KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode : 27


__ADS_3

Pak Dudung lalu menceritakan pengalamannya saat dirinya bekerja sebagai sopir pribadi Tante Yunita, dirinya sering menyaksikan beberapa orang yang bersikap mengalah dan memanjakan tante Yunita dengan pujian-pujian menyanjungnya, dengan sedikit embel-embel berbentuk barang. Setelah itu Tante Yunita akan membalas lebih pada mereka.


********


"Mei..ada yang menanyakan kamu.!" teriak Susan, teman baru se fakultasnya, ketika langkah Meira berbelok menuruni tangga kampusnya.


"Siapa?" Meira bergegas menjejeri langkah Susan menuju bagian luar.


"Cowok.Tapi sebelumnya aku belum pernah melihatnya. Kayaknya bukan anak Kampus sini deh, orangnya ganteng cuman gayanya seperti playboy. Dia nunggu di depan, dekat areal parkiran."


"Temenin aku sebentar, ya? Kita bersama-sama menemui orang itu." pinta Meira, merasa penasaran, bisa saja orang yang mencarinya itu membawa berita penting dari keluarga Meira. Dari Nenek misalnya.


"Tapi nganter saja ya? Soalnya aku ada janji ketemuan sama pacar baru aku.." ucap Susan, sempat bercerita kalau dirinya sudah lima kali ganti pacar.


Keduanya bergegas keluar dari teras pembatas kampus. Tiba di areal parkir keduanya mencari-cari sosok seseorang. Tapi Meira tidak menemukan orang yang ciri-cirinya disebutkan oleh Susan.


"SUdah pergi lagi kali Mei." Susan berbalik. "Aku kembali ke Kampus mau terus ke Kantin. Hape aku bergetar terus nih kayaknya dari pacar baru aku. Udah enggak sabar menunggu aku kali." Susan berjalan percis seperti gaya anak remaja.


Meira hendak berbalik mengejar Susan. Namun langkahnya mendadak terhenti oleh sapaaan seorang lelaki. Dia menengok.


"Babak pertama sudah selesai, Meira. Kita lanjutkan di babak kedua. Lu pengen di mana? Hotel atau rumah!?" ujar laki- laki itu di iringi tawanya yang membuat Meira merinding.


"Kamu brengsek, Giano!"


Giano tertawa lagi. Lalu mendekat Meira lebih dekat lagi. "Malam itu seharusnya gua sudah menikmatinya. Tapi lu masih beruntung. Babak ke dua nanti, lu akan berteriak kencang tapi tidak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan lu, Meira. Bahkan teriakan lu nanti, akan membuat gua bersemangat hahahaha..."


"Rusak lu" sungut Meira sebelum kemudian setengah berlari masuk ke kantin.


Di Kantin Meira malah beradu muka dengan Jesika, dengan cepat Meira berkelit, pura-pura memesan makanan kepada pelayan kantin.


"Sebentar lagi lu bakal hancur, Meira." bisik Jesika mendekati Meira." Gua pastikan lu enggak bakalan bisa lolos dari Giano. Dan Andra cuma bisa menyesali dirinya karena sudah mencampakan gua."


"Hey.. kamu pikir aku takut?" jawab Meira kagok belang. "Kamu tuh cuma ular berkepala dua. Bisanya cuma ngadu sana ngadu sini. kalau aku mau sombong, kamu itu kecil, Jesika. Jadi mulai sekarang kamu jangan coba-coba bermain-main dengan aku. Kamu yang akan hancur bukan aku." lalu Meira melangkah dengan tenang memasuki kantin lain dan duduk paling pojok. Ingin menikmati kesendirian.


"Hai... kamu Meira kan?" tegur seorang pria .


Ya ampun! Meira mengaduh dalam hati. Belum lagi dirinya terlepas dari satu masalah, kini datang masalah lain. Seorang lelaki yang begitu asing baginya kini sudah pasang cengiran duduk di depannya.


"Nama saya Yuda, saya mahasiswa pasca sarjana di sini. Beberapa hari ini saya sering memperhatikanmu, kebetulan sekali kita bertemu disini." ujar Pria itu tanpa diminta. "Kamu mau pesan makanan atau minuman apa? Biar saya pesankan."


"Maaf... saya lagi ingin sendirian." tutur Meira sangat hati-hati. "Lain kali saja kita bicara. Maaf, bisa ya mas tinggalkan saya ?"


Mimik muka Pria itu tampak kecewa. Setelah mengeluh dia sempat menepuk halus bahu Meira, kemudian keluar dari kantin.


Meira menarik napas lega. kini dalam pikirannya hanya terpokus pada tiga sosok manusia yang memang semakin sangat menjengkelkannya. Terutama tante Yunita.

__ADS_1


Meira mengambil ponselnya, menghubugi Andra.


"Ada apa, Mei?"


"Jemput aku,, ya. Aku merasa ada orang yang ingin menculik aku."


"Hah? Aku segera ke sana. hey, jangan keluar dari Kampus sebelum aku datang." Suara Andra terdengar cemas.


"Aku menunggu di kantin tempat biasa kita jajan bakso."


"Aku segera ke sana! GPS hapenya aktifin, Mei."


"Iya."


Sambil menunggu Andra menjemput, Meira menyibukan dirinya membuka Aplikasi Noveltoon meneruskan membaca cerita Novel horor yang kemarin belum sampai tamat.


Lima menit kemudian Andra datang, Meira bangkit dan langsung mengajak Andra pulang.


"Sebenarnya ada apa, sih? Kamu kok kelihatan cemas banget?" selidik Andra sesaat setelah menjalankan mobilnya.


"Barusan aku ketemu Giano. Dia ngancam aku, sepertinya dia punya niat jahat. Aku takut."


"Dia memang sudah parah!"


"Heh, ke rumah Nenek, yuk?"


"Aku kangen. Sekalian ngambil beberapa barang yang belum sempat aku bawa."


"Tapi ini udah sore. Ntar kemalaman, gimana?"


"Aku pengen nginep. Sudah lama enggak ngobrol-ngobrol sama Nenek. Tapi kamu jangan ikut nginep. Pulang lagi saja. trus besok siang kamu jemput aku."


"Baiklah." Andra memutar arah mobilnya.


*******


Rumah Nenek tampak sepi, mungkin Mak Irah sedang ada urusan bisnis kue dengan beberapa pelanggannya, yang akhir-akhir ini ingin sekaligus menjadi penyalur kuliner jajanan buatan Nenek.


"Pintunya di kunci, Mei." Ucap Andra setelah berusaha membuka pintu


"Aku tahu di mana nenek nyimpen kunci." ujar Meira."Sebaiknya kamu pulang saja."


"Aku pengen ngopi dulu. Jaga-jaga supaya enggak ngantuk di perjalanan, nanti. Lagian aku enggak mungkin ninggalin kamu sendirian di sini."


Meira cuma mencibir. Lalu menyelinap ke bagian sisi kanan rumah,, tangannya meronggoh bagian instalasi jendela Meira tersenyum mendapatkan kunci pintu rumah Nenek.

__ADS_1


"Ketemu kuncinya, Mei?" tanya Andra.


Meira menjewer kunci. Lalu, klik, pintu rumah pun terbuka lebar. Andra membantingkan tubuhnya ke kursi empuk sekedar untuk melepas lelah. Meira ke dapur membuat secangkir kopi untuk Andra. Tak lama Meira kembali membawa secangkir kopi.


"Yah, kemanisan, Mei." Protes Andra sesaat setelah mencicipi kopi. "Eh, kira-kira Nenek masih lama enggak ya pulangnya?"


"Aku telpon dulu, ya?" Meira mengambil ponsel dari saku jeaans-nya.


"Hai, Nenek."


"Tuben menghubungi Nenek. Ada apa?"


"Enggak ada apa-apa. Justru sekarang aku lagi di rumah Nenek. Kangen sama Nenek."


"Oooh.. kok tidak bilang dulu, sih? Kayaknya Nenek masih lama. Munglin satu jam lagi baru bisa pulang. Sama Den Andra, ya?"


"Iya, Nek."


"Tuh ada yang nemenin. Ya, sudah istirahat dulu."


"Ya, Nek. Selamat malam."


"Malam ... "


Meira merebahkan dirinya di kursi, tidak jauh dari Abdra.


"Aku ambil kan pizza dulu ya, Kak." Meira hendak bangkit.


"Enggak usah," Andara meraih tangan Meira agar duduk lagi.


"Mei ... " Suara Andara bergetar.


"Apa ... ?" Meira menatap.


Andra menjawabnya dengan sebuah senyuman.


"Apaan?" Suara Meira nyaris tidak terdengar.


Tiba-tiba si Belang, kucing kesayangan Meira muncul dari balik pintu kamar milik Meira dulu lalu melompat ke pangkuan Meira.


"Hei, Belaaang ...." Meira memangkunya penuh suka cita.


"Meooong ... !"


"Yeah lu Belang, ganggu aja!" Gerutu Andra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2