KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episod 09 :Cowok Anak kampus 2


__ADS_3

Taman kampus sepi. Hujan kecil sejak siang lalu, masih berjatuhan. Udara Kota ini sangat giris sekali menusuki pori-pori. Meira merapatkan jaket sekolahnya, untuk mengurangi hawa sejuk agar tidak menelusup ke paru-paru. Sesekali tatapannya melayang ke arah depan keluarnya anak-anak Kampus.


Ayo dong, Kak. Cepetan keluar! Aku kedinginan, nih! Gumam Meira. Dagu dan bibirnya mulai gemeteran. Di liriknya layar hape. pukul 17:15 sekian detik.


Beberapa Cowok Kampus menghampiri dan menggodanya. Bahkan salah satu dari mereka nyaris saja mencubit pipi Meira.


Seorang cowok tampan mengepak ransel berjalan pelan keluar dari pintu utama. Meira hendak berteriak dan tangannya siap melambai. Tetapi tidak sempat dia lakukan ketika ada Dua cewek cantik mendampingi langkah cowok itu.


"Andra. Gua duluan ya." Cewek di sebelah kanan berputar arah pergi.


"Main ke rumah gua. Terserah maunya kapan. Gua tunggu, ya." cewek di sebelah kiri berputar arah juga.


Ya ampun Kak Andra belum apa-apa sudah seperti itu? Meira memandang cemburu.


"Kak Andra!" Meira berteriak juga, kedua tangannya terangkat tinggi-tingggi takut Andra tidak melihatnya.


Andra menonggakan kepala dari jauh, berjalan sambil senyum menghampiri Meira. Begitu sampai, Meira berlari kepelukan Andra.


Sementara, Jesika yang juga satu kampus dari lokasi beda, mengangkat ponsel dan berbicara.


"Tante! Ternyata Andra masih berhubungan dengan Meira. Aku melihat dia lagi ketemuan di taman kampus. Mereka malah semakin dekat."


"Kurang ajar itu perempuan. Sudah tante suruh jangan lagi berhibungan, masih saja bandel. Apa maunya sih dia! kamu awasi terus ya, Jes. kalo nanti mereka masih begitu-begitu juga kasih tau tante, ya? Sekarang Tante lagi tanggung nyobain baju, nih. Kita bicarakan lagi nanti, ya."


"Ya, tan." Angguk Jesika.


Andra mengajak Meira masuk ke mobil. Andra membawa mobilnya memasuki pelataran sebuah Boutique yang cukup mewah dan terdekat dari kampus.


"Kita ngapain ke sini, Kak?"


"Pakaian kamu basah. Pengen mati kedinginan,, ya?" Celetuk Andra ."Kita cari baju gantiin pakaian kamu."


"Ini butik gede, harganya pasti mahal kak, lagian aku cuma bawa uang segini." Meira mengambil dan mempelihatkan dua lembar uang yang semula untuk bayar spp.


"Simpen saja uangnya, kita beli yang murah, untuk sekali pake saja." kata Andra, puyeng mikirin sipat Meira yang polos seperti anak kecil.


Keduanya segera masuk dan mulai melirik-lirik jenis pakaian yang cocok untuk bersantai. Meira menunjuk salah satu jenus pakaian, andra mengambilkannya, lalu meminta bantuan kepada salah seorang penjaga toko untuk mengantarkan Meira ke kamar ganti. Lalu Andra pilih-pilih yang lebih mewah lagi berupa gaun pesta. Dia pilih dua model berbeda. Satu Anggun satunya lagi jenis ketat gaya seksi. Lalu dia membawanya pada petugas pengepak untuk di kemas,.dan menyodorkan kartu kredit ke kasir sebelahnya.


"Kak...." Meira keluar dari ruang ganti, senyum-senyum sambill petangtang-petengteng mempamerkan pakaian yang di kenakannya di hadapan Andra.


"Gimana pantes enggak?" lanjut Meira minta di nilai.


"Bagus.Sais-nya pas banget enggak kesempitan enggak kedodoran. Pinter juga kamu pilihnya..." Puji Andra berbohong, padahal baju yang di pilih Meira modelnya sudah ketinggalan waktu.


Tibs-tiba seorang wanita keluar dari kamar ganti sebelah. Wanita itu terkagetkan sewaktu melihat Andra dan Meira yang kebetulan saja datang ke tempat yang sama. Sebaliknya Andra dan Meira lebih kaget lagi.


"Andra...?" Tante Yunita terbelalak.


"Mama...?" Anndra terperangah. Celaka gua! gumamnya seraya melirik Meira yang nampak meringis ketakutan.


Tante Yunita langsung Marah-marah.


"Kamu enggak sadar-sadar juga, Meira." Pandangan Tante Yunita beralih pada Meira. " Sudah Berkali kali Tante Bilang? Jangan pernah lagi deketan sama Andra. Eeeh masih nekad!"


"Mah. Ini tempat umum. Malu, dong."


"Kamu sama saja!" gerutu Tante Yunita lalu beralih lagi pada Meira. "Meira, apa kamu enggak sayang sama bisnis nenek kamu? Apa perlu Tante tarik lagi semua modal tante! Perlu juga ya tante ambil hak Pemasaran usaha nenek kamu itu? Trus mau di jual kemana kue-kue Nenek kamu itu tanpa tanda tangan Tante.? Besok kamu datang ke kantor tante. Bawa semua dokumen yang terkait! Tante tarik semua persetujuan bisnisnya sekalian tante coret nama kamu dari badan Marketing. Paham, Meira cantik?"


"Jangan tante."


"Ya kamu harus patuh, dong."


"Sudahlah, Mah. jangan ribut-ribut di sini. kita bicarakan nanti di rumah saja.. Lagian Mama seperti enggak pernah muda saja." Andra merujuk. "Trus misalnya Meira ini pacar aku memangnya kenapa? Papa dan Mama ke dua aja enggak pernah ikut-ikutan ngomong ini itu kayak Mamah."

__ADS_1


"Mama enggak setuju aja."


"Kalo enggak setuju ya nggak apa-apa."


"Andra!" Bentak Tante Yunita. "Mau ya kartu kreditnya Mama blokir lagi?"


"Enggak bisa dong, mah. Lagi pula aku pakenya cuma buat yang penting-penting aja. coba deh mama cek, berapa tagihannya perbulan. Dikit banget kan?"


"Kamu pinter lempar masalah. Puyeng deh mama masehatin kamu. Eeeh, mendingan kamu balikan lagi sama Jesika. Balikan lagi, ya? Nanti Mama bikin pesta buat ngerayainnya." ujar Tante Yunita seraya melirik ke arah Meira.


Meira senyum asam.


"Kamu Meira. Mendingan pilih usaha Nenek kamu, jauhin Andra. Dari pada nanti bangkrut. trus dapat uang dari mana buat bayar Sekolah."


"Mah. kok mamah ngomongnya kasar banget sih? Jangan gituh dong. Enggak suka ya udah. Jangan singgung-singgung status materi orang. Itu dosa, mah."


Tante Yunita tidak menjawab. Lalu pergi begitu saja. Andra sempat memanggil. Tapi Tante Yunita tak mendengarkannya, masuk ke mobil dan cepat menjalankannya.


"Sabar ya, Mei.. Ntar aku coba bicara lagi sama Mama. Jangan kwatir. Mama Aku enggak akan sebodoh itu melakukan ancamannya. Aku jamin!"


"Bantuin ya, Kak."


"Iya. Pasti dong, Mei.


Meira mencubit Andra. "Terima kasih..."


"Sama-sama..."


*********


"Semua terserah kamu, Cu. Nenek tidak bisa mengambil keputusan apa-apa. Kalau kamu berisi keras ingin terus mempertahankan hubungan kalian, itu sudah hak kalian. Kalau kamu pilih berpisah, itu juga hak kalian. Bagi Nenek, tidak ada yang lebih penting selain melihat kamu bahagia."


"Aku bingung, Nek." Ujar Meira terisak-isak. "Apa lebih baik Aku tinggalkan kak Andra saja?"


"Tapi Aku enggak ingin pisah dari Kak Andra, Nek."


Sang Nenek tersenyum. "Terserah." lanjutnya pelan. "Masalah Modal dari Tante Yunita yang seratus lima puluh juta itu, sudah Nenek kumpulkan buat bayarnya sejak setahun lalu. Besok kamu antarkan berikut surat surat, apa itu Nenek tidak paham, semua antarkan saja ke kantor Tante Yunita. kita bisa kok mulai dari awal lagi. Pasti ada jalan keluarnya sekecil apapun harapannya."


"Seratus lima puluh juata?" meira tercengang."Uang dari mana, nek? Enggak mungkin Nenek dapatkan dalam setahun."


"Sudah. Jangan tanya apa-apa lagi. Semua akan baik-baik saja."


Lagi sang Nenek tersenyum. Lalu bangkit mendekati lemari, mengumpulkan berkas-berkas dokumen dan memasukannya ke dalam Map. Kemudian ke dalam kamar mengambil enam tumpuk uang bernilai Seratus lima piluh juta.


Meira menatap tidak mengerti, Apa sebenarnya yang telah terjadi antara Nenek dan Tante Yunita? Sampai Nenek ampak begitu beramarah.


"Serakan Ini ke Tante Yunita Besok. Bersikaplah yang sopan, tegas, formal dan jangan sekali-sekali menundukan kepala di hadapan dia." ujar sang Nenek, ada rasa kekesalan karena beberapa kali Tante Yunita mengancamnya akan memutuskan bisnisnya jika Ibu irah tidak bisa menasehati cucunya umtuk menjauhi Andra. Nenek pikir, ancaman tante Yunita itu sudah di luar jalur dari kebijakan berbisnis. Tante Yunita sudah terlalu sering merendahkan. Dan ada perkataan hinaan yang harus Nenek simpan sebab tak pantas di ketahui Meira. "ini tidak adil buat kamu. Karena tujuan Tante Yunita sebenarnya takut di salahkan ole Andra. kamu paham maksud Nenek bicara seperti ini, cu?" Cuma itu saja agar Meira tak banyak lagi bertanya.


"Iya, Nek. Aku juga enggak bodoh."


"Tante Yunita itu pola pikirnya hebat ya, Cu?"


"Iya, Nek."


Pukul delapan pagi, Meira tiba di depan kantor tante Yunita. Agak ragu Meira mengetuk pintu. Tangan sudah dia angkat tapi masih ragu-ragu.


"Meira." sebuah suara mengejutkannya.


"Selamat pagi Tuan Brama." Meira cepat memengang tangan Tuan brama dan menempelkannya di keningnya.


"Pagi, Meira. Mau ketemu Tante Yunita?"


"Iya. Tapi saya takut mengganggu."

__ADS_1


"Oh! Ada perlu apa?" tanya Om brama.


" Itu bawa apa?" Tuan brama melirik Map A.M.


Meira diam.


"Ya, sudah kalo enggak mau jawab. Biar Om panggilkan Tante Yunita." Tuan Brama mengetuk pintu dan memanggil pelan.


"Masuk aja, Pah. Pake ketuk pintu segala."


"Ini Mah ada tamu."


"Siapa? Suruh masuk." kata Tante Yunita dari dalam.


Meira melangkah hati- hati sekali. "Maaf, saya mengganggu."


Tante Meira memamandang kaget dan tidak menyangka Meira datang Menemuinya.


"Silahkan duduk. Ada keperluan apa?"


Meira Meletakan Map berisi beberapa dokumen dan Map berisi Uang. Tante Yunita sangat terkejut melihat dua Map beserta isinya.


"Di mana yang harus saya tanda tangani, Tante?" Tanya Meira karena Tante Yunita malah diam saja.


"Ti-tidak ada yang harus kamu tanda tangani." suara Tante Yunita gugup. "Sudah cukup. Silahkan kamu keluar."


"Tidak bisa seperti itu, tante. Ini masalah Bayar pinjam dana usaha dan persetujuan kontrak berjangka..serta royalti hak produk yang ..."


"Meira...!" Bentak tante Yunita. "Saya paham!" Tante Yunita malah geram. Lalu mengeluarkan dua buku tipis ukuran folio. " Baca dan tandatangi semua!"


Meira segera Membuka-buka beberapa lembar dan langsung mendatangani. Dia ambil satu untuk pegangannya.


Tak lama Tuan Brama masuk. Tante Yunita menarik Suaminya menjauh dari Meira. Suami istri itu bicara berbisik-bisik. Seperti ada rahasia.


"Meira...."


"Ya Tuan Brama."


"Panggil saya Om. Ya." Kata Tuan Brama suaranya lunak. "Om ingin bicara berdua sebentar. Kita bicara di lobi depan. Ayo, Meira."


Meira mengangguk. Keduanya keluar dan menuju ruangan lobi. seorang pelayan menyuguhkan minuman. Meira tidak meminumnya takut ada sesuatu yang bisa membahayakan dirinya dalam minuman itu.


"Om minta maaf atas perlakuan tante Yunita. Om pikir Tante Yunita itu memang keras kepala. Susah diajak bicara, maunya menang sendiri."


"Enggak apa-apa Tuan. Sudah selesa?" kata Meira karena sudah tidak ingin lebih lama. seperti juga kata nenek. Setelah selesai, pulang dan jangan bicara apa-apa dengan siapapun.


"Ya. Hubungi Om bila butuh bantuan, ya?" Tuan Brama menyerah, sebenarnya ada yang sangat penting yang harus dia jelaskan.


"Trima kasih. Aku permisi, Tuan."


"Ya." Angguk Tuan Brama. Di pandangnya Meira sampai hilang di seberang jalan sana.


Di ceritakannya semua kejadian di kantor Tante Yunita tidak yang terlewat kepada Neneknya. Nenek tersenyum.


"Tidak apa-apa, ayo kita mulai dari nol lagi."


Meira berjalan keluar untuk menyegarkan pikirannya. Dia berjemur di bawah pobon jambu jawa. Lalu mengambil Ponsel, dan mengklik Andra.


"Selamat Pagi, Cowok Kampus." godanya.


"Ah Lu, Mei. Ada yang penting, ya? pagi-pagi telpon?"


"Aku udah putusin hubungan bisnis Nenek sama Mama Yunita."

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2