KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 19


__ADS_3

"Halo, Pah. Ada apa?"


"Kamu di mana?"


"Aku baru pulang. Semalam aku sibuk di Kampus. Ada yang penting, ya?"


'Iya. Tapi kalau kamu capek, nanti sajalah. Sekarang kamu tidur saja dulu. Sore atau malam, kamu datang ke sini. Papa di rumah Mamah kedua. O, ya, kamu belum belum mengatakan apa-apa kan ke Mamah Yunita dan Jesika kalau Meira itu anak kandung Mama kedua?"


"Belum. Dari dulu aku sengaja merahasiakan masalah ini. Aku tidak mau ada perpecahan di antara Mamah Yunita dan Mama Mirna."


"Bagus! Ya, sudah. Jangan lupa ke sini nanti."


Yap, Pap." Andra kembali menghampiri Jesika.


"Siapa?" tanya Jesika curiga.


"Meira...."


"Mas? Kamu mengerti dong perasaan aku gimana? Meira, Meira, Meiraaaaa melulu yang Mas pikirkan!" Jesika menggerutu. " Mas Andra tuh sudah punya istri. Aku sakit hati Mas denger kamu nyebut-nyebut Meira terus."


"Kamu bicara soal sakit hati?" Andra menyeringai. "Apa kamu enggak merasa bersalah sudah menjebak aku dan menuntut aku untuk menikahi kamu? Aku lebih sakit , Jes! Dulu... sewaktu kita pacaran, berapa kali aku memohon sama kamu, agar kamu melupakan cowok pendatang itu? Bahkan aku separoh mengemis, agar kamu balikan sama aku. Tapi kamu malah bilang, belajarlah untuk melupakan aku, sakit hati aku, Jes. Sakit banget."


"O, jadi kamu balas dendam?"


"Itu tidak ada hubunganya. Aku menikahimu bukan karena aku mau balas dendam., aku hanya kasihan sama mama Yunita, aku enggak tega kalo nantinya mamah Yunita menderita melihat aku masuk penjara. padahal aku lebih baik mati di penjara dari pada harus nikah sama kamu."


Jesika terdiam. Tiba tiba dari ponsel Jesika yang tergelerak di atas meja berdering. Dengan cepat Jesika mengambilnya, sekilas Jesika melihat Nama Giano Farhan memanggilnya.


"Siapa,?' tanya Andra.


"Mama aku. Boleh aku bicara dengan, Mama?"


"Silahkan. Aku ngantuk mau tidur. Jangan ganggu."


Andra berlalu menuju sebuah Mess semacam pondok milik papa, tempat papa bermeditasi dan di pijit oleh Ahli Fisiologi, tempat paling nyaman menghilangkan kantuk dan stress.


Jesika mengangkat ponselnya.


"Dengan Jesika?" sapa suara cowok.


"Ngapain Lu nelpon, gua?"


"Kangen sama lu. Gua baru pulang pkl dari Bogor. Bisa nggak ntar malem ketemuan?"

__ADS_1


"Mh, gimana, ya.? Lu enggak usah hubungi gua lagi, deh. Gua takut hububgan kita lama-lama ketahuan Mas Andra. ." suara Jesika mendesis pelan, takut ada yang mendengar.


"Ala, enggak bakalan. Lagian gua tahu kamu tuh selama ini kesepian. Si Andra enggak pernah mau tidur sama elu kan?"


"Giano..?"


"Kita ketemu ntar malem di penginapan biasa. tidak ada tawar menawar. Gue tunggu jam delapan!"


klik!


"****!" desis Jesika merasa sangat ketereran.


*******


"Senyum lu indah banget, Mei..."


Meira terkagetkan, menemukan Alfian sudah berada di dekatnya, Meira menarik napas, tidak ada lagi air mata di pipinya, tidak ada lagi keluh gelisah dalam kesunyian hatinya.


"Aku lagi bahagia, Bang Alfi. Akhirnya Aku bisa ketemuan lagi dengan Kak Andra. Walaupun ada masalah rumit di antara kami. Tapi aku percaya, kak Andra akan bisa melaluinya tanpa harus mengorbankan hubungan kami. Dan aku akan menghormati dan mendukung keputusannya, walaupun aku harus merasakan rasa sakit dari sebuah keputusannya itu. Tapi itu hanya untuk sementara saja."


"Gua ke sini bukan untuk menjadi pendengar orang lagi baca puisi." suara Alfian ketus.


"Trus...ngapain ke sini?" Meira sedikit marah.


"Tempat ini milik aku, Bang Alfi."


"Punya gua, Meira....."


"Punya Aku.."


"Punya gua..."


"Ya udah aku turun." Meira hendak pergi.


"Eeeeh, sebentar!" Alfi memegang tangan Meira."Iya deh tempat ini punya kamu. Eh, Gua mau minta maaf, gua dulu udah paksa kamu buat jadi pacar. Sekarang gua enggak bakal lakuin itu lagi. Lagian gua enggak bakalan menang bersaing sama Andra. Dia ganteng, kaya raya. Kita temenanan saja. dan gua janji nggak bakalan minta apa-apa kecuali bagi-bagi pengalaman saja. Setuju, ya?"


Meira agak bingung. Di sisi lain, dia tidak ingin dirinya di sebut cewek sombong, tapi Meira merasa kurang nyaman kalau harus berdekatan dengan Alfian walaupun hanya sekedar teman. Akhirnya Meira kembali bersandar bahu di bingkai jendela berkaca.Dan Jadi pendengar ketika Alfuan Lagi-lagi melanjutkan ceita tentang hubungannya dengan wanita bernama Jianiet. Cerita yang sangat menyentuh, karena Alfian harus kehilangan sosok gadis yang sangat di cintainya. Bahkan Alfian menunjukan poto-poto Jianiet. Cantik sekali Jianiet! pikir Meira.


"Agak mirip kamu, ya, Mei.?"


"Enggaklah. Dia itu cantik. Kalau kamu bilang dia mirip Aku, berarti aku ...


"Kamu lebih cantik dari Jianiet." puji Alfian

__ADS_1


"kamu bicara kayak playboy."


"O, ya? Trus gimana kalo penilaian kamu tentang gua itu bener?"


"Ya, enggak mungkinlah." Meira tertawa kecil.


"Kapan-kapan, temenin gua ke pesta, ya?"


Meira sedikit terbelalak. "Aku enggak biasa ke pesta."


"Ya, makanya biasain. Biar menikmati suasana yang lebih menyenangkan dari pada bengong di rumah."


"Nanti aku pikirkan."


"Bener, ya?"


Meira melirik layar ponselnya. "Udah waktunya kuliah. Aku turun duluan, ya." tanpa menunggu jawaban, Meira beringsut turun.


Alfian senyum-senyum sendiri. Kemudian menyusul Meira.


*********


Andra menginjak rem mobilnya sekaligus. Lalu dia cepat cepat keluar dan berupaya membantu tukang ojek Online yang tadi nyaris tertabrak.


"Maaf, Pak. Bapak enggak apa-apa, kan?" Andra memeriksa kondisi pria tukang ojek itu. " Ini untuk perisa ke dokter dan memperbaiki motor Bapak, saya lagi buru-buru. Ini kartu Alamat saya. Kalo ada apa-apa hubungi alamat ini."


"Terima kasih, pak. Saya enggak apa- apa."


Andra menepuk-nepuk bahu tukang ojek itu lalu kembali ke mobilnya. Tapi langkahnya mendadak terhenti dan dadanya bergolak.Pandangannya menangkap sosok wanita yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Itu kan Jesika? Ngapain dia dengan Pria itu keluar dari kafe lalu berbelok menuju penginapan? Pria itu Giano!" gumam Andra.


Andra bergegas mengikuti langkah keduanya. Tapi langkahnya di hadang oleh dua pria bertubuh kekar.


"Pak, bisa bantu saya enggak? Nanti saya bayar."


Kedua laki-laki itu tidak jadi menghadang apalagi Andra mengeluarkan sejumlah uang cukup banyak. Andra berbisik-bisik agar kedua pria itu mengikuti Jesika dan Giano untuk mengkamerakan apa saja yang mereka Lakukan.


"Bisa kan, Pak?" tanya Andra.


"Siap, Pak."


"Ini nomor tepon saya." kata Andra."Hati-hati, ya,"

__ADS_1


Kedua pria itu mulai menjalankan perintah yang di inginkan Andra. Sebenarnya Andra ingin ikut menyelidiki juga. Namun Andra berpikir lain. Apa pun yang mereka lakukan itu tidak penting baginya, karena papa Brama sudah dengan diam-diam merekayasa pernikahan Andra dan Jesika di tanda tangani di atas perjanjian kontrak. Dan waktunya perjanjiannya sudah tinggal beberapa bulan lagi saja.


__ADS_2