Kelebihanku

Kelebihanku
#35•Kesedihan Yang Mendalam


__ADS_3

《Dendam tidak akan menyelesaikan semuanya.》


Setelah Rizky dan juga makhluk menyeramkan itu pergi, aku kemudian keluar dari dalam lemari. Dan bergegas keluar dari rumah ini.


Ketika aku ingin keluar, sial pintunya tidak bisa aku buka, atau susah untuk aku buka. "Hai Dito, sejak kapan kamu di sini?" tiba-tiba saja Rizky berada tepat di belakangku.


Aku menoleh ke belakang, kulihat Rizky dengan senyum ramahnya, serta mata polosnya yang menatapku lembut seraya tersenyum manis. "Sudahlah! tidak perlu memakai topeng palsumu lagi! aku sudah tau semua, Riz. Aku enggak habis pikir kamu bisa sejahat itu! apa salah mereka sampai kamu memiliki niat jahat untuk membunuh mereka berempat?!" Ucapku marah.


"Apa maksudhmu Dit? aku enggak ngerti."


"Sudahlah, tidak perlu sok-sokan tidak tau." seruku cetus.


Senyum serta raut wajah Rizky berubah, raut wajahnya menjadi licik, senyum jahat terukir di wajahnya. "Hahah, Dito...Dito, tadinya aku tidak ingin menyentuhmu. Tapi mau bagaimana lagi kamu sudah ikut campur urusanku, yang berarti kamu siap menerima akibatnya."


"Tidak, kamu pikir kamu siapa! aku tidak akan takut dengan ancaman sampah yang keluar dari mulut orang munafik kayak kamu! aku akan lapor ke polisi dan kamu akan di penjara seumur hidup!" balasku mengancam Rizky.


"Hahah Dit, kamu saja enggak punya bukti yang akurat kalau aku pembunuh mereka, mana percaya polisi kalau aku pembunuhnya."


"Pasti ada di dalam rumah ini! akan kuungkapkan semuanya!" ujarku seraya berlari menjauh dari Rizky.


Rizky mengajarku, dengan membawa pisau kecil di tangannya. "Dito! mau lari kemana kamu, hahahah... " lari Rizky sangat cepat, hingga sekarang jarakku dengannya cukup dekat.

__ADS_1


Rizky mengarahkan pisau kecilnya ke arah leherku, aku tahan tangannya dengan sekuat tenaga, dan kuusahakan untuk membuat pisaunya terjatuh dari genggaman tangannya.


Sampai akhirnya pisau dan juga Rizky terjatuh ke belekang. "Riz, sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini?! aku enggak menduga ternyata kamu orang yang jahat."


"Mereka! mereka yang membuatku seperti ini! waktu itu aku masih kecil, kedua orangtuaku bunuh diri, karna orangtua mereka! ayahku dan Dimas, adalah rekan bisnis namun ketika ayah Dimas mendapatkan kenaikan pangkat ayahku di fitnah oleh ayahnya Dimas, sedangkan ibuku! ibuku di bicarakan sana-sini oleh ibunya Rifa, Agung, dan Farhan. Ketiga ibu itu, menjelek-jelekan ibuku, hingga nama ibuku jelek di mata orang banyak, sampai di mana ayah dan ibuku memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka berdua." jelas Rizky menunduk.


"Waktu itu aku tidak tau, aku hanya baca sebuah surat wasiat yang di berikan kedua orangtuaku untuku. Serta menangis sendirian karna waktu itu aku masih kecil, sekarang aku sudah besar, aku ingin membalaskan dendam kedua orangtuaku kepada mereka para manusia sampah! hahah... kehilang anak yang mereka sayang, hahah... aku bahagia ketika melihat mereka mencari dan menangis, hahah..." ucap Rizky bahagia.


"Tapi mereka berempat tidak salah!" sambungku.


"Iya mereka berempat memang tidak salah! tapi kedua orang tua mereka salah! ya anggap saja anak-anak mereka sebagai pengganti diri mereka" sikap Rizky sangat santai, tiba-tiba saja sosok yang membantu Rizky muncul di belakangku, akupun tidak sadarkan diri.


***


"Wah...wah akhirnya bangun juga kamu Dit." seru Rizky. "Bagaimana tidurnya tadi? aku masih ingin bersenang-senang denganmu, jadi aku belum ada niatan membunuh kamu langsung." ujar Rizky dengan tampang bahagianya.


"Lepaskan aku!"


"Eitttss, tidak semudah itu Dito. Aku ingin liat bagaimana reaksi wajah ibumu ketika melihat anak satu-satunya ini tidak pulang kerumah, dan di temukan tidak bernyawa, hahaha.... " sambung Rizky.


"Gila kamu! lepaskan aku sekarang!"

__ADS_1


"Oh iya aku ada urusan lain, tunggu di sini dulu ya, Rifa tolong awasi Dito ya, hahaha..." Rizky keluar kamar.


Aku rasa dia sudah gila, awas saja aku akan berusaha keluar dari rumah ini, dan melapor ke polisi segera. Aku melihat sekeliling namun tidak ada satupun benda yang bisa kugunakan untuk memutuskan tali yang mengikat tubuhku, namun aku bisa mencobanya dengan api yang menyala di atas lilin, mungkin saja bisa. Aku menjalankan kursi ke arah sesajen yang berada di depanku.


Talipun terbakar sedikit demi sedikit, aku meniupnya, dan melakukan itu berulang-ulang kali, sosok yang entah apa namun sudah ku pastikan dialah yang membantu Rizky mendekat kearahku. "Menjauhlah! dasar makhluk rendah!" tali yang mengikat tubuhku akhirnya terlepas.


Akupun berlari keluar kamar, menjauh dari sosok mengerikan itu, aku rasa sekarang Rizky sedang keluar, dia tidak ada di rumah. Ini kesempatan yang bagus untukku kabur dari sini. Namun sosok mengerikan itu menarik tubuhku kebelakang, aku mencoba bertahan dengan memegang erat gagang pintu keluar. Akupun akhirnya bisa lepas dari sosok itu, tanpa pikir panjang aku memutuskan keluar lewat jendela. Dan benar saja keputusanku berhasil, akhirnya aku bisa keluar dari dalam rumah ini dan bergegas menyalakan motor.


Handphoneku berdering, sepertinya ada panggilan masuk. "Ya halo ada apa tan." ternyata yang menelphone adalah tante Evi, ibu dari Dimas.


"Hiks...hiks, Dit. Dimas... Dit."


"Ya Dimas kenapa tan?!"


"Dimas ditemukan sudah tidak bernyawa Dit, tubuh Dimas semuanya terpotong-potong, hiks.. " tutur tante Evi, seraya menangis tersedu-sedu, seketika air mataku tidak bisa menetes karna disisi lain aku memiliki keinginan kuat untuk mengungkapkan semuanya kepada polisi.


Panggilanpun terputus, aku memberanikan diriku memberitahu semuanya kepada polisi, semua kejahatan Rizky, tentang dia yang membunuh dengan menggunakan ilmu hitam dan lainnya sebagainya, semua kuceritakan kepada polisi. Polisipun melaksanakan tugasnya dengan bukti-bukti yang sudah kufoto menggunakan handphoneku, namun sialnya polisi terlambat untuk menangkap Rizky, karna Rizky sudah duluan kabur dari rumahnya, yang berarti Rizky telah menjadi buronan.


Aku kembali kedalam rumah Rizky, jenazah Rifa, serta jenazah anak-anak lainnya ditemukan di ruang bawah tanah, dan dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Ketika aku bersiap pulang karna hari semakin sore, tiba-tiba saja kulihat arwah Dimas, Agung, Rifa, dan juga Farhan yang melambaikan tangan kearahku seraya tersenyum, air mataku seketika menetes, ketika kulihat senyuman serta wajah Dimas untuk yang terakhir kali.


Aku pulang dengan perasaan sedih, dan berduka atas meninggalnya Dimas. "Dito, kemana saja kamu?" tanya ibu khawatir, dengan menungguku pulang di depan rumah.

__ADS_1


"Bu, Dimas bu." tuturku, kemudian ibu memelukku dengan erat


akhirnya mimpi terburukku menjadi kenyataan.


__ADS_2