KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 17


__ADS_3

Meira turun dari tempat tidurnya. Dia menghadap tepat di depan Andra. Meira ingin tersenyum tapi tidak bisa melakukannya.


"Aku enggak bisa mengambil keputusan apa-apa. Kamu saja yang ambil keputusan. Tapi kalau boleh aku sarankan, sebaiknya kamu antar aku pulang."


"Apa?"


"Iya. Aku minta kamu antarkan aku."


Sebuah pelukan kembali menenggelamkan tubuh Meira di dada Abdr


"Jadi sepakat ya, kita seperti dulu lagi?"


"Tapi aku merasa takut." Meira terisak. "Hati aku sakit. Jauh-jauh pengen ketemuan, kakak sudah menikah, aku merasa....aku akan kehilangan kakak."


"Heeei.... sudah jangan menangis."


Andra mengusap kedua bola mata Meira. lalu memeluknya dengan erat. "Semua akan baik-baik saja. Percaya sama aku."


Meira terdiam.


Andra memejamkan mata ngenes. Dalam hatinya bicara, Ya ampun, Mei. Pantesan dari dulu kalau aku tanya, mau enggak jadi pacar aku, kamu enggak pernah jawab. Kamu udah menjawabnya dengan sikap seperti ini.


"Aku bodoh, ya?" gumam Andra tidak sadar.


"Syukurlah kalau kamu sekarang sadar. Dan merasa bodoh." gerutu Meira.


Tok! Tok! Tok!


"Sudah selesai.." Ibu Mirna menengok dari pintu.


Andra terkagetkan dan segera melepaskan pelukannya. Keduanya berbagi senyum sebelum kemudian sama- sama bersikap wajar. Andra membawa Meira ke ruangan tengah menemui Mama Mirna.


"Mau di bawa ke mana adik kamu?" tanya Ibu Mirna. melihat tangan Andra memegang Meira.


"Meira yang minta pegang, Mah."


"Enak aja!" Meira cepat menepis tangan Andra. Lalu bicara."Mah, udah sore aku pulang dulu, Nenek tadi telpon suruh aku cepet-cepet pulang."


"Jangan lupa bicarakan sama Nenek kalau Mamah minta kalian pidah ke sini, Mamah sepi sendirian. Bik Unih kerjanya kan cuma di dapur saja. Kalau tidak penting-penting amat, malu katanya masuk ke sini. Trus Andra tinggal di tante Yunita. Sudah punya istri lagi."


"Iya, Ntar aku sampein." jawab Meira.


"Istri kontrak." sela Andra.


"Apa?" Meira nyelinguk. "Istri kontrak?"

__ADS_1


"Jangan di bahas!" Andra mencubit perut Meira. "Aku antar calon istri dulu, Mah!" Andra mendahului ke keluar.


"Lho, siapa yang suruh kamu antar Meira?" Ibu Mirna sedikit kaget.


"Aku yang pinta, Mah." jawab Meira cepat.


"Oh."


Meira pamitan. Lalu menyusul Andra masuk ke mobil. Andra mulai melajukan mobilnya menuju jalan raya.


"Ya, Allah apa ini tidak salah?" Ibu Mirna nampak pasrah memandang Anak-anaknya pergi semobil dan saling jatuh cinta.


*************


Meira turun menapaki undakan tangga dari kamar rias, dia mengenakan gaun biru muda model dress pesta anggun. Di sambut tepukan kecil tak bersuara dari beberapa tamu undangan yang berdiri di aula kafe tempat pesta.. Mereka melantunkan lagu Selamat ulang tahun untuk Meira. Meira membalasnya dengan senyuman.


Andra yang beberapa jam lalu mengantarkan Meira, dan ingin menghadiri perayaan ulang tahun Meira, kini merasa sangat terpesona.


Ya, Tuhan! Dia mengenakan gaun pemberianku yang Aku belikan dua tahun lalu? Terima kasih Meira, kamu ternyata masih menganggap aku seperti dulu lagi! Tidak terasa mata Andra berkaca-kaca.


Meira berjalan menuju panggung datar lalu berdiri di depan kue tart bermotif piramida yang ujung atasnya berdiri lilin putih di hiasi angka Sembilan belas th. Setelah MC selesai menyampakan ucapan terima kasih kepada para tamu undangan yang sudah hadir, para tamu pun mulai menyerukan nada lagu berkalimat Tiup Lilinnya secara berulang-ulang.


Puuuuh! Meira meniup lilin hari ulang tahunnya. Sepasang matanya hangat, betapa tidak? Sudah sepuluh tahun dirinya tidak pernah lagi merayakan hari ulang tahunnya. Dan kini? Ya, Allah, terima kasih Engkau masih memberiku umur panjang! batinnya. Dia melirik ke Abdra, dan melempar senyum.


Mak Irah tersenyum diantara deraian air matanya. Sayangnya, Prastian sang Ayah Meira telah tiada, tidak bisa melihat kecantikan sang putrinya.


"Selamat ulang tahun Meira syeakillah Mirna." ucap Andra seraya mengecup lama kening Meira.


"Trima kasih kak, kamu sudah menjaga aku sedari umur enam belas tahun." Meira menahan tangis.


Andra mencubit hidung meira.


"Brengsek! Siapa cowok itu?!" Alfian mendengus cemburu.


"Sabar, bos. Kayak bukan play boy aja, lu!" tepak rekannya menghibur.


Aflian menghampiri. Mengucapkan selamat sambil hendak merangkul, Meira dengan cepat menahannya dengan halus dan mempalingkan sedikit wajahnya karena Alfi sangat dekat.


"Ngedance?" tawar Alfi.


"Terima kasih aku lagi malas.O, ya, Bang. Kenalin ini kak Andra, pacar aku yang sering aku ceritain."


Alfian melirik Andra sambil senyum hambar, Andra menjulurkan tangan.


"Andra..."

__ADS_1


"Alfian..." sambut Alfian. "Meira sering membicarakan anda." ujar Alfian. "Anda sangat beruntung punya pacar secantik Meira."


"Dia calon istri.. bukan lagi pacar." jawab Andra sambil mengusap-usap kepala bagian atas Meira."Maaf, saya mau ngedance dengan calon istri saya." Andra lalu menarik Meira dance.


Setelah slowdance, Andra pamitan pulang, dengan alasan banyak kridit skripsi semester.


,"Aku pulang dulu, sayang. jangan nakal, ya." goda Andra.


"Aku pengen pingsan denger kamu panggil aku, sayang, kak." Meira balik menggoda.


"Aku pulang, Mei."


"Hati-hati...". pesan Meira.


"Yap, dahg."


"Dahg." balas Meira.


Mak Irah tersenyum, walau hatinya ikut bersedih mendengar cerita Andra yang harus terpaksa menikahi Jesika. Lalu Mak Ikut keluar, Andra mengantarkan Mak Irah pulang, sebelum dia meluncurkan Mobilnya pulang.


"kayaknya Andra sangat mencintai kamu, ya?" tanya Alfi ketika mengajak Meira sabtai di jejeran kursi.


"Mungkin. Tapi aku dan dia belum pernah membicarakan apa itu cinta. Aneh, ya?"


Alfi cuma angkat bahu saja."Dia sudah pergi, gimana kalo kita ngedance? " Alfi mengulang ajakannya.


'"Aku enggak bisa." Lagi-lagi Meira Menolak.


"Sebentar, aku ambil minuman dulu. Jangan ke mana-mana, ya." Alfian mengambil dua gelas berisi sedikit Win di dalamnya. lalu kembali menghampiri Meira. Dia menawarkan minuman. Meira menerimanya tapi dia letakan saja di atas meja.


"Enggak Suka?" Alfi mentap ."Ayolah cobain saja."


"Aku belum pernah meminum minuman seperti ini. Tapi sekedar buat menghormati tamu undangan aku, boleh aku coba." Meira pura-pura meminumnya. dia cuma menempelkan bibirnya saja.


Alfian nampak senang, melihat sikap Meira yang mungkin dia pikir mulai ada lampu hijau untuk lebih dia dekati.


Dan ketika acara sudah aelesai, Alfian mengantarkan Meira. Di perjalanan, Alfian menawarkan mengajak Meira mencari suasana lain. Tapi lagi-lagi Meira menolaknya. Ada rasa jengkel di wajah cowok itu.


"Besok Gua tunggu kamu di tempat biasa, ya." kata Alfi katika Meira turun dari mobil.


"Menara kampus?"


"Ya." Meira tidak mengiakannya. berbalik memasuki rumahnya.


Sudah beberapa kali Meira katakan, dirinya tidak mungkin membuka ruang hati untuk Alfian. Kenapa dia enggak ngerti-ngerti juga! gerutu hati Meira.

__ADS_1


"


__ADS_2