Kelebihanku

Kelebihanku
#24•Mati Sebagai Tumbal


__ADS_3

《Sebagian hantu menyeramkan, sebagiannya lagi menyedihkan.》


"Kamu kenapa sih Rik, tenang dulu!" ujar Ikhsan menenangkan Riko. Hujan semakin deras, tidak ada jalan lain selain menetap di rumah tua ini.


"Aku ingin pergi dari sini!!" berontak Riko ingin pergi dari sini.


"Rik, Rik tenang dulu, kita tidak bisa menerobos hujan deras ini, apalagi dengan jalanan yang baru saja kita lewati barusan, akan menjadi sangat bahaya." jelas Dimas, Riko menjadi sedikit lebih tenang dengan pandangan kosong kedepan.


Hari sudah semakin sore, namun hujan tidak kunjung juga reda, kami berlima masuk kedalam rumah tua tak berpenghuni ini, untuk berlindung dari terpaan hujan deras. "Dit kamu bawa handphonekan." seru Dimas.


"Enggak aku gak bawa." jawabku membantah pernyataan Dimas.


"Jadi di sini siapa yang membawa handphone? kita butuh untuk mengabari seseorang, kalau kita berada di sini." semua hanya terdiam tanpa jawab sepatah katapun. "Jadi tidak ada yang, sama sekali membawa handphone?! Arggg... jadi bagaimana ini." tutur Dimas. Handphone yang digunakan untuk berfoto tadi benar-benar mati total, entah karna batrainya yang habis atau karna mati terkena air.

__ADS_1


Semua terdiam. Suara petir terdengar memecahkan kebisuan, kilatan petir muncul berulang-ulang, seolah-olah bagaikan sebuah pertanda kalau kesialan akan menimpa kami berlima. Semua makhluk ghoib yang berada di dalam rumah tua ini memandang tajam ke arah kami berlima, seperti tidak menerima kehadiran kita.


Suara senandung, dari seseorang yang entah siapa, terdengar jelas di pendengaranku. Bahkan tidak hanya aku yang mendengar namun mereka berempat juga turut mendengarnya. Semakin lama suara senandungnya semakin terdengar, berasal dari kamar yang barusaja aku masuki tadi.


"Apa di rumah ini penghuninya perempuan?" tanya Dimas padaku dan Rizky, setauku rumah ini kosong tidak ada penghuninya bagaimana bisa ada suara perempuan.


"Rumah ini kosong." jawab Rizky singkat.


"Terus itu siapa yang sedang bersenandung." celetuk Ikhsan.


Perempuan itu menatap kami tajam, seolah kami melakukan kesalahan padanya. Sosok itu melayang ke arah kami, kami berlima hanya mematung tidak bisa bergerak sedikitpun. "Seharusnya aku tidak mati, tapi penduduk desa menumbalkan tubuhku hanya untuk kepentingan mereka sendiri, bagaimana bisa hanya aku seorang yang ditumbalkan, sedangkan mereka hidup sejahtera dengan air yang berlimpah, seharusnya aku bisa hidup bahagia tanpa harus mengikuti ucapan mereka. Aku dendam! Aku ingin membunuh mereka semua! Seperti mereka membunuhku! termasuk kalian semua!" tutur sosok itu dengan raut wajah dendamnya.


Sosok itu mendekat, sorot matanya benar-benar penuh dengan dendam. "Membalaskan dendammu, bukan berarti kamu akan hidup tenang, membunuh mereka, bahkan membunuh kami yang tidak bersalah, juga tidak akan membuatmu tenang, jika kamu membalaskan dendammu, berarti kamu sama dengan mereka!" ucapku.

__ADS_1


"TIDAK! aku tidak sama dengan mereka, mereka semua jahat, aku dijadikan mereka semua sebagai tumbal. Sampai akhirnya aku mati tenggelam, apa mereka semua tau bagaimana rasanya! apa mereka merasakan apa yang aku rasakan!" perempuan itu melayang semakin dekat dengan kami. "Di hari, dimana aku berpikir akan menikah dengan kekasihku, ternyata aku hanya dibohongi oleh mereka!"


"Tidak seharusnya, kamu membalaskan dendammu, kepada orang yang belum tentu salah, ikhlaskan saja semuanya dan pergilah dengan tenang." gumam Rizky.


Perempuan itu terdiam. Perlahan wujudnya berubah menjadi sosok menyeramkan, rambut yang sebelumnya terlihat terikat, menjadi terurai panjang, wajah yang semakin pucat, serta bola mata yang masuk kedalam, tidak hanya itu kuku panjang hitam, muncul secara perlahan. "Hihihh... hihihh... aku benci ketika aku harus melihat manusia datang ke curug ini dengan raut wajah senang, sedangkan aku datang ke curug ini hanya untuk sebagai tumbal, ikutlah bersamaku menjaga curug ini! Hihih... "


Riko beranjak dari duduknya, dan berjalan tegap ke arah sosok perempuan itu dengan tatapan kosong. "Rik! Riko sadar Rik, balik!" ujarku memanggil Riko.


"Riko!" Ikhsan menarik Riko dari belakang, namun tanganya di tepis oleh Riko, aku turut membantu Ikhsan menarik Riko kebelakang namun tenaganya sangat kuat hingga kita berdua saja tidak bisa untuk menariknya ke belakang.


Mata Riko mendelik ke atas dan berubah menjadi putih, tanganya terasa sangat dingin bagaikan mayat hidup. "Rik sadar Rik, kamu kuat, lawan Rik lawan." ujarku menyadarkan Riko namun Riko tetap terus berjalan ke arah perempuan itu.


Riko semakin dekat dengan sosok perempuan, sampai akhirnya aku dan Ikhsan terlempar kuat, oleh sosok itu. Hingga Ikhsan tidak sadarkan diri karna terbentur tembok cukup kuat. "Dito, Dimas coba tarik kembali Riko, biar aku yang menjaga Ikhsan." ucap Rizky.

__ADS_1


"Baik!" jawabku dan Dimas, berjalan ke arah belakang Riko dan kembali mencoba menarik Riko sekuat tenaga.


Namun usaha kita gagal, tubuh Riko menghilang bersamaan dengan sosok perempuan itu.


__ADS_2