
《Jika kalian mau tau, sosok-sosok ghoib bisa menyerupai orang-orang terdekat kalian. Apa kalian sudah yakin orang yang kalian temui barusan adalah manusia?》
"Tunggu!" perintah perempuan itu, dengan membentakku untuk berhenti berjalan. Akupun memberhentikan langkahku mengikuti keinginannya. "Apa kamu benar-benar. Tidak ingin menjadi temanku?" tanyanya untuk yang kedua kalinya.
Aku hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya. Dan meninggalkannya di belakang, aku kembali melanjutkan kembali perjalananku menuju pulang kekostan. Untuk sampai di depan kost-kostan, aku harus melewati kuburan tua yang berada tepat di belakang kostan. "Bruk!"
"Ha. Apa itu?!" tuturku, seraya mengelus dada. Karna kaget. Dengan pikiran yang sudah mulai negatif, serta perasaan yang sudah mulai memunculkan aura-aura mistis di sekeliling tubuhku. Membuatku berpikir untuk mempercepat langkahku, agar sampai di kostan lebih cepat. Akhirnya aku sampai juga di depan kostan, dengan detak jantung yang terdengar begitu kencang. "Ha..hah...ha... barusan suara apa?! semoga bukan pocong jatuh deh." gumamku ketakutan.
Baru sampai, di lorong kostan. Mataku langsung disuguhkan dengan sesosok, genderuwo. Energiku benar-benar sudah habis, "Sudahlah, pura-pura tidak melihatnya saja." ucapku pada diriku sendiri. Belum sampai di dalam kamar kost, aku dipanggil oleh ibu kost yang kebetulan melihatku saat itu.
"Dito, anak yang baru ngekost ya." tutur ibu kost, seraya berjalan kearahku dengan mengandeng tangan anaknya.
"Ah iya bu, ada apa?"
"Ganteng banget kamu, bagaimana nyaman tidak tinggal di sini?" tanya ibu kost. "Ituh kenapa, kamu keringetan gituh?"
"Oh tadi saya memang lagi sedang kegerahan. Nyaman kok bu. Fasilitasnya juga lengkap." jawabku, berbohong. Mungkin bagi yang tidak bisa melihat mereka, tempat ini sangat nyaman untuk ditinggali. Tapi bagi diriku yang bisa melihat dan merasakan keberadaan mereka, menjadi derita bagi diriku sendiri. Ketika aku sedang berbincang dengan ibu kost, aku kembali terfokuskan kepada anaknya. Yang sedang berbicara dengan sesosok anak kecil.
"Ibu, maaf saya mau tanya. Ibu tau anaknya sedang berbicara dengan siapa?" tanyaku memastikan.
"Ini anak saya, memang suka berbicara dengan teman khayalannya." kata ibu kost, membuatku sedikit bingung. Sudah jelas sekali dari pandanganku, kalau anaknya memang bisa melihat mereka makhluk halus.
"Om... om lihat ke sana deh. Ada itam-itam." seru anak ibu kost, menunjuk arah sosok genderuwo yang berada di ujung lorong.
"Adek enggak boleh begitu ah, maaf ya Dito." celetuk ibu kost.
Aku menunduk, menyamai tinggi anak ibu kost. Dengan wajahku. "Hai adik, kamu pintar ya." tuturku sambil mengusap-usap kepala atasnya.
"Maaf bu jika saya kurang sopan. Sepertinya mata batin anak ibu terbuka, dia bisa melihat makhluk halus. Saya pikir lebih baik dari sekarang, mata batin anak ibu ditutup. Karna kalau masih kecil lebih mudah ditutup, ketimbang nanti sudah besar." ujarku kepada ibu kost.
__ADS_1
"Benarkah?! anak saya mempunyai mata batin?! jadi selama ini yang berbicara dengannya. Bukan teman khayalannya."
Akupun mengangguk pelan. Mengiyakan perkataan dari ibu kost. Semenit kemudian akhirnya aku selesai berbincang dengannya, dan masuk kedalam kamar kost. Setelah itu aku membersihkan diriku, dan bersiap untuk tidur. Tidak lupa membawa peniti pemberian nenek, untuk berjaga-jaga saja. Siapa tau sosok yang semalam akan datang kembali.
***
Sinar matahari, masuk kedalam sela-sela kamar kostku. Suara burung berkicau membangunkanku dari tidur pulas. "Hhhh... jam berapa sekarang?" tuturku, meraih handphone yang kutaruh di atas meja belajar. Untuk melihat jam berapa sekarang.
Dan sudah terlihat jelas. Sekarang sudah jam sembilan lewat lima puluh menit, yang berarti aku sudah telat masuk kuliah. Karna bagaimanapun aku masih mahasiswa baru, aku tetap harus datang walaupun telah telat lima menit. Sampainya aku di depan kelas. "Tok...tok...tok... "
"Masuk." jawab suara lelaki paruh baya, yang sepertinya ia adalah dosen, dari dalam kelas.
"Ah maaf, pak saya telat. Tadi macat di jalan." ucapku beralasan.
"Kamu masih mahasiswa baru, sudah telat. Bagi kalian semua jangan dicontoh ya! namamu siapa? biar saya absen."
"Dito pak, Dito Septian." jawabku gugup.
"Mengerti pak." jawab kami serentak.
Aku memasukan buku, serta alat tulisku kedalam tas ransel. Ketika semua orang sedang sibuk mencari anggota kelompok yang terdiri dari enam orang. Kurasa tidak akan ada yang mau sekelompok, dengan anak telat sepertiku. "Hai, kamu Ditokan. Mau tidak sekelompok dengan kita. Di dalam kelompokku ada tiga orang perempuan, dan dua orang laki-laki, kita butuh satu orang laki-laki lagi. Kamu maukan." ajak seorang perempuan, yang entah namanya siapa. "Oh iya perkenalkan. Namaku Shifa, kalau ini Nurmi, dan ini Cahya, kedua cowok ini Azam, dan Wisnu. Salam kenal ya, jadi bagaimana mau sekelompokkan dengan kami?"
Karna aku belum mendapatkan, kelompok. Lebih baik aku ikut dengan mereka saja. "Ah baiklah, saya mau." jawabku. Memutuskan sekelompok dengan mereka.
"Kerjakan tugas kelompoknya sekarang saja, biasanya lab kalau sudah sore. Sudah enggak ada yang pakai." ujar Azam, memberikan usul.
"Ya aku ngikut aja deh." celetuk Cahya.
"Iya aku juga." tutur Nurmi.
__ADS_1
"Yasudah kalau gituh, Shifa, Nurmi, dan Cahya buat surat izin. Penggunaan ruangan sana! terus berikan ke dosen yang lagi piket sekarang." ucap Wisnu.
"Lah. Terus yang cowok ngapain?"
"Ya kita, mempersiapkan bahan-bahannya lah. Mau cepat selesaikan tugasnya." kata Wisnu, sambil terkekeh.
Aku yang hanya, mengikuti kemauan mereka saja. Tanpa memberikan usul sedikitpun, ketiga perempuan itu keluar kelas dan aku mengikutinya. "Eh Dit, mau kemana? kita tunggu di sini saja. Mereka ingin membuat surat izin." kata Azam.
"Oh. Baiklah."
Kami bertiga. Aku, Azam, dan Wisnu. Menunggu para anak perempuan selesai membuat surat izin, di dalam kelas. "Dit, asli orang mana kamu? logatmu seperti ada logat jawanya." tanya Wisnu
"Aku asli orang Jogja Wis." jawabku, sambil melihat keluar jendela. Karna ada yang satu sosok yang mengintip.
"Semoga enggak sampe malem deh, nih tugas." seru Azam mendongak keatas.
"Memangnya kenapa kalau sampai malam?" tanyaku penasaran.
Wajah Azam menjadi serius. "Beredar kabar. Kalau kampus kita menjadi salah satu kampus terseram, tidak ada api jika tidak ada minyaknya. Tidak ada kabar jika tidak ada sumbernya. Apakah kalian pernah mendengar berita mahasiswi jatuh bunuh diri, dari lantai lima perpustakaan kampus? sampai sekarang belum ada yang tau apa penyebab dia terjatuh dari lantai lima. Dan kabar yang beredar sosok mahasiswi itu, sering terlihat ketika malam telah tiba. Hihihhi... "
"Halah, jangan dipercaya Dit. Itu hanya mitos, untuk menakut-nakuti para mahasiswa. Agar tidak berada di kampus hingga malam." ucap Wisnu tidak percaya, apa yang baru saja Azam ceritakan.
"Apa sosok mahasiswinya, menggunakan jaket biru, dan menggunakan celana jeans?" tanyaku memastikannya.
"Iya benar, kabar yang beredar seperti itu ciri-cirinya. Eh kok kamu bisa tau Dit?!" ucap Azam terkejut. "Karna dia jatuh. Dari lantai lima, semua badannya patah, wajahnya hancur, termasuk kepalanya yang hampir putus kekiri."
"Enggak. Kepalanya enggak ingin putus kekiri, tapi kekanan."
"Lah, kok kamu jadi yang lebih tau Dit." kata Wisnu bingung.
__ADS_1
"Iya. Memangnya kamu pernah lihat?" tanya Azam. Aku benar-benar sangat melihatnya, dengan jelas. Dia berada di belakang tubuh Azam dan Wisnu. "Wah... hahah... Dito kalau bercanda, mantep juga ya, hahaha... " seru Azam tertawa.
"Wayoloh.. lagi pada ngomongin apa nih?" celetuk Shifa yang baru saja datang, dengan sebuah surat yang dipegangnya. "Ayuk, kelab. Sudah di izinkan, Cahya dan Nurmi juga sudah berada di lab."