
Suara klakson mobil beberapa kali memanggilnya. Meira agak sibuk memakai sepatu. Lalu tergesa-gesa ke luar. Santika dan Raisa menyambutnya dengan wajah ketus.
"Lama banget sih, lu!"
Meira cuma senyum-senyum doang. Raisa mulai menjalankan mobilnya. Tidak lama mobil sudah memasuki sebuah areal parkir restoran mewah, ketiga cewek itu, berbelok langkah menaiki tangga dan tak lama kemudian tiba di ruangan yang sepanjang sisi kanannya berdekorasikan lampu-lampu yang membuat Meira beberapa kali menghalangi matanya dengan telapak tangannya.
"San...! Ini tempat apaan sih?" tanya Meira begitu langkahnya memasuki sebuah aula yang marak orang, dan suara gema musik remix,
"Cuman tempat hiburan. Lu enggak usah tegang, gitu." ujar Santika. " Bang Alfi, kok belom keliatan, di mana tuh anak." santika celingukan.
"Sa.." Meira berbisik ke Raisa.
"Pah?"
"Kamu ngerasa aneh enggak? Coba kamu liat, semua cewek di sini kok pakaiannya gitu banget, sih?"
" Itu namnya Bikini dance, Meiraaaaa. Ini rumah diskotik. Lu ntar cobain pake bikini kayak gitu. minta sama kak Andra."
"Amit-amit." Meira membrigidik.
Raisa mengajak Meira menyusul Santika yang sudah duduk di meja seberang. Raisa menyeruak di sela-sela
orang yang tengah berdansa.
"Raisa, tunggu...!" Meira berusaha menyusul.
"Hai, cewek." Seorang cowok menggoda dan menghadang langkah Meira. "heey.. Lu cantik banget? Lu anak baru, ya? Kenalin...gua Dika.." cowok itu menjulurkan tangan,.
Plak! Alfian datang menepak tangan cowok itu.
"Dia pacar gua."
"Oh..maaf, bang. Enggak tahu." cowok itu sambil membungkuk lalu menjauh.
"Meira, Ayo ikut gua!" Alfian mengajak meira ke ruang lain dan mengambil tempat duduk.
"Lu ngapain main ke tempat diskotikan? Siapa yang ngajak lu?"
"Raisa sama Santika. Ya, Aku enggak tahu mereka bakal ngajak aku ke sini. Awalnya Raisa bilang, cuma minta pengen dianter kondangan ke pernikahan Omnya."
"Kebangetan si Raisa." gerutu Alfian. "Sebentar gua ambil minuman buat lu."
"Jangan lama-lama. Aku takut," rengek Meira.
"Manja banget, lu." Alfian mengambil dua gelas juice. Meira memperhatikan suasana di sekelilingnya. Alfia sempat berbincang-bincang dengan dua pria sebelum kemudian dia duduk kembali menemani Meira.
"Ayo di minum juicenya biar seger. Trus pulang. Enggak nyaman lu kelamaan main di tempat diskotikan."
Meira menyedot pipet juice.
"Seger, ya?" Alfian senyum kecil.
"He,em.." angguk Meira.
__ADS_1
"Mau nambah?"
"Cukup" ujar Meira merasa tenang. "Kok aku ngedadak ngantuk ginih,ya, Bang?"
"Ya, udah kita pulang saja.Lagian udah malam, udah jam sepuluh, ntar Nenek lu kelabakan nyari-nyari lu."
"Aduh Bang, Aku ngantuk banget." Meira menguap. "Kepala aku muter-muter lagi.¹Tolong anterin aku, ya?"
"Iya. Ayo ...!"
Meira bangkit, sepasang mata belonya sayup. Ya, Allah, kenapa aku lemas seperti mau pingsan, gini..."
"Udah jangan meracau. Ayo berdiri." Alfian meraih bahu Meira mengajaknya berjalan menuju ruang jalan panjang. Meira terhuyung-huyung juga sempoyongan. Dia sudah hampir tidak ingat lagi di mana dirinya sekarang.
Di persimpangan koridor, Alfian berbelok arah. Tiba di depan sebuah kamar langkahnya berhenti. Dia menendang pelan pintu kamar, dan memang dia sudah merencanakan niat bejadnya itu.
Dengan perlahan dia rebahkan tubuh semapai Meira ke tempat tidur. Dia sandarkan sebentar punggung Meira di bagian headboar ranjang.
"Hai, cantik..." Sapanya mendesah sambil mendekatkan mukanya ke wajah Meira. "Kena juga, Lu!"
Meira mengerjapkan bola matanya."Bang Alfi. Kita u...dah nya...mpe, ru...mah Ne...nek, be.....luuuum."
"Bentar lagi juga nyampe, Mei. Sabar, ya..." Alfian memandang sinis.
Dengan pelan-pelan Alfian merebahkan tubuh meira, dia mulai beraksi melepaskan........
"Bang Alfiiiii, apa apaan...kamu." suara Meira nyaris tak terdengar. Jeritan minta pertolongannya terbekap tangan kasar Laki-laki.
Meira ingin meronta. tapi tak bertenaga.
***********
"Meiraaaaaaaa!" Andra terbangunkan oleh mimpi buruk nya.kenapa Aku mimpi buruk seperti ini?" gumamnya seraya menutup wajahnya dengan telapak tanganya. Lalu bangkit tersentak. Meira..? Ya, Allah aku bermimpi buruk diri Meira.
Andra mengambil ponsel menghubungi Meira. Namun tidak dapat di hubungi. Sedang tidak aktif!
"Aku harus ke sana." gumamnya.
Andra tergesa-gesa ke luar rumah berlari ke garasi mengeluarkan mobil dan meluncur sangat cepat.
Meira membuka matanya perlahan -lahan. Bola matanya memerah, menatap langit-langit kamar yang sangat asing. Ini bukan kamar aku? Di mana aku? kenapa tubuh aku terasa sangat lemas? Ya, Allah, ada apa dengan aku? Meira mencoba mengingat kejadian terakhir yang dia ingat... Bang Alfi memaksa melakukan sesuatu yang Meira sendiri sudah tidak sanggup untuk berontak melawannya bahkan ingatannya berada di antara sadar dan tidak.sadar. Ya, Allah..? Bang Alfi sudah melakukan....." Ya Allaaaah!!" Meira Meira menjerit sekuat tenaga suaranya bergaung. Lalu menjerit-jerit histerius...sambil meraba- raba tubuhnya. Sebuah kenyataan yang tidak bisa Meira terima.
"Non..Non, tenang, tenang..."
"Si.. siapa kamu? Siapa kamuuu!" Meira menatap ketakutan pada sosok lelaki di depannya."Jangan lakukan lagi ke akuuuu!"
"Non...! Saya paman Beno. Temannya Bos Andra!"
"Tidak...!" Kamu cuma pura-pura ngaku teman Kak Andra. pergiii.....! Jangan lakukan lagi. Jangan lakukan lagi ! Pergiiiii !"
Tiba-tiba suara ponsel milik lelaki itu berdering. Dengan cepat Dia mengabgkatnya.
"Benoooo! Lu di mana, hah?!" terdengar suara keras memarahinya. "Lu udah gua gaji gede setiap bulan. Tapii Lu enggak bisa di percaya. cewek gua belum pulang! Kenapa lu enggak menjaganya. Lu cari mati, ya?"
__ADS_1
"Bos..Bos Andra, sabar."
"Gimana gua bisa sabar, Benooo! Lu cepet ke rumah Mak Irah! Kita car Meira!"
"Bos, Lu dateng aja ke tempat kost gua. Cewek lu ada di sini."
"Hah..?"
"Cepet, bos. Dia trauma. Nanti gua ceritain semua
kejadiannya."
"Gue kesana."
Beno menarik napas panjang. dia raba mata dan pelipisan wajahnya yang masih berdarah. Bekas kena pukulan pipa besi sewaktu ribut dengan Alfian.
Meira memandang Laki-laki yang duduk di kursi bambu itu. Meira terperangah, dia masih ingat jehadian lima hari lalu, Laki-laki preman ini, seperti orang yang pernah menolongnya sewaktu dirinya nyaris tertabrak mobil di jalan menuju Kampus. Lalu apa hubungannya dia dengan Kak Andra? Laki-laki ini menyebut-sebut nama Andra sebagai Bos-nya?
"Non, Maaf Paman belum sempet kasih lu minum. Tunggu sebentar, ya. Paman ambilkan air minum, dulu."
Meira terdiam, tapi tangannya tidak pernah berhenti meraba-raba keadaan seluruh tubuhnya, terutama di bagian khusus kewanitaannya. Tidak ada yang sakit? batinnya.
Tidak lama Laki-Laki itu kembali lagi sambil membawa segelas air putih.
"Non..minumlah dulu." Lelaki itu menyodorkan gelas berisi air.
Meira begemetar sewaktu menerima dan meminum air pemberian laki-laki itu.
"Panggil saya Paman Beno, ya." pinta Laki-laki itu."Non enggak usah sedih. Non, masih baik-baik, kok. Paman ini kepercayaannya Bos Andra buat jagain ,Non."
Tok TokTok !
"Siapa? Masuk.... enggak di kunci!" teriak Beno.
Meira yang duduk di atas ranjang melompat dan memburu Cowok yang baru muncul dari balik pintu kamar, lalu memeluk sangat erat. Menangis menjerit-jerit.
Beno menceritakan semua kejadiannya, mulai dari dirinya menguntit Meira ke Rumah Diskotik, sampai ada seorang Lelaki yang hendak berbuat jahat terhadap Meira. Andra merangkul Beno dengan bangga.
"Mei.." Andra menatap Meira." Siapa laki-laki yang sudah mengganggu lu, itu."
"Kak....Sudah jangan di perpanjang lagi."
"Enggak semudah itu, Mei. Ini masalah harga diri, Cowok itu tidak melihat .......... aku ini Kakak kamu. Siapa dia? Siapa Meeeeei!"
Meira diam saja.
"Bos.." Beno menyela. Lalu berbisik-bisik dengan Andra.
Andra merespon dan kemudian menepuk- nepuk pundak Beno.
"Lu besok ambil mobil ke dealer, Ben. Biar nggak capek pakai motor lagi. Lu udah dua kali menyelamatin, Meira. Gue hormati kesetiaan lu." Suara Andra sedikit terbata-bata.
Beno cuma diam, mungkin preman berusia tiga puluh lima tahunan itu, merasa seperti mimpi, ujuk-ujuk mendapat hadiah mobil, yang dia pikir, sampai mati pun dirinya tidak akan pernah terbeli mobil.
__ADS_1