
Meira sampai di terminal tua. jantungnya berdegup-degup dan dadanya berdebar-debar. Apa lagi ketika kakinya menginjak jalur jalan raya, perasaannya semakin tidak karuan, karena jalan raya itu sering di lewati Meira dan Andra kalau bermalam mingguan.
Dari sini Meira harus naik dua angkot lagi. Angkot pertama akan melewati jalur perkotaan yang nantinya akan tiba di sebuah persimpangan jalan. Angkot kedua menuju jalan utama yang bagian kanan di kirinya merupakan wilayah pemukiman penduduk lama sejak jaman dahulu, kemudian nantinya sampai ke kawasan perumahan yang bentuk gedungnya cukup mewah.
"Pak, di depan berhenti, ya." pinta Meira kepada sang sopir angkot
Sang sopir merapatkan mobilnya ke pinggir. Meira turun seraya menepuk-tepuk jeans bagian belakangnya yang agak berdebu. Lala dia berjalan mendekati gerbang pintu depan. Pak Dudung menonggakan kepalanya dan segera ke luar dari Pos jaga menghampiri cewek cantik yang menyambutnya dengan senyuman. Pak Dudung menatap menerka-nerka.
"Non Meira bukan, ya?"
"Betul. "
"Ya, Allah...,'" Pak Dudung spontan menelinguk ke arah rumah dan berteriak keras."Nyonya...! Nyonya.... Ini ada Non Meiraaaa!"
Pak Dudung membunguk-bungkuk seraya menampani ransel Meira. Lalu mempersilahkan Meira untuk cepat-cepat masuk.
"Nyonya lagi sakit, non." kata Pak Dudung. "Kepikiran non Meira ."
'"Sakit? Kepikiran Aku?" Meira mengernyit tak mengerti. "Kak Andra ada kan, Pak?"
Ibu mirna tiba-tiba keluar dar pintu. "Pak Dudung. Ada apa teriak-teriak memanggil saya?"
Belum sempat Pak Dudung menjawab, Meira sudah mendahului berteriak.
"Ibu ini aku. Kak Andra mana?"
"Meira.....?" Ibu Mirna memandang tak percaya. "Meira anak aku. Meira anak akuuuuu!"
Ibu Mirna setengah berlari sambil merentangkan kedua tangannya lalu menangkap Meira dan memeluk sangat erat, dari mulutnya tak henti- hentinya menyebut kalimat, Meira anak aku.
Meira hanya bisa diam tidak mengerti. Dan ketika Ibu Mirna terkulai lemas karena kondisinya kurang sehat Meira di bantu Pak Dudung membawa Ibu Mirna ke tempat tidurnya. Meira mengambil segelas air dan membantu Ibu Mirna minum.
__ADS_1
"Meira." suara Ibu Mirna berat dan lelah."Ibu ini Mama kamu. Mama kandung kamu."
"Ibu lagi sakit. Ibu mengigau. Aku Meira cucu Mak Irah. bukan anak ibu." Meira berusaha menenangkan Ibu Mirna.
"Ya, Allah Aku harus bagaimana agar Meira tahu kalau aku ini benar-benar ibu kandungnya. Tolong beri dia petinjuk ya, Allah." gumam Ibu Mirna, hatinya perih.
Meira memandang seisi ruang kamar, pandangannya terbentur pada beberapa photo yang terpajang di atas meja rias milik Ibu Mirna.. Dia tersentak kaget melihat photo wanita cantik berbingkai besar. Photo itu pasti photo ibu Mirna selagi muda, tapi photo itu kan photo wajah Mama waktu aku kecil? Dan itu? Meira menyeringai, Kenapa photo Nenek dan photo Om Padly ada di situ juga? Meira mengambil photo Nenek dan Om Padly lalu mendekati Ibu Mirna.
"Ibu, kenapa photo Nenek dan Om Padly ada di sini?" tanya Meira.
"Itu bukan Om Padly. Tapi Prastian suami ibu Almarhum, Ayah kamu, mereka memang mirip sekali. Dan wanita itu memang Mak Irah nenek kamu. Aku ini Mamah Kandung kamu, Meira."
Meira lebih mendekat. Di belainya kening Ibu Mirma Lalu menempelkan alat kompresan. Dalam hati Meira berbicara, Apa betul Ibu Mirna ini Mama aku yang dulu pergi ke kota?
"Kamu punya tompel tidak di bagian perut, Meira?" tanya Ibu Mirna parau.
Meira mengangguk. Lalu memperlihatkannya ke Ibu Mirna.
Ibu Meira menggeliat duduk. Dia menjerit histerius dan lagi-lagi memeluk Meira. Suara tangisnya menyayat. Dan, antara percaya dan tidak, tiba-tiba Meira ingin menjatukan kepalanya di dada Wanita yang mengaku Mama kandungnya itu. Kemudian Meira pun menangis
"Enggak, Mah. Meira tahu Itu bukan keinginan, Mama.. mungkin taqdirlah yang mengharuskan mama berbuat seperti itu."
Meira bangkit melepaskan pelukanya. Lalu menghubungi Nenek dengan ponsel. Nenek harus tahu semuanya! batin Meira.
"Gimana, Meira? Sudah bertemu belum dengan Andra?" Nenek menyapa dengan pertanyaan.
"Belum, Nek. O, ya, Nek. Ada yang ingin berbicara dengan Nenek. Namanya Ibu Mirna, putri dari sahabat pesantren nenek dulu, Syeakillah. Ingat tidak?" ujar Meira. "Dulu Nenek sudah menceritakannya ke aku, kan?"
"Ya Allah!" suara Nenek terkagetkan.
Meira memberikan ponselnya pada Ibu Mirna. Menyuruh agar berbicara dengan Nenek.
__ADS_1
"Halo Ibu..Ini aku Mirna. bagai mana kabarnya?."
"Mirna! Ya Allah... kemana saja kamu, nak?" Nenek menangis.
"Nanti aku ceritakan. Terima kasih ibu telah merawat Meira. Maaf Ibu, sekarang aku sedang banyak masalah. Sampai nanti, Ibu."
"Iya, Nak." jawab Ibu Irah.
Klik.
Ibu Meira menatap Meira.wajah yang semula layu, kini berseri kembali. Meira tersenyum. Dirinya masih merasa tidak percaya kalau wanita yang sejak pertama
bertemu dan menyayangimya itu ternyata Mama kandungnya.
"Ibu... Kak Andra mana?" tanya Meira sudah tak sabar ingin bertemu. "Ada di atas kan? Aku mau ke atas." tanpa menunggu jawaban dari Ibu Mirna, Meira berlari menaiki tangga.
Ibu Mirna mengela mapas panjang. "Ya, Allah. Bagaimana Aku menjelaskannya? Aku tidak ingin anak gadisku terluka." Ibu Mirna berbicara lirih.
Ya ampun?! Meira geleng-geleng kepala. Kamar Andra berantakan tak karuan. Berdebu! Langit-langitnya di penuhi sarang laba-laba. Meja belajarnya terbalik dan buku-buku berserakan di mana-mana, Laptop pecah berkeping-keping.
"Ibuuuuu!" teriak Meira. "Ada apa dengan kak Andraaaa!"
Meira bergegas turun. Menerobos masuk kamar Ibu Mirna. Ingin marah. Tapi rasa ingin marah itu mendadak hilang ketika Meira mendengar suara pilu tangisan Ibunya.
"Ibu...?" Meira mendekati dan duduk berhadapan."Ada apa dengan kak Andra?" tanya Meira pelan, sepassng bola matanya perlahan kuyup. "Di mana Kak Andra, ibu? Apa dia tinggal bersama tante Yumita?"
Ibu Mirna menggelengkan kepala. "Maafkan ibu, Mei. Ibu tidak bisa menjaganya. Sejak kamu pergi, Ibu menyuruh Andra mencari kamu, karena mama sudah tahu kamu adalah anak gadis mama. bahkan mama juga menyewa beberapa orang untuk mencarimu, tapi tidak ada yang berhasil menemukanmu. Kak Andra terlalu sayang sama Mama. dan ketika mama jatuh sakit, Andra berjanji pada mama, dia akan terus mencarimu. Mamah yang salah. Mama terlalu memaksakan kehendak." Suara Ibu Mirna terbata-bata. "Sudah lebih dari tiga bulan Andra tidak pernah pulang ke rumah ini. Mungkin Tante Yunita tahu di mana Andra sekarang. Maafkan Mama, Mei. Maafkan, Mama."
"Mama enggak salah. Aku yang salah." Meira beringsut mundur dari hadapan Ibu Mirna. "Aku yang salah, Mah. Aku yang salaaaaah..!"
Meira terhuyung-huyung berlari keluar.
__ADS_1
"Meiraaa! Jangan pergi. Meira tungguuu!" Ibu Mirma mengejar.
"Kak Andraaaa!" teriak hati Meira, terhuyung dan terjatuh di depan pintu rumah.