
"Iya.Aku sudah menghapus hubungan bisnis dengan Tante Yunita barusan." tegas Meira.
"Bodoh!"
"Apa, bodoh? Kakak nuduh aku bodoh?" Meira menyelinguk.
"Maksud Aku, Mamah Yunita itu bodoh."
"Pikiran kita sama, dong. Tante Yunita itu emang bodoh." Meira cekikikan. "Coba Kakak rekap, dari hasil penjualan barang produk Nenek saja, Beliau sudah dapat untung sekian prosen, belum lagi menaikan harga jual dari harga maksimal Nenek. Kalo di hitung- hitung, justru Tante Yunita yang sangat di untungkan. Kakak bener, Tante Yunita itu...bodoh."
"Meeeeei. Aku putus telponnya, nih!
"Aku mau ngomong serius." suara Meira berubah sangat lunak. "Aku akan pergi dulu."
"Ke kamar kecil, ya?" tebak Andra asal enak sendiri.
Klik! Meira menutup Ponselnya, tidak punya kekuatan untuk mengatakannya.
"Lho kok di matiin..?"Andra agak jengkel.
Dia merebahkan tubuhnya di sofa beranda luar. Sepasang matanya menari-nari mengikuti kupu-kupu di halaman depan, tak lama menghilang. Mama kedua keluar dari dalam mobil, beliau baru saja meninjau Rumah Wisma dan Panti Asuhan Miliknya. Lokasinya berada agak jauh dari keramaian kota. Dulu Papa nyaris tidak setuju dengan keinginan Mama beli areal tanah seluas dua hektaran itu, apa lagi berniat membangun Wisma untuk Orang-orang yang terlantar dan untuk mereka yang ekonominya sangat tidak mampu, juga sebuah panti Asuhan yang bangunannya mirip sebuah gedung sekolah.
Sekarang Tuan Brama angkat Jempol. Kagum dengan cara cerdas wanita yang berasal dari kampung itu. Wanita gunung yang selagi mudanya berparas Cantik! Kini wisma itu sudah di perbesar dan hampir menyerupai sebuah P.T. Awalnya sangat kelihatan sederhana. Beliau hanya membeli bahan-bahan limbah dari berbagai Jenis Pabrik. Terutama dari limbah Pabrik sepatu dan Tekstil. Dia kontrak beberapa desainer yang Beliau perlukan untuk membina berpuluh- puluh orang di wismanya. Beliau beli peralatan seperti Mesin jahit dan mesin pembuat sepatu. Delapan tahun setelah itu, Diam-diam Mamah sudah menjadi pengusaha sukses tak di kenal.
Itulah kenapa Mama Yunita hingga detik ini tidak pernah mau berdamai. Sepertinya Mama Yunita merasa tersaingi dalam segala hal. Bahkan kalau itung-itungan hasil pendapatan. Mama Mirna lebih tinggi daripada pendapatan Mama Yunita yang perbulannya kadang-kadang tutup lobang gali lobang.
Andra bangkit menyambut mama.
"Andra. Gimana kabar Meira?" tanya Mirna
Akhir-akhir ini Mama Mirna hampir setiap hari menanyakan Meira. Seperti yakin jika Meira itu Calon menantunya.
"Baik-baik dong, Mah. Barusan dia nelpone. Ngasih tau kalo dia dan neneknya udah enggak berbisnis lagi sama Mama Yunita. Aku kadang-kadang sebal dan enggak ngerti dengan pikiran Mama, padahal hasil kerja sama dengan Nenek Meira itu udah bagus. Malah untungan Mama sebenarnya."
"Jangan ngomongin Orang tua, Dosa."
"Masa bodo! Aku tuh enggak ngerti sama sekali. Mama Yunita itu kok kayak benci banget sama Meira. Tiap ketemu, ngomel, ketemu ngomel,. Aneh kan? Salah apa Meira itu. Kalo emang enggak seneng, ya ke aku marahnya bukannya ke Meira. Malu aku sama Meira, terutama ke neneknya."
__ADS_1
Mama Mirna menepuk Andra. "Belajar dong gimana cara merayu orang tua. O, ya. Ajak dia ketemu Mamah dong, Dra."
"Ntar sore, pulang kuliah Aku ajak dia ketemu Mamah. Jangan tanya-tanya soal Materi, Mah, dia gampang tersinggung. Aku enggak tega kalo lihat dia nangis. Dia dari kecil udah di tinggalin orang tuanya."
"Yatim piatu?"
"Nggak gituh sih. Dia pernah cerita ke Aku. Ayahnya meninggal waktu umurnya tiga tahun, trus Mamanya nikah lagi sama orang kota, udah gitu, Mama nya enggak pernah pulang lagi."
"Apa?"
"Ada apa, Mah? Kok mamah seperti kaget?"
"Jangan-jangan ...dia?" Mama Mirna merenung.
""Dia apa apa?"
"Anak Mama. Ceritanya kok seperti bagian dari pengalaman Mama dulu." wajah Mama Mirna berubah murung. " Andra kamu kan pacar dia, pastinya tau tanggal lahir dia?"
"Anak Mama ? Maksudnya Meira itu adik aku yang dulu mau kita susul ke Kampung itu? trus kata tangganya udah pindah ke kota bersama Omnya?"
"Aku hapal banget tangal lairnya, bahkan aku udah beliin dia gaun untuk ngerayaain ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Sembilan Mei dua ribu empat."
"Itu tanggal bulan tahun kelahiran Meira anak Mama, Andra." Suara Mama Mirna tersekat.
"Belum tentu, Mah. Yang lahir tanggal bulan dan tahun segitu, bukan Cuma anak Mama saja. Banyak! Enggak mungkin dia." kilah Andra."Tapi..?" Andra teringat Memory Card milik meira yang masih ada di laptopmya."Kayak-kayak iya, wanita yang ada di memory card itu mirip Mama Mirna selagi muda?" Gumam Andra. sambil berusaha mengingat-ingat masa lalu ketika dirinya seusia anak SMP.
"Nama Neneknya Mak Irah." kata Andra.
"Itu nama Mertua Mamah."
"Ya Tuhan!" Andra tersentak bangkit. "Mah Ikut Aku!" Andra berlari memaiki tangga atas, lalu tergesa-gesa mengambil Laptop.
Dia buka file memory card milik Meira. Lalu Album photo Meira swaktu kecil itu di buat Colase. dan sedikit zoom. Mama Mirna datang dan ikut melihat.
"Ya. Allaaaah!" Teriak Mama Mirna sekuat tenaga, suaranya bergema kencang.
Mamah Mirna terjatuh ke lantai. Tangannya menggapa-gapai. "Nak, Cantiiiiik!" jeritnya. "Kamu anak Mamah, Nak Cantik."
__ADS_1
Andra membantu Mamah Mirna bangkit, memberi segelas minuman.
"Kita jemput Meira dan Nenek sekarang, Mah. Mereka berhak tinggal bersama kita. Bahkan mereka lebih berhak daripada aku."
"Kalian adalah Anak-anak Mamah."
Sementara jauh di sebelah kota, Meira melangkah turun dari sebuah Taksi Online, di pundaknya tegendong tas ransel berisi beberapa pakaiannya, di ikuti sang Nenek menarik tas roda besar juga berisi banyak pakaian. Seekor kucing belang menguntit di belakang Mereka. Langkah keduanya berhenti di depan sebuah rumah semi permanen.
"Ini rumah baru kita, Nek?"
"Iya." Jawab sang Nenek sambil senyum.
"Wah? Bagus."
Meira menatap suasana di sekitar. Rumah itu modelnya clasik, tapi desainnya sudah gaya modern. Keduanya bejalan naik ke jubin keramik yang agak berundak. Mak Irah memberikan kunci.
"Aku buka ya, Nek." Ucap Meira."Bismillah......." Meira nengok perlahan begitu melihat kursi empuk dia loncat dan blukk! Kini rasa capeknya mendadak hilang.
"Kenapa kita pindah kesini, nek?" tanya Meira mengulang pertanyaan yang belum di jawab.
"Sederhana, Cu. Rumah yang dulu sudah Nenek jual. Mudah-mudahan rumah ini lebih membawa berkah." ucap Nenek berat, wajahnya yang lesu seperti menyembunyikan kesedihan dan sesuatu yang tak pantas Mak Irah paparkan.
"Amin." ucap Mera "Dapat uang dari mana bisa beli rumah sebesar ini?"
"Itu tidak penting." Tukas Mak Irah. "Sekarang Nenek Mau tanya sama Kamu." Bagaimana jika kamu di hina sementara kamu tidak punya dasar hukum untuk melawan?"
"Kita mengalah. Tapi bukan berarti kita kalah."
"Bagaimana kalau kamu di ancam sejata tajam, sementara kumu tidak memegang apa-apa?"
"Kita pergi ambil senjata untuk bertarung." jawab Meira tegas.
Nenek tersenyum.
Meira diam. Kok Nenek tanya seperti itu? Meira bertanya-tanya dalam hati.
Tidak apa-apa, Nek! Batin Meira. Aku sudah tahu semuanya, kok. Aku pun tidak mau Egois, meskipun aku harus menutup perasaanku kepada Kak Andra,.Biarlah aku coba menyimpan rasa kangen ini, mudah- mudahan ini hanyalah sebuah waktu yang tertunda saja. aku coba juga untuk memahami sebuah harga diri Nenek. Aku percaya, apapun keputusan Nenek, pada akhirnya akan selalu benar. Aku rela ketika Tante Yunita merampas kartu SIM Ponselku, aku biarkan Tante Yunita Merestart ponselku pada pada pengaturan Pabrik, mungkin agar aku tak dapat berkomunikasi lagi dengan anaknya! Tapi aku akan tetap mempertahankan Kak Andra, karena aku sudah berjanji, dia orang pertama dan tempat terakhir dalam hidup aku. Bahagia ataupun sengsara! Maafkan aku, Kak...Aku pergi tanpa seijin Kakak.
__ADS_1