
《Hal terbodoh yang pernah aku lakukan, adalah berfikir kalau mereka tidak ada di dunia, nyatanya mereka memang ada.》
Ketika kami sedang melakukan makan malam bersama, tiba-tiba saja satu orang peserta ada yang mengalami kerasukan, dan bergilir kebeberapa peserta lainnya. Suasana menjadi tidak terkendali, serta banyak para siswa atau peserta kemah yang berjatuhan tidak sadarkan diri, kehabisan energi. "Bagi kalian para peserta kemah, yang baik-baik saja. Segera bereskan dan rapihkan barang bawaan kalian, jika sudah selesai cepat masukan kedalam bagasi bis! kita akan pulang sekarang." ujar salah satu panitia kepada kami para siswa, yang masih baik-baik saja.
"Dit, mari balik ketenda, segera rapihkan barang-barang." ajak Rizky, aku hanya terdiam dengan pandangan ke depan atau bisa dibilang aku sedang melamun. "Dito!" Rizky membuatku seketika tersadar.
"Ah ya, ada apa?"
"Hai, fokuslah Dit. Mari ketenda, membereskan barang-barang bawaan kita." tutur Rizky.
"Ta-pi, bagaimana dengan Dimas?" tanyaku bingung. "Aku akan tetap berada di sini, sebelum Dimas ditemukan."
"Dit, para panitia sudah memerintahkan kita untuk bersiap pulang. Dimas pasti akan ditemukan, para petugas penyelamat juga sudah terjun kelokasi, untuk mencari Dimas." ujar Rizky, dipikir-pikir ucapan Rizky juga ada benarnya. Tetapi tetap saja perasaanku tidak rela jika harus pulang tanpa Dimas.
Dengan berat hati, aku berkemas merapihkan semua barang-barangku dan juga barang bawaan Dimas dengan rasa sedih, kecewa, khawatir, takut, bercampuraduk menjadi satu. Karna barang bawaan di dalam tenda tidak banyak, hanya ada barangku, Dimas, dan juga Rizky, jadi kami cepat untuk merapihkan serta melipat tendanya.
__ADS_1
Perasaanku tidak ikhlas untuk meninggalkan hutan kemah ini, karna Dimas belum juga ditemukan.
***
Kami akhirnya pulang menuju Yogyakarta, beberapa panitia serta pembina, ada yang menetap di Alas Purwo, dan tetap melanjutkan pencarian Dimas. Tadinya aku juga masih ingin menetap di sana, untuk mencari Dimas. Namun panitia serta pembina melarangku untuk berada di sana, dan malah menyuruhku untuk pulang ke Yogyakarta.
Di sepanjang perjalan, menuju Jogja. Aku hanya diam menatap keluar jendela bis. "Dit jangan sedih seperti itu." ucap Rizky yang berada duduk di sampingku.
Selama kurang lebih tiga jam akhirnya kami, berhenti di sebuah tempat rest area. Aku tidak berniat untuk keluar dari dalam bis, Rizky sudah memaksaku untuk keluar bis namun, rasanya tidak ada yang perlu aku lakukan selain memikirkan keadaan Dimas sekarang.
Rest area ini seperti rest area terbengkalai. Bahkan jika diperhatikan dengan benar, di rest area sini hanya ada tiga bis, itupun bis sekolahku, tidak ada bis lainnya. Ataupun satu, dua mobil yang terlihat.
"Hai Tania, main apa?" gadis kecil ini benar-benar sangat lucu dan menggemaskan. "Tania bermain dengan siapa?"
"Tania sedang bermain petak umpet, sama mama, ikut main yuk." ajak Tania, akupun mengiyakan ajakannya, menurutku tidak ada salahnya jika bermain sebentar dengannya, lagipula aku bisa sejenak menjernihkan pikiranku karna asik bermain dengan gadis selucu Tania.
__ADS_1
"Kak mengumpat di sana." celetuk Tania, dengan menunjuk sebuah mobil berwarna silver yang terparkir di samping bis nomor tiga paling pojok.
"Aku kira tidak ada mobil lainnya." gumamku dalam hati.
Aku dan Tania mengumpat di samping sebuah mobil berwarna silver. "Tania, di mana mama kamu?" tanyaku pada Tania yang sedang was-was melihat kiri dan kanan. "Itu boneka apa, warnanya merah sekali." tiba-tiba saja aku terfokuskan ke sebuah boneka yang dipeluk oleh Tania.
"Mama Tania sedang memperhatikan kita, kakak diam nanti mama bisa dengar."
"Jawab kakak dulu, itu bonekanya sangat terang sekali warnanya, apa kamu suka warna merah?" tuturku.
Tidak lama, setelah aku berbicara. Tania berlari ke arah jalan raya yang sedang ramai dengan lalu lalang mobil serta bis dengan kecepatan penuh, wajar sih karna rest area ini berada di dalam jalan tol. "Tania jangan berlari kesana!?" teriakku mengejarnya. Namun. "Brak...!" Tania tertabrak truk berukuran besar dari arah kiri.
"Taniaaa...!" aku melihat dengan jelas, bagaimana Tania tertabrak di depan mataku.
"Ih kakak jangan berisik, nanti mama dengar." seketika aku terkejut ketika Tania berada tepat di sampingku, dengan wujud aslinya.
__ADS_1
Aku menjauh dari Tania, sekarang Tania bersama dengan mamanya yang sedang menggandeng tangan Tania, seraya tersenyum ke arahku.
Ternyata Tania dan mamanya adalah arwah tabrak lari, yang terjadi tiga tahun lalu, di rest area ini. Aku mengetahuinya dari satpam penjaga rest area ini.