
Meira melepaskan sang kucing kesayangannya, diliriknya Andra yang kini tersenyum memandangnya.
"hey, kenapa belum pulang?" tegur Meira sembari berusaha membuang jauh-jauh getaran perasaan yang akhir-akhir ini mulai mengoda khayalannya.
"Masih sore baru jam delapan. Eh, aku numpang mandi dulu, ya? Badan aku bau keringat, nih." Andra bangkit dan melangkah ke belakang.
"Cepetan ya, kak. Aku juga gerah nih, pengen mandi."
"Barengan, yuk!" Goda Andra.
Meira melotot. Andra berlalu sambil garuk-garuk kepala yang memang gatal. Meira memasuki kamar yang sudah lama dia tinggalkan. Ternyata masih tetlihat rapih dan bersih, mungkin Nenek rutin dan rajin merawatnya. Dia lepaskan jaket tebal warna maroonnya agar tidak terlalu gerah dan memang hendak mandi, sejenak dirinya berdiri di depan cermin, memperhatikan lekuk tubuh semampainya, dia tersenyum, dan baru sadar jika tubuhnya sudah jauh lebih Seksi dari usia remajanya dulu. Klik! Meira mengunci pintu kamarnya dua lipat untuk ganti pakaian, takut Andra mengintip.
"Mei! Aku udah mandi, nih. Lagi nonton teve. Kamu gantian mandi sana, cepetan?" teriak Andra.
"Iya!" Teriak Meira dari kamar. "Eh, kak Kalau pengen makan, pesen makanan online, aja. Kayaknya nenek enggak masak, deh."
"Kita ke restoran sa--?" Andra tak sempat meneruskan ucapannya, ketika melihat Meira ke luar dari kamarnya mengenakan handuk kimono.
"hey, kenapa lihat aku kayak, gitu?" tegur Meira.
"Ya, ampun kamu, Mei?" Andra cuma bisa terdiam.
"Hem!" Meira mencibir, lalu meneruskan langkahnya memasuki kamar mandi.
Suara gemercik air dari shower kamar mandi, membuat Andra melamun jauh ke dalam khayalan yang tidak-tidak. "Sabaaar! batinnya.
Andra memilih ke luar rumah saja. Merasa tidak akan sanggup Kalau nantinya melihat Meira ke luar dari kamar mandi dan berjalan di depannya. Dia berdiri di teras depan, menerawang jauh ke ujung langit yang masih menyisakan jejak bulan sabit yang mulai hilang.
Hati kecilnya berharap Mak Irah malam ini tidak dapat pulang.
Meira datang membawa beberapa potong martabak yang di lapisi campuran keju coklat dan di taburi parutan lembut buah kelapa hijau.
"Pengen enggak?" tawar Meira seraya duduk di samping Andara, " Nih!" Meira mendekatkan Martabak ke mulut Andra.
Andra langsung menyambarnya, tangannya meraih Meira agar bersandar di bahunya. Wangi sampo di rambut Meira sudah cukup spesial baginya. Meira sendiri memang kurang begitu suka mengunakan pewangi kalau tidak penting.
"Lagi?" Meira menawarkan martabak.
"Cukup. Aku lagi malas ngemil. Lagian aku sudah ngantuk. Aduh gimana aku bisa bawa mobil, nih kalau kepala aku berat begini. Bisa mati aku."
__ADS_1
"Hm, Kak, ngi-nginep aja, deh." Meira cemas."Lagian barusan nenek nelepon, nenek enggak bisa pulang, di suruh nginep, karena besok paginya harus bikin kue lagi."
"Bener, kamu enggak keberatan kalau aku nginep?"
"Ya, gimana lagi, aku takut terjadi apa-apa sama kakak. Trus aku juga takut kalau harus sendirian di sini?"
"Kan ntar ada Giano nguber kamu ke sini?"
"Tuh, kan? Aku takut, kaaak."
"Ya, udah kamu tidur duluan sana. Aku masih pengen nyantai sebentar. Ntar aku nyusul. Pintunya kunci ya biar kalau Giano masuk lewat jendela, aku enggak bisa nolongin kamu."
"Kakak... jangan nakut-nakutin aku mulu, dong. Gimana sih, ah!" Meira mencubit.
"Hik-hik-hik!" Andra terekeh."Seneng deh aku punya adik kemanjaan kayak kamu."
"Adik apa? adik ketemu gede. Aku anak Mama Mirna sama Ayah Pras, kamu anak tante Yunita sama Om Brama. Apanya yang di bilang adik? Cuma status karena Mama aku nikah sama papa kamu, setes pun enggak ada hubungan darah apa-apa aku sama kamu. Ya, paling ujung- ujungnya kalau kita nikah, Mama minta cerai sementara sama Om Brama,"
"Sudah tidur sana."
Meira bangkit. Dirinya memang sudah mengantuk sejak dari perjalanan menuju ke rumah Nenek.
Dia wanita yang hebat! batin Andra. Dulu di masa aku kecil, aku begitu takut dan membencinya. Tapi kasih sayang dan ajaran agamanya yang bijak, membuat aku terbalik sangat mengaguminya sebagai sosok seorang Ibu yang paling aku hormati bahkan bisa mengalahkan rasa hormat aku terhadap Mama kandung aku sendiri.
"Kak ...! Sudah malam. Tidur!" teriak Meira dari dalam, suaranya begitu indah, terdorong oleh rasa cinta yang tulus.
"Iya, sayang. Sebentar ....!"
Andra bangkit, sambil menahan kantuk dia berjalan ke dalam.
"Hey, pintunya kok enggak di kunci?"
"Buat apa? Aku percaya kok sama kakak."
"Aku tidur di mana?"
"Di kamar nenek aja."
"Enggak sopan tahu."
__ADS_1
"Ya udah di sini."
"Bareng sama kamu?"
"Enggak-lah. Aku pindah ke kamar nenek." Meira melangkah sempoyongan ke luar.
Andra terpana, menemukan Meira sudah berdiri di depannya dengan gaun tidur tipisnya. cahaya lampu ruangan tenggah membentuk sebuah lukisan terindah yang pernah Andra lihat.
"A-aku di-di sini saja, deh." Andra meringkuk di kursi panjang.
"Ini selimutnya, aku pakaikan ya, kak." Meira mengkibas lebar kain selimut dan merapihkannya pada Andra.
Andra menarik selimut sekaligus menarik yang menyelimutinya juga lalu Andra mengajaknya untuk berbicara. Meira mendengarkan dan menjawab seperlunya.
***
Suara kicau burung dari rumah sebelah membangunkan Meira, di liriknya jam dinding, pukul 04:15 lewat persekian detik. Di liriknya kak Andra yang tidur bersandar bahu di kursi, dirinya sedikit kaget karena kepalanya berada di pangkuan Andra. Meira tersentak bangun.
"Kak Andra!" pekiknya.
"Hm ..."
"Kok Aku ada di sini?"
"Kamu ketiduran, sayang. Semalam aku menceritakan sebuah dongeng romansa kuno tentang seorang putri yang selalu menangis bila dirinya tidur dengan sang pangeran dan mengadukan kesedihannya pada sebuah lukisan lelaki di dinding kamar."
"O, ya. Aku belum sempat tahu gimana akhirnya. Coba cetiain lagi." pinta Meira sembari bangun dan merebahkan kepalanya di bahu Andra.
"Pangeran bertanya, hai putri, kenapa kamu selalu menangis bila sedang denganku dan hanya menatap lukisan laki-laki jelek itu? Sang putri menjawab, maafkan hamba pangeran, hamba menangis karena hamba telah berdosa pada pangeran, karena setiap kali hamba bersama dengan pangeran, hamba hanya membayangkan jika hamba sedang bersama pria jelek dalam lukisan itu. karena hamba tidak pernah bisa mencintai pangeran. hukum pa**ung-lah Hamba pangeran."
Sang pangeran bertanya lagi."Siapa dan di mana laki-laki jelek itu? sang putri menjawab, dia kekasih hamba anak seorang petani, berada di sebuah desa dekat gunung, Tuanku."
Paginya sang Putri sudah pasrah kalau dirinya akan di hukum pa**ung.
Sebuah kereta kuda datang, dan menyuruh putri untuk menaikinya. "Antarkan putri ke desa dekat gunung itu!" perintah sang pangeran pada kusir kuda itu.
Sang putri kaget. Pangeran menangis.
"Lalu?" tanya Meira.
__ADS_1
"Sudah Adzan subuh, waktunya shalat." tukas Andra seraya mencubit ujung hidung Meira.