Kelebihanku

Kelebihanku
#22•Malapetaka Di Curug


__ADS_3

《Ketika hal yang kita takutkan datang, dan hanya diri kita sendirilah yang bisa kita andalkan.》


"Sejak kapan kamu memiliki kelebihan itu?" tanyaku kepada Bella yang sedang memainkan sebuah ranting.


"Sejak aku kecil, lebih tepatnya semenjak aku masih dalam kandungan ibuku, kelebihan ini sudah ada, dan turun-temurun dari keluarga, bahkan aku masih ingat waktu itu aku sempat tidak bisa membedakan mana manusia dan mana arwah orang yang sudah mati, aku pernah berteman dengan kuntilanak, aku pernah ketempelan hantu penunggu pohon, intinya banyak hal yang terjadi dengan kelebihanku ini, heheh maaf jadi curhatkan." 


"Tidak masalah, bagaimana kamu sudah baikan? Bisa naik ke atas sendiri?" tanyaku memastikan apa dia membutuhkan pertolonganku.


"Tenang saja aku sudah terbiasa kerasukan, jadi tidak perlu dipermasalahkan, yang perlu di persalahkan sudah pasti nanti aku akan di anggap aneh lagi sama mereka." jawab Bella dengan raut wajahnya yang seperti kecewa. Ketika Bella dan aku sedang asik berbincang, tiba-tiba saja sekelibat bayangan hitam terlihat dari pandangan mataku. "Wah kamu melihatnya juga!?" seru Bella kagum.


"Iya aku melihatnya."


"Dit, ngapain berduaan ini bantu bawain rantingnya." teriak Dimas dari kejauhan.


"Iya-iya." jawab teriakan Dimas. "Bell, bisa naik sendirikan, yaudah aku tinggal ya." pamitku meninggalkan Bella dan berlari ke tempat Rizky, Dimas, Ikhsan, Riko, berada.


Kami berlimapun akhirnya sampai di atas, dengan membawa begitu banyak kayu bakar, mungkin bisa di bilang yang akan mendapatkan hadiahnya adalah kelompokku. Kuperhatikan semua siswa sudah beristirahat "Eh udah pada istirahat?" tanya Dimas bingung.


"Iya udah dari tadi, kaliannya aja yang lama." celetuk salah satu murid.


"Eh mumpung lagi istirahat, dengar-dengar di sekitar sini dekat dengan curug, main kesana yuk." ajak Riko, mengajaku, dan yang lainnya.


"Yuk lah." jawab Dimas setuju.


Kami berlima menaruh ranting yang kami kumpulkan di depan tenda, dan berjalan menuju curug yang dikatakan Riko. "Rik, mana sih curugnya?! kata kamu dekat dari perkemahan." ucap Dimas lelah, karna sudah berjalan jauh.


"Dikit lagi sampe kok, di petunjuk jalan aja dikit lagi sampe." jawab Riko santai seraya melihat petunjuk arah.


"Ah orang udah jauh banget kita jalan, masa belum sampe juga, salah kali tuh mapsnya." celetuk Ikhsan kesal.


Kami berlima melanjutkan perjalanan kami, sampai akhirnya kami menaiki jembatan kayu tua, yang di bawahnya aliran sungai deras. "Eh.. eh liat deh masa kayak ada orang ngambang." seru Rizky menunjuk pinggiran sungai.

__ADS_1


"Eh iya, liat-liat!" seru Dimas, seraya bergegas menuju mayat yang mengambang.


"Eh gak usah di deketin deh, kita balik aja ke perkemahan, mulai gak enak nih perasaan aku." tuturku mengajak mereka balik ke perkemahan.


"Apaan sih Dit, kita periksa saja dulu, itu beneran manusia atau bukan." jawab Ikhsan lari meninggalkan ku di belakang.


Mau tak mau, akhirnya aku mengikuti kemauan mereka berempat. "Eh Rik, balik deh badannya! kamukan berani tuh." perintah Dimas menyuruh Riko membalik badan mayat yang mengambang terpelungkup.


"Enggak ah, tuh Dito aja." 


"Kok jadi aku, enggak aku enggak mau." jawabku menolak, namun mereka memberikanku tatapan sinis mereka, akhirnya aku mengiyakan keinginan mereka untuk yang kedua kalinya. Aku mengambil sebuah ranting yang cukup panjang untuk menyentuh mayatnya dan kemudian membaliknya. 


"Argggggg...!" terkejut kami berlima, ketika melihat bentuk wajah mayatnya yang sudah sangat menyeramkan, bahkan matanya mendelik keatas berwarna putih. Pakaian yang dia kenakanpun sudah penuh dengan bercak darah.


"Bagaimana nih, lapor polisi atau bagaimana." seru Riko panik.


"Udah-udah gak usah panik, kita beritahu pembina dan panitia acara saja, agar mereka yang menelphone polisi, yaudah sekarang cari ranting yang lebih kuat buat ngangkat nih mayat." jelas Dimas.


"Udah gapapa, gak bakalan pergi tuh mayat, udah nyangkut di situ." jawab Ikhsan.


Selang beberapa menit, tidak jauh dari pinggir sungai yang terdapat mayat, kami berlima akhirnya menemukan ranting yang kuat. "Eh mayatnya mana?!" kata Rizky terkejut.


"Eh seriusan mana mayatnya?!" tanyaku bingung.


"Tadi masih ada kok, masa udah ilang, cepet banget." sambung Ikhsan. "Kalo kebawa atau keseret arus pasti masih keliatan, kok ini gak keliatan."


"Jangan-jangan." celetuk Dimas dengan nada menakut-nakuti. "Udahlah yuk, lanjut aja! kali aja tadi cuman sugesti kita berlima karna kelelahan jalan jauh."


"Kok kamu gituh sih Mas, mayat itu aneh mungkin saja pertanda kalo kita enggak boleh melanjutkan perjalanan ini." seruku kesal.


Dimas hanya diam tidak memperdulikan ucapanku, mereka berempat tetap berjalan melewati jembatan, menuju sebrang sungai dan berniat bermain di curug. "Dito, kalau kamu tidak mau ikut yasudah balik saja sana, lagipula kita sudah setengah perjalanan." seru Ikhsan.

__ADS_1


Aku berlari mengejar mereka, mau bagaimana lagi kalau aku kembali dan di tanyai panitia mengenai kemana mereka berempat aku yang akan pusing dan kena omelan, lebih baik aku ikut dengan mereka, toh tidak akan lama bermain di curugnya.


***


"Wahh... akhirnya sampai juga." ucap Dimas senang.


"Sejuk dan indah, gak sia-sia kita kesini." kata Riko. "Ah coba ah main airnya." seru Riko seraya berjalan masuk ke dalam air curug.


"Eh lihat deh! masa aneh, ada kuburan di curug." tuturku memberitahu mereka berempat, karna aku melihat sebuah kuburan, tertulis di batu nisannya bernama Supriadi, walaupun tulisannya sudah sedikit memudar, namun nama depannya masih bisa terlihat jelas.


"Iya kok bisa ya? disini ada kuburan, dan juga ada rumah tua di atas bukit." tunjuk Rizky menunjuk sebuah rumah tua di atas bukit yang terlihat jelas dari bawah curug.


"Udah-udah enggak usah parno gituh deh, kayak gak pernah dateng ke curug aja, nikmatin aja selagi kita bisa senang-senang, sekalian fotoin okey." celetuk Ikhsan memberikan handphonenya padaku untuk fotoin dia, Riko, dan Dimas yang berada di dalam air jurug.


"Satu... dua.... tiga..., Cekrek!" 


"Coba sini aku lihat hasilnya bagus apa enggak." pinta Ikhsan meminta handphonenya. "Eh eh loh, yang di belakang siapa? ada cewek?" 


"Ah bercanda saja kamu San." jawab Dimas tidak percaya ucapan Ikhsan dan mengira kalau Ikhsan hanya bercanda.


"Ih aku seriusan ini, kalau tidak percaya lihat saja sendiri." 


"Eh iya, beneran ada cewek di belakang kita, kok aku jadi merinding ya." sambung Riko takut. "Eh... eh, eh kaki aku ada yang narik tolong." kata Riko tenggelam ke dalam air curug.


"Rik enggak lucu, kamukan bisa berenang Rik." jawab Dimas gak percaya.


"Kamu bercanda terus ah Rik, sudahlah kita balik saja kekemah." sambung Ikhsan.


"Rik! Riko!!, eh dia enggak muncul-muncul ke permukaan, eh dia jangan-jangan beneran tenggelam! Selamatkan Riko, Dimas! Ikhsan!" bentakku kepada mereka berdua.


Dimas, dan Ikhsan akhirnya menyelam kedalam air curug untuk menyelamatkan Riko yang tenggelam. "Dia enggak ada!, Riko menghilang!" seru Ikhsan muncul ke permukaan dengan raut wajah panik.

__ADS_1


__ADS_2