KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 12 Dari judul : Kekasihku Kakak Tiriku


__ADS_3

************


Santika menghentikan langkahnya. Alfian sudah menghadang. Matanya menari-nari mencari seseorang.


"Meira mana?" Tanyanya.


Santika hanya bisa angkat bahu. Ketika pulang dari ruang kampus Meira tiba-tiba belok arah menuju pintu Elevator.


"Dia barusan masuk lift." jawab Santika


""Masuk lift? Atas apa ke bawah?"


Santika mengingat-ingat. "Gua lihat Meira pijit tanda panah ke atas."


"Kamu tanya dia mau ke lantai berapa?"


Santika menggeleng."Bang Alfi kok panik gitu sih? Apa urusannya cari Meira? Biarin aja. Ayo pulang, badan gua pegal-pegal, nih. Capek!"


"Lu tunggu di mobil. Gua cari Meira dulu, ya ? Kalo enggak sabar, lu pulang naik Taksi."


Alfian menuju Lift, tekan tanda pamah ke atas lalu tergesa-gesa masuk. Di setiap lantai dia bertanya kepada semua orang. Mereka menjawab tidak pernah melihat gadis yang ciri-cirinya di sebut Alfian. Memasuki Lantai terakhir Alfian tidak menemukan Meira juga.


"Di mana dia?" gumamnya.


Pandangan Alfin tertumpu pada tangga darurat. Dia menaiki bibir-bibir undakan tangga. Ada tulisan BERBAHAYA dan DI LARANG KELUAR. Apa mungkin Meira Ada di balkon luar bagian ruangan kosong ini? pikirnya. Alfian penasaran. Dia meneruskan langkahnya. Tiba di pintu ujung menuju balkon luar, dia terpana .menemukan Meira tengah bersandar bahu di dinding bingkai kaca agak jauh dari pagar terali besi pembatas.


"Lagi apaan Meira, pakaiĆ  teleskop?" Alfian penuh rasa teka- teki.


Meira meluruskan teskop mengincar sebuah gedung warna putih berbentuk setengah Menara Raksasa.. Bola matanya berkaca-kaca. Air bening meleleh di kedua belah pipinya, perasaan rindu, terasa menggebu-gebu. Ya Allah, seandainya Engkau berikan aku sayap, Aku ingin menemuinya dan merasakan nyaman lagi dalam pelukan dia. Kapan Engkau ijinkan aku bertemu Kak Andra? Kapan? Atau memang harus berakhir seperti ini? Padahal Aku baru seujung kuku saja menyerahkan perasaan hati aku pada dia, Aku mohon, kembalikan aku ke dalam kasih sayangnya. atau putar balikan saja jentera waktuku di titik sebelum aku mengenal dia! Aku mohon tolong aku ya Allah! Bluk! Meira sandarkan bahunya dengan lemas di dinding tembok berbingkai kaca. Di tatapnya matahari yang pelit menyinarkan cahayanya terhalangi gumpalan hitam warna awan mendung.


"Hai Meira syeakilah Mirna. Lu ngapain di sini?" Alfian bertanya tidak mengerti, suaranya pelan takut mengagetkan.


Meira sidikit tersentak, melihat Alfian sudah berdiri terpaku tidak jauh dari sebelahnya. Dengan cepat Meira memghapus air matanya, lalu mencoba untuk tersenyum.


"Hai..." sambut Meira.


"Kamu menangis, ya? Ada apa? Coba bicarakan ke gua.Siapa tau Gua bisa bantu lu."


Meira mengusap dan mengerjap-ngerjapkan matanya, "Aku lagi melihat-lihat suasana kota saja. Pemandangannya dari atas sini indah banget, Bang Alfi."


"Itu bukan jawaban dari pertanyaan gua. Cewek menangis saat membidik obyek ke satu arah, pasti ada sesuatu yang Lu cari. Pablik atau pribadi?"

__ADS_1


"Keduanya." jawab Meira. "Kamu benar, Bang Alfi. Aku lagi mengawasi universitas itu. Dulu Aku ingin melanjutkan studi di sana. Dan, seseorang berjanji akan menjaga aku, mendukung aku, menyayangi aku, sampai aku sukses menjadi seorang Dokter nanti."


"Pacar?" Alfian menatap.


"Lebih dari seorang pacar."


"O, Kekasih, ya?"


"Lebih dari itu."


"Suami? Masa iya, Mei, kamu sudah bersuami?"


"Dia hanya temen?" Jawab Meira sembari mengusap air mata.


"Lu bilang hanya temen? Ya ampun, Meira. Masa cuma temen sampai nangisin dia begitu?"


"Tapi arti temen aku dan dia beda, Bang Alfi."


"Beda?"


Iya..." Meira menyibak rambutnya yang menutupi wajah.


"Siapa yang bikin lu seperti ini, Mei?"


"Dia Kak Andra. Kami enggak perlu ukur-ukur cinta. Dia enggak mungkin tergantikan oleh siapapun lagi."


"Uhuk!" Alfian terbatuk. Dadanya mendadak sengak.


Meira bersandar bahu lagi. pandangannya berkesan kosong entah kemana. Matanya berkaca-kaca, lalu tengadah, menatap langit mendung. Mungkin sebentar lagi hujan akan berjatuhan, seperti juga air matanya.


"Lu cinta banget ya sama dia?" tanya Alfian, ikut bersandar bahu, suaranya lembut


"Aku enggak ngerti apa ini cinta atau bukan, Bang Alfi." Suara Meira lirih juga parau. "Tapi dalam hidup aku sekarang, ada bagian yang sangat menyiksa sekali. Seandainya aku mau menuruti kata hati, aku lebih baik mati dari pada harus merasakan rasa seperti ini."


"Kangen?" Alfian melirik.


"Ya." Angguk meira seraya memejamkan mata, agar tidak menjatuhkan air mata lagi.


"Kenapa enggak lu temuin dia? kan simpel, mei,,"


"Enggak segampang itu, Bang. Misal pun aku nekad ketemuan dengan dia, aku berdosa sama nenek. Nenek udah besarin aku dari usia tiga tahun, berjuang sendirian cari rezeki sampai aku sekarang bisa ada di yuniversitas ini. Lagi Nenek bilang, aku masih belum dewasa untuk masuk ke arah yang aku inginkan itu. Harus sabar menunggu waktu kata Nenek. Kalo nanti udah tepat waktu, Nenek berjanji akan nikahin aku sama Kak Andra."

__ADS_1


"Ya Tuhan. Nenek Lu tuh sepertinya wanita hebat. Tapi kenapa tega pisahin lu dari Andra?"


"Nenek Aku dan Mama kak Andra enggak akur. Nenek aku sering di hina, di caci, di maki dengan kata-kata yang enggak pantas keluar dari mulut seorang hamba Allah, aku sempat nguping pas baru pulang Sekolah, ucapan mama Yunita itu nyakitin banget."


Alfian mengusap sudut mata sendiri, ikut menahan air mata, niat ingin menggoda Meira hilang seketika.


"Bang Alfi udah punya pacar?" Meira balik bertanya.


"Gua..? Mmmh, Be-belum, sih." Alfian gelagapan.


"Aku enggak percaya. Bang Alfi tuh, tampan, potongan rambutnya cepak, kayak Kak Andra, menawan, udah calon Arsitektor lagi." goda Meira, sekedar menetralisir perasaan galau saja.


"Terima kasih. Gua tersanjung sama pujian, lu." Angguk Alfian. " Mei. Begini, dulu kamu ada yang jagain. Sama Kak Andra. Sekarang di sini, Gua akan jagain lu." kata Alfian, seraya tengadah. "Wah, Mei? Kayaknya bentar lagi hujan. Gua suka alergi kena air hujan. Lu turun, ya? Trus jangan jadi kebiasaan gini-ginian lagi. Bahaya!"


Meira melipat penyanggah teleskopnya. lalu turun di bantu dan di ikuti Alfian. Tiba di lantai dasar keduanya menuju pintu keluar utama.


"Sebentar!" Alfian berhenti, ekor matanya melihat Santika sedang ngobrol di kantin dengan seorang cowok. Lalu mendekatinya.


"Gua pikir lu udah pulang, San."


"Bang Algi.." Santika meringis. "Kok cepet banget?"


"Apa? Cepet banget? Dua jam lu bilang cepet banget?Cowoan melulu, lu. Lupa pulang."


"Bang Alfi. Aku duluan, ya." Teriak Meira.


"Eh, tunggu. Gua anterin lu, Mei!" teriak Alfian.


"Enggak perlu repot. Aku biasa pake taksi. Dag, Santika! Bang Alfin!" Teriak Meira bergegasan pergi


"Gimana?" colek Santika.


"Dia udah punya cowok. Lagian, Meira bukan tipe cewek gampangan. Bahkan dia malah ceritain kekasihnya, bikin gue iri setengah mati. Selessi!"


"Tapi, Bang..."


"Udah selesai!"


Meira berjalan menuju Jalan utama. Beberapa kendaraan Anak-anak Kampus yang berseliweran, dia lewati sambil tangannya stop kanan stop kiri. Un*ad kini jadi Kampus kebanggaannya.


.

__ADS_1


__ADS_2