KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
episode 05 : Kencan Pertama Dari judul : Kekasihku Kakak Tiriku


__ADS_3

Andra turun, lalu masuk ke halaman rumah. Dia hendak mengetuk pintu, tapi tak sempat, Seorang gadis mengenakan busana sederhana sudah lebih dulu membuka pintu.


"Hai, Meira.." suara Andra bergetar.


"Hai......Kak Andra." sambut Meira, senyumnya merekah melukiskan sudut kecil berbentuk lesung pipit di ujung kedua bibirnya.


Andra memandang tidak percaya, kalau wanita berbusana dress brokat sederhana warna biru langit berkesan abu-abu itu, Meira.


Nenek nengok. " Lho, Mei. Suruh duduk dulu dong Kak Andra- nya. Enggak sopan ngobrol di pintu."


"Terima kasih, Nek. Kami mau terus jalan." kata Andra. " Mei ayo, dong."


Meira menengok nenek yang sedang memblender bahan kue. Neneknya itu seperti tidak mengenal lelah.


"Nek. Aku jalan dulu. Nenek mau pesan apa ntar aku beliin."


Nenek tersenyum bangga."Tidak usah repot- repot.Jam sepuluh pulang, ya!"


Andra mendekati Mak Irah.


"Nenek. Kami pergi dulu, ya." Andra pegang tangan Mak Irah di tempelkan sebentar di keningnya.


"Pura-pura lugu. Di luaran enggak gituh, kan?" bisik Meira.


"Terserah." Andra balik membisik.


Keduanya keluar rumah. Andra coba pegang tangan Meira.


" Malu. Ada nenek!" tepis Meira, sambil senyum.


Andra membukakan pintu mobil untuk Meira, lalu berputar dan masuk. kemudian dia menjalankan mobilnya. Bermaksud sekedar menikmati suasana Malam MINGGU.


"Mei. Ke restoran Mama aku, yuk! Sekalian nanti aku kenalin sama Mamah." ajak Andra tiba-tiba saat Mobilnya measuki jalan besar.


"Aku belom siap."


"Cuma berkenalan saja."


"Aku takut Mama kamu tanya-tanya siapa aku." ujar Meira. " Aku harus jawab apa, coba?


"Nanti aku bantu."


Meira terdiam.


"Mau, ya?"


Meira masih terdiam.


"Ayo dong Mei. Please..!"


"Ya nggak apapa." Meira mengiakan.


Andra hampir saja mencubit pipi Meira, tapi tangan Meira lebih cepat menangkisnya.


Turun dari mobil keduanya menuju meja yang ada ruang kosong. Andra memanggil palayan yang sudsh


dia kenal. Lalu memilih fua porsi menu utama dan dua porsi menu penutup. Tak lama sang Pelayan datang menata menu di atas meja. Sorang Wanita Berusia empat puluh tahunan memperhatikan dari kerjauhan.


Jelang beberapa menit Andra dan Meira mulai menikmati Menu penutup. Wanita itu berjalan memdekati. Andra menarik kursi lain untuk Wanita Berpenampilan sexy itu. Masih cukup cantik dalam seusianya.


"Meira, ini Mama Aku.' ujar Andra mematap mamah.,"Mah, ini Meira temen Sekolah."


"Meira.." meira menjulurkan telapak tangannya.


Wanita itu menyambutnya. " Tante Yumita. Panggil saja Tante Yunita,. ya? Kamu cantik sekali, Nak" Puji Wanita itu tiba-tiba.


"Terima kasih, Tante."


"Sama-sama." Bales Tante Yunita formal sekali.


Andra senyum-senyum. Akhirnya Meira ketemu juga dengan Mama. Tinggal Mama ke dua! pikirnya merasa senang.

__ADS_1


"Sudah lama kenal, Andra?" tanya Tante Yunita.


Meira mengangguk. "Tapi kami jarang- jarang bertemu, tante,, soalnya Kami beda angkatan, Aku kelas sebelas Kak Andra kelas dua belas, Kami masih temenan."


"Gitu, ya. Tante pikir, kamu pacar Andra."


"Enggak. Aku engak berani."


"Lho, Kenapa? Kamu Cantik. Pantes banget jadi pacarnya Andra. trus kenapa enggak berani?"


Aku anak Orang miskin! hati Meira menjerit.


Tante Yunita menatapnya. Meira merunduk, merasa sangat kecil sekali di hadapan wanita itu.Ya Allah! Dari dulu aku sudah sadar, aku ini tidak pantas berdekatan dengan Kak Andra. Seharusnya aku tidak jatuh Cinta sama dia! kenapa engkau mempertemukan aku dengan kak Andra? kenapa?!


"Kamu tinggal di mana? Siapa tahu tante kenal dengan Orang tua kamu. Mungkin saja, kan?"


Meira gemeteran."Tante Maaf. Aku harus segera pulang."


"Mah, Sudah. Jangan tanya apa-apa lagi sama Meira. Aku mohon." sela Andra merasa bakal ada gelagat buruk di antara mereka.


"Tapi, Andra."


"Kita pulang, Mei." Andra menarik tangan Meira, langkahnya tergesa-gesa.


"Andra Mama belum selesai !" teriak wanita itu


"Enggak ada yang perlu di selesaikan, Mah. Ini cuma perkenalan saja!" teriak Andra.


"Kak Andra pelan-pelan jalannya, dong. Kaki aku bisa sakit, tau." rengek Meira, karena jarang pakai sepatu tinggi.


klik! Andra pijit tombol remote. Dua pintu mobil bagian depan terbuka sekaligus. Meira masuk duluan. Andra segera mengeluarkan mobilnya dari depan restoran.


"Kak.kayaknya Mama kamu itu baik juga. Cuman aku enggak berani bilang jujur, kalo aku ini mis.."


"Mei.... Stop kamu merendahkan diri sendiri. Itu bikin kamu semakin enggak pede. Seharusnya kamu tadi bicara jujur ke mama aku.Ceritain apa adanya. Jangan di sembunyiin terus.Eh, kamu tuh kaya tikus lihat kucing. Merinding! Trus gemeter! Aku ngeliatnya jadi enggak tega. Yea aku stop. Gagal deh pengen dapet restu orang tua."


"Aku bodoh ya Kak ? Maaf.."


"Enggak. Kamu tuh pinter. Kalo bodoh kamu enggak bakalan juara rangking dua seangkatan kelas kamu..Cuman.."


Andra replek injak rem. Mobilnya oleng sebelum setelah itu berhenti dengan selamat.


"Aduh kak Andra kepala aku sakit." Meira meraba keningnya.


"Kepala kamu berdarah. Coba aku lihat."


Andra mengusap bagian kening Meira yang berdarah. Ada luka sobek kecil bekas kena benturan. Andra segera buka kotak P3K. Yah Lupa tidak di isi.


"Kita Harus ke Mamah ke dua aku. Dari sini udah dekat. Daripada ke er,es, atau klinik, mendingan di obatin di rumah aku. Kalo lukanya parah ntar aku panggil dokter pribadi."


'Mamah ke dua?" Meira menyeringai, sambil meringis menahan perih.


"Iya aku punya Mamah dua. Yang satu Mamah Yunita Satu lagi Mamah Mirna. jangan tanya mana mama tiri mana mama kandung. Aku jitak kepala kamu."


"Kok Kamu enggak pernah cerita kalo kamu punya Mamah dua?"


"Nanti aku ceritain."


"Galak enggak?"


"Galak banget. Apalagi sama cewek cerewet kayak kamu." Gerutu Andra sambil menjalankan mobilnya lagi, sedikit gemas mendengar sikap bawaan Meira yang telitian sekali.


Pak Dudung berlari dari pos jaganya begitu anak bos membunyikan klakson mobil. Matanya meletet melihat anak bos bawa gadis cantik kaya bidadari.


"Jangan dikupas dulu, Den Bos. Ntar aja buat Malam pengantin." godanya.


"Bantuin! Bukannya becanda!"


"Enggak berani pegangnya, Den Bos. Takut rusak." Pak Dudung meringis.


"Ya udah masukin mobil tuh ke grasi."

__ADS_1


"Siap, Den Bos!"


Andra segera menggandeng Meira naik pelataran rumah.


Ada Enaknya juga Meira kebentur body mobil. Gua jadi bisa peluk dia! hati Andra malah senang. Seorang wanita umuran empat puluh tahunan, terkagetkan oleh suara panggilan Andra.


"Ya Allah, Andra ini siapa? Kenapa dia berdarah?"


"Mah ini teman aku. Kepalanya terluka. Tolong bantuin bawa ke dalam."


"Ayo, Mamah bantu." wanita itu dengan hati- hati memalah Meira kedalam merebahkannya di kursi panjang.Dia tergopoh-gopoh menjinjing kotak P3K. Lalu mengeluarkan beberapa obat bentuk cair dan peralatan perban. Andra ikut membantu.


"Mah pelan-pelan balut perbannya. Dia teman dekat aku. Gadis yang dulu aku ceritain ke Mamah."


"Gadis yang ditampar Jesika terus hapenya di pecahin itu?"


"Yah."


" Pantesan kamu merengek-rengek pengen beliin dia hape baru. Ya ampun Nak. Kamu cantik sekali."


"Terima kasih, Bu." gumam Meira meringis.


"Sama-Sama, Nak." Jawab wanita itu."Dra, Orang tuanya di kasih tahu belum?"


Andra cuma menahan napas. Dia berpikir, Semua orang begitu bertemu Meira semua bilang, Aduh cantiknya. Padahal yang lebih cantik lagi dari Meira berjibun! Meira itu seolah-olah punya daya tarik spesial di mata semua orang. Gua sendiri ngerasain itu.


"Dia engga punya Ayah, enggak punya Ibu, Mah." ujar Andra menjawab pertanyaan Mamah. "Aku udah ceritaain, dia cuma punya nenek." Andra menengok ponsel. "Masih setengah sepuluh, Mah. Masih ada waktu setengah jam. Neneknya minta kami pulang jam sepuluh."


Wanita itu, Ibu Mirna, sempat merenung, kemudian angkat bahu saja."Mamah ambil minuman dulu, ya." Ibu Mirna pergi.


Meira duduk termenung. Andra menatap. Ada senyum kecil yang Andra sembunyikan melihat Meira kepalanya di ikat perban melingkar.


"Ngapain senyum-senyum?" Meira mengintip wajah Andra.


"Kamu lucu. Kayak pendekar tahun sembilan puluhan. Pake ikat kepala gituh." tebak Andra asal kena.


Meira melotot.


"Mei." suara Andra sangat pelan. "Maafin aku ya,?" Lanjut Andra seraya menyentuh kepala bagian ubun-ubun Meira. "Malam mingguan kita brantakan seperti ini. Padahal aku pengennya nyari hiburan yang bisa lepasin problem ruwet dari pikiran. Pengen ngerefress permasalahan pelajaran di sekolah, biar hari seninnya kita siap lagi ngadepin materi study.Eh, malah ..seperti ini."


"Kak udah jangan nyesal kayak gitu. Aku jadi enggak enak. Trus sekarang gimana, dong?"


"Ya gimana lagi. Kita terpaksa kencan pertama di rumah Mamah ke dua Aku dan calon Mertua kamu." godanya.


"Kak Andra apaan sih. Belum apa-apa kok ngomongnya udah gituh."


Sementera Ibu Mirna sambil bawa Baki berisi dua gelas minuman dan dua kerat kue semacam pizza, geleng-geleng kepala menguping obrolan mereka, lalu berjalan mendekati dan meletakan Baki model keramik itu di atas meja.


"Ayo di minum, Nak. Biar segar." katanya. "Mamah ke belakang dulu, ya. Kalo ada apa-apa, jangan sungkan minta bantuan sama Ibu ya, Nak." Matanya menatap Meira.


Meira mengangguk kecil saja. Ibu kedua Kak Andra ini baik sekali. Ujar dalam hati Meira tak percaya, beda banget dengan Ibu ke satu. Ibu kedua ini, sepertinya seorang yang bijak, tidak gampang menilai orang sebelum segala sesuatunya jelas. Aku merasa nyaman dengan caranya memperlakukan keberadaanku di rumah ini. Andai saja aku bertemu Ibu kandungku, mungkin beliau akan seperti dia. Seperti juga kata Nenek, sebenarnya Mamah kamu itu wanita yang sangat baik. Tapi entah ada apa, dia tidak pernah datang menemui kita lagi.


Dan, di sudut pintu terlalang Gorden, Ibu Mirna menatap tak berkedip ke arah Meira. Dia teringat mimpi di siang hari dua minggu lalu, mimpi tentang seorang gadis yang berdiri di tepi jurang, gadis itu berteriak kata Mamah seolah-olah minta tolong, lalu gadis itu terjatuh ke dalam jurang. Ya, Allah, gadis yang kini berada di hadapannya itu, ya wajahnya, ya rambutnya yang panjang bergerai, itu mirip sekali dengan gadis di dalam impiamnya. Dan lagi, kenapa gadis ini pun mengingatkannya pada anak gadis kecilnya yang dia tinggalkan beberapa tahun silam. Sebenarnya, Wanita itu dulu setelah Lima tahun menikah lagi dan tinggal di Kota ini, suatu hari pernah dengan Sang suami pulang ke Kampungnya untuk menjemput sang gadis kecilnya dan juga Mertuanya, Andra ikut juga ketika itu. Tapi tiba di sana Ibu Mertua dan anak gadis kecinya sudah tidak lagi tinggal di Kampung itu. Kata Tetangganya. Mertua dan anak gadis kecilnya itu sudah pindah ke Kota, di boyong adik dari sang Suaminya yang telah meninggal itu. Dengan rasa sakit yang sulit terobati Wanita itu pulang kembali ke Bandung. Bertahun-tahun wanita itu terpuruk dengan kesedihannya, hingga kemudian terobati dengan hadirnya sang anak Lelaki, anak dari Suaminya, namanya Andra.


"Mah."


Wanita tersentak.


"Mamah lagi ngapain di pintu? Mama ngintip kami, ya?" tuding Andra.


Wanita itu hampir saja menjewer Andra.


"Aku Mau nganterin Meira pulang. Udah Malam, enggak enak sama Neneknya.


Meira menghampirinya. "Ibu, Aku pulang dulu, terima kasih sudah ngobatin aku. Maaf Aku sudah ngerepotin Ibu."


"Nggak, Nak. Ibu malah senang kalian di sini. Rumah ini seperti hidup. Sebuah Anugrah buat Ibu bisa mengenal kamu."


"O, Terima kasih, Ibu."


"Sama-sama, Nak." ujar Ibu Mirna. "Boleh Ibu usap kamu sebentar?"

__ADS_1


Meira mengangguk dan menghampiri wanita itu. dan dengan tangan agak gemetar Ibu Mirna menempelkan telapak tangannya di keming Meira lalu mengusapnya ke belakang hingga ujung rambut.


,


__ADS_2