
-Matianak-
《Matianak, sesosok makhluk ghoib. Yang hampir sama dengan Kuntilanak, Matianak adalah hantu yang berwujud manusia. dulunya Matianak adalah seorang ibu yang mati karna melahirkan anaknya.》
"Kok, lama sekali Dit?" celetuk Wisnu.
"Ah iya. Tadi ada urusan sebentar." jawabku beralasan.
"Oh iya Dit, aku masih penasaran. Memang benar? kamu bisa melihat hal-hal begituan? kebanyakan orang bilang sih indigo." tanya Wisnu, mengenai kelebihanku.
"Iya tuh benar. Aku juga masih penasaran." seru Shifa.
Aku duduk di antara mereka berlima. Raut wajah mereka saat ini benar-benar sangat ingin mengetahui, tentang diriku yang memiliki kelebihan ini. "Sebenarnya aku juga, belum bisa disebut indigo. Ada yang lebih hebat dan lebih dari diriku, yang memang benar-benar bisa di sebut sebagai indigo." jelasku kepada meraka. Raut wajah mereka seketika berubah, mungkin karna jawabanku yang mengecewakan. "Tapi bukan berarti, aku tidak bisa melihat meraka yang kita sebut makhluk ghoib. Aku bisa melihat mereka, merasakan keberadaannya, aroma dan wanginya, tanda-tanda mereka ada di sekitar kita. Aku tau."
"Benarkah! astaga baru pertama kali ini, aku memiliki seorang teman yang mempunyai kelebihan." decak kagum Nurmi terhadapku.
"Wahh... serunih, kalau main permainan ini." ujar Azam senang.
__ADS_1
"Permainan apa?" tanya kami berlima, kepada Azam.
"Permainan 'Cerita Seram' gampang kok permainanya, kalian tinggal menceritakan cerita seram. Nanti kita voting siapa yang paling menyeramkan, maka dia yang akan menang." jelas Azam pada kami.
"Yeh enggak ah, kamu saja penakut. Sok-sokan ingin main, permainan seperti itu." tolak Cahya, dengan ide permainan dari Azam.
"Seru tuh, apalagi ada Dito. Yang bisa melihat hal-hal mistis, pastinya cerita dia yang paling serem." seru Wisnu setuju, dengan ide permainan Azam.
"Ngikut saja lah." kata Shifa dan Nurmi.
Azam menjelaskan kembali, langkah-langkah permainan, serta larangan-larangannya, satu orang memiliki satu cerita seram, yang paling menyeramkan dia yang akan menang, dan mendapatkan hadiah dari Azam, larangan bagi para pemain tidak di perbolehkan, berhenti pada saat bercerita. "Baik. Sekarang mari kita mulai permainannya dari Shifa" ujar Azam. "Mari kita persilahkan, Shifa untuk memulai ceritanya."
Desa terpelosok, yang berada di tengah-tengah desa lainnya. Hanya terdapat dua puluh kepala keluarga, karna letak desanya yang berada di pelosok, sangat susah untuk dijangkau atau didatangi oleh orang luar. Perjalanan menuju desa juga sangat sulit, banyak rintangan-rintangan yang harus dilewati. Di desa ini sangat kental dengan cerita dan mitos yang beredar tentang Matianak, karna pada saat zaman dulu warga desa yang hamil, sangat sulit untuk datang kerumah sakit. Mau tidak mau, mereka menggunakan cara tradisional tanpa penangannan medis apapun, yaitu memanggil dukun beranak. Lima puluh persen berhasil, lima puluh persennya gagal. Mereka yang gagal dalam proses melahirkan diyakini oleh para warga desa, sebagai arwah gentayangan atau mereka sebut sebagai Matianak. "Tunggu-tunggu jadi, karna banyaknya ibu hamil yang meninggal pada saat itu. Warga desa menjadi semakin sedikit?" celetuk Wisnu bertanya.
"Wis. Bisa enggak dengerin dulu, lagi seru nih." gerutu Azam kesal.
"Iya-iya, yasudah lanjut."
__ADS_1
Pada saat itu, kepala desa berinisiatif. Untuk mengundang, dan mendatangi dokter dari kota. Dan keinginan kepala desa untuk mendatangi dokter kedesapun akhirnya terwujudkan, seorang dokter muda. Berwajah tampan, dengan nama Sanjaya Galuh Pratama. Dia adalah dokter yang akan datang dan menetap didesa. Dokter Sanjaya datang bersama dengan tim dari rumah sakit, kedatangan mereka disambut baik oleh warga desa. Namun disisi lain bahaya telah mengintai kedatangan mereka. Mereka tidak mengetahui jika kedatang mereka, membuat seorang dukun tua, bernama nyai Surastri. Merasa terancam akan peranan dia di desa.
Dukun itupun, memiliki niat jahat kepada Dokter dan juga tim dari rumah sakit. Yaitu mengusir mereka dari desa, sangat disayangkan. Namun sangat membahagian bagi seorang dukun, karna mereka semua berjenis kelamin laki-laki. Sangat mudah bagi Matianak untuk menjalankan tugas yang diberikan dukun tua itu kepadanya. Hari demi hari berlalu, tidak ada hal terjadi di desa, kedamaian begitu tercipta di desa, namun kedamaian itu tidak berlangsung lama, Matianak mulai melaksanakan tugasnya. Satu per satu korban berjatuhan, nyai Surastri tidak dapat mengendalikan Matianak.
Warga desa merasa teracam, ketika malam tiba tidak ada satupun warga yang akan keluar rumah, bahkan ketika magrib warga desa sudah mulai menutup pintu dan jendela rumahnya rapat-rapat. Pada saat itu dokter dan tim medispun ikut merasa terancam, mereka memutuskan untuk pulang pada malam itu juga ke kota. Tim medis dan dokter bersiap merapihkan barang-barang bawaan mereka, namun ketika mereka sedang merapihkan seorang warga desa datang dengan panik. Ternyata warga desa itu meminta pertolongan tim medis dan dokter, karna anaknya demam tinggi pada saat itu. "Tolong, tolong bantu saya anak saya demam tinggi di rumah." mohon warga desa kepada dokter dan tim. Tim medis menolak permohonan dari ibu itu karna tidak ingin mengambil resiko, namun siapa sangka sang dokter menerima permohonan ibu itu. Dan pergi menuju rumahnya warga desa.
Setibanya dokter Sanjaya di rumah warga desa, dia langsung memeriksa anak yang katanya demam. "Bu ini anaknya, sehari sekali ya minum obatnya. Nanti sembuh kok." ujar dokter Sanjaya seraya bersiap kembali pulang ke timnya. Karna dokter Sanjaya merasa tidak enak jika meminta di antar kembali oleh warga, akhirnya dokter memberanikan diri untuk melewati desa yang gelap dan sepi tanpa seorangpun. Satu per satu rumah warga desa di lewati, namun ketika dokter Sanjaya melewati pohon besar keanehan mulai terjadi. Lengkingan tawa, berganti menjadi rintihan tangis, dan kembali lagi menjadi lengkingan tawa. Terus berganti seperti itu.
Sesosok baju putih, dan berrambut panjang. Melayang terbang di atas dokter, dokter Sanjaya merasa terkejut dan mulai ketakutan. Kekuatan Matianak memang begitu kuat, mangkanya nyai Surastri sulit untuk mengendalikannya. Kuku panjang dan energi yang kuat, sudah menjadi ciri khas Matianak yang satu ini. Dokter Sanjaya berlari sekuat tenaga untuk pergi dari sosok Matianak tersebut. Namun hantu tetaplah hantu, kemampuan dia berbeda dengan kemampuan kita manusia. Akhirnya sosok itu dapat mengejar dokter Sanjaya dan memulai aksinya, cakaran panjang dari bahu hingga badan bawah dokter Sanjaya robek, bahkan pakaian yang dikenakan dokter Sanjaya penuh dengan darah. Dokter Sanjaya meninggal di tempat, dan tidak sadarkan diri. Tim medis menemukan dokter Sanjaya kurang lebih satu jam setelah dokter Sanjaya meninggal. Duka menyelimuti keluarga dokter Sanjaya dan juga tim medis.
Warga desa, satu per satu pergi keluar desa, hingga tidak ada satupun warga desa yang masih tinggal menetap di desa tersebut. Desa sekarang bernama desa 'MATIANAK'.
"Prok...prok...prok... " tepuk tangan aku, Wisnu, Azam, Cahya, dan Nurmi.
"Waaahh... seru banget." ucap Shifa senang.
"Seru banget, seru." tutur Wisnu.
__ADS_1
"Nah sudah-sudah, sekarang kita lanjut ke Wisnu." sambung Azam. " Untuk Wisnu, kami persilahkan."