Kelebihanku

Kelebihanku
#31•Mimpi Buruk


__ADS_3

《Jangan pernah bermain-main dengan mereka, karena mereka bisa kejam, dan juga menyeramkan.》


Tetesan air jatuh, mengenai wajahku. Entah sudah berapa lama aku terkapar tidak sadarkan diri di sini, namun kulihat sosok yang barusan mengejarku sudah tidak terlihat lagi.


Dengan mata serta, kepala yang masih agak sempoyongan aku berusaha untuk kembali ke tempat kemah, karna langit sudah semakin mendung dan gerimis air sudah mulai mengenai pakaianku, pertanda sebentar lagi akan turunnya hujan. "Dito, kemana saja kamu?! anak-anak semuanya sedang sibuk mencari kamu dan Dimas, aku kira kamu juga menghilang." tutur Rizky khawatir. "Mari aku bantu." Rizky membopongku di pundaknya, membawaku ke dalam tenda untuk segera beristirahat.


"Apa masih belum, ada tanda keberadaan Dimas?" tanyaku dengan harapan Dimas akan segera ditemukan.


"Belum, para panitia dan pembina sudah menelphone bantuan polisi, dan timsar. Kami juga sudah menelphone Orangtua dari Dimas." jelas Rizky membuatku semakin tidak tenang akan keadaan Dimas.


Rizky keluar tenda, meninggalkanku sendirian di dalam tenda. Aku memutuskan untuk tertidur sebentar, agar segera pulih. Dan kembali mencari Dimas.


***


Aku sedang berdiri di sebuah hutan. Gelap sekali. Terasa sangat dingin, dan hampa. Dari arah kegelapan terasa ada seseorang yang mendekat ke arahku seraya memanggil namaku. "Dito, Dito Septian." rintihan suara memanggil namaku dengan jelas, namun suaranya seperti aku kenal.

__ADS_1


Suara yang tidak asing di pendengaranku, serta langkah kaki mendekat ke arahku. Rasa penasaranku semakin menggebu-gebu. Langkah kaki itu terhenti, entah karna apa. "Siapa kamu?" rasa penasaranku, membuatku melontarkan sebuah pertanyaan.


"Selamatkan aku, di sini dingin dan juga menyeramkan." perlahan wajahnya terlihat, dan ternyata itu Dimas.


"Dimas!" teriakku tidak percaya apa yang kulihat di hadapanku. "Dimas, mari kita pulang. Kita akan bermain game bersama lagi?" aku melangkahkan kakiku, menghampiri Dimas. Namun kedua kakiku terasa sangat berat untuk ku langkahkan kedepan.


"Aku kesepian di sini. Dan juga sangat dingin." tutur Dimas.


"Yasudah masi kita pulang."


"Tentu saja bisa, kita akan pulang hari ini." jawabku dengan rasa sangat senang, akhirnya Dimas bisa aku temukan.


Tiba-tiba saja tangan berukuran besar, memegang kepala Dimas, dan menariknya ke belakang ke dalam kegelapan. "Dimas!" aku ingin menyelamatkannya namun kakiku terasa sangat sulit untuk digerakan. "Dimasssss..!"


Mataku terasa berkunang-kunang, dan seperti berputar. Aku memperhatikan sekelilingku, berharap ada seseorang yang akan menolong Dimas. "Dimas!" air mataku menetes, bukannya aku cengeng. Namun usahaku menyelamatkannya hanya sebatas memanggil namanya.

__ADS_1


Dari kegelapan terlihat, sebuah benda bulat menggelinding ke arahku. "Apa itu?" gumamku. "Aaaa...! Dimasss...!" teriakku seketika terkejut, ketika benda bulat tersebut ternyata kepala Dimas. "Dimas!!"


"Hai, Dit sadar." seru Rizky berada di sampingku.


"Huh.. syukurlah ternyata hanya mimpi."


"Mari makan malam." ajak Rizky.


"Hah makan malam!" Celetukku tidak percaya. "Berarti aku sudah tertidur cukup lama?!"


"Heheh iya, kamu pulas sekali tidurnya. Mungkin karna kecapean."


kitapun keluar tenda untuk makan malam, semua tidak jadi pulang dikarenakan Dimas tidak kunjung di temukan, kuperhatikan raut wajah beberapa anak ada yang sedih dan terpuruk karna hilangnya Dimas, tante Evi serta suaminya juga terlihat sangat suram, dengan air mata yang sudah menetes terus menerus.


"Semoga mimpiku yang tadi hanyalah, sebuah mimpi." gumamku dalam hati.

__ADS_1


Kamipun bersama-sama, melakukan makan malam. Walaupun dengan perasaan yang sedih dan juga khawatir.


__ADS_2