan baik-baik saja.


Sherina kembali ke posisi duduknya.


Menyandarkan kepalanya dan menarik napas panjang.


Samar-samar kudengar jika Sherina berdecak.

__ADS_1


“Ck ... jika itu yang kamu maksud menang, maka kemenanganku itu palsu. Sebab hubungan kita dari dulu hingga sekarang hanyalah palsu.”


“Sepenting itukah bagimu untuk menang dari Soraya?”


Sherina mengedikkan bahunya, “Entahlah.”


“Aku hanya merasa hidupku tak pernah berjalan maju jika Soraya masih terlibat di sana,” ucapnya.


Ada kesedihan di wajah cantik yang hanya berpoleskan riasan tipis.


Ternyata semua perundungan yang dialami Sherina sejak kecil belum benar-benar sembuh.


Seketika aku menjadi makin kesal pada Soraya.


Sebenarnya apa yang wanita itu kejar dariku. Bukankah semua sudah ia dapatkan dari Barra.


Sherina, kumohon bertahanlah hingga aku berhasil menepati semua janjiku padamu.


“Sher-"


“Gib-“


Ucap kami secara bersamaan diikuti gelak tawa yang berhasil mengusir kesenduan.


Lalu tawa itu tiba-tiba saja menghilang saat netra kami bertemu.


Sherina lebih dulu mengalihkan pandangannya, namun aku yang belum siap untuk berhenti menatap keindahan akhirnya memberanikan diri menahan wajahnya yang hendak berpaling.


Sherina sepertinya terkejut, namun aku sudah tak kuasa lagi menahan semuanya.


Kudekatkan wajahku hingga kami bisa sama-sama merasakan embusan napas masing-masing.


Cup.


Aku berhasil mengecup bibir Sherina.


Hanya berani mengecup sebab aku tak ingin Sherina berakhir marah dan membenciku, lagi.


Sherina ... memejamkan matanya?


Kusadari hal itu setelah tautan kami terlepas.


Akhirnya kurutuki diriku yang telah membuang kesempatan.


Apalagi setelah kulihat Sherina bertingkah malu-malu dengan menunduk dan menghindari tatapanku.


Jangan sampai aku menyesal, jangan sampai malam ini aku tak bisa tidur karena memikirkan kebodohanku yang menyia-nyiakan momen ini.


“Sherina ...”


“Ya ...”


Aku menatapnya lagi sebelum akhirnya bibir kami kembali bertemu.


Berbeda dari yang sebelumnya, kali ini tak hanya Sherina tapi aku pun juga turut memejamkan mataku merasakan bagaimana Sherina menerima semua yang terjadi saat ini tanpa paksaan.


Kutahan tengkuknya dengan satu tanganku, dan tangan yang satunya sedang berusaha melepaskan seatbelt yang sungguh mengganggu.


Kumohon .. aku tak ingin semua ini cepat berakhir, batinku.


Berbeda sebab bukan lagi sebuah kecupan, melainkan ciuman yang menuntut.


Menuntut untuk saling mencari tahu lebih dalam lagi. Semoga saja setelah ini dia tahu, jika kita tak akan pernah berhasil meski sekeras apa pun kita telah mencoba untuk menolak, membohongi, atau bersembunyi dari perasaan cinta.

__ADS_1


🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌸🌼🌸🌼


__ADS_2