Kelebihanku

Kelebihanku
#43•Melawan Sosok Pocong


__ADS_3

《Derajat mereka makhluk halus, tidak lebih tinggi dari kita manusia. jadi takutlah pada yang menciptakanmu bukan takut pada mereka.》


"Seriusan kamu tidak menciumnya? tapi bau busuknya benar-benar, semakin tercium." ucap Shifa, tidak tahan akan bau busuk, pocong yang berada di belakangnya.


Tak terasa akhirnya tugas kami berenam bisa selesai juga. Malam semakin larut, langit begitu gelap. Keheningan menyelimuti di setiap sudut ruang kampus, koridor kampus begitu terlihat sangat panjang bagiku. Untungnya ada Wisnu yang pulang bareng bersamaku, sedangkan. Azam, Shifa, Nurmi, dan Cahya sudah pulang lebih dulu. Karna tugas aku dan Wisnu yang paling mudah, dan tidak menguras begitu banyak tenaga. Jadinya aku dan Wisnulah yang merapihkan perlengkapan serta membersihkan ruang lab. Selesai mereka menyelesaikan tugas percobaan, yang membawa tugas percobaannya adalah Azam. Untungnya bukan aku yang membawa tugasnya, jika aku yang membawa tugasnya. Bisa di terror habis-habisan aku sama sosok pocong menyeramkan barusan.


"Dit, aku bawa motor. Mau bareng?" tanya Wisnu menawarkanku tumpangan.


"Enggak usah deh, takut ngerepotin." jawabku.


"Santai saja. Enggak ngerepotin kok, hitung-hitung sebagai hadiah perkenalan, heheh... "


Wisnu mengantarku pulang kekostan. Di sepanjang perjalan kita tidak saling berbicara, mungkin aku bersuara hanya ketika menunjukan arah untuknya. Dua menit kemudian akhirnya kami tiba di depan kostan. "Oh kamu ngekost di sini? kalau kostan ini mah aku tau. sebulan yang lalu aku juga pernah ngekost di sini, banyak yang bilang kostan ini dulunya pernah terjadi kebakaran." ucap Wisnu dengan merubah raut wajahnya, menakut-nakuti. "Dan korban tewasnya tidak sedikit, bahkan ketika aku tinggal di sini banyak terjadi kejadian aneh." bisik Wisnu kepadaku.


"Ah enggak ah, aku tinggal di sini biasa saja." seruku membantah, cerita Wisnu. Hanya untuk membohongi diriku sendiri, nyatanya yang dikatakan Wisnu memang benar banyak terjadi kejadian aneh. Bahkan sosok makhluk ghoib yang berada di dalam kost, bisa terbilang sangat banyak.


"Iya-iya yasudah, Dit pamit ya. Keburu semakin malam." Wisnu menyalakan motor, dan melaju pulang ke rumahnya.


***


Sesampainya aku di dalam kamar kost. "Sudah beberapa hari ini, aku tidak menelphone ibu. Apa aku telphone sekarang saja." tanyaku, pada diri sendiri. "Ah.. mungkin lain kali saja. Hari ini aku sangat lelah." aku langsung tertidur pulas, tanpa makan malam ataupun mandi.

__ADS_1


Keesokan pagi, seperti biasanya. Aku berangkat kekampus, dan masuk kekelas. Namun hari ini sepertinya Azam terlihat tidak masuk, kursi yang sebelumnya ia tempati kosong. Di tengah-tengah pembelajaran, Shifa, Nurmi, dan Cahya. Memanggilku. "Dito! Dit." bisik mereka bertiga memanggilku, akupun menoleh kearah mereka bertiga.


"Iya ada apa?" jawabku kepada mereka.


"Eh besokkan, tugas percobaannya dikumpulkan kalau Azam tetap tidak masuk bagaimana?" ucap Shifa ketakutan bila esok, Azam belum juga masuk kuliah.


"Langsung saja kerumahnya. Biar ada kepastian." celetuk Wisnu tiba-tiba.


"Memangnya kamu tau, aku enggak tau ya rumahnya." sambung Cahya.


"Iya aku juga." kata Shifa, dan Nurmi bersamaan.


"Tenang aku, temannya dari sekolah menengah atas. Jadi aku tau rumahnya di mana." tutur Wisnu.


Dengan izin dari penjaga rumah, akhirnya kami diperbolehkan masuk kedalam rumah Azam. Baru sampai di depan rumahnya, kami bertemu dengan seorang wanita paruh baya, yang sepertinya dia adalah ibunya Azam. "Kalian temannya Azam? perkenalkan saya Winata Kesyadra mamanya Azam, panggil saja saya tante Winata mari masuk. Ada yang ingin saya katakan." tutur, tante Winata pada kami. Kami di persilahkan duduk di sofa, tante Winata memulai perkataannya dengan raut wajahnya yang serius. "Semenjak hari kemarin, Azam terus-terusan bersikap aneh. Dia seperti bukan Azam, kadang ketika dia keluar kamar. Pandangannya selalu kosong, tidak menjawab perkataan dan ucapan saya mamanya. Saya merasa sedih, dia selalu mengunci kamarnya, dan berteriak-teriak ketakutan." cerita tante Winata pada kami berlima.


"Maaf tan. Memang yang Azam takutkan apa?" tanyaku, kepada tante Winata


"Dia selalu berteriak. 'Pocong...pocong' ketika saya tanya ada apa, Azam malah membentak saya untuk pergi." jawab tante Winata, dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.


Kemudian kami berlima, diantar tante Winata kekamarnya Azam. Untuk memastikan keadaannya sekarang, tante Winata menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu kamarnya Azam. Terlihat Azam yang berada duduk di pojok sudut kamarnya, dengan lutut serta tangannya yang menutupi wajahnya. "Azam, ini mama nak." ucap tante Winata. Mendekat kearah Azam.

__ADS_1


"Pergi! pergi! pergi kalian semua pergi!" berontak Azam, berteriak-teriak menyuruh kami untuk pergi dari kamar. "Ada pocong... ada pocong... " bisik Azam pelan.


Kamar Azam, penuh dengan aroma bau busuk. Dan benar saja ternyata pocong yang kemarin berada di lab, sekarang berada di kamarnya Azam. Dan berada tepat di depannya Azam, pocong itu sedang menatap tajam Azam. Seperti ingin membunuh. "PERGILAH! apa yang kau inginkan?!" bentakku kepada sosok pocong menyeramkan itu. Dan yang pasti Wisnu, Cahya, Shifa, Nurmi, dan tante Winata. Merasa aneh melihatku.


"Dito! kamu kenapa?!" tanya Shifa khawatir.


"Maaf, sebelumnya aku belum pernah. Menceritakan kekalian kalau aku memiliki Kelebihan." jawabku. "Namun sekarang. Hal itu tidak penting, yang terpenting sekarang kita menyelamatkan Azam, dari sosok pocong menyeramkan ini." tuturku seraya menunjuk, sosok pocong.


"Akuh! ingin milikku kembaliiii!" suara seram dengan, nada bentak pocong tersebut. Ternyata yang mendengarnya bukan hanya aku, namun yang lainnya juga mendengar.


"Suara siapatuh?!" ucap Wisnu terkejut.


"Itu adalah suara sosok pocong, yang aku maksut." ujarku


Perlahan mata Azam, berani menatapku. "Dit, tolong aku." pinta Azam kepadaku.


Shifa menghampiri, tugas percobaan yang di letakan Azam di atas meja belajarnya. "Aaa! apa ini?! banyak sekali belatung, dan darah!" tutur Shifa syok dengan apa yang dia lihat.


"Tenang semuanya, cobalah membaca surah dan doa. Yang kalian bisa, itu sangat membantu." ujarku.


Untungnya, nenek pernah memberikanku sedikit bekal. Untuk menahan energi mereka, agar mereka tidak bisa melukai, ataupun mencelakai kami manusia. Walaupun aku belum cukup bisa menahan energi mereka dengan waktu yang lama. Kugigit ibu jariku hingga mengeluarkan setitik darah, kubuat lingkaran penuh dengan bentuk kecil. Menggunakan darahku. Kemudian aku mengucapkan mantranya yang diberitahu nenek kepadaku. "Jlar...!" suara keras sangat terdengar begitu kencang. Sosok pocong tersebut terhisap kedalam lingkaran yang telah kubuat. Namun setelah sosok pocong tersebut, telah terkunci kedalam lingkaran yang kubuat, energiku menjadi terkuras begitu banyak. Tubuhku seperti tidak memiliki energi. "Cepat letakkan kembali tanah itu, kekuburan yang telah Azam ambil tanahnya!" perintahku kepada Azam, Wisnu, Shifa, Cahya, dan Nurmi.

__ADS_1


Azam beranjak dari duduk, dan segera mengambil kunci mobilnya. Wisnu dan Azam, membopongku masuk kedalam mobil, tante Winata hanya diam tidak berkata apapun. Mungkin dia masih syok dengan apa yang barusaja terjadi.


__ADS_2