
Setiap pria mungkin akan menjadi seorang suami, tapi semua tidak akan menjadi istimewa jika tidak menjadi seorang ayah.
Setiap Ayah akan dihadapkan pada pilihan ingin menjadi sosok yang seperti apa,
Sosok Ayah yang lembut, senang bermain dengan anaknya, mengikuti segala keinginan anak, dan sabar.
Atau memilih menjadi sosok Ayah yang keras, tegas, sering memarahi anaknya, dan terkadang memaksakan sesuatu pada anak.
Ketahuilah , pilihan sosok ayah yang mana pun semuanya sulit. Sebab ada tanggung jawab besar di sana.
Tanggung jawab untuk memastikan putra putrinya siap jika sudah tiba saatnya ia harus pergi untuk selamanya.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
# SHERINA POV #
Aku menghitung lingkaran yang telah kubuat pada kalender yang ada di atas mejaku.
Lima .... sudah lima hari aku kembali terperangkap dalam hubungan yang tak berarah dan entah akan berujung di mana, batinku.
Aku kembali menghela napas, hanya itu yang bisa kulakukan untuk sedikit meredam rasa sesak tatkala memikirkan nasib percintaanku.
Lalu kurasakan ponselku bergetar, nama Gibran tertera di layarnya.
“Halo,” sapaku.
“Na ... apa kelas mengajarmu sudah selesai?” tanyanya.
“Ya, sudah selesai sejak tadi. Sampai kapan aku harus menunggumu?”
“Oh yah? Maafkan aku membuatmu menunggu. Aku ada meeting mendadak yang tak bisa kutinggalkan.”
“Tak masalah. Baiklah, aku akan pulang saja.”
“Jangan pulang dulu, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
Aku menghembuskan napas kasar. “Berapa lama lagi aku harus menunggu? Aku mulai bosan.”
Lama Gibran terdiam.
“Kamu bisa ke kantorku saja? Tunggu aku selesai meeting dan kita langsung pergi, bagaimana?” usulnya.
“Baiklah, aku akan ke sana,” putusku.
“Berhati-hatilah, aku menunggumu," sahutnya lalu sambungan telepon kami pun berakhir.
🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼
Dua puluh menit kemudian, aku sudah tiba di depan salah satu gedung pencakar langit milik El-Fatih Grup. Bahkan dari kejauhan sudah tampak betapa megahnya bangunan gedung ini.
Mungkin sebagian besar orang berpikir akan menyenangkan jika bekerja di perusahaan besar seperti ini, namun untuk aku pribadi cita-citaku sejak kecil adalah menjadi guru seperti kedua orang tuaku.
Syukurlah, aku sudah berhasil meraih 1 mimpi di antara banyak mimpi yang masih ingin kuraih.
Seperti perusahaan besar lainnya, saat memasuki gedung aku di sambut oleh 2 orang karyawan wanita yang bertugas di bagian front office.
“Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu?” ucapnya ramah.
“Siang, saya ingin bertemu dengan Pak Gibran El-Fatih,” jawabku.
“Apa sudah membuat janji sebelumnya?”
Aku mengangguk.
“Silakan menunggu sebentar, akan kami konfirmasikan lebih dulu.”
Sembari menunggu kuedarkan pandanganku ke sekeliling gedung yang sangat menarik di mataku.
Satu hal yang membuatku terpesona dengan perusahaan ini, dari luar gedung kesan mewah sangat terasa.
Namun saat masuk ke dalam gedung, aku dibuat terpaku dengan desain dan arsitektur lobi perusahaan yang sukses membawa identitas perusahaan ke dalam desain kantornya.
Ada bagian tertentu yang memang di khususkan untuk pengunjung yang ingin menghabiskan waktu dengan membaca.
Rasanya pantas jika bagian lobi kantor di desain dengan nyaman, efektif, dan efisien sebab mereka tahu tempat ini yang akan menjadi sorotan utama.
__ADS_1
Tak lama ... dari kejauhan aku melihat Rey berjalan dengan cepat ke arahku. Sementara kedua karyawan wanita di meja front office tampak menunduk dengan takut-takut.
“Nona Sherina ...” sapanya sembari mengatur napas yang memburu.
“Maaf jika Nona menunggu lama ... mari saya antar ke ruangan Tuan Gibran,” lanjutnya.
“Tak masalah, menunggu di sini sangat nyaman,” ujarku.
Entah apa yang telah terjadi, hingga karyawan front office yang tadi juga ikut menghampiriku.
“Maaf Nona, kami salah telah membuat Anda menunggu,” ucapnya.
“Tidak perlu minta maaf, kamu tidak melakukan kesalahan. Apa yang kamu lakukan adalah bagian dari tugasmu," balasku sembari tersenyum.
Kulihat Rey memberi semacam kode pada karyawan tadi melalui tatapan matanya.
“Terima kasih Nona, saya permisi,” pamitnya.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan.
“Mari Nona ... silakan lewat sini,” ujar Rey.
Aku mengikuti ke mana arah Rey melangkah hingga kini kami berdua berada di dalam lift.
“Rey, jangan terlalu kaku padaku,” ucapku.
“Bisakah kau lebih santai?”
“Maaf Nona, saya hanya berusaha sopan saja,” jawabnya untuk menolak permintaanku.
“Aku hargai itu, meski aku merasa sedikit tak nyaman.”
“Harusnya cukup Gibran saja yang bersikap seperti itu, kau harusnya bisa lebih baik darinya,” sambungku.
Tampak Rey terdiam, sepertinya dia memikirkan ucapanku.
“Baiklah, saya setuju. Tapi hanya jika tak ada Tuan Gibran,” ucapnya kini dengan tersenyum.
Ternyata dia juga tahu cara tersenyum, batinku.
“Ya, kau benar ... lebih baik seperti itu. Jangan sampai kita mencari masalah dengan Gibran."
Suasana yang tadinya dingin kini mulai mencair, hingga pintu lift terbuka dan kami yang tengah menertawakan Gibran mendapat tatapan penuh tanya oleh seorang pria paruh baya.
“Tuan Nadim? Selamat siang,” sapaku dengan sopan.
“Sherina? Kamu mau bertemu Gibran?” balas Tuan Nadim.
“I-iya Tuan,” jawabku.
“Aku baru saja dari ruangannya, namun sepertinya dia masih meeting,” ucap Tuan Nadim.
“Bagaimana jika kamu menunggu di ruanganku saja ... aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu," usulnya.
“Tentu saja saya mau Tuan, Dibanding saya harus menunggu seorang diri,” jawabku.
Sebelum kami berlalu, Tuan Nadim menitip pesan Rey.
“Rey, katakan pada Gibran ... Jika dia tak kembali dalam 2 jam, maka aku akan membawa Sherina pergi.”
Aku hanya tertawa saat kulihat Rey menggaruk kepalanya, aku yakin kini dia sangat dilema.
🌼🌸🌼🌸🌼🌸🌼🌸
Di dalam ruangan yang cukup luas, aku dan Tuan Nadim duduk berhadapan di sofa empuk yang berada di tengah-tengah ruangan ini.
“Bagaimana kabarmu? Kita belum pernah bicara sedekat ini sebelumnya,” ucap Tuan Nadim.
“Saya baik, Tuan.”
“Berhenti memanggilku Tuan,” pintanya. “Panggil saja paman.”
Aku membalasnya dengan anggukan.
“Kau tahu, dahulu aku sangat mengagumi cara Effendi dan Yasmin mendidikmu,” lanjutnya.
__ADS_1
“Aku sudah lama mengenal ayahmu, aku yakin kegigihannya menurun padamu.”
Tuan Nadim bungkam sejenak, sepertinya dia sedang mengingat-ingat kenangannya dulu bersa ayah.
“Effendi pasti bangga melihat anaknya telah sukses, dahulu dia pernah bercerita jika dia sangat ingin melihatmu mengajar di depan kelas.”
Sementara kini aku sangat yakin jika kedua netraku mulai berkaca-kaca, hal yang sudah sering terjadi saat ada yang membicarakan ayah atau Shafiyyah.
“Sherina, apa hubunganmu dengan Gibran, putraku? jawab yang jujur," tanya Tuan Nadim.
Aku tak menyangka jika Tuan Nadim tiba-tida akan menanyakan hal ini.
Harus kujawab apa? batinku.
“Ka-kami sepasang kekasih,” jawabku terbata-bata.
“Kenapa jawabanmu terdengar meragukan?” tanyanya lagi.
Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Tuan Nadim.
“Bolehkah paman minta tolong padamu?” tanyanya kini.
“Pertolongan apa Paman? Jika bisa, aku pasti membantu,”ucapku.
“Bisakah kau membantuku untuk bertahan di sisi Gibran? Memberinya dukungan saat dia mulai lelah?”
Sontak aku mengernyitkan keningku.
“Kau tak perlu sungkan, aku tahu jika hubungan kalian sekarang adalah sebuah perjanjian.”
Kini aku dibuat tercengang, tak menyangka jika Tuan Nadim mengetahui semua.
“Mengapa Paman minta tolong padaku? Gibran juga tak akan pernah mau mendengarku," ucapku.
“Dia mendengar, hanya kamu yang tak menyadarinya.”
“Aku bisa merasakan itu, hanya kau Nak, hanya kamu yang bisa," ucapnya dengan yakin.
Tuan Nadim menghela napasnya panjang.
Di balik guratan-guratan keriput di wajahnya, aku tahu jika di balik wajah tegas dan berwibawa itu, ada sosok ayah yang sangat mencemaskan putranya.
“Gibran sejak kecil di didik keras oleh Ibunya. Paman tak bisa melakukan apa pun, sebab paman tahu bagaimana perjuangan istri paman saat masih muda hingga menjadi seperti saat ini.”
“Aku melihat istriku sewaktu muda di dirimu Sherina,” ucap Tuan Nadim.
“Sebagai ayah, aku ingin kamu setia mendampingi putraku,Gibran."
"Semangati dia saat dia lelah, Yakinkan dian saat dia ragu, dan temani dia saat dia sendiri,” ucap Tuan Nadim.
“Tapi aku tak tahu paman hubungan ini akan bertahan sampai kapan,” jawabku jujur.
Tuan Nadim tersenyum padaku, "Menurut firasatku, kalian akan bertahan lama.”
“Makanya Aku berharap padamu ... Yakinkan Gibran jika dia memang pantas dan hanya dia yang bisa meneruskan El Fatih Insan Unggul.”
Tuan Nadim menatapku dengan wajah penuh harapnya. Sementara jujur dalam hati aku takut berjanji.
Aku takut sebab keinginan terbesarku saat ini adalah secepatnya menyelesaikan semua urusanku di kota ini, kemudian kembali berada di dekat Bunda.
Aku bahkan tak pernah seberani Tuan Nadim, membayangkan jika hubungan palsu bersama Gibran akan bertahan lama.
Jujur saja aku tak ingin, sebab aku tak ingin perasaan itu kembali dan berakhir aku lagi yang tersakiti seorang diri, batinku.
Akan tetapi raut wajah penuh pengharapan dari Tuan Nadim membuatku tak tega menolaknya.
Aku merasa bersalah jika menolak permintaannya. Aku bisa bayangkan bagaimana jika yang menatapku kini adalah ayah.
Jika ku tolak, Ayah pasti juga akan kecewa andai saja dia di posisi Tuan Nadim
Pada akhirnya aku mengangguk.
“Aku akan melakukan yang terbaik Paman,” ucapku.
“Selama aku mampu, selama kesempatan itu ada, aku berjanji akan menjadi pendukung setia Gibran,” janjiku pada Tuan Nadim.
__ADS_1
🌸🌼🌸🌼 To be continued 🌸🌼🌸🌼