
"Ada apa mama panggil aku?" Andra bertanya, sesekali melirik Papa yang sedang berjemur di pinggir kolam renang.
Tante Yunita berbalik menatap Andra, tadi Ia sedang memperhatikan ikan-ikan hias dalam Akuarium ber aura dasar laut tropis, matanya tajam berkesan judek.
"Mama pengen membahas soal teman kamu itu!" jawab tante Yunita langsung pada pokok pembahasan.."Siapa perempuan itu sebenarnya?"
Andra diam.
"Kalian Pacaran, bukan?"
"Sudah aku bilang Kami cuma temenan, Mah."
"Kamu sudah bohongin Mama, Betul tidak?"
"Mama punya pikiran seperti itu, tau dari siapa?" tanya Andra kaget.
"Itu bukan urusan kamu Andra! Mama cuma minta penjelasan kamu, dia itu pacar kamu kan? Kenapa harus dia? Dia itu enggak seimbang dengan kita, Andra. Kamu enggak pantes punya temen apalagi pacar seperti dia. Malu Andra. Malu!"
Andra bangkit dari duduknya.
"Mau ke mana kamu? Mama belum selesai bicara"
"Pulang." jawab Andra, "Aku pikir, Mama panggil aku ada masalah penting."
"Pulang? pulang kemana? Rumah kamu ya di sini Andra! Ini rumah kamu!"
"Tapi tempat tinggal aku di rumah Mama ke dua. Bukan di sini. Lagi pula mama enggak pernah mau mengerti gimana rasanya seorang anak butuh bantuan dari seorang ibu. Bahkan ketika aku lagi kepepet perlu uang, dulu Mamah malah blokir kartu kredit aku. Justru Mamah kedua yang kemudian sering menolong Aku. Mamah punya perasaan seorang ibu apa enggak sih ke aku?"
"Hey, Andra! Berani kamu ngomong gitu ke mamah, ya!"
Plak!
"Hey, Mah? Andra?" Tuan Brama datang dan memandang heran pada anak dan ibu itu."Kalian ini tiap bertemu ribut melulu. Kenapa sih?"
"Ini si Andra Anakmu, sudah berani melawan Mamanya sendiri."
"Itu enggak bener, Pap."
"Sudah cukup! tidak ada lagi perdebatan!" Tuan Brama melerai. "Papa benar-benar tidak mengerti dengan Sikap anak dan ibu bisa seperti tikus dan kucing seperti ini. Ayo duduk dulu. Tenangkan pikiran kalian. Papa sudah tahu apa yang kalian ributkan. Sivia sudah ceritakan semuanya ke Papa."
"O, Jadi tante Silvia yang udah menghasut mama?" Andra geleng kepala."Ibu dan anak sama saja. Comel sama urusan orang."
"Andra...," tegur Tuan Brama pelan tapi berwibawa. " Jangan menuduh orang seperti itu. Ayo duduk!"
"Ya, Pap. Maaf."
"Bagus." puji Tuan Brama.
Anak dan ibu itu saling memandang kesal. Lalu keduanya duduk saling berjauhan.
Tuan Brama menatap sang Istri. "Mama.." ujar Tuan Brama lunak. "Mama keliru. Ngapain membicarakan masalah yang enggak penting seperti ini? Enggak usah terlalu serius lah ngurusin apalagi ikut terlibat atur-atur masalah anak muda, yang penting itu anak nggak melanggar etika dan tidak menyimpang dari Sy***ah Agama."
"Papa!" Tante Yunita menyala
"Yunita, istriku. cukup! Atau papa pergi dan kalian silahkan bertengkar lagi. Ayo siapa yang berani ngomong? Papa pergi, Nih!" ancam Tuan Brata.
Mamah dan anak terdiam.
"Andra, anak Papa. Kamu salah. Ngapain nutup-nutupin keadaan yang sebenarnya? Jujur saja lah, biar nanti orang tua mempertimbangkan kejujuran kamu iitu. sekarang papa mau tanya, siapa perempuan yang kamu ajak makan malam di restoran mama itu?"
"Temen."
" Bener temen?"
"Baru temen."
"Baru temen? Artinya nanti dia bakal jadi pacar kamu betul begitu." selidik Tuan Brama.
"Mungkin iya, mungkin enggak, Pap."
"Andra! Papa minta jawaban yang legal satu jawaban. Ya atau tidak?"
"Ya, Papa. Andra sayang banget sama dia."
" Papa nggak minta dan belum tanya alasannya. "Ya atau tidak?"
"Ya!" tegas Andra. Tidak mungkin menang lawan Papa! gerutu Andra dalam hati.
__ADS_1
"Tapi, papa?" Tante Yunita menyela. "Pacar Anak kita itu, perempuan dari keluarga yang ...
"Yunita!" Tuan Brama memotong."Jangan asal bicara seperti itu, sebelum semuanya jelas.Nanti kalau memang buktinya sudah seperti yang kamu lihat, Kita bahas berdua. Jangan libatkan Andra dulu. Mama paham enggak maksud Papa?"
Mamah dan anak sama-sama mengangguk.
"Papa sudah selesai."
"Pap." Andra angkat bicara. "Andra pergi dulu ke rumah Mamah kedua. O,ya, Pap. Mama kedua semalaman nangis terus. Andra enggak tahu kenapa. Mungkin ..." Andra menghela napas sebentar lalu mendekati Tuan Brama dan berbisik. "Mama kedua nangis kangenin Papa."
"??????!" Papa tertegun.
**********
" Halo, Kak. Lagi ngapain? Aku dengar kamu bertengkar sama Mama Yunita gara-gara Aku." Meira telpone.
"Tahu dari mana Aku bertengkar sama mama Yunita?" tanya Andra, sepasang matanya memandang langit- langit kamar. Sudah seminggu dirinya tidak masuk sekolah, bukan lantaran cekcok dengan Mama Yunita, tapi baru pulang mendampingi Papa ke Singpure.
"Gosip kantin, Kak. Hampir semua orang ngebicarain soal pertengkaran kamu dan Mama Yunita. Kak, Aku minta maaf, semua ini gara-gara aku, sekarang mereka jelek- jelekin kita."
"Kamu enggak perlu minta Maaf!" Potong Andra. "Jangan dengerin ocehan mereka. Lagi pula Aku enggak sekolah bukan lantaran aku bertengkar sama mama. Aku Nganter Papa ke tim Medis ahli Jantung di Singapure."
:"Ya aku tahu. Syfah yang bilang. Aku senang kamu udah pulang lagi."
"Kangen ya? Aku juga kangen. "Tembak Andra. " Sekarang Lagi apa?"
"Lagi duduk lah. Masa main bola."
"Ah, elu!" kibas Andra." Becanda melulu., Aku beneran kangen sama kamu."
"Enggak denger.."
"Aku kangen sama suara manja kamu kamuuuuu!" teriak Andra sekencang- kencangnya, sampai Mama kedua yang terkantuk- kantuk di balkon atas tersentak.
"Enggak dengeeeeeer!" Bales Meira kenceng.
"Hai, Meira. Kebetulan kamu di sini, Gua pesan kue buat besok, dong." Suara seorang cowok menyapanya.
Andra menyelinguk."Siapa, Mei? Aku denger ada suara cowok."
"Kak Giano farhan! Dia pesan kue. Sudah dulu ya, Kak."
klik! Hubungan terputus.
"Pesan berapa paket?" Meira menoleh Giano sambil menggeser duduknya, lantaran Giano terlalu dekat.
"Coba gua lihat dulu postingannya." Giano menggeser duduknya lebih dekat lagi.
Meira membuka Layar Ponselnya, Giano menengok bermacam-macam postingan kue. Wajah keduanya sangat berdekatan sewaktu melihat satu ponsel bersama-sama. Meira tidak sadar kalo tangan kiri Giano diam- diam melingkar ke belakang dan sedikit di tempelkan di bahu Meira. Beberapa murid yang lewat, saling berbisik begitu melihat mereka.
"Kok si Meira gitu, ya? Gampangan!" seorang cewek membrigidik.
"Enggak nyangka gua, kelakuan Meira kayak gituh!" cerca cowok krempeng.
"Pantesan Tante Yunita ngelarang Andra pacaran sama Meira, mungkin tante Yunita udah tahu kali ya, kalo si Meira itu cewek engga bener!" Tuding yang lainnya.
Meira tersentak kaget, disadarinya posisi Giano berada sangat dekat di sampingnya. "Kak Giano?!" Tegur Meira. "Jauhan dikit dong duduknya. Banyak orang lewat, mereka pikir, kita lagi apaan nanti."
"Nyantai aja kali. Lu kan masih single, gua single, wajar dong! Kalo pun mereka pikir kita lagi pacaran, ya syukirin aja."
"Ya ampun, Kak Giano. Aku udah punya temen. Kak Andra! kamu enggak ngerti apa?"
"Tapi kalian kan baru temenan. Enggak ada salahnya toh? Udah gini aja, Mulai sekarang kita temenan juga?"
Meira terpaksa tersenyum. "Terima kasih, Kak Giano. Aku senang sekali mendengarnya. Aku orangnya enggak suka pilih-pilih. Mereka yang sekolah disini semua sudah aku anggap temen. Termasuk kak Giano. Jadi kak Giano enggak perlu ngomong gitu lagi. Kak Giano udah jadi temen aku, kok."
"O, gitu, ya..." Giano manggut, lalu merenggangkan dirinya agak jauh, dalam hati, dia berkata, sungguh beruntung cowok yang jadi kekasih lu, Mei! Kenapa enggak dari dulu gua deketin, lu. Elu bukan cuma cantik. Hati lu juga bersih, Gua harus dapatin Elu, Meira. Harus!
"Besok anterin kuenya ke kelas Gua pagi-pagi banget, ya!" Giano bangkit. "Jangan lupa pagi-pagi banget!"
"Iya! Beres! Kalo enggak kesiangan!" jawab Meira setengah bercanda.
Giano berjalan makin jauh. Seorang cewek menarik tangannya. Giano buka telapak tangan.
"Nih, Buat beli ro**k!"
" Yeah cuma cepek? Buat apaan duwit segini, Jes!"
__ADS_1
,"Ya ntar gua kasih lagi kalo udah berhasil!"
**********
Meira tertegun sendirian berdiri di bawah halte, tempat yang disediakan oleh pihak pengelola Sekolah, khusus untuk siswa-siswanya menunggu jemputan. Hujan Bulan Desember memang sangat menjengkelkann. Sebentar cerah, lalu hujan, sebentar panas, hujan lagi. Mobil angkot yang biasanya mondar- mandir kini sepi. Meira mendesah. Hujan mulai berjatuhan lagi. Ya Tuhan tolong aku! gumamnya ketika hujan semakin deras.
Sebuah mobil jenis Jeep klasik berhenti tepat di hadapan Meira. Mobil itu begitu asing baginya.
"Hai Cantik. Boleh Aku antar?" Seorang cowok menengok lewat pintu kaca mobilnya. Dan tersenyum sambil membukakan pintu.
"Kak Andra....!" Pekik Meira bahagia."Mobil baru ya, Kak?"
"Baru apanya? Ini mobil rongsokan." Andra meraih tangan Meira membantu untuk menaiki mobil. Mobill jeep tahun sembilan puluhan, koleksi Tuan Brama semasa mudanya.
Meira menarik napas lega. Duduk sambil sebentar- sebentar memicingkan sudut matanya mengintip wajah Andra. Satu minggu tidak bertemu, tidak bosan-bosan memandangnya.
"Kita mau ke mana, Kak? Jalan ke rumah aku kan ke sebelah sana?"
"Kafe!
"Ngapain?"
"Telitian banget sih!" Andra agak ketus.
"Aku harus bilang dulu sama Nenek."
"Cuma sebentar. Pengen ngopi aja. Paling nyape jam tigaan."
"Jam tiga pagi." sahut Meira asal.
"Hah? Bener ya sampai jam tiga pagi."
"Enak aja!" Meira mendelik." Jangan lama-lama! Ntar dimarahin Nenek!"
Tak lama keduanya sampai di sebuah Kafe di daerah dataran tinggi, Di belakang Kafe, tampak bukit-bukit pegunungan . Mereka duduk di bagian halaman taman, di bawah tenda bentuk payung.
"Hey.. minum dong kopinya." ujar Andra sambil mencolek pipi Meira, tapi tidak kena, Meira mengelak.
"Aku enggak minum kopi."
"Ya ampun, Mei. Bilang kek dari tadi, enggak suka kopi gitu." kelutus Andra."Wedang jahe, ya?"
"Heem. Aku suka! Angguk Meira. " Kata Nenek wadang jahe sangat bagus buat menjaga kesehatan."
"Pinter!"
Andra memanggil pelayan. Memesan Wedang jahe, asli minuman leluhur yang sudah dimodifikasi. Rasanya Asyik sekali.
Keduanya berbagi senyuman. Kini langkah keduanya menuruni jalan berstep-step menuju pinggiran sungai kecil yang airnya setinggu lulut. Beberapa kali Meira nyaris terjatuh, Andra menjaganya. Berphoto-photo di atas bebatuan. Saling ciprat-ciprat air sampai kuyup. Andra memang sudah berniat mengajak Meira ke tempat seperti itu. Ingin jauh lagi untuk berbagi hati. Mungkin dengan cara itu Meira bisa menerimanya bukan sekedar teman. Lebih dari itu, sebagai Kekasih! Andra takut, Meira tergoda Cowok lain. Giano Farhan misalnya, Giano itu tampan sekali lebih tampan dari dirinya.
"Malah melamun." Meira menatapnya.
Keduanya duduk atas batu besar. Andra membalas tatapan. Dia tersenyum, cuma itu jawabannya.
"Ceitain dong tentang Singapure..."
"Ngapain ceritain Negri Orang?"
"Kamu bilang negri orang? Mama Yunita kan orang asli Singapur?"
"Mei...." Andra melotot. "Aku bawa kamu ke sini bukan buat ngebahas sejarah nenek moyang. "Ada yang lebih penting dari itu, yaitu soal kita."
"Soal apaan?" Meira menatap tak mengeri, menunggu dengan wajah cemas.
Andra lama terdiam. Sepasang matanya menelusuri wajah Meira. Ada perasaan ragu untuk mengatakannya. Tapi keputusan harus dia ambil.
"Kamu mau enggak jadi pacar aku?"
Deg! Jantung Meira berdegup- degup kencang, seperti pertama kali Andra menyapa dirinya dengan sebutan nama 'Meira' beberapa bulan lalu di belakang Taman Sekolah, ketika dirinya melepas lelah usai menjajakan dagangan kue-kuenya.Perasaan itu, kini berdebar-debar lagi, perasaan Jatuh Cinta yang Pertama kali.
"Kak...."
"Jawab, Mei. Supaya aku punya alasan untuk menjelaskannya sama Mama dan papa."
"Kak ...Aku..." Meira tak sempat meneruskan kata-katanya, dia malah melihat ke atas. "Ya ampun, Kak. Hujaaaan! Ayo cepat ke kafe lag! Cepetan,Kak!"
Meira menarik tangan Andra untuk berlari
__ADS_1
Ketika hujan deras turun, mereka kembali ke Mobil.
********