
Pluk! Andra menjatuhkan ponselnya di depan Jesika dan Mama Yunita.
"Lihat, Mah. Apa yang telah di lakukan oleh menantu kesayangan Mamah itu!" Nada suara Andra menahan marah, namun perasaannya merasa lega. Beban yang selama ini menumpuk di kepalanya berangsur-angsur mulai berkurang.
Mamah Yunita tampak sangat kaget. Wajahnya berubah geram setelah melihat isi vidio itu. kini sepasang matanya beralih ke arah Jesika.
"Silahkan Mama bicarakan berdua. Aku sudah tidak ingin lagi berdebat! Dan kamu, Jes. Silahkan kamu jelaskan semuanya ke Mama. Terserah mau cari alasan apa, Aku enggak akan ikut campur lagi, yang jelas aku akan secepatnya ke pengadilan untuk mengajukan gugatan cerai. Sekarang aku akan ke rumah Mama kedua. Mungkin aku akan tinggal di sana seperti dulu lagi. Permisi, Mah."
"Andra tunggu!" Mama Yunita menahan langkah Andra. "Mama setuju dengan keputusan kamu berpisah dengan Jesika. Tapi Mama tidak akan ijinkan kamu tinggal bersama Ibu Mirna."
"Tapi keputusan aku sudah tepat, Mah. Aku Ingin fokus pada Kuliah lagi, Enggak kacau dan ribet seperti ini. Aku mohon sama Mama, ijinkan aku."
"Tante..." Suara Jesika tersekat, menahan tangis. "Itu tidak benar. Aku terpaksa, Giano mengancam aku. Aku berani sumpah!"
"Kamu bohong." Bentak Andra. "Giano sudah mengakui semuanya. "Bahkan dia mengakui kalau bayi itu anak kalian . Sekarang kamu boleh pilih, mau pulang ke rumah orang tua kamu apa mau terus di sini? Silahkan kalian rundingkan."
Jesika terdiam. Tapi dari perubahan wajahnya, dia menyembunyikan sebuah dendam yang hebat, dendam kesumat yang di tujukan kepada seseorang yang sudah di bencinya sejak lama.
Setelah itu Andra angkat kaki. Lalu melarikan mobilnya ke jalan raya menerobos beberapa kendaraan lainnya.
Di sebuah kafe Andra menumpahkan semua uneg-unegnya, dia minum win sedikit sekedar untuk menyegarkan mumet di kepalanya. Lalu dia mengambil ponsel dan menghubungi Meira.
"Hai, kak." Meira menyapa.
"Mei, mulai sekarang kamu jangan sering-sering ke luar rumah, ya. Aku enggak ingin sesuatu terjadi pada kamu."
"Ada apa sih kak? Suara kamu kayak lagi panik."
"Enggak ada apa-apa. Aku cuman ngingetin saja. Pokoknya turutin aja perintah kakak tadi, ya."
__ADS_1
"Iya deeeh. Tapi aku kangeeen."
"Aduh, Mei. Jangan kemajaan. Kamu udah gede, udah enggak pantes ngomong kayak gituh lagi."
"Belum bisa."
"Meeei...Jangan bikin kakak pingsan, nih."
klik! Andra mematikan ponselnya.
Andra merasa Giano dan Jesika akan balas dendam. Andra tahu percis siapa Jesika dan siapa Giano. Ya, Tuhan! Andra menjatuhkan kepalanya ke meja. Dia sangat mencemaskan seseorang. Yaitu Meira! Padahak Dia hanya seorang gadis yang polos, dia tidak pernah membenci siapa pun apalagi menyakiti orang.
"Sebaiknya ajak Meira tinggal bersama Mamanya, Andra." ujar Tuan Brama ketika berada di restoran Mama Yunita. "Dia anak yang tidak mengeri soal kekerasaan. Papa juga berpikiran seperti kamu, dia akan menjadi sasaran utama bagi mereka, Karena mereka tahu percis, Meira itu orang yang paling dekat dengan kamu."
"Iya, Pap. Aku akan segera bujuk dia agar mau tinggal bersama Mama Mirna.Tapi Papa juga harus bantu pindahin dia Kuliah. Aku mohon papa menyiapkan rekomendasinya."
"Itu sudah tanggung jawab Papa. Meira itu kan masih anak Papa juga." tegas Tuan Brama. "Hai, kamu enggak boleh kalah sama mereka."
*******
Meira turun dari Taksi, lalu menyusuri pingiran jalan yang mengarah ke Kampus. Seorang Lelaki lagak preman yang berjalan ke arah Meira tiba-tiba berteriak.
"De! Awas!"
Meira tidak mengerti masud teriakan lelaki itu, dia tenang saja melangkah. Lelaki itu dengan cepat menangkap tubuh Meira dan dengan sekuat tenaga menariknya ke pinggiran jalan.
Bluk! Keduanya terjauh bersamaan di bagian Tanah yang berumput. Sementara mobil yang tadi nyaris menabraknya meluncur kabur. Beberapa Mahasiswa datang membantu. Meira meringis menahan rasa sakit di bagian bahu dan kaki .
"Bang Alfi. Itu Meira kenapa!" seru Santika.
__ADS_1
Alfian menghentikan mobil. Dia segera mememburu kerumunan lalu meminta bantuan pada seorang yang mengendarai sepeda motor untuk Membawa Meira ke klinik Kampus.
Asistent Dokter memeriksa kondisi Meira yang terbaring di bedpasien. Lalu membersihkan darah yang merembas di bagian kaki dan pergelangan tangan yang terluka. Dan membalutnya dengan sangat hati-hati. Meira masih tampak shock. Sesekali dia meringis menahan rasa sakit di bagian tubuhnya.
Alfian masih duduk menungguinya.
"Gimana sih kejadian yang sebenarnya, Mei? Gua cuman ngelihat kamu udah di krumunin orang."
"Aku juga enggak tahu, seingat aku, ada preman yang menarik aku dan kami jatuh. Hey... di mana preman itu?" Meira bertanya sambil menongok-nengok.
"Dia tidak apa-apa. Setelah bantuin bawa kamu ke mari, dia trus pergi lagi." kata Alfian.
"Dari keterangan mereka yang ngeliat kejadian, lu hampir ketabrak mobil, trus ada seorang laki-laki menolong lu." Santika mengulang keterangan seorang saksi mata.
"Ya, ampun. Aku belum berterima kasih sama orang itu. Tolong cari dia, San."
"Cari ke mana? Orang itu udah sampai Sumatra, kali." Santika malah bercanda. "Kayaknya lu punya musuh deh, Mei! Dia sengaja pengen celakain, lu. Benar, ya lu punya musuh?"
Musuh? Meira mengerutkan kening. Seingat Meira, belum pernah Meira ada rmasalah dengan orang.
"Kamu jangan ngaco deh, San. Jangankan punya musuh, kepikiran saja aku enggak pernah." tukas Meira.
"Tapi menurut saksi mata, mobil itu kayak sengaja ingin nyerempet, lu."
"Enggak tahu, lah. Kamu jangan tambah aku bikin bingung dong, San!"
"Mei. Kami masuk dulu, ya. Lu istirahat saja di sini, enggak usah masuk. Ntar gue kesini lagi, atau lu minta ijin sama dokter jaga untuk istirahat di rumah saja. Lagian kondisi lu enggak apa-apa. Dokter pasti ngijinin, dan Lu minta di anterin pake mobil klinik. Udah,ya? Maaf gua tinggalin lu dulu." Alfian lalu menarik Santika meninggalkan klinik.
Meira hanya mengangguk saja. Dia pijit-pijit kakinya yang sedikit sakit, tiba-tiba dia teringat wanti-wantinya Andra semalam,( "Mei, mulai sekarang kamu jangan sering- sering ke luar rumah, ya? Aku enggak ingin sesuatu terjadi pada kamu, jangan tanya alasannya kenapa. Pokoknya turuti saja perintah aku." )
__ADS_1
Ini pasti ada hubungannya dengan pesan Kak Andra semalam? Tapi kenapa harus melibatkan aku? Siapa yang ingin mencelakai aku? Aku tidak punya musuh? Meira tidak habis pikir.
Meira berusaha bangkit. Hendak keluar dari ruangan perawatan. Dia minta ijin untuk menghirup udara seger kepada salah satu perawat. Lalu duduk di bangku luar gedung klinik. kemudian menemui dokter jaga untuk minta ijin istirahat di rumah sesuai yang di sarankan oleh Bang Alfian