
《Walaupun dunia kita, dengan dunia mereka berbeda. Namun kita saling berdampingan.》
"Tunggu... tunggu, temanku menelphone." tutur Wisnu mengangkat panggilan dari handphonenya.
"Iya, yasudah cepat." sambung Azam.
Sekitar satu menitan, Wisnu kembali berkumpul. "Eh maaf ya semuanya, aku tidak jadi menginap. Temanku mengajakku untuk ikut penelusuran, lain kali pasti aku akan menginap." pamit Wisnu seraya merapihkan barang-barangnya.
"Yahhh... Wis, masa kamu pergi begitu saja." celetuk Shifa kecewa.
"Penelusuran? maksudnya?" tanyaku bingung.
"Ya penelusuran, ketempat-tempat seram. Sebenarnya aku baru beberapa hari ini, ikut penelusuran. Karna mendapatkan bayaran yang cukup lumayan besar, kalau tidak. Mana mau aku ikut hal-hal yang seperti itu, temanku itu konten creator, dengan memasuki vidio-vidio penelusuran dia. Dia bisa terkenal dan mendapatkan uang." jelas Wisnu. "Yasudah aku pamit pergi ya."
"Eh sepertinya seru tuh, kita boleh ikut ya." mohon Azam, meminta ikut penelusuran.
"Ih aku enggak ya. Mendingan aku pulang." seru Nurmi.
"Iya aku juga, mendingan pulang." sambung Cahya dan Shifa.
"Yasudah kalian pulang saja. Aku dan Dito ikut dengan Wisnu." tutur Azam senang.
"Hai, aku belum tanya temanku. Boleh ajak teman, atau enggak." jawab Wisnu.
"Boleh lah, yasudah Dit. Ayuk kita ikut." ajak Azam.
"Ah iya, aku ikut saja." bodohnya aku, tidak menolak ajakan Azam. Dan malah menyerahkan diri begitu saja.
"Yasudahlah, kalian berdua boleh ikut. Tapi jangan menyusahkan ya." himbau Wisnu kepadaku dan Azam.
Shifa, Nurmi, dan Cahya. Akhirnya pulang, kami membatalkan rencana kami untuk menginap di rumah Azam, dan malah ikut Wisnu bersama temannya ke tempat penelusuran. Aku dan Azam bersiap lalu langsung berangkat, pergi ke lokasi yang sudah diberitahu temannya Wisnu. Kami bertiga, aku, Wisnu, dan Azam sampai di sebuah gedung besar yang sudah lama terbengkalai, serta banyak jendela dan puing-puing bangunan yang sudah mulai rusak dan juga benda-benda yang sudah lama tidak terawat. "Ini tempatnya?" tanya Azam memastikan.
"Iya lah, ituh temanku. Sudah menunggu di pintu masuk." tunjuk Wisnu, menunjuk temannya. Kamipun menghampiri mereka. "Kenalkan, ini Wahyu sodaraku, kalau ini teman yang mengajakku penelusuran namanya Danu. Oh iya. Kenalkan juga ini Azam dan Dito." kamipun saling berkenalan, dan saling melemparkan senyuman.
Dengan nyali yang sudah semakin menciut, aku memberanikan langkahku masuk kedalam gedung tua ini. Bersama dengan anak-anak lainnya, Wisnu, Wahyu, dan Danu. Memulai pekerjaan mereka merekam di setiap sudut gedung, dan Danu yang berbicara mengenai hal-hal yang dia rasakan. Dan semua hal mengenai gedung tua ini, aku dan Azam hanya mengikuti mereka dari belakang. "Jadi guys, gedung ini sudah terbengkalai. Dan tidak dipergunakan lagi selama kurang lebih sepuluh tahun, wah... bayangkan gedung yang sudah sangat lama tidak dimasuki oleh manusia dan hanya baru kita yang masuk." tutur Danu berbicara, di kamera. "Dengar-dengar dari Narasumber, gedung ini yang paling angker dari gedung kosong lainnya. Seseram apa sih... gedung tua ini, mari kita cari tau."
Berbagai macam sosok, sudah kulihat. Dari mulai kuntilanak, pocong, sosok tidak berbentuk, badan tanpa kepala, dan berbagai macam sosok lainnya. "Dit. Kamukan bisa melihat, kamu sudah melihat apa saja dari tadi?" bisik Azam di kupingku.
"Banyak." jawabku singkat.
Kami berlima, terus berjalan masuk kedalam gedung tua ini. Satu-persatu ruangan kami masuki. Hingga, "Stop... stop... break dulu. Mual banget perut." kata Danu meminta istirahat.
__ADS_1
"Eh Dan. Ditokan bisa melihat makhluk halus." cerita Wisnu mengenai kelebihaku, kepada Danu.
"Iya apah?! kenapa enggak dari tadi ngomongnya, Dito ikut saja masuk kedalam vidio." ajak Danu mengajakku ikut masuk kedalam vidionya.
"Ah enggak, saya pemalu." jawabku menolak.
"Ih masa cowok. Pemalu, udah ikut saja. Saya bayar deh." bujuk Danu. "Yaudah ya ikut, okey deal."
Dengan ketidak inginanku, akhirnya aku masuk kedalam vidio. "Satu... dua... tiga... mulai. Okey guys, di sini aku mempunyai tamu. Seseorang remaja yang katanya dia bisa melihat makhluk ghoib, kita panggil Dito." aku berjalan masuk, kedalam vidio dan berada di samping Danu. "Nah. Ini dia Dito, bisa jelaskan Dito. Apa saja yang sudah kamu lihat dari tadi masuk, sampai sekarang?" tanya Danu padaku.
"Ada begitu banyak sosok, dari mulai kuntilanak, anak kecil, sosok-sosok aneh." jawabku gugup.
"Baiklah mari kita lanjut, masuk kedalam gedung tua ini." ajak Danu, berbicara di kamera yang di pegang oleh Wisnu. "Di depan saya, sekarang ada sebuah ruangan yang bertuliskan ruang pertemuan. Mari kita lihat ada apa saja, sih di dalam." ujar Danu. "Nah, sekarang kita sudah di dalam. Dito apa yang kamu lihat dan rasakan di dalam ruangan ini?"
"Saya melihat, ada seorang kakek-kakek. Tanpa bola mata, dan dia berjalan sambil meraba." jelasku, menceritakan sosok kakek-kakek yang kulihat. "Dan juga. Dari arah sana, saya melihat bayangan hitam. Entah apa hanya berbentuk seperti bayangan saja."
Setelah memasuki dua, tiga ruangan. Kami berlima memutuskan untuk berhenti sejenak. "Hah.. hah.. durasi sudah berapa Wis?" tanya Danu dengan raut wajah lelah.
"Belum sejam, kurang dua puluh menit lagi." jawab Wisnu.
"Eh lampu pencahayaan, batrainya sudah mau habis nih. Sudah mulai redup." celetuk Wahyu yang bertugas, memegang pencahayaan.
Perasaanku sudah mulai tidak enak. "Wis aku pulang duluan deh ya sama Azam." pamitku kepada Wisnu.
"Yah.. Dit, kenapa pulang. Bentar lagi selesai kok." tutur Danu. "Yasudahlah, mari kita lanjut saja. Agar cepat selesai."
Rekaman kembali dimulai, Danu terus berbicara mengenai gedung, dan aku yang membicaran beberapa sosok yang kulihat ke kamera. "Eh... diam! diam, jangan ada yang bersuara. Dengar tidak? ada yang menangis." ujar Danu, mendengar suara tangisan perempuan.
"Iya-iya aku mendengar." sambungku. Dan ternyata semua mendengarnya. "Eh itu apa, merah-merah, ada yang mengintip dari balik tembok." tuturku memberitahu yang lainnya.
"Iya benar aku lihat, Wis.. Wis. Siap kamera dan rekam." perintah Danu pada Wisnu. "Eh... eh... dia mendekat bukan sih? eh iya dia mendekat."
"Itu kuntilanak merah, bahaya. Lari... lari!" kataku menyuruh mereka lari. "Wis, lari Wis."
"Bentar, belum kerekam."
"Tapi ituh sudah semakin mendekat Wis lari!" aku menarik paksa Wisnu, dan akhirnya kami berlima lari sekuat tenaga, dari sosok kuntilanak merah yang katanya dapat melukai manusia karna energinya yang kuat.
"Dit, dompetku terjatuh Dit." ucap Azam, memutar balik ingin mengambil dompetnya.
"Zam! mau kemana?! nanti saja! Zam!" tanpa mendengar ucapanku Azam, kembali ketempat semula. Yang baru saja kami tinggalli, karna ada sesosok kuntilanak merah di sana.
__ADS_1
"Wis? Dan? Wahyu?" ketiga anak itu menghilang entah kemana, dan hanya ada aku sendirian di sini. Perasaan takut mulai memunculkan sugesti dan pikiran negatifku. "Ah kenapa harus berpencar semuanya?!" bentakku kesal. Kehadiran sosok-sosok negatif mulai terasa, bau busuk, serta bau bunga kamboja, sudah mulai tercium. Langkah kaki tidak hanya langkah kakiku namun juga, ada suara langkah kaki selain langkah kakiku. Rintihan tangisan, ketawa cekikikan, suara benda bergeser. Terdengar jelas di kupingku. Lampu gedung yang semula baik-baik saja, sekarang sudah mulai mati nyala, mati nyala. "Bukannya gedung ini sudah sepuluh tahun, tidak di tempati. Mengapa aliran listriknya masih ada, bukankah jika sudah lama tidak di tempati akan di putus dari pusat. Apa jangan-jangan."
Aku berlari sekuat tenaga, mencari jalan keluar. Dari gedung tua ini, namun yang ku temukan hanya jalan buntu.
Rasa takut sudah memenuhi, seluruh tubuhku. Sosok apa lagi yang akan aku lihat nanti, gelap memenuhi di setiap lorong gedung. Tanpa pencahayaan hanya mengandalkan cahaya sinar bulan, yang pada saat itu cahayanya masuk kedalam jendela gedung. "Wisnu!" aku berteriak sekuat tenaga, tidak ada hasil melainkan gema yang hanya terdengar.
Dari jauh. Seperti ada seseorang yang berjalan kearahku, untunglah ada orang selain diriku di sini. "Bapak siapa?" tanyaku kepada bapak berseragam, yang sudah jelas dia adalah penjaga gedung tua ini.
"Kamu yang siapa? kenapa malam-malam begini, malah ke gedung tua. Bagaimana jika penghuni di sini merasa terganggu atas kedatanganmu." tutur bapak penjaga mengomeliku.
"Barusan saya diajak teman saya. Dan saya berpisah dengan mereka." jawabku merasa tidak enak.
"Yasudah saya temani keluar, gedung ini. Besok-besok jangan datang lagi ya. Tanpa seizin saya." ujar bapak penjaga. Nama yang tertulis di nametag bapak penjaga ini adalah, Winarto.
"Iya pak, saya meminta maaf."
Dengan rasa syukur, aku diantar bapak yang katanya penjaga gedung ini. Kepintu keluar gedung, walaupun belum bertemu dengan Wisnu, Wahyu, Danu, dan Azam. Tidak masalah, yang penting aku bisa keluar dulu dari dalam gedung tua ini. Setelah melewati berbagai macam bentuk sosok, dan beberapa ruangan. Sudah terlihat jelas di depan adalah pintu keluar.
Ternyata di depan pintu sudah ada Azam, Wisnu, Wahyu, dan Danu. Yang berada di sana. "Dito!" Azam melambaikan tangannya kearahku, dan semua tampak senang melihatku.
"Pak itu teman-teman saya." ketika aku menoleh bapak penjaganya sudah tidak ada. "Loh bapaknya mana? ah mungkin sedang melanjutkan tugasnya berkeliling, diakan satpam yang menjaga gedung tua ini." gumamku berpikir.
Aku berlari kearah, Azam, Wisnu, Wahyu, dan Danu. "Untung saja kamu ketemu, tadinya kita mau berpencar mencarimu." ucap Wisnu memberitahuku.
"Ah iya, tadi aku ditolong sama pak penjaga gedung ini. Namanya pak Winarto, baik orangnya, dia memberiku arah pintu keluar." tuturku bercerita.
"Kok? barusan aku juga baru ditolong olehnya. Memakai seragam putihkan." celetuk Azam.
"Apasih kalian! di sini tuh, sudah tidak ada penjaga ataupun satpam. Mana ada yang mau jaga gedung seluas, dan seseram ini." kata Danu, memberitahu.
"Kamu seriusan Dan?! di sini enggak ada satpamnya?" tanyaku panik.
"Iya aku seriusan, kalau ada aku sudah izin kali dari sebelum masuk."
"Terus, barusan siapa dong." wajah Azam menjadi merah ketakutan.
"Sudah-sudah kita pulang saja, sudah jam tiga malam." perintah Danu pada kami berempat.
__ADS_1