KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
DIA MENGAJAK HATIKU TERJATUH


__ADS_3

Episode 01


Dari judul : KEKASIHKU KAKAK TIRIKU


Pagi ketika gerimis kecil berjatuhan dari langit. Udara begitu dingin. Meira terbangunkan oleh suara si belang, kucing kesayangannya yang menyusup dibalik selimut, nakalnya lagi si belang malah meringkuk diantara belahan dada .


" Nakal kamu." Meira menyentil telinga si belang.


"Meong.....!"


Meira menahan senyum, agak malas dia menggeliat dan bangun dari tidurnya. Dia ambil ponsel dan melirik angka jam, pukul 06:00 lewat beberapa menit.Ya, masih pagi! gumam Meira. Lalu melangkah lemas sambil gerak-gerak badan k Belakangan ini kuliner Nenek mulai ramai dibicarakan orang dan jadi favorit sarapan pagi teman-teman di sekolah. Selain bentuknya unik rasanyapun...Mmmh! Enggak kalah lezat dibanding kue-kue galery toko. Murah banget! ujar mereka.


"Pagi, Nenek." sapa Meira mencemilnya.


"Heem!" Nenek hanya mengangguk.


"Nek, jangan lupa pilah-pilah dan periksa lagi. Kemarin ada yang ketuker, aku jadi enggak enak dicomelin mereka. Aku mandi dulu.."


"Eh, Mei...."


"Ya, nek?" Meira menoleh dekat kamar mandi.


"Besok jangan terima pesanan dulu."


Meira cuma bisa mengiakan sebelum kemudian buka pintu kamar mandi dan masuk kedalamnya.*********


Meira turun dari mobil angkot, tak jauh melangkah lalu berdiri di depan gerbang Sekolahan SMA, Di pundaknya tergendong tas ransel gede berisikan beberapa paket makanan dan kue, siap di antar satu persatu pada teman-temannya. Dia masih tertegun! Bibirnya tersenyum lebar. Perasaannya sangat bahagia! Memandang plang bertuliskan SLTA, hatinya bersyukur, Dia tidak pernah menyangka, dalam rangkulan seorang wanita tua, nenek, dengan tangannya yang tak pernah lelah untuk berkarya, seribu demi seribu Nenek kumpulkan uang untuk sang cucu yang menangis ingin bersekolah. "Terima kasih ya Tuhan...Engkau telah titipkan aku kepada seorang Hamba-Mu yang benar." Batin Meira lirih, karena bahagianya tidak terasa ada air hangat yang jatuh dari kelopak matanya yang belo mirip boneka. Meira mengusap wajah dari sisa air hangat di pipinya. Pipi yang mulai berona putih kuning langsat, tidak seperti ketika dirinya pertama masuk Sekolah ini, berona hitam karena sering kena terik Panas Matahari, keliling pinggiran kota jualan kue bersama sang Nenek.


"Halo, Meira. Boleh gua bantu?" seorang cowok rambut kribo senyum-senyum di dekatnya, Agung.


Meira mencibir, inget banget. Si kribo Agung ini dulu pernah mencomeli-nya. menjelek-jelekan penampilannya. bahkan meskipun niat nya cuma bercanda cowok ini pernah bilang, ( "Mei, muka elu kok putih belang-belang item gitu, sih? kayak kena asap motor dua tax!" ) Ya, ampun sakit banget hati aku.


"Mei...ngapain deketan sama si Agung?" Dika, teman sekelas, tahu- tahu sudah ada di sebelahnya, menatap heran, lalu celingukan memandang Agung dari ujung sepatu sapai ujung kribonya. Sambil terkekeh Dika ngomong lagi."Ya ampun, Meira...kamu keliru banget pilih pacar."


Agung mendesis sebal. "Eh, sontoloyo! Sekali lagi lu ngomong kayak gitu, gua tinju mulut lu biar tambah monyong!"


"Udah, udah! Kalo mau beranteman, tuh ke tengah jalan, biar pada mati ketabrak mobil sekalian!" cerca Meira bergegas angkat kaki.


Suasana Sekolah sudah mulai ramai, dia antarkan semua paket makanan dan kue ke teman teman yang memesan sampai ranselnya kosong.. Hatinya bahagia. sangat bahagia malah! Lagi-lagi hatinya bersyukur, ternyata hari ini rezeki yang dia dapat, lebih banyak dari hari yang kemarin. "Terima kasih, Tuhan!" dia tengadah memandang langit.


"Meira...." sebuah sapaan lunak mengejutkan.


Meira tersentak, menoleh, menemukan seorang cowok tampan sudah berdiri di dekatnya, alisnya menyeringai, mencoba untuk mengenali cowok itu. Sepertinya Meira pernah melihatnya...Ya betul! Kalau sedang kebetulan berpapasan Meira bertemu dia, dan sempat saling bertatapan. Kak Andra? Ya! Meira ingat dia Kak Andra! Kakak kelasnya. Cowok ganteng, banyak disukai cewek.

__ADS_1


"Kak Andra..." Tak terasa Meira memanggilnya, seraya mengusap air mata sisa senang dapat rezeki lebih.


Cowok itu mengangguk " Iya. Kamu sudah lupa?"


"Emh, enggak. Aku masih ingat. Kak Andra, Kan?" Suara meira tidak jelas. Dirinya jadi ingat, dulu pas lagi mapram sebagai siswa baru, cowok ini pernah ngerjain, suruh Meira pakai sepatu berbeda warna, hitam kiri, putih kanan, udah gitu...uh, Kak Andra keterlaluan. Masa Meira di suruh menawarkan sepatu beda warna itu ,ditukar dengan Bakso semangkok.


"Boleh kakak duduk di dekat kam?"


"Bo,bo,boleh. Silahkan, kak." Meira tergagap, seraya menggeser duduknya. Ya, robb ada apa dengan aku? jantung aku mendadak berdegup-degup kencang banget. Darah aku berdesir seperti kesemutan. Dada aku berdebar-debar, senyum dan wajah cowok ini kenapa tiba-tiba ada dalam pikiran aku?


Andra merebahkan dirinya duduk tidak jauh dari Meira,


"Kak." Meira mencoba mengisi ruang sepi, meskipun dia kebingungan untuk bicara. "Ada apa tadi kakak kesini? Apa Kakak mau pesan Kue?"


Andra melirik."O, enggak. Tapi kue bikinan nenek kamu itu enak banget, ya. Nantilah aku pesen."


"Kakak bilang kue buatan nenek aku enak?" Meira menyeringai. "Perasaan? Aku belum pernah tuh kirim kue sama Kakak?"


"O, itu." Andra garuk-garuk kepala. "Pernah nyemil dari si Dika." Jawab Andra asal kena, lalu dengan wajah serius dia berkata. "Sebenarnya sih tadi Aku mau ke studio sana!" Andra menunjuk ke gedung kesenian dan memandang ke bagian teras sanggar. "Teman-teman ngajak aku latihan musik. Kan rencananya sekolah kita mau ikutan festival Band, di Radio bypass, kebetulan hari ini ada rapat guru, Ya kami manfaatkan saja buat latihan musik."


"Oh..." Angguk Meira.


"Tapi Pas mgeliat kamu lagi sendirian, aku tiba-tiba kok jadi penasaran, ngapain itu Meira memandang langit sebegitu sedihnya." lanjutnya seperti merayu.


Andra menoleh. "Jawab kamu kok oh,oh melulu sih, Mei."


Meira meringis kheki. "Aku bingung harus bicara dan jawab apa."Lagian Kak Andra keliru. Aku tadi lagi happy, bukan lagi sedih...Aku dapat rezeki banyak dari hasil jualan kue.Nenek bilang, kalo kita dapat rezeki bersyukurnya ya seperti itu., pandang ke atas."


"Oh..." Andra.


Andra tertawa kecil. Meira senyum-senyum. Apa aku lagi bermimpi? Meira bertanya-tanya, andaipun ini sedang dalam mimpi, aku senang menikmatinya, ternyata akupun punya waktu untuk curhat dengan seseorang. Syukurlah bila ini cuma mimpi! karena sejujurnya, aku belum siap untuk menerima semua ini, karena bagi aku ini terlalu pagi, dan Lagi, datang bukan di waktu yang tepat! Meira mendesah. Aku juga sadar siapa aku? Lagipula belum tentu cowok yang tiba-tiba Aku kagumi itu, ada rasa yang sama kepadaku. Bukan cuma itu saja yang aku ragukan, aku punya alasan lain agar aku tidak boleh terlalu terburu-buru untuk jatuh cinta!,,,,Alasan itu sudah aku jelaskan dalam buku harianku. Aku masih bingung kenapa aku smpai berada di kota ini, dulu setelah tamat sekolah SD, aku dan nenek di boyong dari kampung ujung utara ke Bandung oleh Om Padly, adik kandung Ayah. Om Padly seorang pengajar Guru SD, juga sebagai guru Honorarium di sebuah sekolah Yayasan setingkat SLTP, tempat aku belajar. Lulus SLTP, Om Padly mendaftarkan aku ke Sekolah ini. Alasannya biar gampang masuk ke fakultas yang Aku inginkan yaitu,( Kampusnya sangat berdekatan dengan SLTA ini, hanya terhalang dinding tembok saja. Dari sini bentuk kampusnya terlihat, aku sering menatapnya).Fakultas Kedokteran! Meira sejak kecil bercita-cita inhin kadi seorang Dokter. Kadang-kadang Meira suka keluar air mata melihat bangunan serba putih itu. Merasa tidak yakin dirinya bisa berada di sana. Dari mana dan dengan cara apa dirinya mendapatkan Biaya ? Tapi Aku harus jadi Dokter spesialis Anak-anak! Harus! Hatinya selalu berkata demikian.


"Kenapa, Mei..?" tanya Andra menatap lembut ke wajah Meira. Ada pandangan haru dari sinar bola matanya.


"Kenapa


"Pengen jadi Dokter?" tebak Andra sambil senuum.


Meira cuma dapat tersenyum "Biaya awal kira-kira perlu berapa ya, Kak?"


"Aduh, Mei, jangan bahas soal biaya Kuliah sekarang deh. Lagi pula kamu masih kelas sebelas. Masih satu tahun lebih lagi. Gini, Mei. kamu fokus belajar saja dulu. Jualan kue kayak biasa,trus manfaatkan potensi yang ada, satu lagi..."


"Apa?"

__ADS_1


" Aku bisa bantu kamu jualan kue." goda Andra.


"Ya ampun Kak Andra. Masa iya, ada anak pengusaha Migas jualan kue?" Meira jadii tertawa geli


"Bener lho, Mei."


"Udah, ah... jangan ngelucu..!"


Mereka di kejutkan oleh teriakan panggilan teman-teman Andra yang mungkin sudah tidak sabar menunggu.


"Dra! Hoy! Ini soundsistem udah kepasang semua! Kapan mulainya!" Lagi-lagi teriak teman di studio.


"Cepetan dong, Dra. Gimana sih lu!"


"Iya, bentar!" jawab Andra keras."Mei. Aku pergi dulu, ya."


Meira mengangguk saja.


"Atau mendingan kamu ikut aku, sekalian dengerin aku nyanyi, gimana?"


"Maaf, Sekarang Aku nggak bisa, tapi kapan-kapan akan aku pikirkan, sekalian request lagu."


"Boleh. Lagu apa? Biar aku hapalkan dulu trus aku ubah liriknya, spesial buat teman baru aku...Meira! Mau ya jadi teman baru aku?"


Meira cuma tersenyum."Aku enggak bisa jawab.!"


Sementara,tiga Cewek cantik mendadak menghentikan langkahnya di ujung koridor, Tersentak kaget melihat Ada Andra dan Meira di pinggiran taman bagian belakang sekolah.


"O,my god!" pekik tertahan salah satu dari mereka. "Itu kan Andra sama si Meira tukang jualan kue?"


"Iya, bener. Cepet-cepet vidio'in!" Cika dan Yola kompak


Andra malah makin mendekat. Merasa tak yakin."Cuma temenan doang, Mei." desaknya."Mau, ya?"


Meira diam dan bingung.


"Enggak apapa..tapi besok ketemuan, ya?" Andra mundur lalu berlari hendak menuju rumah studio.


"Eeeeeh. Tunggu-tunggu-tunggu!" Meira ribut memanggil.


Andra berhenti dan cepat berbalik.Dari kejauhan Meira melambaikan tangan lalu berteriak."Kak Andra, aku tunggu kamu di sini besooook!"


"Yaaaaa..!" Andra balas berteriak lalu berlari lagi naik pelataran teras studio.

__ADS_1


.


__ADS_2