
《Kenapa dari semua setan, yang paling aku takutkan pocong? alasannya karna mereka beraroma busuk, negatif, dan yang pasti menyeramkan》
Sampainya kami di tempat perkemahan, semua panitia dan pembina. Sedang panik mencari kami berlima. "Kalian kemana saja!" bentak salah satu panitia kepada kami. "Dan dua orang ini kenapa!? cepat bawa mereka berdua ke tenda panitia!"
Akhirnya Ikhsan dan Riko mendapatkan perawatan instensif, di karenakan pendarahan, serta luka yang terdapat pada tubuh Riko dan Ikhsan, terlalu parah.
Aku, Dimas, dan Rizky kembali ketenda. Dengan pikiran yang masih memikirkan kejadian di luar nalar manusia yang baru saja terjadi pada kami berlima. "Riz, istirahat saja. Kamu pasti lelahkan." tuturku melihat pandangan Rizky yang terlihat lesu dan lemas.
"Ah tidak aku ingin mengganti pakaianku dulu, kalian istirahatlah duluan." jawab Rizky seraya meninggalkan tenda, dan pergi ke kamar mandi yang tidak jauh dari tenda.
Dimas hanya terdiam, tenda menjadi sunyi aku mulai memecahkan suasana. "Hai, Dim! apa yang kamu pikirkan?" tanyaku tiba-tiba, membuat Dimas sedikit terkejud dari lamunannya.
"Tidak, aku hanya berpikir akhir-akhir ini kenapa setiap aku berada di dekatmu, hal-hal yang berbau mistis selalu menimpaku. Bukannya aku menuduhmu atau berpikir hal yang bukan-bukan terhadapmu, tapi aneh." jawab Dimas.
__ADS_1
"Oh, maaf ya mungkin memang karna aku, kamukan juga tau kalau aku memiliki kelebihan, bisa melihat mereka yang kita sebut hantu, bisa jadi karna kelebihanku ini." tuturku kepada Dimas dengan perasaan yang kurang enak.
"Ah, tidak. Santai saja mungkin hanya perasaan, serta sugestiku saja." Dimas merebahkan tubuhnya dan memejakan matanya.
Tidak lama, Rizky masuk kedalam tenda. "Kalian berdua tidak dengar ya? panitia menyuruh semua peserta kemah berkumpul." seru Rizky memberitahu.
Dimas membuka matanya, setelah mendengar ucapan dari Rizky. "Malam-malam seperti ini, masih diperintahkan untuk kumpul?! seperti tidak ada hari lainnya saja." sambung Dimas kesal.
Kami akhirnya keluar tenda, dan berkumpul dengan anak lainnya. "Perhatian semua! perhatian! karna adanya dua siswa yang telah dirawat di rumah sakit, sekaligus karna jalanan juga menjadi licin sehabis hujan, maka dari itu pembina serta panitia acara memutuskan untuk mentiadakan jerit malam, atau jalan malam. Mengerti!" jelas Panita.
"Mengerti kak." jawab serentak para peserta camping.
"Maka dari itu, untuk membuat acara camping ini menjadi menarik dan seru, tidak membosankan, kami para panitia memiliki ide memainkan sebuah game kunci, jadi cara permainan ini di sekitar area kemah terdapat 8 buah kunci, kelompok yang berhasil menemukan kunci maka di anggap pemenang." panitia menunjukan sebuah kunci. "Bagi para pemenang, akan di berikan sebuah hadiah ketika acara api unggun, maka dari itu kami ucapkan. Game dimulai!"
__ADS_1
Semua anak berpencar, dengan anggota kelompok mereka masing-masing. "Dit, Riz, karna anggota kita hanya sedikit, mari kita berpencar." ujar Dimas, kami bertiga akhirnya berpencar.
Aku mencari di pohon-pohon, secara kebetulan aku melihat Bella di balik pohon besar, sedang berbicara dengan seseorang, ketika ku lihat dari jarak dekat. Ternyata Bella sedang berbicara dengan sosok makhluk halus berkebaya merah dengan bagian bawah tumbuh yang tidak ada dan aku langsung merasa kalau auranya sangat negatif. "Bell, sedang berbicara dengan siapa?" tanyaku memastikan.
"Kamu tidak lihat? ini loh... mbok Sukmi, orangnya baik, katanya aku mirip anaknya. Heheh... " jawab Bella dengan nada senang.
"Berhentilah dekat dengan mereka makhluk halus, belum tentu mereka semua baik. Makhluk halus yang memiliki aura negatif juga tidak baik bagi kita para manusia." ujarku memperingati Bella untuk tidak terlalu dekat dengan mereka yang tidak terlihat.
"Apasih Dit! enggak asik ah kamu, pergi sana! ganggu aku saja." cetus Bella marah padaku.
"Sudahlah jangan terlalu dekat dengannya, mungkin saja dia mendekatimu, karna dia memiliki sesuatu yang dia inginkan darimu." tuturku.
Bella hanya membuang wajahnya, dan tidak memperdulikan ucapanku. Tiba-tiba saja sosok berkebaya merah memandangiku dengan tatapan tajamnya, dan tersenyum. Lalu sosok berkebaya merah itu pergi mengikuti Bella.
__ADS_1