
Andra memasukan mobilnya di garasi, lalu berjalan sebentar menemui Mamah sedang merawat pohon-pohon Bongsai kegemarannya.
"Sore, Mam." Andra pegang tangan Mamahnya ditempelkan sebentar di keningnya."Papa belom pulang ya. Sekali-Sekali di omel dong, Mah."
"Ada perlu apa tanya, Papa? Bosen lihat anak sama Papa pas ketemu berantem melulu." ujar Mamah sambil asyik mengelus-elus daun-daun bongsainya.
Andra senyum-senyum. Maksud mama, berantem itu bukan berantem sungguhan tapi latihan karate.
"Enggak, Sih. Eh, Mah bantuin aku, dong?. Aku lagi pusing gimana cara pecahkan masalah ini, Aku perlu bantuan Mamah banget!" ujar Andra."Ceritanya begini, Mah." Andra lalu menceritakan tentang Meira yang harus kehilangan ponselnya gara-gara Jesika.
"Kok Jesika tega berbuat seperti itu, Dra? Mama kaget. "Seingat Mamah, jesika itu baik, sopan cantik lagi? Mamah kok jadi merasa tidak nyaman kalo kamu masih pacaran sama Jesika."
"Kami udah lama putus kok, Mah." jawab Andra. "Dia pacaran lagi sama cowok lain. Trus nyesel pas cowok itu ninggalin dia ."
"Ya baguslah.
"Aku minta uang Mah, buat gantiin ponselnya Meira."
"Lho, kan kamu udah putus sama Jesika? Yang harus ganti ya Jesika dong, Andra."
"Enggak mungkin gitu,Mah."
"Baru teman kok pengen beliin hape." goda mamah.
"Mah. Aku mau cerita sedikit tentang dia. Tolong dengarkan, ya. Tau enggak kenapa aku pengen beliin dia hape? Dia cantik banget!"
"Sudah pasti. Pikiran kamu maunya cewek cantik melulu."
"Bukan cantiknya yang ingin aku ceritain. Tapi semangat hidupnya! Padahal dia cuma cucu dari tukang penjual kue jajanan. Dia anak yatim, mah. Tapi dia pernah cerita sama aku, kalo dia pengen jadi Dokter."
Mamah sedikit kaget. Andra bersandar bahu di tiang penyangga balkon. Lalu bercerita lagi.
"Kalo misalnya aku di posisi dia, mungkin aku tdak akan pernah berpikir ke arah situ, karena arah yang dia inginkan itu hal yang sangat tidak mungkin dia dapatkan. Tapi dia optimis banget, Mah. seolah-olah cita-cita yang dia inginkan itu gampang! Hapenya saja, Syfah bilang, cuma dapet dari kriditan. Mana mungkin dia jadi seorang Dokter?"
"Andra...? Kamu serius cerita dia seperti itu? Jangan-jangan cuma ngarang doang."
"Beneran!" Tukas Andra. "Bahkan aku sempat berpikir, bagaimana nasib dia, kalo misalkan neneknya itu sudah tidak ada? Ya Tuhan, dengan siapa dan di mana dia akan tinggal, Mah."
Mama mendadak tertegun. Tangannya berhenti menata ranting bongsai.
"Perlu berapa?" tanya Mamah sendu.
"Aku pengen ngasi hape mahal, Mah."
__ADS_1
"Mamah enggak tanya itu.Kamu Perlu berapa?"
"Sekitar sepuluh. Tapi Aku minta dua belas dulu, buat jaga-jaga enggak cukup."
"Ya sudah ambil. Kunci brangkasnya tahu kan mama simpen di mana?"
"Iya tau, Mah."
"Kenapa harus minta sama Mamah dulu? Tinggal ambil maunya berapa, kan enggak ada yang tahu?"
"Itu namanya nyuri, Mah."
O, begitu, ya?" Mamah senyum-senyum."Ternyata enggak sia-sia, dong Mamah mengajar kamu soal kebaikan
"Trimakasih, Mah."
Andra segera menerobos ke dalam. Ya Tuhan, sampai sekarang aku masih tidak percaya, wanita yang ketika aku masih kanak- kanak itu, aku pikir sosok yang paling menakutkan ternyata lebih perhatian dan sangat menyayangi aku dari pada Ibu kandung aku.( Dulu ketika Andra umur sepulih tahun, tinggal bersama mamah kandung, pernah jatuh sakit radang paru- paru..Papa sedang Meeting antar pengusaha Migas di bali, Mamah malah asyik ikut. Bik Oning, asisten Rumah Tangga, telpon kalau Andra sakit dirawat dirumah ditangani Dokter Pribadi. Mamah malah menyuruh Asisten rumtang itu menghubungi Istri kedua Papa agar menjaga merawatnya. Andra sangat terpukul, dalam bayangannya, sosok ibu tiri itu pastilah sangat kejam.
Ditatapnya dengan rasa takut wanita Cantik nuansa anggun yang sejak sore sampai angka jam dinding menunjukan puku 01:00 lewat, masih duduk di kursi dekat sampingnya, wajahnya tampak lesu menahan kantuk, pelipis dan matanya semu merah karena kurang tidur.
"Aduh..." Andra kecil mengaduh, tenggorokan terasa kering dan sedikit sakit.
Wanita itu tersentak, tangannya tiba-tiba membelai kening Andra kecil.
"Sebentar Mamah ambil air, ya sayang." Wanita itu seperti terburu-buru menuangkan air di meja tak jauh di dekatnya.
Segelas air Dia sodorkan sambil menaikan bantal penyangga kepala Andra kecil. Andra tak cepat-cepat minum, dia hanya menatap dan ada rasa takut, kalau-kalau air putih itu di kasih racun. Melihat tatapan Andra kecil, wanita itu sepertinya mengerti apa yang ada di pikiran Andra. Wanita itu mengambil satu gelas kosong dan menungkan separu air dari gelas satunya, lalu dia meminumnya dan separuh gelas lainnya dia dekatkan lagi ke mulut Andra kecil.
"Andra.." suaranya sangat lembut. itu suara pertama kali Andra dengar wanita itu memanggil namanya,, nadanya berayun pelan."Minumlah biar cepat sembuh. Air itu merupakan zat yang paling penting dan sangat dibutuhkan untuk tubuh kita, jadi kalau Andra kurang minum apalagi nggak mau minum ya kapan bisa sembuh? Ayo, diminum, sayang...Mama bantu, ya, yap." Wanita itu menopang dagu Andra kecil memudahkan untuk minum.
Andra kecil tak bicara apa-apa, dia meneruskan tidurnya, hingga diujung pagi dingin, dia terbangunkan oleh suara alunan merdu yang Andra sendiri kurang begitu hapal dengan kata-katanya itu,. tetapi terasa begitu nyaman mengisi perasaannya yang memang rindu akan sebuah kasih sayang.Suara itu berasal dari seseorang berpakaian seba putih yang tengah bersimpah di lantai tidak begitu jauh dari tempat dia berbaring.
"Mamah.." Suara Andra berat, dia sendiri merasa kaget, dari mana ajakan itu mendorong dirinya memanggil wanita itu dengan sebutan 'Mamah'?
Agak lama wanita itu menoleh,sebelum kemudian wanita itu melepaskan pakaian serba putihnya dan menghampiri Andra kecil, memberinya setengah gelas air minum lalu tangannya menyentuh kening Andra.
"Alhamdhulullah." katanya sambil memandang ke atas.(nanti Andra tahu kebiasaan Meira yang suka melakukan hal yang sama dengan wanita itu)
Apa itu Alhamdhulillah? hati Andra bertanya- tanya.
Sejak itu, Andra lebih suka bermain di rumah Mamah tiri, Lama-lama merasa damai, Andra kemudian memutuskan untuk tinggal bersama Mamah tiri, dan Mamah kandung malah sangat setuju dengan kelutusan Andra. Sekarang sudah sepuluh tahun berlalu, kadang-kadang Andra berpikir wanita mana Sang Ibu Kandungnya.)
Kini Andra tersenyum lebar dan mencium setumpuk uang ditangannya. Dia keluarkan batang Ponsel retak milik Meira, lalu menjiwir benda kecil dari saku celananya. Dia tersenyum geli melihat memori card!. Maaf, gua sudah bohongi elu, Mei! celotehnya lalu tak tahan tertawa sendiri. Tapi kemudian tawanya berubah cemberut, memikirkan bagaimana caranya supaya Meira mau menerima pemberian ponsel baru yang nanti dia belikan kusus untuk Meira? Andra hapal watak Meira.!Cewek jenis Meira itu, tidak akan pernah menerima pemberian orang dengan cuma-cuma.
__ADS_1
"Andra...lho bilangnya mau beli hape, malah main laptop sih." Mama mengejutkannya, berdiri di ambang pintu.
Klik! Andra matikan Laptop."Wah untung Mamah ngingetin Aku. Kelupaan." Andra berbohong. Lalu bangkit. Rapihkan baju , bercermin sebentar lalu turun dari kamarnya.
"Dra." panggil Mama di ruang tengah. ketika Andra buka pintu depan."Tolong belikan makanan cemilan ya."
"Siap!"
Andra nyengir sebelum kemudian melarikan mobilnya ke arah kanan menuju pusat perbelanjaan.**********
"Meira.." tegur nenek.
"I..iya, Nek." Meira kaget.
"O, iya....Maaf." rujuk Meira. "Aku kayak enggak sadar, Nek. Mana dulu yang harus aku kerjain."
"Itu pisang belah-belahin jadi tiga bagian, trus masukin ke adonan. Begitu aja kok tanya terus."
Meira ambil pisau bermotif . Tapi jauh di dalam pikirannya, seseorang sedang mengajaknya berbagi senyum. Dia juga ingat kejadian tiga hari lalu, seseorang telah memeluknya, seakan-akan pelukan itu, merupakan perantara atas doa-doanya meminta kepada Tuhan agar dirinya selalu terlindungi dari segala mara bahaya.
"Nek.."
"Apa.."
"Hape Aku kan rusak. Ada teman mau benerin. dia bilang tunggu dua hari, tapi tadi di sekolah dia enggak masuk. Gimana dong, nek. trus temen- temen banyak yang protes, katanya pesanan cemilannya kok enggak dibawain. Mereka enggak tahu kalo hape aku rusak."
"Ya mungkin hapenya sudah tidak bisa di benerin."
"Apa kak Andra bohongin Aku ya, Nek?"
Sang nenek memandang sedih, dia sudah tahu kejadian yang menimpa cucunya tiga hari yang lalu, Syfah diam-diam telah menceritakannya.
"Ya sudah nanti nenek pesan lagi sama Ibu Erte. Sekarang kerja yang bener, ada teman Bu erte yang pesen banyak. Bilangnya sih dari pemilik Restoran. Untuk pelengkap katanya."
"Wah hebat dong, nek!"
"Tapi dia minta harga Promosi dulu."
"Enggak apa-apa, Nek. Ini era milenium. Segala sesuatu itu harus ada itungannya dulu. Ini bagus banget, Nek." Meira bersemangat."Mudah-mudahan lancar dan kita nanti bisa ajukan kontrak, Nek."
"Kontrak?"
"Udah. Nenek mah enggak bakalan mengerti. Biar aku nanti yang urus. Tos dong, Nek!" Meira angkat telapak tangan, ngajak nenek yang tidak tahu apa-apa ngadu tepukan.
__ADS_1