
《Tetap bahagia walaupun telah menjadi setan, yaitulah Kuntilanak.》
Para murid kembali tenang, semuanya tampak terjaga hingga menjelang shubuh, ditemani alunan gitar yang di mainkan oleh Riko dan nyanyian teman-temannya.
Shubuh jam lima lewat empat puluh menit, akhirnya kami sampai ditujuan, perkemahan Alas Purwo, tempat yang memang benar-benar di khususkan untuk berkemah, semua murid diperintahkan untuk keluar dari dalam bis dan juga mengeluarkan barang-barang yang di bawa dari dalam bagasi bis.
"Perhatian! Di perkemahan ini, semua sudah di sediakan tenda, masing-masing tenda memiliki lima anggota, saya perintahkan kalian membuat tenda kalian masing-masing sebelum acara akan kami mulai. Paham!" jelas panitia.
"Paham kak." ucap kami serentak.
Akhirnya Dimas mengambi tenda berwarna biru muda kearahku. "Mau di pasang di mana nih?" tanya Dimas, padaku, Riko, Ikhsan, dan Rizky.
"Pinggir jurang aja." usul Riko.
"Etdah yak, yakali di pinggir jurang, kalo gelinding gimana?" celetukku.
"Iya sih kata gue mendingngan di pinggir jurang, ya gak terlalu di pinggir sih, biar pemandangan alamnya dapet aja gituh." ujar Ikhsan. Kalau mulihat sih Rizky benar-benar sangat pendiam bahkan dia hanya mengikuti saja tanpa memberikan usul sedikitpun
"Kalo kamu Riz, setuju kalo di pinggir jurang?" tanya Dimas memastikan.
"Aku mengikuti kalian saja." jawab Rizky singkat.
Kamipun mendirikan tenda di pinggir jurang, gak terlalu pinggir sih tapi cukup lah bisa liat pemandangan yang indah dan sejuk. "Oi, oi jangan lupa inget mitos yang beredar disini, kalo ada yang manggil nama kalian jangan nengok, konon katanya jika kalian yang di panggil nengok kalian akan dibawa oleh sosok ghoib yang memanggil." ujar Dimas menakut, nakuti.
"Apaan sih Dim, itu baru Mitos ya." sambung Riko gak percaya.
"Yaudah, orang cuman buat hiburan doang."
__ADS_1
Sekitar satu jam lebih, akhinya kita bisa mendirikan tenda, dan beristirahat. Selang beberapa menit panitia kembali menginformasikan. "Perhatian! kumpul semua!"
Ku lihat bis satu dan bis tiga sudah sampai, tenda juga sudah banyak terpasang, dan para murid sudah banyak yang berbaris, termasuk Devita yang sudah berada di samping sahabatnya Ervina. Acara campingpun dibuka dan pembina membacakan pidato pembuka acara selama kurang lebih dua setengah jam, hingga Dimas merasa sangat bosan dan bete.
"Karna nanti malam akan diadakan acara, api unggun. Kalian diperintahkan untuk mencari kayu bakar sebanyak mungkin, kelompok yang dapat membawa kayu bakar banyak, akan mendapatkan hadiah besar." tutur kakak panitia.
"Siap kak!"
Akhirnya semua anak berpencar mencari kayu bakar bersama dengan para anggota mereka masing-masing, mana ada manusia yang enggak tergiur oleh hadiah, termasuk Dimas yang sangat berambisi mencari kayu bakar. "Eh Mas, jangan jauh jauh sampai kebawah-bawah." ujarku kepada Dimas.
"Ih Dit kamu bagaimana sih, kalo kita nyari di tempat-tempat yang mudah pasti dapetnya dikit, apa lagi banyak kelompok, kalo di bawah sanakan susah di jangkau orang, pastinya banyak kayu yang dapat kita bawa." jelas Dimas yang hanya bisa ku balas dengan anggukan. Riko, Rizky, dan Ikhsan hanya mengikuti kemauan Dimas tanpa membantah sedikitpun.
Mereka berempat turun kebawah jurang, yang tidak terlalu curam dengan santai tanpa berfikir bahaya sedikitpun. "Hei Dito! kau tidak lihat, kelompok Tika juga kebawah, kamu gak malu?cewek aja berani ke bawah masa kamu enggak!" teriak Dimas dari bawah jurang, membuatku sedikit kesal dengan ucapannya, kalau bukan karna dia sodaraku sudah kutonjok mulutnya.
Sesampainya aku, Dimas, Riko, Rizky, dan Ikhsan, di bawah jurang, kulihat memang banyak sekali ranting yang bisa di buat untuk api unggun, batang pohon yang lumayan sedikit tebalpun ada disini. "Cepat ambil ranting pohonnya, sebelum kelompok Tika datang membawanya!" perintah Dimas.
Dengan usulan dari Ikhsan, aku dan Rizky akhirnya di tinggal di bawah sini hanya berdua untuk menjaga ranting pohon yang sudah kami berlima kumpulkan. "Akhhhhh.... " suara teriakan dari arah depan.
"Siapa yang berteriak?" tanya ku bingung.
"Sepertinya dari kelompok perempuan yang juga ke bawah." jawab Rizky. Karna aku merasa sedikit agak khawatir, bagaimanapun mereka teman sekelasku.
"Riz, kamu gapapakan aku tinggal sendiri disini, aku mau memeriksa apa yang terjadi dengan para anak perempuan itu." izinku kepada Rizky.
"Iya gapapa." jawabnya singkat, akupun meninggalkan dia sendirian di belakang. Kemudian aku mencari tau asal suara teriakan yang terdengar barusan.
Tidak jauh dari area kelompokku mencari ranting, terlihat sekelompok anak perempuan yang kebingungan. "Ada apa?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Bella kerasukan setan!" jawab salah satu anak perempuan menunjuk Bella yang tergeletak di tanah sembari menangis.
"Kalian ke atas saja duluan, jangan beri tahu siapa-siapa nanti bisa membuat panik anak-anak yang lainnya okey!" ujarku menyuruh mereka untuk naik ke atas duluan, karna jika mereka tetap di bawah sinih, akan banyak korban yang berjatuhan, apa lagi disini hanya aku yang laki-laki sendiri, bagaimana bisa aku mengatasi mereka yang banyak.
"Hiks...hiks....hiks... " isak tangis dari Bella.
"Bel, kau mendengarku?" tanyaku pelan.
"Aku ingin anak ini! Aku akan bawa anak ini hihihh... " seru sosok nenek nenek yang berada dalam tubuh Bella.
Disaat-saat genting seperti ini aku malah melihat sesosok makhluk ghoib yang berbentuk seperti pocong tapi bentuknya sangat aneh, tidak seperti kebanyakan pocong lainnya. Sial dia terus memperhatikanku dari balik pohon. "Hai tolong lah nek, keluar dari tubuh anak perempuan ini." ketika aku baru mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba sosok nenek-nenek yang merasuki Bella keluar seketika.
"Kamu?! dimana para anggota kelompokku?" pertanyaan Bella, ketika dia baru saja tersadar.
"Kamu menanyakan para anggotamu? apa kamu gak sadar jika kamu baru saja di rasuki makhluk ghoib yang ingin merenggut nyawamu!"
"Apa kamu bisa melihatnya? apa kamu bisa melihat makhluk halus? atau melihat setan, seperti pocong, kuntilanak, genderuwo, tuyul, arwah-arwah setan yang lainnya?"
"Mungkin bisa dibilang begitu." jawabku singkat.
"Lihat kesana lihat!" ujar Bella menunjuk pocong yang berada di belakang pohon.
"Ada sosok apa disana? jika kamu bisa menjawab dengan benar maka aku akan percaya jika kamu bisa melihat setan, sama sepertiku." jelas Bella membuatku sedikit terkejut ternyata di sekolah tidak hanya aku yang memiliki mata batin namun ada juga yang sama denganku.
"Pocong." jawabku singkat.
"Benar dia seperti pocong, energinya di pergunakan untuk hal yang tidak benar, sehingga bentuknya menjadi aneh."
__ADS_1