KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episod 08 : Cowok Anak Kampus 1 dari : Kekasihku Kakak Tiriku


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Matahari pagi muncul dari belahan ujung timur lalu senja menenggelamkannya ke dasar bumi sebelah barat. Siang berganti malam. Minggu ketemu minggu lalu berganti Bulan. Selama mengisi hari-hari liburan panjang Sekolah tidak ada cerita yang berkesan bagi MEIRA. Dia lebih memilih berada di rumah bantu-bantu sang Nenek, berbaur dengan Bibi-bibi tetangga bekerja merintis usaha memproduksi Jenis Makanan Ringan yang kini sudah ber-Merk, dari pada seperti mereka pergi ke tempat-tempat jauh bahkan sampe ke LN mencari kepuasan tersendiri yang sudah pasti harus memiliki modal setumpuk uang. Seorang Meira ya tetap Meira, seorang cucu dari wanita sederhana. Enggak bakalan bisa lihat Bali, Lihat Lombok, Jogja apalagi Singapure. Jauuuuuuuuh Banget!


Kini Meira baru saja usai menunaikan Ibadah shalat Subuh. Dia tengah berdoa, semoga Kak Andra mampu melewati kegiatan Mapram-nya. Kegiatan sederhana tapi nyeseknya bikin capek setengah mati dan sakit hatinya terasa seumur hidup. semoga kak Andra bisa melewatinya dengan selamat, enggak kurang suatu apa-apa! Ya Allah...! Gimana kalo Kak Andra kermudian bertemu cewek camtik? Trus pacaran? Lama-lama dia lupain aku, dan aku nggak bisa nuntut dia untuk terus menjadi Kekasih aku?


"Meira, kok belum siap-siap?" tegur nenek nengok di pintu.


"Siap-siap apa, Nek?"


"Ya Sekolah. Hari ini kan hari pertama kamu masuk Sekolah lagi."


"Masih kepagian, Nek."


"Meong...meong!" Kucingnya menggesek-gesekan kepalanya ke tubuh Meira.


Meira bangkit dan merapihkan pakaian serba putihnya dan menyimpannya di tempat biasa. Sekarang Meira tidak lagi jualan kue. Nenek melarangnya. Stok nya saja sudah nenek berikan semua kepada anak-anak tetangga yang ingin menjualanya di sekolahnya masing- masing.


"Tugas kamu sudah selesai." Ujar Nenek sambil belai-belai rambut Meira. Matanya berkaca suaranya melas. "Dari umur tujuh tahun sampai enam belas tahun putar-putar jinjing-jinjing kantong plastik jualan kue apa kamu enggak permah cape, Cu? Cicilan rumah juga udah lunas, sekarang belajar yang bener, kan kamu pengen jadi dokter, ya udah siapin diri kamu dari sekarang supaya nilai Ujian Nasionalmu tinggi." begitu kata nenek.


"Tapi nenek nggak marah kan kalo aku pacaran?"


Sang Nenek tersenyum lalu terkekeh-kekeh."Den Andra itu, ya?"


"Iya, Nek."


Wajah nenek mendadak murung. Mungkin beliau merasa sangat gundah, mengingat Andra itu bukan dari Orang biasa. Dia Bangsawan kita jelata, begitu kata orang kampung dulu.


"Ya enggak apa, Cu. itu bagian dari hakekat alam tahapan manusia mulai dari bayi sampai tua, kamu sedang ada di tahapan dewasa, maka Allah berikan kamu rasa tahapan dewasa ya itu birahi anak sekarang bilangnya love."


"Nenek...?" Meira kegelian tak tahan menahan tawa.


"Kalo Allah sudah mentaqirkan Den Andra bakal jadi jodoh kamu, Mungkin itu sudah anugrah dan memang kehendak-Nya. Kita enggak bisa menolak atau meminta taqdir, Cu."


"Amin." gumam Meira.

__ADS_1


Meira tersenyum di depan cermin. Ya Allah, Usia aku kini udah menginjak ke tujuh belas tahun. Benar kata nenek, aku di beri perasaan Love. Tapi sejak dari usia lima tahun sampai detik ini, Hamba enggak pernah lagi ngerayain tiap tahunnya? Maafkan hamba ya Allah, hamba telah lupa untuk mensyukuri usia yang Engkau Anugrahkan ini!


Di emper warung bik Cucu Meira berdiri, menunggu angkot. Biasanya, Andra datang menjemputnya, tapi tidak mungkin, Semalam Andra telpone, kalau dirinya mengambil jam kuliah siang.


Sebuah mobil warna merah berhenti di depannya. Meira menyelinguk. Kayak Mobil Kak Giano! pikirnya. Benar saja, cowok yang menonggakan kepalanya itu Giano Farhan. Pintu mobil sebelah kiri di muka Meira terbuka sendiri.


"Hai Meira."


"Hai." balas Meira biasa saja, menganggap Giano itu teman sekolah dulu sebelum lulus.


"Ayo masuk! Sekalian gua anter." tawar Giano.


"Terima kasih, Kak. Aku biasa naik Angkot."


"Ayolah, Mei. Masih kesel ya karena dulu mereka gosipin kita selingkuh?"


"Enggak gitu juga. Lagian Kak Andra enggak pernah percaya aku ma kamu ada main. Meteka aja yang so usilan. Kuliah di mana?"


"Makanya ayo naik. Ngobrolnya sambil jalan. Ayo dong, Mei."


Sepanjang jalan Meira hanya diam menunggu. Dia hanya memangpaatkan saja supaya cepat tiba di sekolah. Takut tidak kebagian bangku paling depan. Dari SMP dia lebih suka duduk di depan, tidak terganggu, dan bisa langsung fokus ke Guru dan papan board.


Giano menawarkan mimuman Susu kotak yang diletakan di atas bodi mobil, dekat kaca depan. Meira menjawabnya, nanti saja


"Andra Kuliah di mana?"


"Deket. Sebelah Sekolahan kita. Tapi Dia ambil kuliah siang. Kamu di mana?"


"Pe*ba**sa. Ekomomi Manajemen."


"O, deket juga. Berarti kita searah, dong." Meira sambil mengambil Susu kotak di atas bodi mobil, lalu menyedot pipetnya.


"Kamu yakin mau mempertahankan hubungan dengan Andra? Tante Yunita itu jutek lho, Mei. Gengsinya selangit. Egonya pilih-pilih. Kalau menurut Gua, mendingan lu udahan sama Andra. Bukan apa-apa, Gua kasihan aja sama lu. Ujung-ujungnya lu bakal kecewa. Lu bisa buktiin ntar omongan gua."

__ADS_1


Meira hanya bisa senyum."Enggak apa-apa. Aku udah siap kecewa."


"Ya, ampun, Meira. Lu tuh sekarang udah dewasa, Pake dong logika lu. Biarpun perasaan lu kuat, kalo realitanya kayak gini, si Andra belum tentu pilih lu dari pada harus durhaka sama Mamahnya."


"Dari dulu kamu kok kayak enggak suka sama Andra. Padahal sejarahnya kamu sama Andra itu aku denger teman baik sedari SMP."


Giano terdiam.


Mobil berhenti di depan Sekolah. Meira turun dan berusaha umtuk tidak menoleh lagi.


"Ntar siang gua jemput, ya?" Giano senyum menggoda, sepasang matanya tajam seperti mata elang menghipnotis mangsa.


"Terima kasih. Tapi siang nanti aku mau ke Kampus Kak Andra." Meira berbohong lalu memasuki halaman Sekolah.


Syfah menyambarnya dengan beberapa pertanyaan menyelidik.


"Ngirit ongkos, tau" Tukas Meira. "Udah dapat kelas baru belum?"


"Upacara dulu baru diumumin. Muda-mudahan sama lu lagi. Aduh, Gimana rasanya kalo gua enggak sekelas sama lu. Kantin, yuk. Aku pengen ketemu Dika."


"Jadian juga ya Lu sama Dika?" Tuding Meira."Sendiri deh. Aku pengen beres-beres bangku cinta aku."


"Taman belakang?"


"He'em." Angguk Meira.


"Romantis banget lu!" gerutu syfah.


Meira bergegas memburu taman belakang, dari agak jauh dia memperlambat langkahnya. memandang bangku panjang yang merana.Terbayang kejadian-kejadian lama, mulai dari awal pertemuannya dengan Andra sampai sekarang. Dan biasanya Kak Andra akan duduk menunggu bila meira belum datang, sebaliknya, kalau Kak Andra belum datang, Meira yang duduk tak sabar menunggu Andra.


Sepi.


Bangku itu sudah sebulan tak ada yang menempatinya. Papan kayu jatinya agak berdebu, di bawahnya ranting- ranting kering pohon pinus agak berserakan, tapi setangkai bunga melati malah nampak sangat indah. Meira mengambil sapu yang tersandar di teras pembatas taman, Dia bersihkan ranting ranting kering, dia tepuk- tepuk debu yang menempel di sandaran bangku. Ini tempat pertama aku merasakan ...... Nenek bilang love.

__ADS_1


Meira duduk bertopang dagu. Pandangannya kosong menatap Gedung Kampus yang menyerupai Menara raksasa di seberang tembok Sekolahannya.


__ADS_2