KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode :16


__ADS_3

Meira bangkit , lalu berlari ke jalan dan menstop Angkot. Ibu Mirna menyuruh Pak Dudung untuk mengikuti Meira. Tiba di gerbang sebuah rumah mewah Meira segera turun dari Angkot. Langkahnya mendadak terpaku ketika pandangannya melihat Jesika tengah duduk di Beranda depan sambil memangku Bayi. Meira bertanya-tanya dalam hati.


Sebuah mobil berhenti percis di dekat Meira. seorang Laki-laki tampan yang sudah tidak asing bagi Meira turun dari dalam mobil dan terpana melihat Meira.Keduanya saling bertatapan.


"Kak .!" suara Meira. tercekik


"Meira.....?"


Lagi meira memekik, sangat bahagia, Lama tidak bertemu, dadanya bergejolak menemukan orang yang paling di cintanya kini sudah berada di depannya.


Meira berhambur ke dalam pelukan Andra dan Mendekapnya sangat erat dibarengi tangisnya . Begitu juga dengan Andra memeluknya lebih erat lagi, tidak perduli dengan pandangan Jesika dan mamah Yunita yang mendengus benci.


"Ya, Allah, Aku mimpi tidak?" Meira menatap wajah Andra merasa belum percaya.


" Ya, Allah, terima kasih Engkau telah mengabulkan doa-doa hamba." gumam Andra akhirnya menangis juga.


Tante Yunita dengan langkah cepat dan wajah penuh kebencian mendekat.


"Andra! Apa-apaan kamu?!" Bentak Tante Yunita."Apa


tidak malu dengan istri kamu, hah?"


"Istri.....?" Meira menyeringai, tangannya pelan-pelan melepaskan pelukan Andra. "Kak....?"


"Meira... ki-kita harus bicara. Jang-jangan dengarkan omongan mamah Yunita dulu." suara Andra gugup.


"Heh, Meira!" Tante Yunita mengalihkan pandangan sinis ke Meira."Kamu punya perasaan malu enggak, sih?"


"Tante maksudnya apa?" tanya Meira tidak mengerti ke mana arah sindiran tante Yunita.


"Eee..pake .pura-pura lagi. Atau emang belum tahu, ya, Andra ini, sekarang sudah beristri, sudah punya anak lagi."


"Dia bukan anak aku mah. Bukan cucu mamah. dulu Aku di jebak." sanggah Andra."Meira ..aku mohon jangan percaya dulu sama omongan Mamah."


"Jadi kakak sudah menikah..?" tanya Meira serak.

__ADS_1


" Ya, Mei. Aku memang sudah menikah, tapi pernikahan kami beda. Tidak seperti yang kamu bayangkan. Ini rekaya...


"Cukup, kak..." suara Meira nyaris tidak terdengar tersekat tangis di kerongkongan. "Ya sudah, aku lebih baik mengalah, .permisi, kak."


"Meira ..." Andra mencegah menghalangi.


Meira menepis tangan Andra dan mempergegas langkahnya. Pak Dudung yang di perintah Ibu Mirna agar melindungi Meira segera merapatkan mobilnya dan membantu Meira masuk.


"Ya, Allah, Anugrah apa lagi yang akan Engkau berikan hingga aku di uji seperti ini...?" gumamnya lirih.


Tiba di rumah Ibu Mirna, Meira menjatukan dirinya ke tempat tidur. Menangis tersedu-sedu. Ibu Mirna berupaya menghibur putrinya yang lima belas tahun lamanya, baru di pertemukan.


"Mungkin Ini sudah taqdir, Nak" Ibu Mirna membelai. "Kalian tidak berjodoh. Lagi pula Andra kan masih termasuk Kakak kamu walaupun di antara kalian tidak ada ikatan darah. Ibu juga bingung, karena Tante Yunita enggak pernah ramah sama ibu."


"Kenapa ibu membohongi aku? Tadi pagi ibu bilang, kak Andra masih mencari-cari aku. Sudah tiga bulan dia enggak pernah pulang. Buktinya dia tinggal di rumah tante Yunita bersama Jesika."


"Ibu tidak ingin kamu sakit hat, Nak."


"Apa betul kak Andra di jebak, Ibu?"


Meira bangkit. "Aku hanya ingin tahu saja. Sudah berapa bulan kak Andra menikahi Jesika?"


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu." Ibu Mina sedikit kesal. "Yang sudah terjadi ya sudah, jangan di ungkit ungkit lagi."


Blak! Tiba-tiba pintu terbuka keras. Andra menerobos masuk. Dia pegang tangan Ibu Mirma dan menempelkannya di kening.


"Aku minta Mama tinggalkan kami. Aku ingin bicara empat mata."


"Jangan sakiti adikmu." ancam Ibu Mirna sebelum beliau berlalu dari ruang kamar. "Pintunya jangan di tutup!"


Andra menatap lama wajah Meira., begitu juga Meira membalas menatap. Sunyi! Tidak ada yang buka suara. Sepasang mata mereka beradu. Lama sekali. dan, Akhirnya Andra kalah. Andra tersenyum. Meira masih diam. Lagi-lagi Andra tersenyum lebih lebar.


"Aku mau pulang, malam nanti aku mau merayakan ulang tahun. Aku harus mempersiapkannya dari sekarang." Meira membuka suara, lalu bangkit dan mengambil tas berisi dua stel pakaian.


"Kamu sungguh-sungguh mau meninggalkan kami?Apa kamu enggak kangen?"

__ADS_1


"Enggak lagi." tukas Meira ketus.


"Kenapa enggak lagi?"


"Sudah ke luar sana!" Meira mengusir. "Aku mau ganti baju. Aku mau pulang."


"Pulang? Ke mana? Ini rumah kamu, Meira. Ya kamu harus tinggal di sini. Kamu pindah Kuliah juga, nanti aku suruh Papa Brama mengurus keperluannya."


Meira diam.


"Kamu enggak Mau tinggal dan Kuliah di sini?" Andra menatap cemas. "Atau ...kamu sudah punya pacar lagi di sana?"


"Kakak jahat kalau menganggap aku seperti itu!" bentak Meira tiba-tiba kesal, merasa sudah tidak di percayai. "Iya.! Aku memang sudah punya pacar lagi di sana. Trus Kakak mau apa?" Meira sengaja berbohong.


"Uhuk uhuk.." Andra pura- pura batuk, menahan tawa.


""Enggak percaya?" Meira melotot


Andra tidak mampu menahan tawanya. Andra tertawa dan tertawa lagi.


Meira menyeringai tak mengerti.


Andra masih terus tertawa. "Aku jadi teringat malam perpisahan di SMA kita dulu." Suara Andra mendadak pelan, dia berjalan ke tepi jendela dan melanjutkan bicaranya. "Ada seorang cewek yang nekad mencium cowok duluan, dia hanya ingin membuktikan kalau dirinya mencintai cowok itu..dia merasa dirinya sangat miskin, merasa tidak pantas menerima perhatian cowok itu. Mungkin dia pikir, itu satu-satunya cara agar cowok itu bisa memahaminya." suara Andra berhenti, matanya menyipit mengintip perubahan rona wajah Meira. "Cewek seperti dia itu enggak bisa di anggap main-main.. karena perasaan yang dia rasakan itu, namanya cinta mati! Sekarang cewek itu mengatakan kalau dirinya sudah punya pacar lagi....ya cowok itu menertawakannya karena ucapan cewek itu dianggapnya cuma sensasi agar si cowoknya cemburu dan lebih menyayanginya lagi."


Andra memandang Meira dan melanjutkan. "Sekarang cewek itu lagi bersedih...karena merasa telah di hianti, padahal cowok itu tidak pernah menghianatinya. Dia terpaksa menikahi seorang perempuan yang sudah hamil, itupun karena cowok itu di jebak...."


"Teruskan." sela Meira penasaran.


"Setahun yang lalu, cowok itu terlibat pesta minum-minum dengan beberapa teman lamanya, di sana dia bertemu dengan mantan pacar namanya Jesika. Cowok itu sedang down lantaran cewek yang di sayanginya tiba-tiba pergi tanpa sepengetahuannya, cowok itu mabuk berat... kemudian dia tidak ingat apa-apa. Paginya dia terbangun, dan kaget menemukan dirinya sudah berada di sebuah kamar bersama mantan pacarnya itu..beberapa minggu kemudian Papa dan mama cowok itu di kejutkan oleh tuntutan dari pihak Orang tua Jesika agar bertanggung jawab atas perbuatan anaknya. Pihak orang tua Jesika, memperlihatkan beberapa poto mesum. Pihak keluarga perempuan itu mengancam akan memprosesnya secara hukum. .... Merasa takut anak laki-lakinya masuk penjara, Anehnya Mama dari cowok itu langsung setuju. akhirnya mereka bertanggung jawab dan menikahkan anaknya dengan Jesika. Asal tahu juga, selama ini, laki-laki itu tidak pernah sedikitpun menyentuh istrinya... karena dalam pikirinan cowok itu cuma ada satu cewek, yaitu cewek yang pernah menciumnya di malam perpisahan SMA-nya dulu...." Andra menghentikan ceritanya. Dia mendekati Meira. "Kamu tahu siapa nama cewek yang ada di dalam pikiran cowok itu?"


Meira mengangkat wajah. Sepasang bola matanya berkaca, dia menggeleng-gelengkan kepalanya, bukan berarti tidak percaya, dia merasa kagum dengan Andra.


"Sekarang terserah kamu, Mei. Apa pun keputusanmu, aku akan menerimanya. Walaupun aku harus tersakiti." ujar Andra.


.

__ADS_1


__ADS_2