KEKASIHKU KAKAK TIRIKU

KEKASIHKU KAKAK TIRIKU
Episode 18


__ADS_3

Suara ponsel berdering. Meira Menggeliat malas dari tidurnya, lalu menengok layar ponsel. Ada panggilan masuk dengan nomor tidak kenal.


"Halo. Dengan Meira." Sapa suara perempuan dari heanpone.


"Iya..."


"Lu lagi ngapain sama Mas Andra?" Suara wanita di telpone itu tiba-tiba lantang. "Lu tuh dari dulu sukanya nyalitin hati gua melulu. Semalam Mas Andra enggak pulang. Suruh Mas Andra pulang Sekarang. Atau ..."


"Atau apa ! Kamu tuh bisa bersikap sopan apa enggak? ngomong dong yang wajar, Jes. Enggak perlu bentak-bentak seperti itu." balas Meira, hapal itu suara Jesika.


"Eh, malah nasehatin gua. Lu cepat bangunin tuh Mas Andra suruh buru-buru pulang."


"Kamu aja datang ke sini, ajak sendiri kak Andra pulang. Aku enggak berani bangunin dia. Semalam dia kecapean nganterin aku , trus nemenin aku ngerayain pesta ulang tahun, ngajak nge-dance, duduk -duduk curhatan di taman, trus apa lagi ya? O, ya. Kak Andra pegang-pegang tangan aku mesra banget. Udah gitu... Aduh, Jes, udah gitu romantis bangeeeet." Meira menahan tawa, sengaja memanas-manasinya.


"Hey, lu bener- bener cewek enggak tahu malu., bisa ya lu bicara kayak gitu. Ngerebut suami orang lagi. " Suara Jesika semakin panas.


"Ya ampun, aku lupa kalau kak Andra udah punya istri. maaf, Jes. Semalam aku mabuk."


"Maaaah!" terdengar Jesika memanggil sambil menangis.


"Jesika.. ada apa pagi- pagi teriak-teriak? enggak sopan, tahu!" terdengar tante Yunita menggerutu.


"Mas Andra jahat, Mah. Dia tidur dengan si Meira. Mereka selingkuh. Pantesan pas aku telpon Mas Andra enggak mau jawab."


Meira tak tahan menahan tawa. Nenenk yang sedang mempersiapkan sarapan pagi, celingukan menengok kamar Meira.


O, lagi main hape! Mak Irah kembali ke belakang.


Apa iya Kak Andra semalam tidak pulang ke sana? Meira berkerut kening. Karena penasaran Meira mencoba Vidiocall Andra.


"Hai, sayang. Ada apa ?" Suara andra parau, menguap seperti menahan kantuk.Wajahnya lesu, rambutnya yang agak panjang semrawut.


"Hai Kakak .....! Kakak lagi di Lab Komputer Kampus, ya?" tebak Meira, matanya menangkap jajaran komputer dan mesin server di ruangan latar belakang di ponsel Andra. " Semalaman begadang, ya? Ya ampun Kak, jangan di paksain gitu, dong. Ntar Kamu sakit gimana?"


"Enggak apa-apa, salah aku sendiri, malas-malasan." tepis Andra. "Baru bangun?"


"He'em!" Angguk Meira. "Barusan Jesika telpon. Dia pikir, kamu masih ada di sini, dia suruh aku bangunin kamu..! hey... Aku baru ngerjain dia. Aku bilang, kamu tidur di sini..."


"Hah...? Itu kebangetan, Mei. Aku nggak nyuruh kamu kayak gitu."

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Biar dia marah trus berantem sama kamu. Lama-lama dia merasa menyesal udah nikah sama kamu. Ujung-ujungnya dia akan sadar sendiri...kalau dia itu salah pilih orang ."


"Ya tapi enggak begitu caranya, Itu merendahkan diri sendiri namanya."


"Aku salah ya, kak?"


"Enggak gitu juga." hibur Andra."Hey...hari ini kamu kuliah enggak?"


"Masih capek. Lagian minggu depan kami mulai bakti sosial."


"KKN?"


"Iya. cari obyek di mana ya?"


"Yayasan Yatim piatu Mamah ke dua, saja."


"Emangnya Mama Punya Yayasan?"


"Bukan cuma itu. Pabrik juga Punya.. Mei, Mei. Punya Mama hartawati , Lu sampe enggak tahu."


"Ya Allah, masa, kak.?"


"Cemburu?"


Andra tersenyum. "Jaga hati kamu, ya?"


Klik!


Andra menjambak rambutnya. Dia merasa ada sesuatu yang beda dari tatapan Alfian.. Seperti elang tengah mengincar mangsa. Malam itu Andra pura-pura pamitan. Tapi setelah mengantarkan Mak Irah, dia putar arah kembali ke Kape tempat pesta. Diam- diam mengamati dari luar. Pandangannya mengintip dari dinding-dinding kaca kafe. Ketika Alfian mengabil dua gelas minuman, Andra tahu Akfian memasukan sedikit sebuk pada gelas yang kemudian di suguhkan pada Meira, tapi, Meira tidak suka minuman seoerti itu. Meira tidak meminumnya. Setelah Meira di antar pulamg oleh Alfian, barulah Andra menarik napas lega kemudian tanjab gas mobilnya.


*******


"Andra!" panggil tante Yunita menghentikan kaki Andra yang siap menaiki tangga Kamarnya. "Mamah heran sama kamu.l Kamu tuh sekarang sudah punya istri. Punya anak. ngapain juga bela-belain nganter si Meira sampai pulang pagi begini."


Andra tidak menjawab. Dia hendak menereuskan langkahnya


"Kamar Jesika di sebelah sana." Tante Yunita menunjuk, plat Apartemen bagian di depan atas.


"Itu kan ruangan dan kamar tempat bersantai Papa, Mah. Itu terlalu istimewa buat jesika."

__ADS_1


"Turuti saja perintah Mamah."


Andra tidak jadi ke kamaranya tidak juga ke bagian apartemen atas. Dia berputar ke menuju pelataran tereras bagian samping.


"Bik Onih tolong bikin kopi dan bawain sarapan pagi saya, ya."


"Iya, Den." Bik Oning manggut.


Andra melepaskan lelehnya bersandar bahu sambil menatap Jesika yang tengah berenang dengan gaya punggung.


'Seksi! gumam Andra. Tapi kayaknya kalau Meira yang mengenakan pakaian renang dan melakukan gaya yang sama, Meira akan lebih seksi dengan tubuhnya yang lebih tinggi itu. Kayak apa ya kalau Meira berpenampilan seperti Jesika?


"Mas Andra bayangin aku, ya?" Jesika yang bertopang tangan di pinggir kolam menegurnya.


Andra tidak menjawab.


"Den, Ini sarapannya." Bik Oning menyimpan menu dan secangkir kopi. Lalu pergi lagi.


Jesika meraih handuk dan berjalan menghapiri Andra, lalu duduk di dekat Andra.


"Semalam ke mana, Mas?" tanya Jesika, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Kemarin Aku nganterin Meira. Sekalian menghadiri pesta ulang tahunnya. Sudah itu aku ke Kampus. Tumben tanya-tanya Aku?"


"Mas Aku ini sekarang istri kamu. Tentu saja aku mencemaskanmu."


"Jes, dengar, ya. Dari dulu, sejak kamu pacaran lagi dengan cowok pendatang itu, aku sudah susah payah banget buat melupakab kamu. Lalu aku ketemu Meira, tukang jualan kue itu... Aku menemukan sisi baik dari dia, sedikit demi sedikit dia dapat menghibur rasa sakut hati aku, dan aku mulai merasa sayang sama dia. Lalu kamu datang lagi ke aku karena cowok pendatang itu kembali ke negrinya. kelakuan kamu itu sama saja dengan menghina aku, Jes."


"Mas, stop! Aku tidak ingin Mas Andra membicarakan soal itu lagi, aku minta maaf. Gimana pun juga, sekarang aku sudah jadi istri kamu, ya sudah! Apa susahnya, sih?"


"Susahnya karena kamu sudah membuat aku lebih terhina lagi."


"Maksud Kamu Apa sih, Mas."


"Tanya sama Giano Farhan maksud aku itu, apa? Sudah! Silahkan kamu nikmati saja kemewahan di rumah ini. Enggak usah comel. kita hidup satu rumah, tapi cari jalan sendiri-sendiri." pungkas Andra, sambil kemudian minum kopi dan menikmari sarapan paginya.


"Selama ini Kamu anggap aku ini apa, Mas?"


"Jesika! Aku sedang Sarapan. Kamu harus menghormati tata cara di sini."

__ADS_1


Tiba-tiba suara ponsel dari celana Andra berdering. Andra mengangkatnya. 'Ada apa Papa telpon?' gumamnya, lalu berjalan menjauhi Jesika.


__ADS_2