Kelebihanku

Kelebihanku
#23•Penunggu Curug


__ADS_3

《Hal terseram adalah, ketika kita memikirkan sesuatu yang tidak mungkin, menjadi mungkin. Contohnya kepala buntung yang kita pikir tidak mungkin ada, dan ternyata ada.》


Setelah Ikhsan mencoba mencari Riko kembali, tidak lama Dimas muncul ke permukaan dengan sangat panik. "Aku sudah mencari kemana-mana, tapi tubuh Riko tidak bisa aku temukan." tutur Dimas, muncul ke permukaan.


Seorang kakek-kakek muncul di sampingku. "Kalian salah, seharusnya kalian bersikap lebih sopan." ujar kakek itu seraya memandang ke arah curug.


"Maaf maksud kakek apa ya?" tanyaku tidak mengerti apa yang di maksud kakek yang berada di sampingku. "Kalau boleh tau kakek siapa ya."


"Dit! bicara sama siapa kamu?! fokus dululah jangan bikin kita semua tambah panik." seru Dimas. Kalau Dimas tidak melihatnya berarti kakek-kakek ini, seketika ketikaku menoleh kearah kakek yang berada di sampingku, kakek itu memperlihatkan wujud aslinya menjadi seekor siluman macan.


"Riko, ketemu. Riko ketemu!" Ikhsan menarik Riko kuat ke atas permukaan. "Rik! Rik bangun Rik!"


Riko tidak sadarkan diri, dengan cakaran panjang di pergelangan kakinya, serta kaos yang dia kenakan sudah setengah robek. Akhirnya karna langit sudah semakin mendung dan suara gemuruh terdengar, pertanda akan turunnya hujan, kami berfikir untuk beristirahat dan meneduh di rumah tua di atas bukit, sampai hujan reda dan juga sampai Riko sadar.

__ADS_1


Tidak mungkin bagi kita berempat untuk membawa Riko di bawah rintikan hujan deras, apa lagi jalanannya jika terkena hujan akan menjadi licin, serta jembatan tua yang kami lewati di bawahnya adalah arus sungai yang deras, kami tidak ingin mengambil resiko lebih.


"Dit kamu mengenakan sweater dengan dalaman kaoskan, berikan sweatermu untuk Riko dia kedinginan, dan coba kalian berdua cari sesuatu yang dapat menghangatkan dari dalam rumah ini." ujar Ikhsan memberikanku dan juga Rizky sebuah perintah untuk mencari benda yang dapat menghangatkan.


Aku melepaskan sweater yang aku kenakan dan kuberikan kepada Ikhsan, kemudian aku dan Rizky berjalan masuk kedalam rumah, mencari sesuatu yang dapat menghangatkan. "Dit kita berpencar saja, aku ke arah dapur, kamu ke arah kamar." kata Rizky, menunjuk ruangan di depan kita berdua yang sepertinya memang benar dapur.


Aku juga ingin mencari tau sebab, kenapa Riko bisa tenggelam, mungkin saja penyebabnya adalah makhluk halus "Oh yasudah." aku berjalan ke arah kamar, yang tertutup gorden putih panjang. "Ini wangi apa?" gumamku pada diri sendiri, karna tercium wewangian sangat menyengat. Ternyata berasal dari sebuah nampan di atas meja berukuran sedang yang berisikan beberapa hal, terlihat seperti sesajen, serta ada juga ayam hitam yang sudah mati dengan tusukan pisau di bagian leher.


Daerah sekitar curug ini, energinya benar-benar sangat kuat, termasuk rumah ini. Ketika aku mulai merasa kalau sosok di depan ruangan sedang memperhatikanku, aku tidak ingin mengganggunya atau berurusan dengannya, suara petir menyambar menambah aura mistis di dalam kamar ini, cakaran tembok mulai terdengar, bahkan tidak hanya itu terdengar suara benda yang bergeser.


Aku mempercepat langkahku untuk keluar dari kamar ini, dan untungnya ketika aku keluar, aku langsung bertemu dengan Rizky. "Dit, sudah mendapatkan yang bisa menghangatkan." ucap Rizky dengan membawa sebuah kain panjang berwarna putih dengan noda tanah, ku perhatikan seperti sebuah kain kafan.


"Rizky." panggilku.

__ADS_1


"Ya ada apa?"


"Bukannya itu kain kafan ya." seketika Rizky langsung melemparnya. "Riz sepertinya ada yang aneh dari rumah ini, enggak seharusnya kita main masuk saja." ujarku kepada Rizky, jujur di dalam rumah ini penuh dengan berbagai macam makhluk ghoib serta barang-barang aneh. "Kamu juga merasa mual dan pusingkan Riz?" tanyaku


"Iya aku sedikit, merasa pusing." jawab Rizky memegang palanya. "Tidak hanya itu aku juga merasa seperti ada yang memperhatikan."


Tanpa waktu yang lama akhirnya aku dan Rizky bergegas untuk keluar dari dalam rumah tua aneh ini. "Dit, Riz, kalian menemukan yang dapat menghangatkan?" tanya Dimas dari jauh.


"Ah maaf kita tidak mendapatkannya." jawabku seraya mendekat. "Rik kamu sudah sadar?" tanyaku menyapa Riko yang sedang duduk mematung.


"Riko ditarik setan curug, atau bisa dibilang penunggu curug, dia langsung bilang seperti itu ketika dia baru saja sadar." jelas Dimas.


"Pe... penunggu curug, sedang mencari tumbal!" ucap Riko terbata-bata dengan tatapan kosong. "Kita harus pergi dari sini secepatnya! sebelum ada korban yang akan menjadi tumbalnya." ucap Riko ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2