Kelebihanku

Kelebihanku
#42•Tanah Kuburan


__ADS_3

《Seseram apa sih mereka? tutup matamu, bayangkan apa yang menurutmu sangat menyeramkan. Jika sudah, bayangkan jika disetiap waktumu, kamu akan selalu melihatnya. Itulah yang aku rasakan.》


"Ah kalian, berempat lama sekali datangnya." celetuk Cahya.


"Iya-iya maaf deh." jawab Shifa.


Aku berkeliling lab. Melihat-lihat peralatan yang ada di lab, namun mataku kembali melihat hal. Yang tidak ingin kulihat, apa lagi kalau bukan sesosok makhluk halus tanpa kepala. Yang berada di pojok sudut ruang lab. "Aaa...!"


"Woi Dit, kenapa?!" tanya Wisnu. Terkejut.


"Tidak. Tidak apa-apa, maaf ya semua." tuturku meminta maaf, karna telah membuat mereka terkejut.


Kami berenampun akhirnya bersiap. Untuk memulai mengerjakan tugas, dan membagi-baginya. Agar tugasnya cepat untuk selesai, aku mendapatkan tugas dokumenter. Sebagai bukti kalau kita mengerjakan tugasnya bersama-sama, Azam dan Wisnu yang bertugas menyiapkan peralatan, Cahya, Nurmi, dan Shifa. bertugas meracik percobaan penyubur tanamannya. "Wis, Zam. ambil tanah sana! kan kalian berdua yang bertugas, menyiapkan semua peralatannya. Kita butuh nih buat tumbuhannya." ujar Shifa meperintahkan, Azam dan Wisnu. Mereka berdua keluar lab untuk mengambil tanah entah di mana.


Karna aku merasa canggung, dikarenakan cowok sendiri. Akupun menyusul Azam, dan Wisnu untuk ikut mereka berdua mengambil tanah. "Azam, Wisnu tunggu!" teriakku memanggil nama mereka.


"Oi Dit. Kenapa ikut? yang foto-fotoin mereka siapa?" tanya Azam.


"Ya aku enggak enaklah, masa aku cowok sendiri di sana. Nurmi yang menggantikanku." jawabku.


Kami bertiga, turun kelantai bawah kampus. Untuk mencari tanah, sampainya kami di luar kampus. Aku kira akan mudah mendapatkannya, namun ketika di lihat semua sudah teraspal. Tidak ada tanah di sekitaran kampus, ketika kami ingin meminta sedikit tanah di tanaman-tanaman sekitar kampus, kami malah kena omelan. Dan dilarang untuk mengambilnya.


Dengan terpaksa. Kami bertiga harus mencari tanah di luar area kampus. "Bagaimana ini?" tanya Wisnu. Dengan raut wajah bingung.


"Aku punya ide, ayuk naik kemobilku." ucap Azam, berjalan keparkiran mobil. Mengajakku dan Wisnu untuk naik kemobilnya.


Kamipun pergi, dari kampus menggunakan mobil Azam. Jika dilihat dari arah jalannya, sepertinya sudah tidak asing bagiku. "Mau kemana sih kita?" tanya Wisnu, kebingungan. "Jangan jauh-jauh deh, nanti Shifa marah lagi. Kalau kita kelamaan." ujar Wisnu panik.


"Iya-iya, sudah santai saja."


Mobil Azam berhenti. Di sebuah gapura bertuliskan 'tempat pemahkaman umum' yang pastinya pemahkaman ini adalah pemahkaman tua yang berada di belakang kostanku. Azampun turun dari mobilnya, yang otomatis aku dan Wisnu langsung ikut turun juga dari mobilnya. "Eh Zam, jangan bilang kamu mau mengambil tanah dari sini." seru Wisnu.

__ADS_1


"Kalau iya memang kenapa! hanya mengambil tanahnya sedikit, enggak masalahkan, lagipula sudah mau malam. Enggak akan ada yang lihat, Shifa juga enggak akan marah-marah jadinya." jawab Azam kesal. "Tanah kuburan, juga bagus untuk percobaan, Dit nih ambil sana tanahnya!" perintah Azam kepadaku. Seraya memberikan kantung kresek hitam kearahku, akupun hanya diam. Tidak mengambil kantung kresek dari tangan Azam. "Jadi tidak ada yang ingin mau mengambilnya?! yasudah kalau begitu biar aku saja yang akan mengambilnya." Azam berjalan memasuki pemahkaman, sudah pasti ada begitu banyak sosok di sana. Dari luar saja aku melihat sesosok hitam besar sekali, melebihi tinggi pohon beringin yang ada di sana.


Wisnu berlari, menyusul Azam. "Zam! kamu serius mau mengambil tanahnya di sini? kalau terjadi apa-apa bagaimana? kita cari tempat lain sajalah." ujar Wisnu.


Akupun ikut berlari. Menghampiri Azam dan Wisnu, yang sudah berdebat. "Zam, Wis. Sudah jangan ribut di sini, enggak enak. Inikan pemahkaman masa kalian ribut di sini, aku juga punya usul. Di dekat sini ada taman, bagaimana jika mengambil tanahnya di sana saja." usulku kepada mereka berdua.


"Ah kalian berdua, ribet." Azam mengambil segumpal tanah. dengan menggunakan tangannya, dari sebuah kuburan tua yang terlihat sudah tidak terurus. "Sudah, ayuk naik kemobil. Bereskan semua?! jadinya tanpa harus berdebat panjang lebar lagi." celetuk Azam seraya tersenyum santai.


Aku, Wisnu, dan Azam. Kembali masuk kedalam mobilnya, kulihat wajah Wisnu yang cemberut. Azam melajukan mobilnya menuju kampus, di perjalanan menuju kampus. Tidak adahal yang terjadi, hanya saja Wisnu dan Azam tidak berbicara satu sama lain. Hal hasil mobil hening tanpa suara. Aku yang duduk sendirian di bagian tengah, tiba-tiba saja mencium aroma busuk dari dalam mobil Azam. "Maaf, apa kalian berdua mencium aroma busuk?" tanyaku memastikannya pada Azam dan Wisnu.


"Enggak ah, kemarin pewangi mobilnya baru saja dibeli kok." jawab Azam membantah, pertanyaanku.


"Yang punya, tanah kuburannya ngikutin kali. Enggak terima tanah kuburannya di ambil." celetuk Wisnu.


"Wis, kalau ngomong dijaga dong. Kalau beneran bagaimana." ujar Azam tidak terima.


"Yasudah, aku hanya tanya. Kenapa kalian malah jadi berantam." tuturku.


"Zam! sekarang bukan waktunya untuk bercanda! fokuslah menyetir. Shifa, Nurmi, dan Cahya sedang menunggu kita." cetus Wisnu marah.


"Tapi tadi aku, benar-benar serius! barusan ada pocong! Di sana!" kata Azam, menunjuk jalanan yang sepi tanpa seorangpun.


Jujur aku tidak, melihat apa yang baru saja dilihat oleh Azam. "Mungkin hanya sugestimu saja kali Zam." tuturku.


Azam kembali melajukan, mobilnya. Kami bertigapun akhirnya sampai di parkiran kampus. Dan langsung menuju lab, untuk memberikan tanahnya kepada Shifa, dan yang lainnya.


***


"Inih! tanahnya." Azam memberikan kantung kresek hitam. Berisikan tanah kuburan kepada Shifa.


"Kok kalian lama sekali! padahal hanya mengambil tanahnya. Terus Wisnu kenapa, wajahnya masam begitu?" tanya Cahya.

__ADS_1


"Tau tuh dia." jawab Azam cetus.


Aku kembali melakukan tugas, dokumenterku. Aku merekam shifa yang sedang membuka, kantung kreseknya. "Aaa...!!" Shifa ketakutan setengah mati, dan menjauh dari kantung kreseknya.


"Shif, Shif kamu kenapa?!" tanyaku mendekat kearahnya.


"Dit, Dit. Tadi di sana ada belatung banyak banget, terus seperti ada darah-darahnya." tutur Shifa ketakutan.


Aku memeriksa kantung kreseknya, namun setelah kuperiksa tidak ada apa-apa di sana. Hanya tanah biasa. "Tidak ada apa-apa, Shif." kataku menenangkannya, dan menunjukan kantung kreseknya kepada Shifa.


"Shifa, bohong kali biar enggak tugas dia." celetuk Azam. Meledek Shifa.


"Ih enggak ya, orang tadi aku benar-benar melihat belatung dan darah."


Wisnu mendekat. "Ituhkan tanah kuburan. Mungkin yang dilihat Shifa memang benar, itu sudah menjadi pertanda kalau. Tanah kuburan itu tidak boleh digunakan." ujar Wisnu.


"Apa! ini tanah kuburan!" seru Shifa, tidak percaya.


"Hari sudah semakin malam. Kalian semua ingin tugas ini cepat selesaikan! tidak perlu mementingkan itu lagi sekarang." ujar Azam.


Kami berlima, hanya terdiam. Tanpa membantah ataupun menjawab ucapan Azam, ketika Shifa ingin mengeluarkan tanahnya, dari dalam kantung kresek. Sesosok pocong tiba-tiba saja berada di belakang Shifa. "Shif!" aku memberhentikan tangan Shifa, untuk mengeluarkan tanah dari dalam kantung kresek. "Jangan digunakan tanahnya." ujarku.


"Apa lagi sih, Dito. Jangan ganggu Shifa." ucap Azam memarahiku. "Lanjut Shif, keburu malam nanti selesainya." tutur Azam.


Sosok pocong, tetap berada di belakang tubuh Shifa. Jujur aku benar-benar sangat ketakutan sekarang, bahkan untuk memfotopun aku sangat kesulitan karna tanganku gemetar ketakutan. "Dit, kamu mencium aroma busuk tidak?" tanya Shifa, mencium aroma busuk, dari sosok pocong yang berada di belakangnya.


"Emm... tidak." jawabku berbohong.



Dukung KELEBIHANKU. dengan Vote, Like, dan komen ya... terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2