Kelebihanku

Kelebihanku
#48•Kututup Mata Batinku


__ADS_3

《Aku kira aku akan hidup tenang, setelah mata batin ini kututup, namun keadaan malah sebaliknya. di tutupnya mata batin ini malah menjadi kesialan terbesar dalam hidupku.》


sudah sebulan berlalu setelah pertemuanku dengan kakek Sumarto. Aku bertemu kakek Sumarto bukan tanpa alasan dan sebab yang tidak jelas, aku bertemu dengan kakek Sumarto teman dari kakekku. Nenek memberi tahuku kalau aku bisa menutup mata batinku dengan bertemu dengan kakek Sumarto yang kebetulan tempat tinggalnya di Jakarta, itupun jika aku merasa terganggu dan sudah berpikir matang untuk menutupnya. Sebulan aku kuliah, bertemu dengan teman-teman, nongkrong, pulang ke kostan, melakukan semua hal berulang-ulang. Aku berniat untuk mencari perkerjaan di sela-sela kuliahku, hitung-hitung sembari mencari pengalaman. 


Niatku untuk mencari perkerjaan, memunculkan keinginanku untuk menutup mata batin. Aku tidak bisa jika harus berkerja dengan mata batinku yang semakin mengerikan, dengan informasi yang kudapat dari nenek aku berusaha mencari alamat kakek Sumarto. Karna niatku yang kuat, aku akhirnya bisa bertemu dengan kakek Sumarto dan menutup mata batinku.


Seperti yang kukatakan, aku mendapatkan pekerjaan sampingan sehari setelah kututup mata batinku. Tidak ada yang terjadi selama sebulan dengan mata normal yang kumiliki, pekerjaanku menjadi lebih mudah, dan cepat tanpa hambatan apapun. Hingga suatu ketika aku mendengar kabar kalau pekerjaan dan tempat kerja yang aku jalani merupakan hasil pesugihan, dan banyak pekerja-pekerja dahulu yang tidak nyaman dan memilih keluar. 


Tapi aku menjernihkan pikiranku, dengan gaji yang lumayan cukup besar, tidak memberatkan hatiku untuk tetap mengambil pekerjaan ini.


Jam menunjukan pukul sebelas lewat tiga puluh. Aku memilih untuk lembur sehari, agar besok aku bisa pulang cepat, dan mengerjakan tugas kuliahku yang semakin menumpuk seperti gunung, dengan mata yang terfokus kelayar komputer serta jari-jemari yang menekan kesana kemari, membuatku tidak merasakan ada suatu hal yang aneh sedang terjadi di dalam ruang kerjaku, memang pada saat itu yang lembur hanya aku seorang, tapi tidak menjadi masalah bagiku. Karna sudah beberapa kali aku melakukannya, namun pada malam ini seperti ada yang aneh, hingga aku tersadar jika komputer di sekelilingku mati dan menyala sendiri, beberapa benda juga bergerak. 

__ADS_1


Yang membuatku lebih ketakutan adalah, siapa sosok yang sedang menggangguku, aku tidak bisa melihatnya, sehingga aku membayangkan bentuk menyeramkan. Pikiranku menjadi tidak karuan, serangan benda dari berbagai arah mengenai diriku. Apa aku harus lari, jarak pintu keluar sangat jauh. Sekarang kakiku terasa sangat lemas, tidak bisa di gerakan. Seklibat bayangan hitam serta hembusan angin menerpaku dari arah depan, mataku dan tubuhku hanya terpaku diam. 


Pencahayaan yang sebelumnya normal-normal saja. Menjadi kedap-kedip seperti di film horror yang pernah aku lihat, suara tawa anak kecil berlari terdengar, bayangan hitam terbang kesana kemari di atas langit-langit ruang. Walaupun aku tidak bisa melihat dengan jelas, aku hanya bisa mendengar rintihan tangis, tawa anak kecil, derap lari, serta pikiranku yang tidak bisa aku kendalikan. 


Aku berusaha untuk menjernihkan pikiranku, mungkin saja aku hanya kelelah, jadinya seperti ini. Aku kembali duduk dan mengahadap kembali ke komputerku, namun suara berisik terus menggangguku suara ketikan terus-menerus terdengar padahal sudah jelas. Di dalam ruang kerja hanya aku seorang, aku kembali berdiri dan mendubrakkan tangaku keatas meja entah kenapa rasa takutku sekaligus menjadi rasa kesal karna mereka menggangguku untuk berkerja, seharusnya mereka tau duniaku dengan dunia mereka berbeda tetapi kenapa harus mengganggu, aku juga salah rutinitas mereka memang di malam hari, tapi kenapa harus seperti ini.


Menit demi menit berlalu, aku mempercepat pekerjaanku, keadaan sekarang menjadi tidak kondusif. Aku berulang ulang kali, mengucapkan dan membaca beberapa ayat dan doa. Karna ini satu-satunya yang aku bisa, apa lagi aku tidak bisa melihat dengan jelas wujud mereka. Setelah pekerjaanku selesai, aku berlari kearah pintu keluar dan siapa yang tau jika benda cukup kuat menghantam kepalaku, entah benda apa, ku tidak tau yang aku tau pada saat itu. Pandanganku gelap.


"Iya-iya masih kenal aku, dua."


"Okey... okey... syukurlah, kamu hanya kelelahan dan luka sedikit di jidat." jelas Azam kepadaku.

__ADS_1


"Lagian kamu kenapa bisa jatuh sih, kayak anak kecil saja." ledek Azam padaku.


"Aku enggak jatuh ya, yehhh... emang kamu, kayak anak kecil." jawabku mengelak ucapan Azam.


"Lah terus, kenapa kamu bisa seperti ini?" 


"Adeh deh." ucapku seraya terkekeh.


"Yasudah kamu tunggu sini dulu, aku beliin bubur di luar." pamit Azam meninggalkanku.


Aku kembali memejamkan mataku, dan menaruh tanganku di atas mataku. Aku berpikir bagaimana bisa aku seperti ini, jika ibu tau keadaanku seperti ini. Bisa-bisa disuruh pulang aku ke Jogja. "Srek... srekk... " suara berisik seperti kantung kresek terdengar dari arah samping, kamar satu ke kamar lainnya hanya di batasi gorden besar, jadi apapun kegiatan serta pembicaraan bisa terdengar dengan jelas. Ketika aku sedang terfokus dengan suara, sebuah apel gelinding ke arah samping ranjangku dari kamar sebelah. 

__ADS_1


"Maaf, buahmu menggelinding ke arah ranjangku." tuturku memberitahu, dengan badan yang setengah duduk karna aku tidak bisa jika harus sepenuhnya duduk, karna kepalaku masih terasa berat dan juga keliengan. Tidak ada jawabaan.


__ADS_2