KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 25


__ADS_3

Meira dan Andra baru saja pulang makan malam dari salah satu restoran, ketika mobilnya memasuki jalan alternatif, sebuah mobil jenis sport memepetnya, Andra terpaksa menghentikan mobilnya, tiga preman turun dan langsung menggedor pintu mobil Andra.


"Turun!" bemtak salah satu dari ke tiga preman itu wajahnya tidak jelas tertutup separuh masker.


"Kakak..." Meira sangat cemas


"Hubungi Paman Beno, cepat !" Andra Kemudian melangkah turun.


Dua orang dari mereka tanpa ini dan itu lagi langsung menyerang Andra. Keributan tida seimbang pum terjadii. Seorang lelaki menyelinap ke dalam mobil. Meira dengan cepat menendangnya, tapi laki-laki mengenakan masker itu malah semakin agrasif memburu Meira.


"Tolong! Kakak...tolong!" teriaknya berkali-kali.


Andra masih berusaha menangkis dan memblok serangan-serangan dari kedua Lelaki itu, dan ketika dia melihat posisi Meira dalam keadaan terhimpit oleh Laki-laki itu, dengan sekilat dia melompat dan menarik kaki lakilaki itu dari dalam mobil, Andra terhuyung ketika bagian punggungnya seperti terhantam benda keras, tapi dia berusaha bangkit, karena dalam pikirnya, dia hanya mencemaskan Meira. Namun pada akhirnya dia harus terjatuh dan tak dapat mengimbangi serangan demi serangan dari ketiga preman itu.


"Kakak tolong..! Kakak tolooong!" terdengar suara Meira menghiba.


Andra berusaha meronta, tapi tenaganya seperti sudah sangat terkuras, apalagi ketiga preman itu masih saja mengunci kedua tangannya dengan teknik mematahkan bahu, dan pilihannya Andra harus menyerah, atau bersabar menunggu ruang gerak tubuhnya untuk berputar seratus delapan puluh derajat. Tapi Andra sudah tak mungkin dapat melakukannya karena lagi-lagi salah satu dari preman itu melakuna sesuatu yang membuat tubuhnya semakin tidak bertenaga. Samar dia hanya mendengar jeritan Meira meminta tolong.


Meira hanya diam tak berdaya, dia cuma bisa menghindarkan wajahnya dari maksud Laki-laki bermasker itu. Dia cuma bisa merapatkan kedua kakinya sekuat dari sisa-sisa tenaganya.


"Bedebah kauuu!" teriakan keras suara pria itu menyusul terlseretnya tubuh laki-laki dari atas tubuh Meira yang tengah memakaksakan kehendaknya.


"Paman Beno.." gumam Meira, sambil membetulkan dressnya yang sudah merosot. Dua bentuk ujung buah loopahnya yang nyaris terbuka dia tutup kembali, Meira bersyukur Paman Beno dan dua anak buahnya datang pada waktu yang sangat tepat.


Adu ketangkasan satu lawan satu kini berlangsung se imbang, Meira memburu Andra yang sudah berdiri dan tengah bertahan melawan salah satu dari mereka. Meira ambil mengangkat sepatunya dan mementungkan ke kepala pria yang tengah berhadapan dengan Andra.

__ADS_1


Satu dari mereka berseru mengajak untuk kabur. Meira memeluj tubuh Andra yang jatuh terkulai. Banyak cairan wanra merah yang merembas dari punggung bekas tergores barang tajam dan bibirnya bekas hantaman kepalan tangan llawannya. Dia gunakan dress warna putuhnya untuk memersihkan cairan merah itu.


Paman Beno datang dan segera membawa Andra ke sebuah rumah sakit terdekat. Meira menghubungi Mama Mirna dan Om brama agar segera datang ke rumah sakit di mana Andra di bawa dan tengah di tangani oleh seorang dokter ahli. Setelah selesai operasi jahitan kecil di bagian punggungnya, Andra di pindahkan ke ruang perawatan.


Meira duduk di samping Bedpasien ukuran lebar, tangannya tak henti-hentinya mengusap-usap kening Andra, meski sebenarnya kondisi Andra tidak apa-apa. Mama Mirna dan Tuan Brama datang. Meira memeluknya dan menangis.Tuan Brama memeriksa keadaan Andra.


"Tidak apa-apa. Kamu memang harus melakukannya. Apalagi menyangkut kehormatan keluarga juga seorang wanita." Tuan Brama menepuk-tepuk wajah anaknya.


"Terima kadih, Pap. Aku pikir Papa akan menyalahkan aku."


"No problem!" tandas Tuan Brama, membuat Andra merasa tenang.


"Hey..Siapa orang yang telah membantumu? Di mana orang itu?"


"Mh...!" gumam Tuan Brama. "Beruntung sekali kamu punya teman seperti dia. Kapan-kapan kenalkan xia sama Papa, ya."


"Pasti, Pap." Angguk Andra.


Tante Yunita menerobos ke dalam dan langsung memeluk Andra sambil menangis, apalagi melihat muka Abdra yang bengkak penuh memar.


"Sudah mama bilang beberapa kali, jangan berhubungan dengan perempuan yang enggak tau sopan santun itu. Membawa musibah melulu !" cerca Tante Yunita. "Di mana dia sekarang? Mama harus kasih pelajaran tuh anak."


"Yunita.." Tan Brama menyela. "Kita sudah tua, sudah seharusnya berpikir secara jernih, jangan asal gampang nyalahin orang.Coba kalau misalkan orang tua Meira menyalahkan Andra karena berhubungan dengan anaknya, kebetulan ada kejadian seperti ini, bagaimana perasaan Andra dan Mama?"


"Jelas enggak terima dong, pah."

__ADS_1


"Begitu juga mereka."


"Tidak bisa ! Di mana dia sekarang. Akan aku cari dia." tante Yunita bergegas ke luar.


Meira masih terisak-isak di pangkuan Ibu Mirna, duduk di ruang tunggu. Meira hapal pada Laki-laki yang nyaris membuatnya kehilangan segala-galanya. Masker Laki-laki itu sempat terbuka. Laki-laki itu Giano. Tapi Meira tidak ingin memberitahukannya kepada siapa pun termasuk kepada Mamahnya yang sudah beberapa kali bertanya agar Meira mau berterus terang mengungkap pelaku kriminalitas itu.


" Hey sini kamu!" tiba-tiba tante Yunita datang dan langsung menarik Meira ke tempat yang sepi dari orang yang tengah bersantai di ruang tunggu. Membawanya ke jalur koridor toilet.


"Tante pelan-pelan Kaki aku lagi sakit."


"Masa bodoh! diem di situ!" tante Mirna mendorong Meira ke dinding tembok.


Meira bersandar bahu mendengarkan omelan-omelan tante Yunita yang sangat menyakitkan hatinya. Tapi Meira tidak bicara seucap pun. Dia memilih untuk diam seribu bahasa walaupun dia bisa membalikan ke adaan secara mudah. Dia lebih baik menahan tangis dari pada membantah, karena dalam hatinya, dia telah menganggap tante Yunita itu, wanita yang harus dengan sangat di hormatinya. sebab beliau ibu kandung dari seorang lelaki yang sangat di cintainya.


"Kenapa, diam? ayo bicara! Biasanya kamu suka ngebantah kalau saya sedang bicara!"


Meira hanya merorotkan tubuhnya ke bawah dan duduk jongkok di lantai dengan kedua tangan menutup wajah.


Tante Yunita memandangnya. Kemudian dia berbalik pergi karena merasa perempuan tidak tahu sopan itu, akan menerima kesalahan dan kekalahannya.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" sorang wanita tua yang baru sembuh dari sakitnya dan kebetulan lewat memandangnya."Dress kamu ada banyak darah, kamu keguguran?"


Meira mengangkat wajah, lalu mencoba untuk tersenyum, pantas saja wanita tidak di kenal itu bertanya dengan sangat hati-hati, beliau mengira Meira habis keguguran.


"Saya tidak apa-apa, Ibu. Bercak merah ini bekas darah luka pacar saya." jawab Meira kemudian bangkit dan kembali menuju ruang tunggu untuk menemui ibunya.

__ADS_1


__ADS_2