Kelebihanku

Kelebihanku
#33•Kebetulan yang aneh


__ADS_3

《Energi positif dan negatif, aku cukup menyayangkan ketika ada sesosok makhluk halus yang di gunakan untuk kepentingan duniawi sehingga, energinya menjadi negatif.》


"Hai Dit, kenapa kamu? kok pucat?" ucap Rizky, yang berjalan dari kantin rest area. Menghampiriku yang sedang duduk di pos penjaga, atau pos satpam dekat dengan pom bensin.


"Ah tidak." jawabku singkat. "Yasudah mari masuk kembali kedalam bis, sepertinya sudah mau berangkat." ajakku kepada Rizky.


Aku kembali kedalam bis, bispun akhirnya melanjutkan perjalanan kembali keYogyakarta. Kulihat Tania dan juga mamanya yang melambaikan tangannya ke arahku, seraya tersenyum. Mungkin itu salam perpisahan mereka untukku, harapanku Tania dan mamanya dapat tenang, dan tidak lagi menjadi arwah gentayangan yang tidak tenang.


"Dit, sedang melihat apa? kok serius sekali." celetuk Rizky.


"Tidak, bukan apa-apa."


***


Arah pulang lebih lama, dari pada arah menuju Alas Purwo waktu itu, sudah empat rest area kami kunjungi, sampai akhirnya kami tiba di depan gerbang sekolah. Kulihat beberapa orangtua telah menunggu kepulangan anak-anak mereka. Sudah kupastikan ayah dan ibu tidak akan menjemputku, karna mereka sibuk dengan bisnis masing-masing.


Semua anak sudah diperbolehkan turun dari bis dan mengeluarkan barang dari bagasi. "Dito, sayang!" suara yang tidak asing, memanggilku. Ternyata setelah kulihat, ibu yang memanggilku.

__ADS_1


"Ibu jangan memanggilku seperti itu, Dito malu. Di lihat teman-teman Dito." ujarku melarang ibu.


"Iya-iya, yasudah ayuk pulang. Ayah sudah menunggu di rumah."


Di dalam mobil, ibu hanya fokus memandangi jalanan. Tanpa satu pertanyaanpun yang terucap dari mulutnya. "Bu, ibu tau kalau Dimas menghilang?"


"Ya ibu sudah tau."


"Kalau ibu sudah tau, kenapa wajah serta gerak-gerik ibu biasa saja, Dimaskan keponakaan ibu." seru kepada ibu yang sedang menyetir.


"Oh baiklah, bu Dito tidur ya." pintaku kepada ibu.


Ibupun mengiyakan permintaanku, selama perjalanan aku tertidur dengan pulas. Mimpi yang sama kembali terulang kepadaku, mimpi yang sama seperti saat ketika aku melihat kepala Dimas menggeliding kearahku. "Dito, bangun nak." ucap ibu membangunkanku, tak terasa akhirnya aku dan ibu sudah sampai di depan rumah.


Dengan nyawa yang masih setengah terkumpul, aku keluar dari mobil dan menuju kamar langsung. "Dito..! mandi dan ganti pakaianmu dulu, setelah itu turun ke bawah bantu ibu menyiapkan makan malam" perintah ibu yang ku balas.


"Iya bu, Dito mandi, setelah mandi Dito bakalan bantu ibu." jawabku, dari dalam kamar.

__ADS_1


Aku masih melihat kuntilanak yang berada di dalam kamar mandiku, namun aku berusaha untuk tidak memperdulikannya, dan memilih untuk fokus ke tujuanku berada di kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, aku turun kebawah menuju ruang makan. Kulihat ayah yang sedang menggunakan laptopnya di atas meja makan, ibu yang sedang memasak makanan di atas kompor. "Hai Dit, apa kabar?" perkataan yang ku dengar pertama kali dari mulut ayah, setelah beberapa bulan tidak melihatnya.


"Baik yah." namun akhirnya pembicaraan singkat kami berakhirnya hanya sampai disitu, karna ayah sangat fokus dengan pekerjaannya.


Ibu akhirnya selesai memasak, di sela-sela kami bertiga menyantap makan malam, ibu mengatakan sebuah informasi yang membuatku benar-benar terkejut. "Dit, apa kamu sudah dengar, kalau Farhan, Rifa, dan agung, teman SMP kamu, dikabarkan menghilang. Ibu mendengarnya dari orangtua mereka langsung, kamu harus hati-hati Dit, sudah banyak penculikan sekarang." himbau ibu, menghimbauku untuk berjaga-jaga.


Bagaimana bisa secara kebetulan, Rifa, Dimas, Agung, dan Farhan. Menghilang secara bersamaan. Apa lagi mereka berempat memiliki hubungan persahabatan waktu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. "Bukannya sedikit agak aneh ya." celetukku tiba-tiba.


"Ha apa Dit?" tanya ibu mendengar ucapanku.


"Ah enggak bu."


Selesainya makan malam, aku kembali ke dalam kamar, jujur aku mulai terbiasa dengan mereka, dengan aku yang bersikap biasa saja, tanpa takut yang berlebihan, dan berperilaku seperti manusia normal pada umumnya. Secara tidak langsung aku mulai terbiasa dengan kelebihanku ini.


Badanku terasa remuk semua, untungnya selama seminggu sekolah di liburkan.

__ADS_1


__ADS_2