
《Kebanyak orang akan merasa takut jika melihat, mereka makhluk halus, namun sebagian manusia hanya akan bersikap tidak perduli, untuk menutupi ketakutannya.》
Aku, Dimas, dan Rizky, panik tidak ada yang bisa kami lakukan selain memanggil nama Riko berulang-ulang kali. "Riko! Riko!" aku menyusuri ke setiap sudut rumah, namun keberadaan Riko tetap tidak bisa kutemukan, hingga aku bertemu dengan seorang kakek-kakek, atau bisa di bilang dia adalah juru kunci curug ini. "Bukankah, kakek yang baru saja kutemui di curug tadi." seru memastikan.
"Iya benar anak muda, untung saja kamu bisa melihatku, mari kubantu kau mendapatkan temanmu kembali, sebelumnya perkenalkan aku adalah juru kunci curug ini, mari ikut denganku!" ucap kakek juru kunci curug.
Aku mengikutinya, yang mengarah ke arah luar rumah tua. "Dit, mau kemana kamu?" tanya Rizky, dan Dimas. Bingung melihatku keluar rumah dengan terburu-buru.
"Aku mau menyelamatkan Riko! kalian tunggulah disini." ujarku seraya meninggalkan mereka berdua yang berada di samping Ikhsan dengan keadaannya yang masih belum sadarkan diri.
Kakek juru kuncipun, berhenti di pinggir curug. Seketika aku langsung memberhentikan langkahku. "Hai anak muda, jika kau ingin menyelamatkan temanmu, makan jemputlah dia, di dunia ghoib curug ini, sebelum dua hari. Jika lebih dari dua hari dia belum juga muncul ke permukaan maka, tidak ada harapan bagi kalian untuk mendapatkan dia lagi." jelas kakek juru kunci curug, kepadaku.
Selang beberapa detik, Dimas berlari menyusulku. "Kenapa kamu disini? siapa yang menjaga Ikhsan?!" tanyaku.
"Rizky yang menjaga Ikhsan, aku juga ingin menyelamatkan Riko sahabatku." tutur Dimas yakin.
"Tidak!, yang bisa masuk kedalam dunia ghoib curug hanyalah satu orang." seru kakek penjaga curug. "Ritualnya akan di laksanakan sekarang!"
Aku memberitahu Dimas kalau yang bisa menyelamatkan Riko hanyalah aku seorang, dan dia tidak bisa membantu menyelamatkan Riko. Akupun mulai mempersiapkan ritual untuk masuk kedalam dunia ghoib curug, dan menyelamatkan Riko kembali, dengan mendengarkan saran serta ucapan dari kakek juru kunci curug.
__ADS_1
Aku membaringkan tubuhku di sebuah batu berukuran besar yang berada di pinggir curug, dengan tubuh yang terikat akar tumbuhan jalar.
"Dito, ingat kata-kata kakek, kakek tidak bisa untuk membantumu membawa temanmu balik, yang berarti kamu yang akan sendiri melawan sosok perempuan itu, kakek hanya bisa menjadi penyambung antara duniamu dengan dunia ghoib curug ini, beritahu temanmu yang berada di sampingmu, jika akar yang melilitmu terbakar maka usahakan untuk di siram mengunakan air curug, kalau akarnya terputus maka sambungkan kembali, yang bisa membantumu adalah temanmu." amanah kakek juru kunci, yang langsung kusampaikan kepada Dimas, Dimas mengangguk yakin dan berusaha untuk melakukan yang terbaik.
"Dan juga ingat dengan baik, waktumu tidak lama Dito!" ujar kakek memberitahuku. "Jika kamu gagal, maka kamu juga akan menjadi korban!"
Karna perintah kakek juru kunci curug, memerintahkan untuk memejamkan mata, serta meneteskan sedikit darahku, ke akar tumbuhan yang melilit tubuhku ini, aku dan Dimas segera melaksanakannya. "Kakek berharap kamu selamat." celetuk kakek, walaupun terdengar sedikit agak samar dari dalam alam bawah sadarku.
Aku memejamkan mataku, gelap. Perlahan setitik cahaya menyilaukan muncul, namun hanya sekelibat dan menghilang, gelap kembali terlihat, ruang hampa, tanpa suara yang hanya ada terdengar detak jantungku.
Tiba-tiba saja aku kembali terbangun. "Apa ritualnya gagal?" gumamku pada diri sendiri, kulihat kakek tersenyum ke arahku, namun anehnya Dimas sama sekali tidak menatap, tatapan mataku. Terkejut aku, ketika aku tersadar kalau rohku terpisah dari tubuhku. Bisa melihat tubuhku sendiri yang sedang terbaring, sama halnya seperti aku tidak sadarkan diri di sekolah waktu itu.
"Masuklah kedalam curug ini, sampai kamu menemukan jalan setapak, yang akan menuju langsung ke sarang tempat sosok perempuan itu menyimpan beberapa korban tumbal curug yang dia dapatkan." ujar kakek kepadaku.
Aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam goa, sebuah benda runcing melayang ke arahku. "Hihih... untuk apa kamu kesini, apa kamu ingin menjadi bagian dari kami? kalau begitu silahkan!!" sosok perempuan itu mendorongku, dan mengarahkan sebuah tusuk kondenya kearahku, tenaganya benar-benar sangat kuat. "Hihih.. kamu takut? aku belum ingin membunuhmu terlalu cepat, mari kita bersenang-senang." seru sosok perempuan itu dengan nada licik.
Sosok perempuan menyeramkan, menghilang entah kemana, aku mencoba melihat sekeliling namun tidak ada siapapun melainkan hanya sebuah kerangka manusia yang tergeletak, tidak lama. Ada seseorang yang mencekikku dari belekang, ternyata orang itu adalah Riko. "Rik, sa..dar Rik." ucapku menyadarkan Riko, Riko terlihat sangat mengenaskan, dengan cakaran di setiap bagian tubuhnya, bahkan badannya sangat dingin bagaikan mayat hidup.
"Rik, ayo ki...ta pul...ang." cekikan Riko semakin kuat, mau tidak mau aku harus melawan, ku dorong Riko hingga dia terjatuh, namun bagaimanapun sosok perempuan itu masih ada, dari arah belakangku dia mengarahkan tusukan kondenya kepadaku, aku langsung segera mengelak, agar tidak terkena. Namun pergelangan tangan kiriku terkena dan berdarah.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang pulang dari sini!" bentak sosok perempuan menyaramkan.
"Maaf jika aku menyakiti perasaanmu, maaf jika kamu tidak bisa menikahi kekasihmu, dan malah dibohongi, aku tau warga desa salah, jadi maafkanlah mereka untuk semua yang telah mereka lakukan kepadamu." tuturku menenanginya, dan meminta maaf atas perbuatan warga desa padanya.
Sosok perempuan itu terdiam, dan tersenyum. Kearahku, perlahan air matanya mulai menetes membasahi pipinya. "Mereka kejam, aku membenci mereka, mereka yang membuatku seperti ini."
"Tapi tidak semua orang salah, dan tidak semua orang mengharapkan kamu mati sebagai tumbal, jadi pergilah dengan tenang, dan maafkan semuanya, mungkin akan menjadi sulit untuk, tetapi ketika kamu mengikhlaskan semuanya dan pergi dengan tenang, maka kamu tidak akan sama dengan warga desa, dendam tidak akan menyelimuti dirimu."
Perlahan wujudnya berubah, rambutnya terkonde kembali, kuku panjangnya menghilang perlahan, wajahnya menjadi seperti semula. "Terimakasih kamu sudah menyadarkanku, terimakasih untuk perkataanmu."
Setelah menyadari semua hal, sosok perempuan itu menghilang bagai api disiram air, aku segera membopong Riko untuk keluar dari sini, setelah aku tersadar dan kembali ke tubuhku, namun Riko tidak ada. "Dito! bagaimana berhasil?!" tanya Dimas khawatir.
"Iya berhasil aku menyelamatkan Riko, tapi sekarang kenapa Riko tidak ada?" tanyaku bingung
"Tenang saja, temanmu akan muncul sebentar lagi." ujar kakek penjaga curug.
Dan benar saja, tidak lama tubuh Riko terlihat mengambang di air curug dan masih bernyawa. Dimas dan aku segera membawanya ke permukaan tanah, namun sebelumnya aku ingin berterimakasih kepada kakek yang telah membantuku menyelamatkan Riko.
Tapi ketika aku ingin mengucapkan terimakasihku padanya, kakek itu sudah menghilang entah kemana.
__ADS_1
Aku dan Dimas, membawa Riko kedalam rumah tua yang terdapat Rizky dan Ikhsan berada. "Ayo kita pulang." seru Dimas.
Kami akhirnya pulang, ke tempat perkemahan walaupun dengan jalanan yang cukup gelap dan kurangnya penerangan, kami tidak ingin mengambil resiko lebih untuk yang kedua kalinya berada di dekat curug ini.