
Meira tertegun di depan rumahnya. jantungnya berdegup kencang ketika melihat tante Yunita turun dari mobil dan menghampirinya.
"Selamat pagi, tante." sambut Mera berusaha tenang dan mencoba mengukir senyum.
"Pagi!" suara tante Yunita dingin. "Mana Andra? Suruh dia keluar!"
"Hm, silahkan masuk dulu, tante. Bicara di dalam, ya. Mungkin kak Andra masih tidur."
"Tidur sama kamu, begitu ya maksudnya."
Andra yang baru saja keluar sangat terkejut mendengar ucapan Tante Yunita.
"Apa-apan sih Mamah berbicara seperti itu?"
"Kamu lagi, pura- pura bodoh.Sekarang kamu jangan tinggal di sini lagi, mama sudah pusing melihat kamu masih saja berdekatan dengan perempuan tidak tahu diri ini. Eh, Meira! Tante Yunit mengalihkan pandangannya ke arah Meira. " Kamu punya perasaan malu enggak sih. Masa iya perempuan nginep di rumah laki-laki yang bukan suaminya. Kamu itu perempuan macam apa?"
"Mamah jangan bicara kasar seperti itu dong, mah." bujuk Andra sambil mendekat. "Sebaiknya mamah ke dalam dulu. Aku siapin minuman buat mama, ya."
"Sudah jelas kan dia perempuan enggak benar? Kamu masih saja berpihak sama dia."
"Kak Yunita! Jaga bicaramu. Meira itu anak saya. Anak kandung saya! Rumah ini rumah Meira!" bentak Ibu Mirna, datang ketika mendengar suara ribut-ribut, dan merasa tersinggung mendengar Tante Yunita menginggung-nyinggung anaknya seperti itu.
"Maksud kamu apa Mirna? Kamu bilang Meira anak kandung kamu?"
"Betul Meira itu anak kandung saya. Kami sudah lama berpisah. Kamu tidak perlu tahu bagaimana kami bisa sampai berpisah. Sekarang tolong jangan pernah lagi menyakiti perasaan dia."
"Saya menyakiti perasaan dia?" tante Yunita menyeringai. "Apa kamu tidak pernah merasa, kamu dulu sudah menyakiti perasaan saya? Gampang sekali kamu berbicara seperti itu."
"Sudah dong, Mah." bujuk Andra.
Andra segera menarik Tante Yunita berjalan ke pekarangan rumah. Dia tidak ingin ada pertengkaran yang lebih jau lagi antara kedua mamanya.
Tante Yunita mengikuti Andra ke Taman. Andra kemudian menceritakan kalau Meira itu anak Kandung mama Mirna. Andra menjelaskannya sesuai yang dia dengar dari Ibu Mirna dan juga dari cerita Meira.
"Ya, lebih bagus begitu. Mamah tidak perlu capek-capek lagi menyuruh kamu menjauhi Meira. Kalian berarti adik kakak. Tidak boleh pacaran apalagi sampai menikah. Itu di larang sama Agama."
Setelah itu tante Yunita mendekati Ibu Mirna."Nasehati anakmu, agar jangan lagi berhubungan dengan anak saya. Kamu paham, Mirna?"
"Yang harus di nasehati itu bukan anak saya. tapi anak kamu, kak Yuni!" balas Ibu Mirna .
"Eeeh, berani kamu, ya?"
__ADS_1
"Mah sudah.dong ah gimana sih, nggak nyaman ribut-ribut seperti ini." Andra menghalangi.
Meira menarik Mamanya."Ayo, Mah. Masuk" ajak Meira sambil menoleh ke Andra dia berteriak. "Heh kak Andra, ajak pergi mama kamu jauh-jauh dari sini! Aku nggak mau denger dia marahin Mama aku!"
Bluk! Meira membanting pintu dengan sekuat tenaga.
"Perempuan tidak tahu diri. Tidak sopan!" gerutu Tante Yunita, lalu menyeret Andra pergi.
**********
Meira sudah mulai masuk Kuliah, di Kampus barunya. Kampus universitas yang dia inginkan sejak masih sekolah SMA dulu. Tuan Brama yang telah mengurus persyaratan Pindah kuliahnya. Di sini Meira bertemu dengan sahabat lamanya, Syifah juga Dika. Lalu Mereka asyik berbagi pengalaman. Meira merasa iri mendengar hubungan manis antara Syifah dan Dika. Tidak seperti dirinya selalu banyak masalah. Syifah dan Dika sama-sama mengambil jurusan Ekonomi Manajemen. Dan sewaktu Meira menceritakan soal pertengkaran kecil antara Mamanya dengan Tante Yunita beberapa hari yang lalu, kedua teman dekatnya itu malah menertawakannya.
"Trus hubungan kalian selanjutnya gimana?" Syifah mengawali sebuah pertanyaan sambil menyilangkan tangannya ke Dika.
"Andra ngajak aku nikah diem-diem." Bisik Meira, takut Dika mendengar. Sekarang kak Andra lagi ngambek , karena aku menolaknya." celoteh Meira.
Syifah tertawa."Eh. kalian udah tidur bareng belum? Gue denger kalian satu rumah."
"Udeh, ya?" tebak Dika. " Gimana rasanya?"
"Ya, Ampun kamu, Dika. Ngeres banget pikiran kamu. Amit- amit..!"
"Ssssrt..! Syifa menempelkan telunjuknya di bibir. "Kak Andra, tuh."
"Buuu!" Andra memanggil pemilik kafe Kantin." Baso rusuk satu mangkok, ya!"
"Iya!" jawab pemilik kafe kantin.
Meira mendelik. "Buat aku mana?"
Andra tak menjawab. Tidak juga menoleh, tidak lama pelayan kafe kantin membawa Baso rusuk pesanannya. Andra mulai menikmatinya. Meira memandangnya. Andra tidak menghiraukan. Meira bertopang dagu di atas meja dengan wajah dan sepasang mata berharap Andra akan menawarinya. Lama Meira menunggu, berharap Andra mau berbagi Bakso. Lag-lagi Andra bersikap tak acuh.
"Enak, ya?" akhirnya Meira mengalah untuk damai.
Andra tidak menanggapi. Dia lebih asyik memotong- motong bagian dari baso rusuknya menjadi beberapa bagian, lalu menusuk dengan sumpit berkait mirip ujung panah.
"Buka..." ucap Andra menyuruh Meira membuka mulutnya sambil menyodotkan sepotong baso rusuk.
Blep! Meira menyambarnya dan menikmatinya.
"hmm...Enak." Meira menikmatinya.
__ADS_1
"Ntar malam aku tidur di rumah Mamah kamu."
"Enggak boleh. Ntar Mama Yunita, ngajak berantem lagi, gimana?"
"Enggak usah dengerin!"
"Trus kalo Mama aku nggak ngijinin?"
"Aku masuk naik tangga depan, bodoh." gerutu Andra sedikit kesal.
"Enggah ah, Aku takut ntar kakak minta yang lebih."
"Lebih apa?"
"Ya lebih-lebih kayak gituh"
"Ya enggak dong, Mei. Kamu pikir kakak ini cowok apaan sampai kamu punya pikiran ke arah situ. Percaya deh sama kakak. Yang satu itu akan kakak jaga sampai kita nikah."
"Ah, Kakak." Meira tersipu.
Sementara seorang cewek memandang cemberut ke arah mereka. Giginya gregetan dengan warna muka menahan benci.
"Itu kan Andra mantan suami lu, Jes?" ujar seorang cowok yang duduk di sebelah Jesika. Mereka pun tengah jajan siang di kafe kantin, meja tempat duduknya jauh dari tempat Andra dan Meira.
"Ceweknya cakep juga. Gua baru lihat dia. Kayaknya Mahasiswa pindahan. Hebat juga si Andra cari cewek"
"Lu,, Naksir? Namanya Meira. Adik tirinya sendiri. Lu ambil aja tuh cewek." ujar Jesika.
"Lu kan cewek simpanan gua. Kok lu bisa bicara kayak gituh?"
"Udah jangan mikir soal hubungan kita. Hubungan kita enggak ada dasar apa-apa, kecuali saling ngebutuhin teman mesra buat malam mingguan saja."
"Padahal gua pengen lu jadi cewek gua buat selama-lamanya."
"Ah nggak usah begitu!" Jesika mengkibas tangan.
"Betul, ya lu setuju gua ambil siapa tadi nama cewek itu?"
"Meira."
"Meira...? hm nama klasik cewek kampung." gumam cowok itu. "kuliahan apa dia?"
__ADS_1
"Doknak" jawab Jesika singkat."Eh, lu harus hati- hati sama cowoknya. jangan sampe dia tahu. Bisa hancur muka lu. Dia jago karate, nurun dari bokapnya yang Mafia migas itu."