KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode :13 Dari judul : Kekasihku Kakak Tiriku


__ADS_3

Di Jalan utama Meira menahan langkahnya. Berdiri di pinggir trotoar sambil tangannya berulang kali memanggil Taksi. Tapi taksi-taksi itu berlalu begitu saja.


Meira menonggak ke atas. Gerimis kecil mulai bejatuhan. Meira bergegas memburu halte. Dia merasa menyesal kenapa tadi menolak tawaran Alfian yang hendak mengantarkannya.


Suara klakson mengejutkannya, Meira melongok. Mobil itu berhenti di depannya. Tak lama Alfian keluar dari mobil, berputar membuka pintu, dan mempersilahkan Meira agar masuk. Tanpa bicara apa-apa Meira bergegas masuk.


Alfian menjalankan mobilnya berbaur dengan Kendaraan-kendaraan lain. Sepanjang jalan Meira lebih memilih berdiam diri saja. Lagi pula dirinya tidak ingin lagi berdekatan dengan lelaki manapun, termasuk Bang Alfian. Berdekatan seperti ini saja Meira merasa dirinya telah bersalah.


"Masih jauh rumahnya?" Tanya Alfian.


Meira mengiakan.


"Kamu belum makan siang kan? kita cari rumah makan, ya?" tawar Alfi." Perut gua Kayak lagi nyanyi lagu kemayoran."


"Keroncongan?" Meira menyeringai dan menahan senyum. "Bang Alfi ada-ada saja."


"Gitu, ya." Alfi senyum-senyum.-"Gaya bicara kamu itu unik lho, Mei."


"Unik gimana?"


Alfi terkekeh."Indah dan unik. Denger suaranya saja, orang sudah bisa menebak kamu itu wanita yang baik hati dan suka bercanda."


"Bang Alfi merayu, ya?"


"Tuh, kan?" Alfi geleng-geleng kepala kagum."Manja banget suaranya. Kamu pernah marahin orang enggak?"


Meira hanya bisa terdiam. Dia teringat ketika Jesika menamparnya dulu, tapi hatinya selalu pasrah. "Aku enggak bisa memarahi orang." katanya pelan.


"Walau pun orang itu salah? Baguslah." Puji Alfi, sambil membelokan mobilnya ke arah kiri, sesuai petunjuk Meira. "Kapan-kapan coba kamu marahin gua,! Gua pengen mendengar kayak apa gitu suaranya.." Goda Alfi. "Ya ampun jadi lupa niat cari Rumah Makan, malah asik ngobrol. "Kita ke restoran, ya?"


"Enggak, ah. Lagian rumah aku udah dekat." Kilah Meira. "Nah itu rumah aku udah keliatan."


"Yang Mana?"


"Stop-stop-stop!" Meira berkoar-koar.


Alfian menghentikan Mobilnya di depan gerbang sebuah rumah. Mak Irah mengamati dari balik tirai kaca rumah. Meira turun, menengok sebentar ke Alfian.


"Terima kasih, Bang Alfi."


"Sama-sama. Besok, gua jemput, ya?"

__ADS_1


"Maaf, aku belum bisa menerima kebaikan Bang Alfi. Tapi nanti, akan aku pikirkan. Oke?"


"Yeaa bilang oke? Kayak lagi di LN aja." seloroh Alfi menggoda." Bener nih besok enggak mau di jemput?" Alfi penasaran.


Meira menempelkan telunjuknya di bibir, mengisaratkan agar tidak ada lagi tawar menawar.


Alfian tampak kecewa. Menatap Meira hingga hilang di balik pintu rumah. "Nawarin mampir aja enggak?" Alfi garuk-garuk kepala.


"Siapa dia, Mei.?" Tanya Nenek, sambil menutup buku catatan usahanya. Suaranya bernada menyelidik.


"Bang Alfi, Nek. Kakak semester, aku baru kenal satu hari, tapi sepertinya dia orang baik-baik lho, Nek." Jawab Meira sambil sibuk membuka sepatunya. "Tapi Aku minta maaf kalo Nenek enggak senang Bang Alfi ngatarin aku?"


"Tidak apa-apa, kok. Nenek malah senang melihat kamu tidak sedih lagi."


"Jangan salah paham, Nek." Sanggah Meira, sembari menjatuhkan tubuhnya di kursi empuk. "Aku enggak mungkin menghianati kak Andra."


Nenek menyelinguk mengamati sang cucu. Lalu Nenek tersenyum, tapi senyumnya sudah tidak jelas lagi, sudah tertutup pipi berkeriput.


"Aku akan sabar menunggu persetujuan Nenek." Meira melanjutkan pembicaraannya. "Dulu Nenek pernah berjanji ke aku, nenek akan mempertemukan aku lagi sama Kak Andra. Aku akan menunggu sampai nenek membuktikan janji nenek. Aku tidak berani memaksa nenek. Karena Nenek adalah nenek yang paling aku hormati."


Mak Irah bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Meira. Lalu membelai rambut Meira dengan sangat hati- hati, mencium keningnya. Dan mengusap-usap kedua bola mata belo Meira yang berkaca-kaca.


"Memangnya ada apa, Nek?" Meira menelusuri wajah Nenek yang seperti bergetar menahan tangis.


"Jawab saja pertanyaan Nenek."


"Tiga bulan lagi." Jawab Meira penuh ketidak mengertiannya.


"Silahkan kamu temui Andra mulai dari hari dan tanggal lahir kamu."


"Apa, Nek? Aku boleh menemui kak Andra tiga bulan lagi?"


"Iya, Meira."


"Nenek..." Meira memeluk erat Sang Nenek dan menangis tersedu-sedu di pangkuannya.


******


Meira duduk senyum-senyum sendiri di pematang tembok panjang pinggiran kolam, sangat nyaman untuk di jadikan tempat menyegarkan pikiran mumet, berada di bagian Areal Kampus. Udaranya segar, di kelilingi pohon-pohon sejenis pohon Palm.


Bluk! Alfi menjatuhkan dirinya di dekat Meira. Senyumnya menggoda. Ada keringat di keningnya.

__ADS_1


"Aduh Meira.... Gua capek banget keliling Kampus cari kamu." Alfi langsung menggerutu. "Jangan melamum melulu dong! Memikirkan kegagalan di masa lalu itu salah." Alfi menepuk pelan tangan Meira.


"Aku lagi bahagia tauk!. Enggak lama lagi aku bakalan ketemu kak Andra. Trima kasih ya Allah, terima kasih!" Meira mengepalkan tinjunya kuat-kuat, seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran Alfi.


Alfi merengut kesal.


"Mei...." Alfi mencolek perut Meira. "Bisa enggak kamu hargai gua sedikiiit aja? Gua udah capek tadi nyari-nyari kamu, pas ketemu sikap kamu seperti ini, aku kecewa, coba kasih gua waktu buat bicara sebentaaar aja. Pandang Gua, meira. Gua mohon.."


Meira berputar. Keduanya berhadapan.


"Begitu, dong." Alfi tampak sedikit senang. "Sekarang gua pengen tanya, ada enggak cowok lain, yang kamu pikirkan Selain Andra? Misalnya gu...."


"Enggak ada!" Jawab Meira tegas. "Kak Andra itu cowok pertama aku, Bang Alfi. Sepertnya dia enggak akan tergantikan oleh cowok mana pun dalam hidup aku" kata Meira, lalu perhatiannya kembali menghadap ke kolam, tangannya tidak terasa melempar-lempar batu kecil kedalamnya. "Aku sangat terlanjur sayang banget sama Kak Andra." Meira lalu melrik Alfi dan berkata. "Bang Alfi tahu enggak kenapa aku dan kak Andra enggak pernah berbicara soal cinta?"


Alfi cuma bisa terdiam.


"Karena sikap aku ke kak Andra, dan sikap kak andra ke aku itu, sudah cukup menjelaskan semuanya."


Alfi masih terdiam.


"Sudah delapan bulan kami berpisah. Aku kangen suaranya. Kangen gantengnya, kangen pelukan sayangnya, Canda-candanya bikin aku pengen cubit hidungnya."


"Ehem!" Alfi mendehem iri. "Trus misalkan Andra sudah punya cewek laen lagi, gimana? kamu marah kan?"


"Kemarin aku udah bilang, Aku tuh enggak bisa marahin orang."


"Tapi ini beda lagi, Mei." Alfi tampak keteteran. "Artinya misalnya Andra punya cewek lagi, kalo begitu caranya, kamu bakal diem aja dong!"


"Ya, enggak gitu juga. Aku akan tanya dulu alasan dia kenapa bohongin aku. kalau alasannya enggak masuk logika, ya udah selesai. Tapi misalkan alasannya masuk logika walaupun dia kelihatannya salah, ya aku maafin." ujar Meira lalu melirik. "Maaf ya bang Alfi. Sudut pandangan manusia itu jarang-jarang sama. Kalo prinsip aku sih, tidak gampang menyalahkan orang sebelum tahu alasannya. dan juga sebaliknya, tidak gampang membenarkan orang sebelum jelas kebenarannya."


Alfi tersenyum pahit. "Siapa yang mengajarkan kamu bicara seperti itu?"


"Nenek.." jawab Meira jujur. "Apa ada yang salah?"


"Hmm ti-tidak. Gua kaget aja." Alfi berdalih. O, ya. Mei."


"Apa?"


"Gua mau jujur. Gua tahu kamu masih mencintai Andra, itu enggak apa-apa, itu hak kamu. Gua cuma minta pengertian kamu, terserah kamu mau jawab apa, Tapi asal kamu tahu saja, aku suka sama kamu, Mei."


Meira agak terperangah. Dia tidak mengira Alfi akan bekata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2