Kelebihanku

Kelebihanku
#28•Berbagai Macam Sosok


__ADS_3

《mereka nyata, dan mereka memang, benar-benar ada.》


Langkahku terhenti, ketika kulihat di depan mataku terdapat sesosok tinggi, dengan menatapku tajam dari arah depan.



Aku memejamkan mataku, berharap sosok itu akan menghilang dari hadapanku. "Hussss... " terdengar angin lewat di kupingku, perasaanku mulai tidak enak akan hal ini. "Pergi! pergiiii....!" seru seseorang menyuruhku pergi. Seketika badanku kaku, bagaikan di ikat dengan kuat.


Tidak berani untukku membuka mataku, harapanku sosok itu dapat segera pergi menghilang dari hadapanku. "Tap!" ada yang menepuk pundakku dengan kuat


"Aaa...! tolong pergi, aku tidak mengganggu. Tolong pergi!"


"Dito! ini aku Dimas, kamu kenapa malam-malam ginih malah masuk kedalam hutan, sendirian lagih." ucap syukurku ternyata yang menepuk pundakku adalah Dimas. "Terus kenapa kamu ketakutan gituh?"


"Ta...di ada sosok, di...sana." jawabku terbata-bata, dengan menunjuk letak sosok yang barusan berada.


"Mana? tidak ada apa-apa di sana." Dimas mencari keberadaan sosok yang aku maksud, namun sayangnya sosok itu telah menghilang. "Sudahlah kembali saja ke tenda, keburu dicariin sama kak panitia nanti."


Dengan perasaan yang masih ketakutan, aku kembali ke tenda dan bergegas tidur, setidaknya aku bisa melupakan hal yang baru saja terjadi padaku. Aku ingin bercerita tentang apa yang baru saja kualami tadi kepada Dimas, tapi aku rasa Dimas tidak akan percaya. Sebelum dia melihatnya sendiri, kalaupun dia percaya pastinya dia yang akan lebih ketakutan.

__ADS_1


***


Di sela-sela ngantukku, tiba-tiba saja aku terbangun dari tidur. Kulihat Dimas, dan Rizky yang sedang tertidur pulas di samping kanan dan kiriku. Udara dingin menusuk-nusuk tubuhku, mungkin karna ini di hutan jadi udaranya sangat sejuk, sekaligus dingin. "Ini jam berapa ya?" tanyaku pada diri sendiri.


Kuraih handphoneku yang ku geletakan di samping tas ranselku. Terlihat jam di handphone ternyata masih pukul dua malam, rasa haus tiba-tiba saja terasa di tenggorokanku. Aku mengambil jaketku dan senter, bersiap mencari air yang bisa menghilangkan dahagaku, mungkin saja masih ada panitia yang berjaga-jaga di sekitar area tenda.


Kukeluar dari tenda, melihat sekeliling, kiri dan kanan tidak ada seorangpun yang terlihat, mungkin saja semua panitia berada di depan tenda panitia, aku berjalan menuju tenda panitia, namun langkahku terhenti, kulihat satu orang panitia dengan menggunakan rompi khusus untuk para panitia, syukurlah jadi aku tidak perlu terlalu jauh meninggalkan tenda. "Permisi kak, maaf mengganggu. Saya haus, kebetulan air yang saya bawa habis, kalau boleh, saya boleh minta sedikit air?" tanyaku meminta izin kepada panitia, yang sedang duduk di atas batang pohon besar.


Kakak panitia menoleh kearahku, hampir saja aku pingsan di tempat. Hantu berwajah datar, menampakan dirinya, dengan menyamar menjadi seorang panitia. Aku berlari sekuat tenaga tanpa memikirkan apapun, dahagaku menghilang seketika, terganti menjadi rasa takut, tanpa memperdulikan apapun aku berlari masuk kedalam tenda. Dan langsung menyelip di antara Dimas dan Rizky.


"Auu... Dit, kenapa sih kamu? sakit tau." celetuk Dimas memegang jari tangannya yang tidak sengaja terinjak kakiku.


***


Matahari terbit, cahayanya masuk ke dalam sela-sela tenda, terdengar suara panitia. "Bangun! bangun!" ujar suara panitia membangunkan para peserta.


"Dit... bangun Dit." terdengan suara Dimas membangunkanku dengan mengoyang-goyangkan badanku dengan tangannya.


Aku memelekkan mata, antara tidur dan tidak. "Dimas, kamu duluan saja sana keluar! aku masih mengantuk." jawabku setengah sadar.

__ADS_1


"Dit, ini bukan di rumah. Cepat bangun, panitia sudah marah-marah."


"Iya-iya, aku bangun." Berusaha memelekan mata, aku menjadi seperti ini di karenakan tadi malam. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karna terbayang akan sosok hantu muka datar.


"Hai kalian yang di dalam! mau saya hukum!" bentak kakak panitia kepada kami. "Cepat kenakan pakaian olahraga kalian!" perintah kakak panitia kepada kami.


"Iya kak." jawab kami serentak.


"Dimas, Rizky. Aku duluan ya, mau mandi soalnya keburu ramai." pamitku meninggalkan Dimas dan Rizky.


"Sudah bangun terakhir, mandi maunya yang pertama dasar Dito." celetuk Rizky, yang membuatku terkekeh.


Aku masuk kedalam kamar mandi, jujur selama satu hari di perkemahan Alas Purwo, baru kali ini aku masuk dan menggunakan kamar mandinya. Terlihat ada sepuluh ruang kamar mandi terpisah,dengan berhadap-hadapan. Lima di kiri, lima di kanan. Aku memilih ruang kamar mandi kiri, di bagian paling tengah.


Aku mulai membuka bajuku, dan menguyur seluruh badanku dengan air, rasa lelahku menghilang bersamaan dengan air yang mengalir. Langkah kaki terdengar, masuk kedalam ruang kamar mandi di sebelahku. "Brak...!" suara pintu kamar mandi, terbanting.


"Dimas... Rizky... " mungkin saja yang baru masuk tadi, Dimas, atau Rizky.


Tidak ada jawaban, oh mungkin hanya angin. Aku mempercepat mandiku dan mengenakan seragam olahragaku. Selesainya, aku bergegas keluar kamar mandi. Terdengar seperti ada seseorang yang mandi. "Ada orang?" seruku memastikan, seingatku kelompok yang terakhir bangun dan mandi hanyalah tinggal kelompokku.

__ADS_1


__ADS_2