KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
episode 04 Dari judul: KEKASIHKU KAKAK TIRIKU


__ADS_3

"Kalian kalo mau pesan makanan, langsung ke aku, ya. nanti aku catat, soalnya aku belum punya hape lagi." ujar Meira ketika beberapa siswa membeli dagangannya. Mereka mengangguk setuju.


"Mei, lu dapet perhatian dari Givan Farhan." Seseorang berbisik.


"Givan?" Meira mengernyitkan alis tebalnya.


"Iya. Masa lu enggak kenal dia. Anak wakepsek yang sok kegantengan itu.Terima, ya! Di mana ketemuannya, nanti aku kasih tahu dia." lanjut seseorang itu.


"Yea, aku sih bebas. Cuman kalo harus janjian ketemuan yea aku minta maaf, enggak bisa."


"Oo, Ntar aku bilang gitu deh sama Giano." katanya.


Meira hanya bisa tersenyum dan mengangguk sambil menyilangkan tas ranselnya kembali di pundak, lalu berjalan masuk ke sebuah kelas.


"Hai, Cantik." Dika langsung nyamber. "Yang ada Martabaknya, plastik mana, Mei?"


" Itu yang biru."


"Gua ambil Dua,


"Bener, ya? Gua ambil semua nih?"


"Eeeh. Tunggu tunggu tunggu!" Seorang cowok tiba-tiba menerobos masuk dan merampas ransel Meira dari tangan Dika. Cowok itu mengambil tiga kantong plastik yang tersisa dari dalam ransel,


Giano?! Panjang umurnya nih orang, baru di omongin! Meira menyeringai. menatap Giano


Giano menoleh. Memandang lama ke wajah meira. Keduanya bertatapan, membuat Dika mendilak sebal. Dulu, Meira sempat naksir sama Giano. Cuma naksir! Tapi Meira pikir, tidak mungkin Giano mau berteman dengannya. Lagi pula cowok mana yang mau pada dirinya, cucu tukang jualan kue! Apa lagi waktu kelas sepuluh itu, penampilan Meira asal-asalan saja. Wajahnya banyak ke hitam-hitaman dari pada putihnya. Pakai baju seragam ya itu-itu melulu. Jas Sekolah cuma satu, tidak mampu membeli duplikatnya. Siapa yang suka?!


"Hei, Meira." sapa Giano.


"Hai... Giano." Suara meira tercekik nyaris tidak terdengar


Meira menarik ransel dari pegangan Giano. Dia berkata kalau dirinya masih punya urusan lain. Dan setelah transaksi jual beli kue selesai, Meira siap pergi.


"Tunggu!" Giano memanggil. "Kita bisa ketemuan kan, Meira?" Pintanya. "Kapan?"


"Kapan, ya? Aku..."


Dika tiba-tiba menarik tangan Meira." Lu tuh gimana sih, Mei? Gua kan tadi udah bilang, Guru Bepe nyuruh elu dateng ke kantormya. Ngapain lama-lama di sini." Dika mendorong Meira ke pintu kelas, matanya berkedip." Udah pergi sana."


"Giano! Maaf aku pergi dulu, ya!" Teriak Meira sekedar formalitas saja. Lagipula Meira ingin cepat-cepat menemui Andra, urusan ponsel.


"Meira tunggu!" Panggil Giano.


"Eit, sebentar!" Dika mencegah. "Elu kan sekelas dengan Jesika, tolong bilang sama dia, berani lagi nampar Meira, urusannya sekarang dengan gua. kenapa gua ngomong gini? Karena Meira itu temen baik cewek gua. Syifah! Kasih tau dia!"


"Sialan! Emangnya gua apaan Lu. Gampang banget lu nyuruh orang!" Giano menggerutu sambil enyah.


Meira berjalan rilek. Sangat rilek malah! Senyumnya lembut. Rambutnya yang panjang tergerai berterbangan terkipas oleh angin arah barat. Tubuhnya yang jangkung seratus tujuh puluhan, wajah cantiknya yang berbentuk bulat telur kayak telur ayam birma, dan kulitnya putih campur kuning bak daun kelapa muda, kini menjadi penyegar mata kaum lelaki.


"Gung. Itu Meira bukan sih?" Alvin mencolek pinggang Agung. Matanya tak berkedip menembak langkah Meira yang masuk kantin berniat membeli Susu kotak murni kesukaannya.


Agung, Bambang, juga yang lainnya ikut menembakan pandangan. Satu bulan menikmati liburan panjang sekolah, setelah kenaikan kelas, Mereka betul-betul surprise melihat pertumbuhan dan perkembangan fisik Meira.


"Lu kira siapa? Ya iyalah Meira!" kata Agung, baru nyesel dulu permah meledeknya.


"Ya Tuhan, Meira. Ckckck, " Bambang sampai berdecak, seraya hendak menghampiri.


"Kemana, Lu?" Agung menghalangi Bambang dengan tangan merentang.

__ADS_1


"Nembak Meira..." Jawab Bambang percaya diri.


"Cari Mati, Lu! Meira udah di tembak Bos Andra, tahu!"


"Hah? Bener Lu?" Bambang duduk lagi.


Sebenarnya Meira itu memang punya fisik bawaan istimewa sejak lahir, kini mungkin Tuhan telah memberikan waktunya untuk menunjukannya ke semua orang kalau Meira itu berhak untuk merasakan sebagian dari keistimewaannya itu. setelah sekian tahun anak gadis itu saling berbagi tetaga dengan sang nenek di bawah terik matahari. Dan rencana Tuhan itu memang misteri! Tidak seorangpun dapat menebak kapan dan di mana akan berubah.


Hampir semua mata tertuju pada Meira, tidak terkecuali Jesika dan ketiga sahabatnya. Cika,Yola, Apra sempat mengucapkan kata- kata pujian, tapi Jesika langsung membungkamnya.


"Lihat aja "


"Rencana apaan?" Cika penasaran.


Jesika cuma angkat bahu. Mungkin dia tak ingin temn-temannya terlibat dengan rencananya kali ini.


Setelah Mengambil Susu murni kotak, Meira ke luar lagi. Dia tidak sadar kalau dirinya sekarang sudah menjadi pusat perhatian seisi Sekolahan ini. Seperti biasanya, Setelah dagangannya habis, sambil menunggu waktu masuk kelas, dia akan mendatangi kursi panjang di bawah jejeran pohon pinus. Dekat taman belakang.


Di ujung persimpangan jalan langkahnya tertahan, dia melihat seseorang sedang duduk sendirian di bangku tempat dirinya biasa melepas lelah. Kayak kak Andra? Iya dia Kak Andra! gumamnya semang.


"Kak Andraaaa!" Teriak Meira panjang, senang sekali, tak sabar ingin menanyakan ponselnya.


Andra menonggak dan bangkit seraya melambaikan tangan. Meira bergegas menghampiri, dia hampir jatuh tersandung akar pohon pinus.


"Aku cari kak Andra ke mana-mana. Enggak ketemu, aku pikir kamu enggak masuk sekolah lagi. Eh, taunya di ini. Gimana hapenya sudah bener belum, Kak?"


Andra termangu.


"Kak coba aku lihat hapenya."


"Kamu, dateng-dareng, ribut nanyain hape? Aduh, Meeei, kamu enggak kangen ya sama aku?"


"Meira.. ." tegur Andra.


Meira mencoba tersenyum dan berusaha menyusun kekuatan untuk menutupi kelemahannya. Aku harus balas dengan pertanyaan yang sama! ancam Meira dalam hati.


"Iya deh, Kak. Aku enggak akan nanyain hape dulu. Sekarang aku mau tanya sama kakak. Emangnya kakak kangen sama aku?"


"Lho, kok kamu malah balik tanya gitu? Ya iyalah Aku kangen sama kamu?"


"Apa alasannya?" cecar Meira.


"Alasannya....?" Andra garuk-garuk kepala. Dalam hatinya bicara, alasannya ya pastilah Gua cinta sama lu! tapi gimana ya? Kalo gua jujur, gua takut dia belum merasakan itu! Lalu dia ngambek! hancur deh.


"Oke, Mei..Ayo kita duduk dulu. kita bahas soal hape." Andra bicara lunak mengajak Meira duduk tidak jauh dari sisinya. "Begini, Mei. Sebelum aku selesai bicara, kamu diem dulu dan dengarin aku baik- baik." Andra menarik napas. "Aku minta maaf, hapenya enggak bisa disevis!"


"Tap...," bibir Meira sontak rapat.


"Sssst!" Andra menempelkan telunjuk di bibir. " Tapi kamu jangan sedih." lanjut Andra. "Aku sudah dapat gantinya, hape kriditan, bayar nyicil. sekarang aku mau tanya, pake cara perbulan apa perminggu?"


"Aku boleh liat hapenya dulu, kan ?"


"Bentar, ya." Andra membuka tas sekolahnya, dan mengeluarkan kardus kecil, lalu mengeluarkan ponselnya. "Hapenya sudah aku setting. Kamu tinggal pake. Nih lihat! Suka enggak?"


"Wah?! Meira segera menyambar ponsel dari tangan Andra. "Bagus bangeeet! Terima kasih..terima kasih, Kak." Meira tak sadar, saking senang dia memeluk Andra sangat kuat.


Meira...Meira! Gua heran sama elu. Pas gua pengen meluk, lu tolak setengah mati! Eh pas gua enggak kepikiran meluk. Malah elu yang peluk! Bener-bener unik lu, Mei!


"Kak, Ini kan merk hape mahal? kluaran baru lagi. Aku pernah lihat brosurnya. Model hape kayak gini kira- kira harganya sembilan jutaan lebih. Aku...aku nggak sanggup." Meira hendak mengembalikan hape.

__ADS_1


"Simpan!"


"Tapi, Kak."


"Simpen! Aku bilang Si- em- pan."


Meira terdiam. Tangannya membolak-balik dan menimang-nimang hape. Seumur hidupnya baru kali ini dirinya pegang ponsel semewah ini.


"Ayo simpen, Mei. Itu hape udah jadi milik kamu."


Meira menatap Andra. Tidak disangka, Kak Andra itu ternyata jauh lebih baik dari yang Meira pikirkan.


"Berapa cicilan perbulannya, Kak."


"Sanggup berapa?"


"Berapa sih? Aku malu bilangnya."


"Lima puluh ribu, sanggup?" tegas Andra tidak mau panjang lebar.


"Hah? Lima puluh ribu? Sanggup. Iya Aku sanggup banget!" Meira menyimpan ponsel barunya. "Kira-kira berapa bulan lunasnya ya,Kak?"


"Mei. Udah! Enggak perlu mikirin berapa bulan lunasnya enggak bakalan kehitung. Lagian kamu tuh telitian banget sih?Ntar kalo udah kelar juga. Aku stop. Titik!"


"Hemm!" Meira mencibir.


Andra diam. Meira juga diam. Andra bingung. Meira malah nampak lebih bingung. Tiba-tiba Suara Alarm tanda masuk berdentang di menara. Andra bangkit. Meira juga bangkit.


"Mei...Sudah bell. Masuk enggak?" bisik Andara sambil mendekatkan muka.


Meira berkelit takut kena cium. Keduanya sama-sama tersenyum.


"Aku duluan ya, Mei. Tugas Absensi."


"Ya udah."


Andra pergi. Meira menatapnya dengan perasaan sangat bersyukur mempunyai seorang teman seperti Andra. Sejak pertama jumpa lalu saling berbagi cerita, Meira masih saja merasa seperti mimpi. Kak Andra itu dari keluarga kalangan atas, aku dari keluarga paling bawah? Apa tidak salah aku membiarkan kenyataan ini terus berlanjut? Bagaimana kalau nanti, misalkan, ini misalkan mudah-mudahan enggak, aku di ajak jalan- jalan. Dia pakai baju bagus harga selangit, aku pakai baju luntur dapat beli dari pedagang kaki lima? Ya Tuhan ini enggak benar.


"Heh, Meira! Ayo masuk! Sudah waktunya Belajar!" Bentak guru pengawas lapangan.


"Iya Pak. Maaf." Meira bergegas memburu kelasnya.


Syfah menyambutnya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Kak Andra ngasih kado apaan?" tanya Syfah penasaran.


"Kado? Kado Apaan aku enggak pernah nerima kado dari Kak Andra." Meira menatap heran.


"Masa?" Syfah kelihatan bingung."Kemarin gua ketemu dia di Atrium, gua tanya, Lu lagi ngapain, kak? Dia jawab, gua lagi cari ..." Syfah tidak meneruskan celotehannya, ingat ancaman Kak Andra, awas lu kalo bilang ke Meira kalo gua abis beli hape buat kado untuk Meira.


"Cari apa dia "


"Iya nyari cewek, dia bilang, yang...pokoknya yang semuanya mirip sama elu, Mei! Buat cewek gua untuk selama- lamanya, gituh!"


"Enggak lucu!" kibas Meira.


"Gua seriu....


"Ssssst! Pak Giman dateng." Meira cepat-cepat mencubit perut Syfah. Keduanya duduk dan mulai buka-buka halaman buku sesuai perintah pak Guru.

__ADS_1


"


__ADS_2