KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 26


__ADS_3

Setelah menemui Mamahnya, Meira pergi untuk membeli beberapa makanan dan buah buahan di kantin sebelah samping Rumah Sakit.Tidak lama dia kembali sambil menjinjing Kantung plastik. Ibu Mirna berpesan kepada Meira agar tetap menjaga Andra sebelum kemudian beliau pulang terlebih dahulu.


"Nanti mama ke sini lagi."


"Jangan lama-lama ya, Mah. Aku akan merasa bingung sendirian di sini."


Lalu Meira memasuki kamar rawat di mana Andra nampak tertidur lelap. Dengan perlan-pelan dia., lalu merebahkan tubuhnya di kursi. sepasang bola matanya mendadak berkaca menatap cowok yang secara tidak langsung telah mempertemukannya dengan Ibu Kandungnya. Dalam hati Meira berbucara, "Seandainya aku tidak bertemu dengan kakak, mungkin sampai saat ini aku tidak akan dapat bertemu Mama.. Mungkin aku tidak akan menjadi seorang Meira yang sebentar lagi akan menjadi seorang Dokter. Sebaliknya, seandainya aku tidak mengenal kakak, mungkin aku sekarang, masih seorang Meira yang menempuh alur kehidupan sebagai penjual kue jajanan.


"Mei...."


Meira tersenyum. "Sudah bangun, heh.,"


"Kenapa belum tidur?"


"Tidur di mana? ini rumah sakit. Trus Kalo aku pulang siapa yang jagain kakak? Tante Yunita, Om Brama, masih belum datang lagi. Mama barusan pulang dulu."


"Bisa bantu aku enggak? Andra bergerak seraya meringis. "Tolong sandarannya tinggikan dikit punggung aku pegel, nih."


Meira bangkit, lalu mencari-cari tuas pengukit ukuran sandaran bedpasien.


"Cepet dong, Mei.'"


"Kayaknya tuasnya ada di sebah sana." Meira menjulurkan tangan untuk meraih tuas pengungkit yang berada di bagian sebelah kiri bed, sementara dirinya berdiri di sebelah kanan. Sewaktu Meira berusaha menjangkau tombol mengungkit, mau tidak mau bagian dada Meira kini berada tepat di atas wajah Andra, itupun tangannya belum sampai menyentuh pengungkit. dan begitu tangan Meira merhasil memegang ujung tuas pengungkit. Andra spontan membelalak melihat ada dua sesuatu yang indah menyentuh hidungnya.


"Maaf.." Meira tersipu, karena dia pun merasakan ada sesuatu yang menyentuh sesuatunya..


"Enggak apa-apa.." sahut Andra dibarengi kedip mata genitnya.


Wajah Meira memerah. Lalu dia duduk lagi dan mulai menyiapkan makanan jenis kue tart, kemudian mengirisnya menjadi beberapa bagian berukuran sendok makan.


"Buka... ." Meira menyodorkan sepotong kue di dekat mulut Andra.


"Hm.. " Andra menikmatinya.


"Enak enggak?" tanya Meira.


"Enggak. Enakan yang tadi."


Meira melotot marah. Raut mukanya bertambah seperti menahan malu. "Sekarang kamu sudah mulai nakal. Jangan-jangan selagi kita berjauhan, kakak sering berbuat seperti itu sama perempuan lain ya?"

__ADS_1


Andra tidak menjawab pertanyaan konyol yang di tudingkan Meira. Dia hanya tersenyum saja.


"Suapin lagi, dong." pintanya.


Meira menurutinya.


"Kapan kamu mau menikah denganku?" tanya Andra tiba-tiba seolah sudah tida sabar lagi.


Meira menyembunyikan wajah."Terserah."


Pintu tiba-tiba terkuak pelan, tante Yunita tertegun melihat Meira sedang menyuapi anaknya. Beliau mengintip saja di sela- sela pintu


"Misalnya Mama aku enggak setuju juga, bagaimana?"


"Itu tanggung jawab kakak. Sudah aku katakan, aku tidak akan menikah dengan kakak sebelum Mama kamu merestui hubungan kita., tapi kakak jangan kecewa, karena aku pun tidak akan menikah dengan laki-laki lain kecuali Kakak mengijinkannya.. Nenek pernah berbicara ke aku, pernikahan itu harus sakinah, mawadah dan waraohmah dan untuk mendapatkan anugrah itu, pintu pertamanya adalaha restu dari kedua orang tua kita. Ma,af, aku tidak bermaksud menceramahi kakak. Tapi itu sudah menjadi keputusan aku."


"Mama aku mungkin enggak akan pernah setuju." suara Andra pesimis.


"Maaf, aku pun mungkin tidak akan menikah dengan kakak."


"Jangan bicara seperti itu. Kakak mohon tarik lagi ucapan itu."


Tante Yunita menerobos masuk. Lalu merebut piring dari tangan Meira.


"Kamu pulang saja, tidak usah ke sini lagi. Biar saya yang menjaga, andra." katanya sinis sekali.


"Mah aku lagi makan." protes Andra.


"Jangan cerewet biar Mama yang menyuapi kamu." tukas tante Yunita


"Kak, aku mau tiduran di ruang tunggu saja, sambil nungguin Mama." tanpa menunggu jawaban Andra lagi, Meira berlalu.


"Enggak usah menunggu, kamu pulang saja. Nanti saya suruh sopir saya nganterin kamu pulang."


"Tante.. ?" Meira mengengok.


"Mau Apa?" Tante Yunita memasang dada.


"Begitu benci kah tante ke aku sampai tante berbicara seperti itu?"

__ADS_1


"Iya!" jawab tante Yunita tegas."Dan Nenek kamu itu sangat menyebalkan sama juga dengan ibu kamu. Menyebalkanl"


"Kak aku mau terus pulang saja. Cepat sehat ya." Meira bergegas ke luar,. Tante Yunita benar-benar kepala batu! batin Meira. Tega-teganya beliau menyuruh aku pulang tengah malam.


Meira Menelpon Mamnya supaya Pak dudung menjemputnya, dengan alasan dirinya sudah sangat mengantuk sekali.


,"Suruh pak dudung cepat-cepat jemout ya, Mah. Katakan Aku menunggu di tempat parkir."


"Kok suara kamu seperti sedang menangis?"


"Enggak kok. Aku hanya kedinginan saja. sudah ya, Mah."


Meira menutup ponselnya. Kemudian sambil menahan rasa kecewa atas ucapan-uxapan tante Yunita yang di lontarkan ke dirinya, Meira berjalan lemas menuju areal parkir paling depan pinggir jalan. Cukup lama dirinya berdiri di dekat portal keluat masuk kendaraan. dan ketika Pak Dudung datang, Meira dengan bergegas naik ke mobil.


"Cepetan ya pak aku sudah ngantuk banget, nih." Ujar Meira berbohong, padahal dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan sesak ingin menangis. sepertinya, sehebat dan sebesar apa pun perasaan cintanya kepada Andra, mungkin akan sia-sia saja. Kebencian tante Yunita kepada Nenek juga kepada Mamahnya, merupakan sebuah sikap yang cukup beralasan untuk menghalangi hubungan Meira dengan Andra. Siapapun orangnya pasti akan berbuat sama seperti tante Yunita.


"Non, kok menangis? Apa Den Andra terluka parah? Maaf ya, Non. Bapak belum bisa menjenguk." kata Pak Dudung, mungkin merasa berkewajiban untuk menghibur. "Sebaiknya nanti non berdoa minta sama Allah untuk kesembuhan Den Andra."


"Kak Andra enggak parah kok, Pak. Cuma luka ringan. Dia baik-baik saja."


"Apa sesuatu telah menimpa Non?"


"Aku lagi mikirin sikap tante Yunita. Beliau jutek banget ke aku, pak."


"Kalau itu mah sudah bapak duga dari dulu, Non. Di tambah lagi sekarang ibu Yunita sudah tahu kalau Non itu anak kandung nyonya. Ibu Yunita melarang Non berpacaran sama Den Andra kan?"


"Bukan cuma itu saja, Pak."


"Marah-marah, ya?"


Meira mengiakan. Muka pak dudung berubah menahan senyum.


"Kok senyum, Pak? Bapak kayaknya tahu banyak soal tante Yunita."


"Ya, pasti. Sebelum Tuan Brama memindakan bapak jadi sopir Nyonya. Dulu bapak bekerja sebagai sopir pribadi Ibu Yunita. Bapak tahu banget bagaimana cara menyenangkan hatinya."


"Wah?" Meira menyeringai, merasa sedikit terhibur berbincang-bincang dengan Pak Dudung, "Ceritain ayo pak, gimana cara menyenangkan tante Yunita? Nanti aku naikin deh gaji bapak.'"


*************

__ADS_1


__ADS_2