
Bell tanda pulang sekolah bergema dari menara ber-Loudspeaker, Meira segera berkemas, memasukan buku-buku dan pealatan tulisnya ke dalam tas. Dia melirik sebentar sahabat sebangkunya, Syfah. Tadi sahabatnya itu pijit-pijit kening terus, mungkin keteteran mengisi jawaban ulangan evaluasi Fisika. Dan begitu bell
"Ya aku ikut seneng aja." celoteh Meira. " Berarti besok aku bakal dapet uang jajan lagi dari kamu, ntar malam kamu pasti ngebell, trus ngomong, aduh Meira, please...bantuin gua dong, isi PR-nya. Iya, enggak?"
Syifah yang imut, wajahnya yang bulat, bibirnya yang mungil tersenyum-senyum mengaku. Keduanya melenggang keluar dari kelas diantara beberapa siswa lainnya yang mulai berhamburan dari kelasnya masing- masing.
"Coba gua lihat kayak apa?"
"Sebentar." Meira mengeluarkan ponselnya. "Nah ini!" Meira memperlihatkan postingan kue jenis terbaru kuliner sang nenek.dan menjelasà kannya dengan sangat detail dan sedikit berbohong.
"Hmm. Gua jadi penasaran."
"Pesan, ya?" Pinta Meira.
"Iyalah.Trus yang biasa, aku pesan tiga paket Mom dan Pap Gue kayak ketagihan, mereka bilang, enggak pernah bosen nyemil kue bikinan Elu"
"Wow! trims banget ya, Fah."
"Enggak perlu bilang gituh.O,ya, Mei. Pagi kemarin gua liat elu ngobrol-ngoblol sama cowok di taman belakang, kayaknya gua kenal banget sama dia. Kak Andra, ya?"
"Iya."
"Udah berapa kali
"Gimana perasaan lu ke Kak
Di ujung Lapangan bola basket, langkah keduanya tertahan oleh empat pasang kaki sesama cewek. Ekspersi muka ke empat gadis itu sangat tidak ramah, picingan mata dan ketus wajahnya mengurung ke arah Meira. Salah satu dari mereka mendekati Meira dan tangannya tanpa ini, itu lagi, tiba-tiba
"Plak! Menampar wajah Meira.
" apa-apaan,"
"Diem kamu, Syfah! ini urusan Gua sama si Meira. Lu jangan ikut campur. Atau Gua tampar juga!?"
"Syfah sudah!" Meira berusaha melerai. berdiri ditengah-tengah mereka. "Jesika! sekarang jelaskan, kenapa kamu kayak benci banget sama aku? Lagi pagi kemarin waktu aku ngantrin kue, kamu juga dorong aku sampe hampir jatuh. Salah aku apa? Aku enggak ngerti!"
"O, jadi Lu pengen tau alasan gua nampar, lu?"
"Ya!" Meira balik menentang, merasa kesal dan sudah kepalang.
Jesika kemudian merampas ponsel milik Meira.Lalu dia banting sekuat tenaga ke lantai Lapang Basket. Prak! Ponsel itu hancur berbelah-belah.
"Ya Allah, Mamaaah!" jeritnya panjang dan kencang, suaranya sampai bergema ke dalam ruang-ruang gedung Sekolah. Meira menangis terisak isak menatap kepingan ponselnya. Berpuluh-puluh pasang mata menatap dirinya. Suasana jadi riuh oleh suara-suara yang mengomentari kejadian yang jarang terjadi di sekolahan ini.
"cewe lu, banting hp Meira sampe berantakan gitu!" seseorang memberi tahu.
"Coba lu didik pacar lu tuh!" gerutu yang lain.
Andra cepat menerobos ke dalam kerumunan. Benar saja, Meira tengah menangis, duduk mendekap kedua lututnya dengan kepala menunduk meratapi ponselnya yang terpecah belah. Syifah sedang berusaha menghiburnya.
"Kalian, tolong tinggalkan tempat ini, ya." Pinta Andra pada mereka yang masih penasaran. Sementara Jesika dan ketiga temannya, ketika melihat Andra seperti ada rasa takut lalu bergegas menghindar dan mengintip dari balik mobil mewah milik Jesika di tempat Parkir. Mereka saling berbisik, Apra malah menyalahkan tindakan Jesika yang terlalu arogan.
"Jes, elu kok tega gitu
"Tapi perbuatan kamu tadi, bisa dijerat tindak pidana,Jesika. "
"Ssst! Jes." bisik Yola
"Apa?"
__ADS_1
"Coba lu lihat. Andra kok perhatian banget sama tukang kue itu. Ngapain juga coba, bela-belain si Meira." Yola geleng kepala
"Andra kok jadi gitu sih? Jesika sirik.
"Kita pergi, ayo!"
Empat cewek itu mengendap-endap memasuki mobil milik Jesika.
"Meira..." Panggil Andra sembari memegang lembut bahu meira lalu duduk berdekatan. Andra menoleh Syifah. "Syfah, tolong ambil susu kotak dulu, tiga ke Kantin. Bilang disuruh Kak Andra gitu, ya. Meira perlu minum, cepet!"
"Ya, Kak .." Syfah berlari.
Meira mengangkat wajah sebentar melirik Andra, lalu merunduk lagi, suara isaknya masih tersisa, hatinya begitu sakit melihat ponselnya hancur berantah, tingal satu benda kecil yang tak bisa dia temukan, padahal dirinya sudah capai mencarinya. Benda kecil itu paling berharga bagi dirinya. Memori card.
"Meira,.Aku denger Jesika tampar kamu? coba ceritain semuanya dari awal."
Meira diam. tangannya tak henti- henti mengelusi ponsel yang tinggal batangnya, itupun sudah nyaris patah.
"Meira.."
Meira masih diam, hanya memandang.
"Jawab, Mei.."
"Enggak ada yang perlu aku jelasin, Kak. Karena jawaban dari kejadian ini, ada pada kejujuran Kakak ,tapi mungkin kakak tidak pernah...." Meira tak sempat meneruskan kata-katanya terganggu cengiran Syfah yang ribet bawa tiga susu kotak murni.
"Ni buat elu, Mei. diminum ya biar tenangan."
"Trimakasih, Syfah.Udah baik banget sama aku.
"Ini buat kakak."
"Dan ini satunya lagi buat......?" mata Syfah menari." Kak Andra dan Meira."
"Trus bagian elu mana, Fah?" Andra kebingungan.
Syfah Malah tertawa."Gua pengen cepet pulang."
"Pulang? Ya udah lu pulang sana. Eh, tunggu," Andra menghentikan langkah Syfah. "Tolong bilangin sama Papa lu, ntar malam suruh menghadap Mamah. Bilangin kalo Mamah perlu penjelasan soal kericuhan yang terjadi di RM, lagi malam minggu kemarin."
"Siap Kak Anda sayaaaang."
Meira Menyeringai."
" Cemburu?" Syfah terkekeh. "Enggaklah, Mei. Ok! Gua emang sayang banget sama Kak Andra, gitu juga Kak Andra."
"Oh.." Muka Meira merah semu.
"Syfah!" Bentak Andra."kalo ngomong yang jelas. Jangan bikin orang gagal paham. Tinggal bilang kalo elu itu sepupu Gua."
Syfah tertawa.
"Syfah...?" Meira memandang."Bener enggak?"
"Iya! Kak Andra gua pulang dulu, jaga Meira,ya."
"Hmmm."
Sepi.Suasana sekolahanpun sudah tinggal sepoian angin siang yang sesekali menerpakan udara panas ke wajah keduanya. Hanya ada setangkai pohon cemara kecil, yang setia melindungi keduanya dari sengatan Matahari.
__ADS_1
Ya, Tuhan, Aku baru tahu, Syfah ternyata adik sepupu Kak Andra! Pantesan tanya-tanya terus soal perasaan aku udah sampai mana! Batin Meira.
Andra menarik napas panjang, menatap syahdu wajah Meira yang mendadak bersinar, di sudut bibirnya terlukis senyumam.Seolah dia tak merasakan apa-apa kalau dirinya habis di hina oleh sesama wanita yang jelas-jelas membencinya, terbuat dari apa hati lu, Mei? Andra menghela napas.
Saat aku duduk di kelas sebelas, ada yang yang berubah dalam diri aku, yaitu, aku mulai merasa tertarik pada laki-laki! Tapi pada saat aku mengingkannya....aku selalu bingung untuk menerima keinginan itu.....Aku anak orang Miskin, ya aku harus gimana lagi? Aku cuma bisa menunggu, semoga akan ada laki-laki sederhana yang datang jadikan Aku kekasihnya, dan mau menerima apa adanya! Sekarang? Di dekat aku, ada cowok tampan,tapi bukan dari manusia biasa ! Dia selalu muncul disaat aku membutukan seseorang untuk melindungi dan menghibur aku. Tapi cowok ini rasanya bukan seperti yang aku inginkan, maksudku dia terlalu istimewa buat aku...Dia bukan level aku! Bukan sederajat aku! Meira merapihkan gerai rambutnya agar helai-helainya tidak dipermainkan angin, menari-nari menempel di wajah cowok di dekatnya itu.
Yeah, Mei. Kenapa lu rapihkan rambutnya? Gua masih ingin lama lagi merasakan geraian rambut lu itu beterbangan menampari wajah Gua, hati Gua begitu nyaman. Seperti juga beberapa hari yang lalu, Gua lihat lu bawa ransel gede berdiri di garbang Sekolah, entah apa yang lu pandang!? dari jauh Gua lihat ada air bening jatuh dari mata belu, elu. Di saat lagi sedih wajah lu kelihatan lebih cantik bagi gua..mungkin di situlah Gua merasa udah jatuh Cinta. Mekipun Cinta Gua bukan cinta pertama. Sebenarnya waktu itu Gua pengen lari ke arah elu bantuin bawa ransel, enggak apapa bantuin jualan kue buatan nenek lu juga,tapi enggak sempat, karena ada dua cowok yang berusaha menggoda lu....gue tahu lu anak orang miskin, maaf gua bilang lu orang miskin, tapi cinta Gua enggak bakal berbicara soal itu.
"Kak Andra." suara Meira mengusir sepi." Kamu sama Syfah saling Sayang,ya?"
"Iya. Malah saling sayang banget. O, ya. Syfah banyak cerita tentang kamu."
"Oh..apa saja yang Syfah ceritain tentang aku?"
"Segudang."
"Kak Andra, Aku tanya sungguhan."
Andra nyaris mencubit Pipi Meira. Tapi Meira lebih cepat mengelak.
"Aku Mau cari memori card lagi. Kak Andra pulanglah duluan." sambil jongkok Meira lalu merayap menyisir rumput hias, karena seingatnya, ketika ponselnya dibanting Jesika ke lantai Lapang Basket, jatuhnya di situ.
"Meira sudah, jangan dicari lagi. Susah nyarinya banyak rumput." Andra yang bantu mencari mulai puyeng.
"Tapi memori card itu berarti banget buat aku, Kak.
Didalamnya banyak tersimpan biograf keluarga kami.. di situ ada photo aku lagi bayi, ada photo mamah lagi muda, Nenek, temen-temen aku waktu lagi di kampung, photo lagi sekolah sd, smp, dan banyak lagi. Gimana coba?"
"Tapi ini sudah jam tiga sore, Mei"
"Enggak apapa, Aku akan cari terus sampai dapat."
"Meira..?"
"Kalo enggak mau bantu ya udah!"
"Meira Bangun!" Andra setengah membentak, bediri menunggu.
"Kak...?" Meira tengadah.
"Aku bilang bangun,.bangun. Ayo aku bantu." Andra meraih tangan Meira, menariknya ke atas. Meira dengan kecewa berdiri.Matanya basah, dari tadi dia menahan tangis."Sini! kamu harus tenang. jangan sedih gitu." Andra menarik kedua tangan Meira.
"Kak Andra Apaan Kayak gini?" Meira berusaha melepaskan diri dari pelukan tangan Andra, namun Andra merasa begitu sangat sayang, hingga mungkin tak sadar kalau kini Meira sudah berada dalam pelukan.
"Kak Andra apaan kayak gini?"
"Meira maafin Aku. Maafin...! Aku engga punya niat apa-apa. Aku cuma ngerasa harus melakukan ini. Maafin Kakak."
Meira terdiam."Ya Allah, maafin hamba." Gumam Meira, merasakan rasa tenang dalam pelukan Kak Andra.
"Besok kita coba cari lagi kalo perlu seluruh siswa di sini, Aku kerahkan buat nyari." hibur Andra memberi suport. "Hape ini kayaknya masih bisa diservis, Mei." Andra mengambil batang ponsel rusak dari tangan Meira. "Ntar Aku benerin sama Ahlinya."
"Bener, Kak?" wajah meira berubah berbinar.
"Aku jamin!"
"Trimakasih, Kak Andra. Trimakasih." Meira tak sadar memeluk erat , padahal tangan Andra sudah terlepas dan terangkat agar tidak merangkulnya.
"Tunggu dua har, ya."
__ADS_1
"Iya, Kak...." Meira menganguk senang.