KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 22


__ADS_3

Udara pagi begitu dingin. Gerimis kecil sisa hujan deras semalam, masih berjatuhan, hembusan anginnya bersemilir mengajak Meira lebih rapat lagi menarik selimutnya.


"Hey, "


"Heem.." Meira bergumam.


"Bangun... Mama kedua nyuruh aku jemput kalian. Mula sekarang, kamu sama nenek tinggal serumah dengan aku. Ayo bangun." Andra menepuk,tepuk pipi Meira.


"Masih ngantuk." Meira pura-pura tiidur.


"Bangun,"


"Ngantuk."


"Bangun enggak? atau aku peluk, Nih."


"Ya, peluk aja."


"Bener, nih?"


"Aku kan calon istri kamu, Ayo masuk slimut." suara Meira mendesah sekali.


"Aku masuk, ya?" Andra menyelinap ke balik selimur.


bluk! bluk! bluk! Meira memukul-mukulkan bantal guling pada Andra.


"Kamu kebangetan deh, kak. kalo pengen buah ya gigit buah apel bukan, ke ....punya aku. Sakit, tahu!"


"Diem.."


"Sakit.."


"Diem!"


"Neneeeeeek!" teriak Meura.


Ufh! Andra spontan bangkit."Ntar dilanjut, ya?"


"Enggak!" Meira berdiri."Aku mau mandi dulu."


"Kebeneran aku belum mandi. Bareng, ya."


"Kakaaaaak! Aku tabok, nih."


Meira bergegas ke luar dari kamarnya, berjalan tersenyum-senyum sambil memperhatikan warna merah di bagian d*d*nya.


******


Tiba di Rumah Mamanya, Meira mulai menata kamarnya, di bagian atas paling depan. di lengkapi tangga pintas yang menjulur ke pelataran taman depan rumah. Ya, Allah! Aku bagai hidup di sebuah istana sekarang? batin Meira ketika dia betopang dagu di pagar besi pembatas. pandangannya terbang jauh ke ujung langit belahan barat, menerawang keindahan tayangan slide sebuah keindahan naturalis yang berubah-ubah setiap menitnya,


Sebuah pelukan tiba-tiba menghangatkan tubuh bagian belakangnya. Meira melirik, sepotong wajah tampan sudah menggoda di bahunya. Senyumnya mendebarkan sekujur tubuh Meira, apalagi ketika lelaki itu menempelkan pipinya.


"Senja yang indah," gumam Andra tanpa melepaskan pelukannya.


"Keputusan Nenek ternyata bijaksana ya, kak. Seandainya dulu kita tidak di pisahkan, mungkin hari ini kita enggak akan seperti ini. Sekarang kita bertemu dalam usia dewasa.... mungkin seperti inilah yang nenek inginkan,"

__ADS_1


"Hei..Kenapa menangis?"


"Aku sedang teringat masa lalu.... perjalanan hidup aku ini seperti sebuah dongeng dalam cerita fiksi.. empat tahun lalu, aku berada di masa remaja yang sangat prihatin, setiap pagi aku harus mengawali hidupku dengan berjualan kue, ekonomi aku berada di status sosial paling terendah, satu tahun setelah itu, aku bertemu dengan seorang cowok, dia mengajak aku untuk menjadi temannya, waktu itu aku berpikir, Apa aku sedang bermimpi?"


"Jangan ceitakan lagi!" Tukas Andra. "Aku sudah pernah membaca cerita seperti itu di noveltoon. Sekarang aku ingin mengajak kamu menemui Mama Yunita."


"Apa?" Meira spontan melepaskan diri dari pelukan Andra. "Enggak, enggak, enggak...Aku belum siap."


"Hei..kapan lagi?"


"Pokonya aku belum siap!"


"Tapi kita harus segera menikah, Mei. Kita enggak bisa seperti ini terus."


"Aku belum siap kalo harus beretemu dengan Mama Yunita sekarang. Titik."


"Kita harus ketemu mamah Yunita. Titik!"


"Enggak bisa!"


"Harus bisa!"


"Enggak,enggak,enggak! Hih sebel!" Meira segera pergi.


"Hei,hei,hei,!" Andra mengejar.


Meira berlari kecil menuruni tanggi sambil tertawa-tawa. Andra terus mengejar . Dan bluk! Meira bertabrakan dengan Mamahnya..


"Mamah...? Ma,ap." Meira tersipu-sipu.


"Enggak bisa gutuh dong, Mah. Kalau Mamah ngelarang kami pacaran lagi, ya..mendingan aku pergii lagi dari sini. Sekarang juga Aku akan pergi!. Pasti aku pergi!" protes Meira marah.


Andra mendekati sambil tersenyum."Nah, kamu aja protes. Apa lagi aku! Pengen tetep nikah sama aku, kan?"


"Ya sudah terserah kalian!" Mama Mirna berlalu.


Meira dan Andra saling memandang. Sama- sama tersenyum. Mereka tidak tahan untuk tidak tertawa.


"Boutique Maharani Busana, yuk!" ajak Andra tiba-tiba."Cari gaun pengantin."


"Ufh?!"


"Kenapa kaget?"


"Kamu tanya aja sama nenek, alasan kenapa aku menolak di beliin gaun pengantin sama kamu." tutur Meira."Lagi pula, kamu harus minta ijin dulu sama Mama kamu. Aku baru mau menikah, kalau sudah mendapat restu dari Mama Yunita.. Aku harap kakak mau memperjuangkan permintaan aku ini."


"Tapi perasaan kamu ke aku, enggak pernah berubah, kan Meira?"


"Berubah atau enggak, bukan urusan kamu,"


"Hey enggak bisa begitu, Meira."


"Buat apa kakak tanya-tanya itu lagi? Dari awal kita beremen, kakak pernah denger enggak aku bilang cinta sama kakak? enggak pernah kan? Ya udah ngapain suruh aku bilang cinta sama kakak."


"Tapi, mei..."

__ADS_1


"Heeeeeei...!" Meira melotot. "Sini..!"


"Apa?"


"Ke sini!"


Andra mendekati Meira. Keduanya berhadapan sangat dekat.


"Ya, ampun Meira.. kamu kalau lagi melotot, Indah banget." Andra berdeca-decak. "Tapi aku belum melihat , kayak apa gituh kalau kamu merem."


"O, pengen lihat Aku merem? Nih!" Meira memejamkan matanya. "Sekarang terserah kamu! Ayo buktikan kalo aku enggak perlu bilang cinta sama kakak."


"Error....."


"Error....."


"Makasih, Kakak.." Wajah Meira memerah, sepasang matanya berkaca.


Mamah Mirna melintas.


Andra dan Meira merenggangkan posisi berdirinya. Keduanya tampak tersipu-sipu, ketika pandangan Mama Mirna bolak-balik mengamati wajah mereka


*****


"Apa Mamah enggak salah denger kamu minta Mama ngelamar Meira?" Tante Yunita yang tengah meng-alokasikan jumlah nilai uang untuk gaji para pegawai perhotelan dan restorannya, sekeika beralih menatap Andra.


"Aku serius, Mah."


"Urusan kamu sama Jesika kan belum selesai. Logika kamu itu gimana, sih? Lagian Mama dari dulu enggak kepengen punya mantu miskin seperti Meira."


"Dia enggak miskin, Mah. Meira itu anak ..." Andra menahan ucapannya. "Dia dan Neneknya udah berkecukupan. BIsnisnya sudah sukses..."


"Nggak, Andra! Mama tetep nggak setuju. Mama benci sama Nenek-nenek itu apalagi harus besanan."


"Mak Irah itu orangnya baik, Mah. Dia mau mengerti, aku yakin Mak irah bisa saling memaafkan kesalah pahaman yang pernah terjadi antara Mamah dan beliau. Trus Meira juga hebat...dia udah semester lima, sebentar lagi Wisuda, bisa kerja..trus bisa meneruskan kuliah pasca wisuda untuk jadi seorang doktet.Mau cari menantu seperti apa lagi, Mah?"


"Andraaaa! stop membicarakan kedua orang itu.!"


"Mah."


"Cukup!"


Andra terdiam.Ya, Allah.. Aku harus bagaimana lagi meyakinkan Mamah.? Apalagi kalau Mamah tahu kalau Meira itu anak kandung dari wanita Madu-nya Mamah? Malah tambah komplikasi keributan nantinya? Aku harus bagaimana sudah begini?


"Kenapa diam?" tegur Tante Yunita. "pergi dulu sana, mama lagi sibuk."


"Tapi kita bicara lagi nanti, Mah."


"Enggak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Apalagi hanya ngebahas kedua orang itu. Enggak penting. Buang-buang waktu!"


"Ya ampun, Mah. Enggak pantes wanita sehebat Mama bicara kayak gituh."


"Sudah selesai bicaranya?" tukas tante Yunita.


Lagi-lagi Andra terdiam. Kemudian dengan langkah gontai di berjalan ke luar. Melarikan mobilnya menuju Kampus.

__ADS_1


__ADS_2