Kelebihanku

Kelebihanku
#39•Teman Lama


__ADS_3

《Kisahku belum selesai, akan aku ceritakan hingga akhir bab.》


Apakah aku harus berteriak? namun bagaimana caranya, bahkan untuk bernafaspun rasanya sangat sulit. Apa yang harus aku lakukan sekarang? berontak, melakukan perlawan terhadapnya. Sedangkan tubuhku sangat sulit untuk digerakan. Aku membaca doa dalam hati, namun sosok perempuan itu tetap berada di atas tubuhku dengan cekikannya yang semakin kuat, apa aku menyerah saja.


Ketika tubuhku, mulai kehabisan nafas. dan juga pandanganku yang mulai gelap, aku teringat akan suatu hal. Peniti pemberian nenek yang kusimpan di dalam kantung jaketku, tapi jaketnya kugantung di samping tempat tidur. Dengan tubuh yang sudah mulai lemas tak berdaya. Aku berusaha untuk meraihnya, dan segera mengambil peniti pemberian nenek.


Akhirnya dengan perjuangan. Aku berhasil mendapatkannya, dan yang lebih kusyukuri akhirnya sosok menyeramkan itu dapat melepaskan tangan serta kuku panjangnya dari leherku. Dengan sigap aku beranjak dari tempat tidurku, dan segera berdiri menjauhi sosok tersebut.



Ketika kukeluar dari dalam kamar kost, rasanya aku benar-benar ingin menyerah saja. Bagaimana tidak, baru beberapa menit aku selamat dari satu sosok, sesosok makhluk dengan bentuk hanya tulang-belulang berada di depanku. "Kreak... kreak... kreakk... "



Sosok itu semakin dekat denganku, dengan tergesa-gesa aku mengetuk pintu kamar Fahmi. Semoga saja Fahmi berada di dalam kamar. "Tok...tok...tok... Fahmi, Fahmi kamu berada di dalam?" tuturku panik, dengan keringat dingin yang sudah mengalir di wajahku. "Tok...tok...tok.. Fahmi... Fahmi... " sosok itu semakin dekat, dan semakin dekat.

__ADS_1


Untung saja sebelum sosok itu akhirnya dekat denganku. Fahmi menjawab panggilanku. "Iya, iya tunggu aku bukakan." jawab Fahmi dari dalam kamar kostnya. "Eh Dito, ada apa malam-malam memanggil." tanyanya.


"Ah itu. Anu... boleh tidak kalau malam ini aku menginap di kamar kostmu." aku benar-benar bisa mati ketakutan, jika harus tidur sendirian di dalam kamar kost.


"Tentu saja boleh, mari masuk."


Tanpa persiapan apa-apa. Aku menginap semalaman di kamar kost Fahmi, dan keesok paginya aku baru bisa kembali kedalam kamar kostku. Dan bersiap untuk berangkat kuliah, namun kuperhatikan kembali. Sosok-sosok hantu menyeramkan dan lain sebagainya kembali tidak terlihat, apa mungkin sosok-sosok itu hanya muncul ketika malam hari saja?


Entahlah, aku harus mulai terbiasa dengan mereka. Seperti yang pernah aku lakukan di rumah, jika aku harus memikirkan mereka terus-menerus. Tidak akan ada selesainya, lebih baik aku lupakan makhluk-mahkluk tak kasat mata itu dan bergegas pergi kuliah.


Sampainya aku di kampus, semua mahasiswa baru di kumpulkan di lapang luas. Dan berbagai macam hal lainnya yang dilakukan seorang mahasiswa baru. Tak tertinggal juga pengenalan lingkungan kampus, serta sarana dan prasaran yang ada juga diperkenalkan.


Dari pandangan yang kulihat, ada begitu banyak sosok. Yang menunggu suatu ruang dan menetap, adapun yang hanya sekedar berlalu-lalang saja. "Dito!" panggil suara perempuan, memanggil namaku. "Benarkan ini Dito? iyakan?!" tutur wanita berambut hitam pendek, menyebut berulang-ulang namaku.


"Iya saya Dito, ada apa ya?"

__ADS_1


"Benerkan Dito! ini aku Bella. Teman sekolah menengah atasmu, masih ingat akukan? aku loh... yang punya kelebihan sama seperti kamu. Mbok Sukmi kamu ingat?" tatapku aneh. Beneran dia Bella, penampilannya berubah sekali. Aku benar-benar tidak bisa mengenalinya. "Wah enggak menyangka aku, bisa ketemu kamu lagi. Sudah tiga setengah tahun kita tidak pernah bertemu, semenjak kamu keluar dari sekolah tiba-tiba. Tidak ada yang berubah ya penampilanmu Dito." kata Bella seraya terkekeh di depanku.


"Kamu semakin cantik." bodohnya aku ketika, tidak bisa memberhentikan ucapanku.


"Apa? aku enggak salah dengar?"


"Ah, tidak... tidak... lupakan." tuturku panik. "Bagaimana dengan mbok Sukmi? apa dia tidak mengkutimu lagi?" tanyaku memastikan, soalnya dari tadi sosok mbok Sukmi tidak terlihat berada di sekitar Bella.


"Oh mbok Sukmi. Aku sudah ke pak ustadz untuk mengusir mbok Sukmi, jadinya aku tidak diikuti olehnya lagi." jawab Bella, dengan raut wajah yang berubah menjadi sedih.


"Memangnya kenapa?"


"Kamu nanya lagi kenapa. Kamukan yang pertama memperingatiku, masa kamu lupa sama perkataanmu sendiri. Ucapanmu waktu di perkemahan Alas Purwo, memang benar. Di ikuti oleh sesosok makhluk tak kasat mata, atau sebangsanya. Tidak baik bagi diriku, manusia. Aku sering sakit-sakitan, auraku juga menjadi berubah, banyak masalah yang datang bertubi-tubi, hal-hal negatif selalu mengahampiriku." jelas Bella.


Karna waktu kami tidak banyak, akhirnya kami berpisah kembali. Dan tidak lupa, kami juga bertukar nomor telphone, untuk bercerita, ataupun bertukar informasi bersama. Karna kesamaan nasib, mungkin kita akan menjadi akrab. lagipula aku juga belum mempunyai kenalan selain Fahmi di Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2