
Meira menunggu gelisah di sebuah halte panjang, tempat yang di sediakan oleh pihak pengelola Perguruan khusus untuk para mahasiswanya menunggu jemputan, tidak jauh dari Kampusnya.
Genangan air di sepanjang jalan sisa hujan deras beberapa menit yang lalu masih mengalir. Kendaraan Angkot yang biasanya lalu lalang kali ini pun sepi. Meira melirik Layar ponselnya, pukul 16:00 lewat persekian detik.
Udara sangat dingin.
Meira merapatkan jaketnya untuk sekedar mengurangi rasa giris dari hembusan angin yang sesekali menerpa tubuhnya.
" Kak Andra lama banget, sih. Apa dia sudah pulang kali, ya? Gumamnya menggerutu. "Di telpon nggak aktif, apa kak Andra lupa kalau aku akan menunggu dia di sini?" gumam Meira bicara sendiri.
"Hey..Meira cantik.." Seseorang menyapanya.
Sebuah Mobil sudah berada di depan Meira. Dia menatap cowok yang menengokan kepalanya lewat kaca pintu mobil.
Meira agak panik. sekilas dia mengenal Cowok itu. Dia Giano.! Tapi Meira berpura-pura tidak mengenalnya. Meira diam dan hanya memandang saja.
"Kamu sudah lupa, ya? Ini Gua, Giano!"
"Giano?" Lagi-lagi Meira pura-pura berlaga pikun saja. "O, ya. Aku ingat sekarang, kamu Giano Farhan, kan?"
"Kok lu sampai lupa ke gua, Mei.." Suara Giano terdengar menelan kekecewaan
"Sudah lama soalnya baru bertemu lagi. Aku jadi lupa-lupa ingat."
"Boleh ya gua antar lu pulang?" tawar Gino.
"Aku udah janjian sama Kak Andra akan menunggu dia di sini. "Maaf, ya."
"Huh ! Andra lagi, Andra lagi, kecewa gua." Giano menggerutu, raut mukanya asam.
Giano merapatkan mobilnya parkir di pinggir jalan. Lalu dia turun dan mendekati Meira.
"Lu selama dua tahun kemana, cantik." goda Giano sambil mencuri duduk di sebelah Meira. "Lu sekarang balikan sama Andra lagi, ya? Apa lu enggak tahu selama lu pindah ke kota lain, si Andra udah bohongin lu. Dia bukan tipe cowok yang menghargai arti sebuah kesetiaan seperti yang lu pikirkan, Mei. Dia malah asyik nikah sama Jesika? Brengsek, dia."
"Aku sudah tahu !" potong Meira. "Kak Andra sudah menceritakan semuanya. Dia menikah sama Jesika karena terpaksa. Kak Andra bilang, Jesika sengaja menjebaknya,"
"Jesika itu memang licik. Dia pinter berbohong.Trus lu percaya begitu saja sama Andra?
"Ya, Iyalah. Apa pun yang kak Andra katakan, entah dia bohong atau enggak, Aku akan menganggapnya dia jujur. Kamu tahu kenapa alasannya? Karena dia orang pertama yang membuat aku bisa tersenyum sewaktu aku merasa hidup sendirian."
"Hey." Giano mencolek pipi Meira.
"Idih, apa-apaan, sih." Meira menggeser duduknya menjauh.
"Di sana ada kafe!" Giano menunjuk sebuah kefe yang agak jauh di seberang jalan. "Cuaca sangat dingin begini, kalo kita minum Win sepertinya sangat menyenangkan ya, Mei.Ke sana, yuk!"
Meira menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ayolah, cantik..," Giano menarik tangan Meira.
"Lepasin!"
"Jangan sok jual mahal." ujar Giano, tangannya semaki kuat memegang Meira.
"Lepasin, Giano!" Meira berusah meronta.
"Asal lu tahu, Meira, gua udah lama banget ngebet sama lu. Gua cemburu lihat lu kalo lagi berduaan sama Andra. Gua pengen ngerasain lu juga kayak si Andra.," bisik Giano .
"Ngerasain apa maksudnya?. Kamu brengsek bicara seperti itu." Meira sangat tersinggung.
"Marah?" Giano malah senyum-senyum.
"Giano kamu bau minuman. kamu mabok, ya? lepasin tangan aku. Lepas!" teriak Meira.
"Tangan lu lembur banget. Muka lu juga cantik banget. Gua tergila-gila sama lu, Mei. Lu pengen berapa?"
"Gi*a, lu!"
Giano malah tertawa, mukanya semakin mendekat ke wajah Meira.
"Giano! Lepasin tangan aku. sakit tau!" bentak Meira
"Enggak bisa, Meira."
"Enggak!" Bentak Giano.
"Lepaskan dia..!" Suara berat dan geram menghentakan Giano.
"Kakak..!" Meira berhambur ke pelukan Andra.
"Lu udah kelewatan, Giano. Bukan laki-laki, lu."
Giano bangkit, lalu memandang Andra. "Heh, Andra! urusan lama kita belum selesai,." ancam Giano "Tunggu pembalasan gua." kemudian Giano melangkah pergi.
"Heh, Giano! Kenapa tidak sekarang saja kita selesaikan di sini !" Andra balas menantang. "Mei. Kamu pulang saja. Aku akan kejar dia. Ada masalah lama yang harus aku selesaikan dengan Giano.. Giano itu seorang pendendam dan licik. Beraninya cuma menikam dari belakang."
"Jangan!" Meira menghadang.
"Minggir!" Andra hendak mengambil mobilnya.
"Jangan, kak!" Meira memeluk dan menahan Andra dari belakang sambil menangis."Aku mohon jangan, Kak. Aku takut."
Giano naik ke mobilnya dan tanjab gas sekaligus.
Meira menangis di pelukan Andra. Dengan halus Andra melepaskan pelukan Meira, karena banyak orang yang mengalihkan perhatiannya ke arah mereka.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis" hibur Andra." Seharusnya kamu tadi lari ke kafe sana. Paman Beno mangkal di situ."
"Paman Beno mangkal di kafe itu?" Meira meneringai.
"Iya. Kenapa?"
"Giano tadi mengajak aku ke kafe itu. Tapi aku enggak tahu kalau paman Beno ada di sana. Kalau aku tahu, sekalian saja aku tadi ke sana, lalu suruh paman Beno supaya menghajar Giano."
"Gimana kalau sekarang kita ke sana. Sudah lama aku ingin bertemu dengan Paman Beno."
"Aku setuju banget." Meira merasa terlipur hatinya.
"Hey.. ayo lari, sepertinya akan hujan." Andra menonggak ke atas. Dan gerimis memang sudah mulai berjatuhan. Andra menarik tangan Meira.
Keduanya berlari kecil.
"Ya ampun, kak. sepatu aku lepas !"
"Yeah, lu, Mei. Ada ada saja." Andra berhenti lalu mengambil sebelah sepatu Meira yang lepas, dan membantu memakaikannya.
"Makasih, Kakak." Meira menyentuh rambut Andra yang masih jongkok.
"Nanti Pakai sepatu model sportif, ya?..Jangan kayak seperti ini. Ribet." gerutu Andra.
Keduanya bergegas lagi memburu kafe. Ada tawa kecil dari Meira, dan tawa itu cuma bisa dia dapatkan ketika berada dan berdekatan dengan Andra.
"Akhirnya nyampe juga." Andra mengkibas-kibas rambutnya yang basah tersiram hujan gerimis.
"Den Andra!" Paman Beno muncul dari samping rumah kafe.
"Hey.. Paman. gimana kabarnya?"
"Baik Den. Sebentar Paman siapkan makanan, ya?'
"Minta wedang jahe saja buat Meira. Dia kedinginan, Paman."
"Hey.. Meira !"
"Hai, Paman." Meira menyalami Paman beno.
"Silahkan kalian santai dulu. Paman mau menyiapkan makanan. Jangan sungkan. Anggap rumah sendiri." Paman Beno berlau
Paman Beno menyambutnya dengan hangat. Hampir semua makanan dan minuman dia tawarkan. Dan ketika Meira mempaparkan kejadian yang baru saja di alaminya, paman Beno mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dia memang sangat menyebalkan! Seminggu yang lalu dia juga menantang paman. Dia sudah tahu, paman bantu Den Andra memvidiokan perbuatannya sewaktu dia dan seorang wanita berkencan di penginapan sini." tutur Paman Beno.
"Paman!" Andra memotong, lalu berbisik. "Jangan membicarakan masalah itu dulu. Apalagi Meira ada di sini."
__ADS_1
"Iya, Den. Maafkan Paman." ujar Paman Beno, seraya menghirup kopinya.