Kelebihanku

Kelebihanku
#37•Ada Yang Tidak Beres


__ADS_3

Hai pembaca setia, KELEBIHANKU. Maaf ya kemarin tidak up, dukung KELEBIHANKU dengan klik like, vote, berikan saran, masukan serta dukungan ya. Terimakasih...


Paginya aku mulai bersiap, mengemas pakaian serta barang-barang yang ingin kubawa ke Jakarta. Di Jakarta aku tidak akan sendirian karna ada om Herlambang yang akan memantau diriku, niatnya aku akan mengkost di salah satu perumahan yang dekat dengan jarak ke kampus.


Om Herlambang adalah kakak dari ayahku, om Herlambang yang mengurus bisnis keluarga di Jakarta, sedangkan ayahku mengurus bisnis keluarga yang ada di Jogja. "Dit, apa kamu tidak masalah, dengan keadaan matamu?" tanya ibu yang sedang membantuku melipat pakaian. Maksud ibu bukan khawatir dengan kelebihanku ini, tapi kacamata yang sedang aku pakai. Aku tidak memiliki mata minus, bahkan mataku terbilang mata yang sehat. Tapi aku lebih memilih memakai kacamata plus tinggi, agar sedikit terlihat buram dari pandanganku.


Jadinya ketika aku melihat makhluk halus, aku tidak terlalu melihatnya dengan jelas dari pandanganku. Cara ini berhasil, terakhir kali aku mencobanya dengan keluar rumah. Pandangan serta penglihatanku menjadi biasa saja tanpa, rasa takut, khawatir, akan melihat mereka makhluk tak kasat mata. "Ah, tidak ada yang perlu dipermasalahkan bu." jawabku.


Sekitar lima menitan, akhirnya aku dan ibu selesai mengemas pakaianku. Dan langsung bergegas memasukan koperku kedalam mobil, karna sebentar lagi jam penerbanganku akan segera tiba. "Bu. Dito pamit ya bu." tuturku dengan mencium tangan ibu, seraya masuk kedalam mobil. "Bu Dito, titip salam untuk Ayah ya." karna ayah sedang ada bisnis yang mendadak, jadinya ayah tidak bisa melihatku ataupun mengantarkan aku ke bandara.


"Iya Dit. Hati-hati yo, jaga kesehatan di sana." pesan ibu kepadaku.


Akhirnya pak Agus melajukan mobil, menuju bandara. Aku menatap keluar jendela. "Selamat tinggal Yogyakarta, selamat jalan Dimas, selamat tinggal kenangan masa kecilku, serta masa remajaku, aku pasti akan selalu mengingatnya, dan juga merindukan suasa yang ada di sini." gumamku dalam hati.


Laju mobil kian pelan, akhirnya mobil berhenti di depan pintu masuk bandara. "Pak Agus, terimakasih ya pak sudah mengantar." kataku berterimakasih kepada pak Agus, supir pribadi ibu.


"Ah tidak masalah, santai saja sama saya." jawab pak Agus.


Kini koperku sudah berada di luar bagasi mobil, aku langsung menuju pusat informasi untuk mengisi data diri dan lain sebagainya, dan langsung pemeriksaan koper, setelah itu barulah aku diperbolehkan naik kedalam pesawat. Penerbangan dari Jogja menuju Jakarta menggunakan transportasi penerbangan hanyalah memakan waktu satu jam sepuluh menit.

__ADS_1


Selama penerbangan aku hanya tertidur pulas, sampai tidak terasa akhirnya aku sudah sampai di Jakarta. Aku turun dari pesawat, dan mengambil koperku, setelah mengambilnya aku berniat untuk mencari toilet.


Aku mencuci mukaku, di atas wastafel. Pastinya aku terlebih dahulu membuka kacamata yang kugunakan, betapa terkejutnya aku ketika sosok bayangan hitam dengan. Sepasang mata merah mendelik kearahku dari pantulan cermin toilet. "Tenang Dito, tenang!" Tuturku menenangkan diriku sendiri, kini keringat dingin sudah bercucuran dari tubuhku.


Jika aku lari keluar, ataupun berteriak pastinya. Dia akan merasa kalau aku dapat mengetahui ataupun melihat keberadaannya, jadi yang dapat aku lakukan hanyalah menutup kedua mataku. Tiba-tiba saja terdengar suara pintu toilet terbuka, syukurlah ada yang masuk, tanpa keinginan untuk berlama-lama di dalam toilet. Aku langsung bergegas keluar dari dalam sana. "Huhh... akhirnya bisa keluar juga."


Aku memberhentikan sebuah taksi, untuk mengantarku kealamat kost-kostan yang sudah aku pesan di sebuah aplikasi. "Pak, antar saya kekost-kostan jalan batu raya 5 nomor 12." aku menaikan koperku kedalam bagasi taksi dan langsung menuju kost-kost yang telah aku pesan.


***


Sekitar dua puluh menitan, "Permisi dek, sudah sampai." seru pak supir taksi memberitahuku.


"Ah tidak apa. Maaf kalau boleh tau adek ini dari mana?" tanya pak supir taksi itu padaku.


"Saya dari Yogyakarta pak." jawabku, seraya tersenyum kearah pak taksi.


"Oh, jadinya adek tinggal ngekost disini. Hati-hati dek, anak saya waktu itu baru dua minggu ngekost langsung pindah. Tadinya dia ngekost di sini karna harganya yang murah. Serta fasilitas yang mengiurkan, tapi baru dua minggu tinggal di sana, dia banyak mengalami kejadian-kejadian mistis dan mendengar suara-suara aneh. Bahkan kadang jika kebetulan anak saya melihat, barang-barang bergerak dan berpindah dengan sendirinya, mangkanya sekarang dia sudah tidak tinggal di sana lagi." pak taksi itu menceritakan kisah anaknya dengan serius. Gak mungkin juga sih kalau dia berbohong, apa untungnya bagi dia.


"Ah begitu ya pak, yasudah ini pak ongkosnya. Terimakasih ya pak." jawabku tanpa, sepatakatapun membicarakan yang menyangkut cerita yang baru saja pak supir taksi tadi ceritakan. Jika yang diceritakan pak supir taksi tadi memang benar adanya, ya aku hanya bisa pasrah. Mau bagaimana lagi, aku sudah bayar uang kostnya selama sebulan. Terus jika aku pindah mau pindah kemana kebanyak kost-kostan sudah penuh, jika tinggal bersama om Herlambang. Pasti akan membuatnya kerepotan apalagi dia memiliki tiga orang anak, ditambah aku yang tinggal di rumahnya. Untuk membayangkannya saja sudah membuatku merasa tidak enak.

__ADS_1


Kini aku sudah berada di depan pagar kostan. "Permisi." teriakku memanggil seseorang dari dalam kostan, tidak lama seorang lelaki. Keluar dari dalam kostan, terlihat sepantaran denganku.


"Ya, ada apa ya?" tanyanya kepadaku.


"Ah saya Dito Septian, yang akan mengekost di sini."


"Oh Dito. Ibu kost sudah memberitahu saya, mari masuk. Saya antar ke kamar." syukurlah ternyata dia anak yang ramah. "Perkenalkan namaku Fahmi. Anak baru kost juga, dua hari yang lalu aku baru masuk sini, kamarmu bersebelahan dengan kamarku jadi kalau ada apa-apa bilang saja." tutur Fahmi.


Aku dan Fahmi, masuk kedalam lorong. Yang di setiap kiri dan kanannya terdapat pintu kamar, yang berawalan dengan nomor 001, 002, dan sampai seterusnya. Akupun penasaran dan bertanya pada Fahmi, tentang berapa kamar kost yang berada di sini. "Mm... Fahmi kalau boleh tau kamar kost ada berapa ya?"


"Yang aku dengar-dengar sih ada lima puluh, tapi kamu percaya gak katanya. Beberapa kamar ada yang enggak boleh di tempatin, kayak kamar di samping kamu. Tapi sih aku kurang percaya, kali saja hal tersebut karna fasilitas kamar yang rusak seperti atap bocor misalnya." jelas Fahmi, aku lihat-lihat Fahmi adalah orang yang berfikir positif. Dan juga orang yang ramah.


"Sepertinya kamu sudah cukup mengenal kost-kostan ini. Walaupun baru dua hari." seruku seraya tertawa pelan.


"Aku anaknya enggak bisa diam, jadi aku selalu keluar kamar, dan selalu merasa bosan jadinya aku main kekamar anak kost lainnya. Untungnya kamu datang, jadinya aku memiliki teman."


"Jadi kalau aku tidak datang. Kamu tidak memiliki teman? memangnya ada berapa orang yang tinggal di sini?" tanyaku penasaran.


"Eh sudah mau sampai, kamarmu nih. Heheh... " kata Fahmi mengalihkan pembicaraan, membuatku menjadi semakin penasaran dengan kost-kostan ini.

__ADS_1


__ADS_2