
《Ketakutanku, membunuhku perlahan.》
Aku mencari tau asal sumber suara, dan benar saja suara orang mandi itu berada tepat di samping kamar mandi yang baru saja kugunakan. "Hai ada orang?" seruku untuk yang kedua kali, masih belum juga ada jawaban.
Suara guyuran kian terus terdengar jelas di kupingku. "Dit..!" terkejut aku ketika, Rizky tiba-tiba saja memanggil dari arah belakang. "Sudah selesai?" tanya Rizky.
"Ah iya sudah, yasudah aku duluan ya." pamitku meninggalkan Rizky.
Satu jam kemudian, akhirnya kita selesai melakukan olahraga bersama. Aku mendapatkan pemberitahuan dari panitia kalau kita semua akan pulang ke Yogyakarta nanti sore, tidak terasa sudah mau pulang saja.
Kegiatan selanjutnya adalah, mencari jejak. Perkelompok. Kami kembali di kumpulkan dan di beritahu tatacara mencari jejak. "Game selanjutnya adalah mencari jejak, di daerah sini terbagi menjadi enam pos, di setiap pos memiliki nama pos yang berbeda-beda. Ikuti petunjuk tanda panah berwarna merah, yang sudah tertempel di beberapa pohon." ujar panitia memberitahu kami.
Satu-persatu kelompok berjalan, melaksanakan misi game yang sudah diberitahu. Kini saatnya giliran kelompokku, Dimas, dan Rizky. Kami bertiga berjalan menyusuri pepohonan yang terdapat tanda panah berwarna merah.
Akhirnya kami tiba di pos satu.
__ADS_1
***
Selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya aku, Dimas, dan Rizky, sampai di pos terakhir. "Kalian kelompok berapa?" ucap kak panitia dengan wajah datarnya.
"Kami kelompok tujuh kak." jawab kami serentak.
"Bawa peta ini satu-satu, peta ini akan menunjukan jalan untuk kalian bertiga." tutur kak panitia dengan memberikan selembar kertas pada kami bertiga."
Karna arah peta serta petunjuk jalan, yang berbeda. Kami akhirnya memutuskan untuk berpisah sesuai arah peta masing-masing, aku ke arah barat, Dimas ke arah timur, dan Rizky ke arah utara hutan.
Aku bergegas mengejar Rizky dan Dimas. "Rizky!" panggilku membuat Rizky menoleh ke arahku.
"Ya ada apa, kok kamu mengikutiku bukannya arah peta kita berbeda?" tanya Rizky bingung.
"Dimas mana?"
__ADS_1
"Ya Dimas dan akukan beda arah, kamu juga. Ada apa memangnya?" seru Rizky bertanya kembali. Tiba-tiba saja kertas peta yang kita genggam berubah menjadi daun. "Ha!" Rizky terkejut sekaligus terheran-heran.
"Sudahlah jangan memikirkan itu dulu, yang terpenting kita cari Dimas sekarang!" ujarku.
Aku dan Rizky segera mencari Dimas, aku khawatir takut akan terjadi apa-apa dengannya. "Sepertinya itu Dimas." seru Rizky menunjuk arah pohon, yang berada di samping kiri.
"Iya benar, terlihat seperti Dimas." aku dan Rizky segera mengejarnya. "Dimas! Dimas!" panggilku, namun Dimas tidak meresponnya dan tetap terus berjalan.
sampai akhirnya Dimas berjalan dan sekarang berada di pinggir jurang. "Dimas!" teriakanku memanggil namanya terus kulontarkan.
Ketikaku sudah dekat dengannya, tubuh Dimas jatuh ke dalam jurang, namun tidak ada jejak atau suara dari jatuhnya Dimas ke jurang. Bahkan tubuhnya saja tidak terlihat di dalam jurang. "Sebenarnya masalah apa lagi ini, ya tuhan." gumamku dengan nada pasrah.
"Dit, Dimas mana Dit?" tanya Rizky panik.
"Tenang, tenang. Anggap saja tadi kita salah lihat, sekarang kita fokus kembali mencari Dimas." tuturku menenangkan Rizky yang sedang kepanikan.
__ADS_1