Kelebihanku

Kelebihanku
#38•Malam Pertama Di Kostan


__ADS_3

《Mereka menyiksaku perlahan, ketika malam tiba aku kesulitan untuk tertidur, karna selalu dipandangngi oleh mereka. Pekerjaanku menjadi tehambat karna mereka, apa aku salah jika aku harus membenci mereka?》


"Oh ini kamarku." di dinding pintu tertera tiga angka, yaitu 009. "Terimakasih ya, sudah mengantarku ke kamar." tuturku berterimakasih kepada Fahmi.


Fahmi tersenyum. "Santai saja. Kamarku ada di sebelah sini, jika ada apa-apa kamu bisa ketuk dan panggil namaku saja." ujar Fahmi. Seraya menunjuk pintu kamar kostannya.


"Baiklah kalau begitu, aku masuk ya. Sampai jumpa." aku masuk kedalam kamar, yang memang kuncinya sudah tergantung di pintu. Kulihat kiri, kanan, serta sekeliling sudut ruang kamar kost. Dengan tembok yang bercat warna putih. "Tidak ada yang aneh, dari kamar kost ini. Bahkan di sepanjang lorong barusan, tidak terlihat begitu banyak sosok." gumamku pada diriku sendiri.


Mengeluarkan pakaian, dan juga barang-barang bawaan dari dalam koper. Tiba-tiba saja, ada panggilan masuk dari ibu. "Hallo bu, iya ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Ibu hanya merasa rindu kepadamu, bagaimana kamu sudah sampai di Jakarta?" tanya ibu.


"Iya bu. Dito sudah sampai di Jakarta, malahan Dito sudah sampai di kost-kostan."


"Benarkah?! bagaimana kost-kostannya? apa nyaman?"


***


Ketika aku sedang asik. Berbincang dengan ibu di telphone, tiba-tiba saja gagang pintu kamar seperti ada yang memainkan. Karna terdengar begitu jelas di kupingku. "Bu, Dito matikan ya panggilannya. Soalnya Dito ada urusan, kalau sudah selesai Dito telphone ibu kembali." izinku kepada ibu, ibupun mengiyakannya.


Seketika aku langsung bergegas menuju pintu. Sebenarnya siapa yang sudah memainkan pintu kamarku, kalau rusak bagaimana. Aku jugakan masih anak baru, masa susah kena masalah. "Maaf siapa ya!?" ketika kubuka pintu kamar, aku celingak-celinguk kebingungan. Kekiri dan kekanan mencari seseorang, namun anehnya di depan pintu kamarku tidak ada satu orangpun. Lorong kostan juga terlihat sepi tidak ada satupun orang yang berlalu-lalang. Mungkinkah hanya sugestiku saja?


Tanpa memikirkan kembali kejadian gagang pintu, aku tetap melanjutkan menyusun pakaianku kedalam lemari, serta mengeluarkan barang bawaanku dari dalam koper. Entah sudah berapa lama, Aku merapihkan semuanya. Namun ketika kulihat keluar jendela, langit sudah gelap. "Tab...tab..tab... " suara lari kini terdengar kembali.

__ADS_1


"Ah mungkin hanya orang yang baru pulang kerja." pikirku, karna aku merasa lapar. Akhirnya aku berinisiatif untuk membeli makan di luar.


Ketika aku keluar kamar, di lorong kost-kostan terlihat anak kecil yang sedang bermain kelereng. Bukannya kost-kostan di sini tidak menerima anak kecil dan perempuan ya? terus itu anak siapa "Hai adik, sedang apa di sini."


Tanpa jawaban, adik itu berlari semakin jauh ke dalam lorong. "Tap...tap...tap... "


"Dek, tunggu dek?!" bodohnya aku. Ketika aku malah mengikutinya berlari jauh masuk ke dalam lorong kost-kostan. Seketika tubuh adik itu menembus tembok kamar nomor 035. "Baiklah Dito, kamu salah seharusnya kamu tidak mengikutinya." gumamku, sambil berjalan mundur perlahan.


Karna aku lupa untuk membawa kacamata. Akhirnya aku memutuskan kembali kedalam kamar kost. Ketika aku ingin mengambil kacamata yang sebelumnya kuletakan di atas meja belajar. Tiba-tiba saja kacamatanya menghilang entah kemana, aku sangat mengingatnya walaupun aku lupa membawanya.


Setelah dua menitan. Aku mencari di setiap sudut kamar, aku menemukan kacamatanya tepat di bawah kolong kasur. Anehnya kenapa bisa ada di sana, mungkinkah karna terjatuh? aku tetap tidak memperdulikannya kembali. Dan keluar kamar kost untuk mencari makan di luar, di persimpangan jalan aku melihat pedagang nasi goreng. "Pak, pesan nasi gorengnya satu ya?" ucapku memesan.


"Baik dek, tunggu ya bapak buatkan." jawab singkat bapak penjual nasi goreng. Aku melihat cara bapak nasi goreng membuat pesananku, sangat ahli sekali. Tidak lama setelahnya, Fahmi datang menghampiriku.


"Dit sedang menunggu apa?" tanya Fahmi.


"Memang ada penjual nasi goreng. Di sekitaran sini? setauku tidak ada." kata Fahmi, dengan mengangkat satu alisnya.


"Kamu tidak lihat. Ini penjual nasi goreng." tuturku, seraya menunjuk gerobak nasi goreng yang berada di samping kananku. "Ha! kok tidak ada?! perasaan tadi benar ada kok bapak penjual nasi goreng, sekaligus gerobak nasi gorengnya." seruku terkejut ketika, gerobak dan juga bapak penjualnya menghilang entah kemana.


"Apa sih Dit. Kamu salah lihat kali, di persimpangan dan jalanan sekitaran sinih tuh tidak ada penjual. Yasudahlah kamu ikut saja denganku, aku juga sedang mau mencari makan untuk makan malam. Kalau mau. Kamu boleh ikut denganku." Fahmi berjalan ke arah kiri untuk mencari makan malam.


Kami berduapun akhirnya sampai, di ujung jalan. Dan benar saja ada begitu banyak terdapat pedagang penjual makanan di sini. "Dit, kamu ingin beli apa? aku kesana ya, aku ingin membeli soto." tutur Fahmi

__ADS_1


"Sepertinya aku tetap ingin membeli nasi goreng saja."


"Oh oke, baiklah berarti kita pisah ya. Kebanyakan penjual nasi goreng berada di sebelah kanan." ujar Fahmi, akupun mengiyakan ucapannya dan berjalan kearah kanan jalan. Kulihat seorang kakek-kakek penjual nasi goreng. Yang duduk termerenung, tidak seperti penjual nasi goreng lainya. Kakek-kakek ini belum ada sama sekali pembeli.


"Kek. Satu ya, di bungkus." seruku. Kemudian kakek-kakek tersebut tersenyum ramah kearahku.


"Tunggu ya, cu. Kakek buatnya lama karna sudah tua." ujar kakek penjual nasi goreng, yang membuatku menjadi lebih perihatin. "Sepertinya kakek, baru pertamakali melihat kamu di daerah sini? apa kamu baru datang dari suatu kota." tanya kakek penjual nasi goreng, padaku.


"Ah iya kek, saya baru datang dari Yogyakarta."


"Tinggal di mana kamu?" tanya kakek kembali.


"Saya tinggal di kost-kostan batu raya 5 nomor 12, kek." jawabku.


"Benarkah? Bukankah, kost-kostan itu baru saja kebakaran, apakah sudah kembali dibangun." tutur kakek. Aku sungguh tidak mengetahuinya kalau kost-kostan yang baru saja kutempati, ternyata baru mengalami kebakaran.


"Apa, kebakarannya menewaskan begitu banyak orang kek?" tanyaku memastikan.


"Tentu saja, ada begitu banyak korban jiwa. Bahkan teman kakek, ikut menjadi korban juga. Tidak ada yang terselamatkan, karna kejadiannya malam hari." kata kakek penjual nasi goreng, aku sedikit terkejut ketika kakek mengatakan kalau korban yang tewas cukup banyak. Namun anehnya aku tidak melihat satupun arwah yang bergentayang. Di dalam kost-kostan. "Ini nasi goreng pesananmu."


"Terimakasih banyak kek, ini uangnya."


Dengan pikiran yang masih, memikirkan ucapan dari kakek penjual nasi goreng. aku kembali ke kamar kost dan menyantap habis nasi gorengnya. "Hiks... hiks... tolong... tolong... " rintihan suara perempuan minta tolong. terdengar dari arah tembok samping kanan kamarku.

__ADS_1


Apa mungkin, asal suaranya berasal. dari kamar yang di maksut Fahmi. Pasti benar suara itu bukan suara manusia melainkan suara arwah gentayangan yang tidak tenang, aku berusaha untuk tidak memperdulikannya. Dan lebih memilih untuk tidur cepat karna besok kuliah akan dimulai, Aku memejamkan mataku dan tertidur.


"Uhh... uhkkk... " leher dan juga dadaku. Terasa begitu sesak hingga sulit untuk bernapas, ketika kubuka mataku. ternyata di atas tubuhku terdapat sosok perempuan menyeramkan, dengan tangan dinginnya yang mencekik leherku.


__ADS_2