KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 11 : Babak Baru Dari judul : KEKASIHKU KAKAK TIRIKU


__ADS_3

Setahun kemudian.....


Seorang gadis melalangkah turun dari sebuah mobil Senyumnya lebar. Rambut panjangnya berterbangan. Dia berteriak kencang di depan sebuah Rumah, dengan lapal suara terpotong-potong, dengan kedua tangan merentang lebar.


"Neneeeeeeeek! Nama aku terdaptar di papan pengumumaaaan!.....Sebagai Mahasiswa baru di fakultas Kedokteraaaaaaaaaan!" lalu Gadis itu jatuh tersimpuh di pelataran. Menangis bahagia.


Sang Nenek tersenyum di teras depan rumah, ternyata bukan hanya sang Nenek yang tersenyum, Berpuluh-puluh senyum terukir dari para pekerja wanita yang berada di gedung Aula panjang , bertembok setinggi semeter di samping rumahnya. Mereka berlarian dan memeluk bergantian Cucu dari Nyonya besarnya.


"Selamat Meira.." Kata mereka.


"Terima kasih, Ibu-ibu."


Mak Irah menyambutnya seraya menjulurkan tangan dan menarik Meira ke dalam pelukannya. dan membelai rambut sang cucu.


"Terima kasih, Nenek." Meira hendak sujud, tapi Mak Irah dengan cepat mencegahnya.


Seekor Kucing belang menunggu di pintu, ekornya berkibas, sebelah kaki depan terangkat, seolah-olah ingin menyalami puan putrinya.


"Hai Belang." Sapa Meira sambil mengusap-usap.


Meira berjalan ke kamar. Lalu merebahkan tubuh semapainya ke atas tempat tidur. Dia paksa pejamkan matanya, berharap cepat tertidur. Ingin menghilangkan rasa lelah setelah secara langsung menunggu pengumuman daftar nama-nama Mahasiwa baru di Kampus. Tapi dia tak mengantuk juga. Lalu Meira bangkit lagi, mengambil buku catatan hariannya. Dan mulai menulis.


Seharusnya aku kuliah di sana. Satu Kampus dengan Kakak. Aku merasa hidup sendiran di sini. Aku capek merindumu, Kak. Capek.....! Seharusnya kita tidak seperti ini. kini Aku seperti mahluk asing di planet ini.......


Meira bangkit. Mendekat ke jendela menghirup udara segar. Lalu menulis lagi....


...Padahal, jarak kita enggak jauh, cuma terhalang dua wilayah, tapi sejak Nenek pindah, Aku dilarang bertemu Kakak. Nenek bilang Kalau aku bener-bener sayang sama kakak, Aku harus jauhi kakak dulu. Tapi nenek enggak menjelaskan alasannya kenapa? Nenek cuma jawab, kalau waktunya tiba, nenek akan mempertemukan kita lagi, tapi sampai kapan? kita sudah setahun lebih enggak permah bertemu. Aku capek kak, capek banget ingin bersama kakak lagi. Kata nenek, selain ada permusuhan keluarga, kita juga terlalu dini untuk slalu berdekatan. Mungkin Nenek benar, Kak. Nenek tidak ingin kita hancur gara-gara pertengkaran Nenek dengan Tante Yunita? . Tapi aku kayak mati, lama-lama jauh dari Kakak seperti ini? Sunyi!....Gimana dengan kakak? Kangen enggak ke aku?! Aku takut kakak malah punya pacar lagi. O, ya, Kak. kalo aku berdiri di bagian apartemen Kampus aku....lalu aku memggunakan teleskop, Aku lihat kampus kakak seperti menara raksasa berwarna putih ingin rasanya seketika aku tebang ke menara raksasa itu.. ingin pindah ke sana, seperti juga keinginan aku sedari kecil....


"Kakak...?" gumamnya, tidak terasa air matanya meleleh.


Puk! Meira tutup buku hariannya. Tidak sanggup menahan sengal dalam dadanya, sengal berupa setumpuk rindu.*********


Mapram sudah selesai.


Meira turun dari Taksi Online. Berjalan melewati halaman lebar, Lalu berbelok menaiki jalan pinggiran Kampus yang di naungi beberapa pohon berbentuk kelapa yang rindang. Di tengah-tengah persimpangan jalan Kampus, dia berhenti. Seseorang memanggilnya. Meira tersenyum, merasa senang bertemu Santika, kenal ketika Mapram.

__ADS_1


"Kantin, yuk. Nyari yang gantengan. Siapa tahu kita ketemu raka yang baik hati, trus kenalan, minta ketemuan, nganterin pulang, jadi deh."


"Segampang itu?" Meira geleng-geleng kepala.


"Ya, Iyalah! ngapain pake lama. Yuk Kantin! Aku mau tratir lu. Itung-itung berterima kasih, lagi mapram lu udah nolongin gua, waktu jatuh ke sungai itu. Masih inget enggak?"


Meira menahan tawa."Iya aku ingat."


Keduanya berjalan mencari Kantin yang agak kosong. Lau duduk berhadapan. Santika pesan Pizza dua porsi dan dua gelas susu campur jahe. Meira hanya memotong sedikit bagian Pizzanya. Meira hapal PIzza itu buatan pabrik kecil Neneknya.


Seorang cowok masuk. Meira melirik, perasaannya agak berdebar-debar, sepintas penampilan cowok itu mirip Kak Andra.


Santika tersenyum melihat Meira seperti tersengat aliran listrik.


"Dari cara lu memandang dia, Lu naksir ya, Mei?" tebak Santika sambil menoel.


"Ngaco!"


"O, iya. Gimana kabarnya cowok yang lu ceritain seminggu lalu itu? Kak Andra? Udah ketemuan lagi sekarang?"


Meira menggeleng kepala.


"Kepikiran juga sih, tapi ya gimana lagi. Aku cuma berharap, Kak Andra bisa memahami kenapa Aku sama Nenek pergi seperti ini. Situasi kami ruwet, San. Konflik harga diri. Apalagi Nenek aku itu merasa kalau dulunya treh dari keturunan Kadipaten."


"Ya Tuhan?" Santika tercengang."Pantesan pas gue ngeliat lu kayak ada yang beda dari diri lu."


"Maksud kamu itu apa?"


"Ntar gua kasih tahu tentang sesuatu yang ada pada diri lu. Sekarang gua mau nerusin soal hubungan lu sama,,, siapa tadi nama cowok lu itu?"


"Andra." Meira menyela.


"Trus buat apa lu cape-cape setia sama dia? Mending lu cari cowok lagi, kayak di samping kita itu, tuh!" Santika mengedip ke arah cowok di sebelah mereka, yang sedang menikmati kopi.


"Aku belum kepikiran ke arah situ, San" tukas Meira. "Masih jauh lagi. Masih banyak pe,er yang harus Aku selesaikan, termasuk mengklaim perasaan aku untuk tidak jatuh cinta lagi. Sekerang Aku hanya punya satu tujuan. Menyelesaikan cita-cita Aku."

__ADS_1


"Gua paham. Tapi coba buka ruang hati lu sedikit saja buat nerima cowok selain dia itu. Lagian, Lu tuh cewek super dalam segala hal, Mei. Aku yakin, di depan lu, banyak cowok yang ngantri buat masa depan lu, jangan menengok ke belakang melulu. Capek! Itu udah apkir."


"Nah, gua jodohin sama dia, ya?" Pinta Santika lagi-lagi mengedipkan mata kearah Cowok yang duduk tidak jauh dari keduanya.


Lagi Meira menggelengkan kepala.


"Bener lu nolak?"


"Ya" Tegas Meira.


Santika geleng kepala. kini tangannya mengisaratkan agar cowok di sebelahnya itu agar menghampiri. Cowok itu bangkit dan mendekati, dia menarik kursi dan duduk di antara Meira dan Santika.


"Hai, San. Temen, ya? Kenalin sama Abang, dong?" ujar cowok itu suaranya nge-bass.


Meira melirik Santika."Kalian udah pada kenal?"


"Abang Gua." Celetuk Santika sambil unjuk cengiran. "Ayo kenalkan diri kalian!"


Cowok itu mengulurkan telapak tangan. Meira sedikit bingung mengangkat tangannya, cowok itu dengan cepat menangkapkapnya.


"Alfian..."


"Meira..."


"Nama lengkap?" Pinta Alfian.


"Syeakilah Mirna."


"Indah banget namanya." Puji Alfian, senyumnya menggoda.


"Terima kasih." Meira membalas tersenyum, meskipun hatinya tiba-tiba saja merasa lirih teringat Andra. Seandainya Kak Andra melihat, dia akan tersakiti.


"Yeeea!" pekik Santika. "Sangat menyentuh. Selamat kalian udah menjadi teman. Selannutnya..,"


"Santika!" Meira mendelik. "Udah dipanggil, tuh..Kamu mau ikut praktek, apa mau di sini terus?"

__ADS_1


Meira mengepak Tas dan buku paketnya. Lalu bangkit. "Bang, Alfi. Terima kasih. Aku masup dulu." ujar Meira.


Santika mengejar dan menjejeri langkah Meira langsung menuju ruangan Lab.


__ADS_2