
Meira tidak pernah berpikir Alfian akan megejar dirinya seperti ini. Apalagi saat Meira sedang menata perasaannya agar tidak lagi terpuruk dalam kesedihan. Sudah berulang kali Meira menjelaskannya kalau Alfian itu datang bukan pada waktu yang tepat. Sudah terlabat.
("Aku mohon Bang Alfi jangan paksa aku untuk menjawab apa yang aku enggak bisa jawab. Aku enggak ingin diantara kita nantinya ada terluka. Please.....! Ini enggak adil ." jawab Meira beberapa hari yamg lalu ketika Meira tengah menikmati kesendiriannya di balkon paling atas gedung Universitasnya, tiba-tiba Alfian muncul menuntut Meira agar mau menjadi kekasihnya.
"Tapi gua mencintai kamu, Meira."
"Semua orang boleh mencintai aku. tapi hati aku tidak mungkin bisa di cintai oleh dua laki-laki. Dan aku enggak mungkin membagi hati aku menjadi dua bagian untuk dua laki-laki.")
"Lho katanya mau beli gaun buat ulang tahuni? kok malah bengong di dapur?" tegur Nenek.
"Aku udah punya, Nek"
"Kapan belinya?"
"Dua tahun lalu. Kak Andra beliin aku gaun waktu di SMA dulu." ujar Meira, tiba- tiba dia teringat sewaktu
(Pulang sekolah dia menunggu kak Andra di depan taman Kampus. Bajunya kuyup kehujanan. Kak Andra datang memeluknya.Lalu mengajaknya ke toko baju. membeli baju untuk menggantikan pakaian seragam SMAnya yang basah. Lalu pulang.... ketika hendak masuk rumah, kak Andra menarik tangan Meira.
"Meira, Aku beliin gaun pesta, nih." kata Kak Andra ssmbil memberikan dua bingkisan gaun. "Buat ulang tahun kamu minggu depan. Enggak usah di cobain. Nanti saja pas ulang tahun pakenya, ya."
"Terima kasih."
"Jangan bilang terima kasih. Sekarang Aku pulang dulu, ya." Andra berbalik dan hendak melangkah.
Meira tiba-tiba memeluknya dari belakang dan tidak ingin melepaskannya lagi. Meira menangis merasa bahagia yang amat sangat. Mak Irah datang. Meira spontas melepaskan pelukannya.)
"Dua tahun lalu?" Mak Irah terkagetkan." Sudah di coba belum? Nanti kekecilan gimana?"
"Enggak mungkinlah, Nek. Kak Andra bilang bahannya pleksibel. Cocok untuk semua ukuran tubuh." ujar Meira.
"Andra membelikan kamu gaun? Dua tahun lalu?" Sang Nenek menyeringai
"Iya. Kok Nenek kaget?"
__ADS_1
Mak Irah hanya bisa menarik napas panjang. Wajahnya berubah lesu, seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh wanita itu.
"Nek. boleh aku minta sesuatu? Aku ingin pesta ulang tahun aku acaranya di kafe, biar enggak ribet bikin dekorasi dan lain sebagainya gituh, Nek."
"Bagus! Nenek setuju sekali. Tapi jangan mewah- mewah, ya?"
"Ya." Angguk Meira senang.
"Nanti kamu catat berapa temen yang mau kamu undang. Nenek sudah mengantuk. Kita bicarakan besok lagi." Mak Irah berlalu ke tempat tidurnya.
Meira berjalan ke ruangan tengah. Di ambilnya seikat kartu undangan untuk di bagikan ke beberapa teman kuliahnya. Ya, ,Allah aku bermimpi tidak? Kalau di hari ulang tahun aku sekarang, aku ingin Seorang Andra hadir di hadapan hamba, aku ingin mendengarkan suaranya bernyanyi untuk hamba seperti yang pernah Engkau izinkan ketika dia bernyanyi di malam acara perpisahan Sekolah dulu?
*********
Usai mengikuti MaKul, Meira bergegas keluar dari ruang kampusnya Lalu bergabung dengan beberapa rekan lain di badan kegiatan UKM, sesuai pilihanmya, Setelah semua selesai, Dia pergi menuju Mushollah untuk menunaikan sembayang Dhuhur.
Di kantin Santika dan Raisa sudah menunggunya, Meira membahas soal Acara ulanh tahunnya an memberikan kartu undangan untuk beberapa teman dekatnya saja. Hari yang melelahkan sekali! gumamnya percis pengalaman jualan kue di Sekolahnya dulu.
Meira belenggok menuju pintu Elevator, Dia akan selalu bersandar bahu di dinding tembok berbingkai kaca di bagian balkon lantai puncak sana, sekedar untuk mencari rasa nyaman dan melepas galau kdrinduannya saja, walaupun harus di marah sang rektor. Dia hanya ingin seperti juga di Seolah SMA -nya dulu, Duduk untuk mengurang capek sehabis berjualan kue-kue dari jenis kuliner Nenek.
"Besok, gua bawa apa ya buat hadiah ulang tahun pacar?" gumamnya sambil pura-pura pijit kening.
"Brisik!" Meira melotot.
"Ooo, besok gua bawa brisk merk minyak rambut, ya?" celetuk Alfian.
"Bang Alfiiiii, !?" teriak Meira kesal.
"Ooo, Sama Kembang api."
"Idih....sebel?"
"Apa? Sekalian bawa sambel?" godanya lagi.
__ADS_1
Meira habis kesabaran, hampir saja dia menempeleng muka Alfian. Tapi tangannya hanya terangkat di udara saja. Meira kembali menyandarkan tubuhnysa di dinding.
" Cuma bercanda." ucap Alfian, dengan senyum cengengesan. "Aku bawa susu kotak, nih." Alfi mengeluarkan dua susu kotak, satu dia sodorkan pada Meira, tapi Meira mendorongnya.
"Masih marah?" tanya Alfian.
Meira tak menjawab, kini pandangannya malah menerawang jauh ke bagian wilayah ke tempat Meira di besarkan dulu. Besok Meira akan ke sana, ingin menemui beberapa temannya, terutama Andra.
Membayangkan pertemuannya dengan Andra, bibirnya tersenyum, mata belonya mngerkap-kerjap dan berkaca. Alfi sesekali mengamatinya, dia tampak sudah menyerah.
"Kamu itu Aneh, Meira. Terlalu patuh sama orang tua. Berbohong sedikit apa susahnya, sih?" suara Alfi menghasut.
Meira mencibir.
"Kalau ingin menemui Andra ya pergi saja. Nenek enggak bakalan tahu."
"Diam..!" tegur Meira.
"Gua siap bantuin kamu menemui Andra."
Ufs?! Meira memicingkan sudut mata ke Alfian. Meira masih sebal, apalagi Alfi kali ini tambah genit, ekor matanya berkedip dua kali. Maksudnya apa coba? Bang Alfi itu Srigala berbulu domba. Ada maksud jahat di balik kebaikannya itu. Buat apa dia memgejar- kejar aku sementara cewek-cewek Kampus banyak yang ingin menjadi pacarnya. Santika pernah bercerita sedikit tentang masa lalu kakaknya ini. Pernah breakdown! kehidupannya lebih banyak keluyuran kemana-mana, suka minum Win berlebihan, disco-discoan dengan komunitas tertentu. Lalu Papanya menitipkannya ke sebuah yayasan rehabilitasi korban pergaulan. Dia masuk sebuah Pesantren! Santika bilang, semua lantaran Kekasihnya telah meninggalkannya. Bukan di hianti! Kekasihnya meninggal Dunia akibat penyakit Kanker yang tak bisa terobati.
"Serius. Gua siap bantu kamu. Mungkin gua akan bangga pada diri sendiri, sudah bisa berbuat baik sama seseorang yang perlu bantuan."
Meira menatap tak percaya. "Terima kasih. Aku sangat tersentuh dengan ucapan kamu itu, Bang Alfi."
"Hey coba kamu lihat, Meira!" Alfi tiba-tiba berseru, tangannya menunjuk pada sepasang burung Merpati yang meluncur tanpa mengepakan sayap, hilang dan datang diantara gedung perhotelan berbintang.
"Hebaaat!" teriak Meira.
"Itu Gua dan Jianieeeeeet!" Alfi menjerit sangat kencang.
Meira spontan mengalihkan pandangannya ke Alfiian yang masih mensuport pada kedua burung merpati itu agar terus berkejaran. plak! Seekor dari kedua merpati itu menghantam menara telekomunisasi, tubuhnya jatuh melayang.
__ADS_1
"Ya, Tuhan....? Alfi terkesima.
Meira diam terpana.